
Sore harinya, Narendra pun pulang bersama Adam. Tentu saja kepulangan kedua nya di sambut oleh Ayunda di ambang pintu utama. Dia tersenyum hangat sambil menyalin tangan suami dan paman nya.
"Ini pesanan kamu, sayang." Ucap Narendra sambil memberikan kresek berisi mochi isi stroberi yang masih di idam-idamkan oleh Ayunda sampai saat ini. Namanya orang hamil ya kan, kalau sudah di turuti ya di makan nya gak banyak. Tapi kalau tidak di turuti, bisa-bisa dia merajuk dalam waktu yang lama nanti nya.
"Wah, makasih pak suami. Tumben kamu gak lupa beliin lagi?" Tanya Ayunda sambil tersenyum kecil. Dia menggandeng lengan besar sang suami dengan mesra, sesekali dia juga menyandarkan kepala nya di lengan besar itu. Ingin nya sih bersandar di pundak, tapi apa daya tubuh Ayunda lebih pendek di bandingkan dengan Narendra.
"Suami kamu sampai bikin note dan di simpen di mobil, di tempel di kaca nya biar gak lupa." Celetuk Adam yang membuat Ayunda terkejut. Se effort itu memang kalau Naren sudah berjanji. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menepati janji nya, termasuk untuk membelikan makanan ini.
Kemarin malam, dia berjanji pada istrinya untuk membelikan mochi isi stroberi yang di inginkan oleh istrinya itu, asal malam itu dia mau memberikan jatah malam nya. Awalnya, Ayunda merajuk dan tak mau memberikan suaminya jatah karena dia kesal, tapi mau bagaimana lagi kalau sudah main membujuk jadinya dia luluh.
"Beneran, Mas?"
"Hehe, Mas juga pasang alarm biar gak lupa. Soalnya kalo lupa kan kasian si junior gak dapet jatah nanti." Jawab Naren sambil cengengesan. membuat Ayunda menggeplak pelan lengan besar sang suami tak tahu malu nya itu. Bisa-bisa nya dia mengatakan hal itu di depan Adam, dia mengatakan nya seolah tidak ada beban sama sekali. Apalagi rasa malu atau bersalah, dia lempeng saja mengatakan hal itu.
"Sakit lho, yang."
"Tahu malu dikit dong, Mas. Ada Paman lho ini, kamu kalo ngomong seenaknya aja!" Ketus Ayunda.
"Hehe, ya gapapa. Kan paman juga udah dewasa, udah jauh lebih berpengalaman." Jawab Narendra.
"Ckk, susah memang bicara sama cowok gak tahu malu."
"Lho, sayang kok kesel sih?" Tanya Narendra sambil mengejar sang istri yang berjalan menjauh darinya. Adam yang melihat hal itu tersenyum kecil, rasanya sangat menenangkan ketika melihat Ayunda rukun dengan suami dan juga mertua nya. Kedua mertua nya terlihat sangat menyayangi Ayunda, dia bahagia karena akhirnya Ayunda mendapatkan kebahagiaan nya.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang bisa dia harapkan sekarang selain kesembuhan sang istri dan juga kebahagiaan Ayunda. Dirinya? Sehat saja sudah cukup untuk membuat dirinya bahagia. Dia ingin bertahan dan dia akan berdoa agar usia nya di panjangkan hingga dia bisa melihat anak-anak Ayunda beranjak dewasa nantinya.
Tak apa jika dia tidak bisa melihat cucu nya sendiri, melihat anak-anak Ayunda nanti, itu sudah lebih dari cukup.
"Sudah pulang, Adam?" Tanya Arvino sambil tersenyum lalu menepuk pelan pundak Adam.
"Sudah, Tuan."
"Ckk, panggil saja Arvin."
"Agak canggung ya.."
"Hahaha, jangan di biasakan. Kamu harus terbiasa untuk memanggil ku seperti itu, disini tidak ada istilah tuan atau nyonya, semuanya sama."
"Bagaimana keliling perusahaan nya? Menyenangkan?" Tanya Arvin sambil mengajak Adam duduk di sofa.
"Hahaha, benarkah?" Tanya Arvin sambil tertawa. Semenjak ada Adam disini, Arvin jadi memiliki teman untuk mengobrol. Mungkin karena usia nya tidak jauh berbeda dengan Adam.
"Iya, makanya tadi Naren minta asisten nya buat nganter keliling perusahaan. Aku gak nyangka kalau perusahaan nya sebesar itu, mana tinggi banget. Kalau saja aku punya phobia ketinggian, mungkin udah pingsan duluan." Celoteh Adam yang membuat Arvin tertawa.
Adam dan Ayunda ternyata memang sama, mereka memang keluarga dan ternyata memiliki banyak kesamaan. Ya salah satunya adalah terlalu polos, maklumin saja wong ndeso pertama kali ke kota langsung di suguhi pemandangan gedung-gedung tinggi pencakar langit, bukan sawah atau pohon pisang. Reaksi dan ekspresi mereka juga sama, sama-sama melongo saat pertama kali di ajak ke perusahaan.
"Jadi gimana tentang pertanyaan ku tempo hari, kau sudah memikirkan nya? Kalau belum, tolong pikirkan tentang Ayunda." Ucap Arvino sambil menatap Adam dengam intens.
__ADS_1
"Kamu adalah satu-satunya keluarga yang di miliki Ayunda sekarang, kalau kamu pergi dari sini, bayangkan seperti apa terpukul dan sedihnya keponakan mu ini. Apalagi saat ini dia sedang hamil besar, tentunya kau tidak ingin membuat Ayunda bersedih kan?" Tanya Arvin lagi.
"Tentu tidak, dulu aku tidak bisa membuat Ayunda bahagia."
"Sekarang, dia sudah bahagia dengan kami dan kau sebagai pelengkap nya. Tidak kah kau memiliki niat untuk melakukan apa yang aku minta?" Tanya Arvin.
"Saya sudah memikirkan nya dengan baik, saya akan tinggal disini. Bahkan Naren saja tadi mengatakan hal yang sama seperti ini."
"Baguslah kalau kau sudah setuju, aku sangat senang mendengarnya. Apalagi Ayunda kan? Terimakasih sudah membuat keputusan yang baik, terimakasih juga sudah mementingkan kebahagiaan Ayunda." Ucap Arvin sambil menepuk pundak nya.
Harusnya Adam yang berterimakasih pada keluarga Arvin bukan? Karena sudah memberikan kebahagiaan yang dulu tidak pernah dia dapatkan. Tapi kenapa malah Naren yang mengatakan hal itu?
"Saya juga berterimakasih pada anda dan keluarga karena sudah menyayangi Ayunda layaknya anak sendiri."
"Ayunda memang putri kami, setelah dia masuk ke dalam keluarga ini, tepatnya setelah dia menikah dengan Naren, putra semata wayang kami, kami menganggap Ayunda sebagai putri kami." Jawab Arvin yang membuat Adam tersenyum. Betapa beruntung nya dirinya dan juga Ayunda karena bisa bertemu dengan orang-orang sebaik Arvin dan juga keluarga nya bahkan sekarang dirinya juga Ayunda menjadi bagian dari keluarga ini. Mereka tidak pernah membeda-bedakan manusia berdasarkan apapun, jika mereka baik maka mereka layak di hormati.
Beberapa hari yang lalu, Arvin memang sempat mengatakan pada Adam agar tinggal disini saja. Dengan begitu, dia akan bebas melihat perkembangan Ayunda juga calon bayi nya. Ayunda juga akan bahagia karena bisa melihat paman nya setiap hari kan, tidak perlu menahan rindu seperti yang sudah-sudah.
Tapi, Adam tidak ingin terlalu banyak merepotkan keluarga ini karena dia bukan siapa-siapa. Dia hanya orang asing yang terikat sebuah ikatan tak kasat mata dengan Ayunda, hanya itu saja. Tapi Arvin terus membujuk Adam agar mau tinggal disini bersama mereka. Selain agar mansion terasa jauh lebih ramai, Arvin juga sangat senang ketika melihat Ayunda yang tersenyum penuh kebahagiaan ketika melihat Adam. Itulah yang membuat Arvin menawarkan hal itu, dia benar-benar memikirkan kebahagiaan menantu nya. Dia benar-benar menghindari hal-hal yang bisa membuat Ayunda sedih.
Tapi setelah dia memikirkan nya dengan baik, apalagi setelah dia berbicara dengan Naren akhirnya dia setuju. Lagipun Naren mengatakan kalau dia akan memindahkan sang istri ke kota agar dia lebih mudah untuk menjenguk nya, itu juga memudahkan Ayunda untuk bisa menjenguk bibi nya. Dia mengatakan kalau setelah dia melahirkan, dia ingin sekali menjenguk sang bibi yang tengah sakit.
Bayangkan saja, bagaimana Naren dan juga keluarga nya tidak menyayangi Ayunda? Sedangkan Ayunda saja adalah sosok yang sangat baik hati dan pemaaf. Dia tidak pernah menaruh dendam pada siapapun, meskipun hatinya merasakan sakit tapi dia lebih memilih untuk menyimpan nya sendiri.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻