
Keesokan paginya, Ayunda terbangun lebih pagi seperti biasanya. Meskipun dia sedang hamil saat ini, tapi dia tidak bisa melupakan kebiasaan nya selama ini begitu saja. Yang namanya sudah kebiasaan, pasti akan susah untuk di tiadakan. Seperti kebiasaan bangun pagi, meskipun Ayunda sudah berniat untuk bangun agak siang, tapi tetap saja dia bangun lebih pagi.
Wanita itu tersenyum kecil ketika melihat wajah suaminya yang masih tertidur dengan lelap sambil memeluknya dengan erat. Ayunda melepaskan pelukan sang suami dengan perlahan, dia berusaha untuk tidak membuat suaminya terbangun. Dia pun beranjak dari rebahan nya, lalu pergi ke kamar mandi.
Ayunda mengikat rambutnya ke atas, menampilkan leher nya yang putih dan jenjang di penuhi oleh tanda kemerahan bukti cinta dari suaminya. Ayunda mengambil handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Lagi-lagi, ini adalah kebiasaan nya. Ayunda selalu mandi pagi-pagi, baginya itu membuat tubuhnya lebih segar jika mandi pagi di bandingkan jika mandi siang atau sore hari.
Wanita itu mengisi bath up dengan air hangat, lalu memasukkan bath bomb dan mengucek nya sedikit agar airnya berubah dan berbusa. Setelahnya, Ayunda pun berendam di dalamnya. Wanita itu memejamkan matanya, menikmati sensasi yang menenangkan dari berendam air hangat. Dia selalu suka saat mandi pagi-pagi seperti ini, selalu menenangkan dan terlebih lagi dia tidak akan di ganggu oleh suaminya yang selalu memiliki seribu satu macam cara yang akan membuatnya pasrah di bawah sentuhannya.
"Menenangkan sekali rasanya.." Lirih Ayunda, sambil mengusap-usap kan air itu ke tangan dan ke bagian tubuhnya yang lain.
"Ohh, jadi gini ya?" Celetuk seseorang yang membuat Ayunda menoleh seketika begitu mendengar ucapan seseorang yang sudah dia yakini adalah sosok suaminya.
"Apa?" Tanya Ayunda sambil menoleh dan benar saja dugaan nya, siapa lagi yang bisa masuk ke kamar ini tanpa izin kan? Tentu saja yang ada di kamar mandi saat ini adalah Narendra, suami nakalnya Ayunda.
"Hehe, enggak. Kenapa gak bangunin aku, yang?" Tanya Narendra. Pria berbadan tegap dan berwajah tampan itu berjalan mendekat ke arah bath up dan duduk di tepian nya sambil memainkan air dengan tangan besarnya.
Pria itu masih menggunakan bathrobe berwarna putih untuk menutupi tubuh polos nya. Sebenarnya, tidak polos sih karena Naren masih menggunakan boxer di dalamnya.
"Males, soalnya kalau mandi bareng tuh suka lama." Jawab Ayunda dengan datar, membuat Narendra terkekeh pelan sambil memcipratkan air ke wajah sang istri.
"Nakal banget ya kamu, Mas!"
"Hehe, gemes soalnya. Mandi lama kan udah biasa buat pasutri, sayang."
"Iya sih, tapi kan gak selama itu juga. Aku tuh suka kesel kalau kamu minta nya di kamar mandi." Jawab Ayunda dengan ketus.
"Yaudah, sekarang lanjut mandi bareng aja gimana?" Tanya Narendra dengan senyum nakal nya. Pria itu memainkan alis nya naik turun guna menggoda sang istri.
"Yang semalam emang gak puas? Katanya puas banget."
"Kan itu semalem, hehe. Kalo sekarang ya pengen lagi, beda lagi jatah nya. Kalau semalam ya jatah malem, ini udah pagi ya berarti jatah pagi." Jawab Narendra. Dia selalu memiliki banyak cara agar istrinya mau memberikan jatah padanya.
"Modus kamu mah, Mas. Bilang aja kalau kamu doyan."
"Iya doyan, kalau gak doyan mana bakalan aku cari cara biar bisa dapet jatah dari kamu, hehe."
"Ckkk.." Ayunda berdecak sebal, tapi dia malah di buat semakin terkejut saat Narendra membuka bathrobe dan celana boxer nya lalu tanpa ragu memasuki bath up dan duduk di belakang sang istri. Pria itu segera memeluknya dengan erat dan gemas, membuat Ayunda tak bisa berkutik jika sudah seperti ini.
"Jangan dong, Mas."
"Bentar aja, kita main cepet ya." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil. Akhirnya, Narendra pun kembali mendapatkan jatahnya pagi ini meskipun dengan sedikit dan banyaknya bujukan yang dia lontarkan agar bisa mendapatkan jatah pagi nya itu.
Di dapur, Melisa dan Arvino masih menunggu kedatangan putra mereka yang sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari kamar nya. Kamar Ayunda dan Narendra memang sudah di pindahkan ke bawah atas permintaan Naren. Dia berpikir kalau kamar mereka tetap di atas, itu akan menyulitkan Ayunda turun naik karena saat ini posisi nya sedang hamil besar.
"Mereka belum keluar juga, kemana dulu ya?" Tanya Melisa membuat Arvino hanya bisa mengendikan bahu nya dengan acuh. Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi, dia tidak ingin mendapatkan penolakan apapun lagi seperti tadi malam.
"Gak tahu, mungkin masih tidur. Semalem kan mereka tidur larut malam." Celetuk Arvino yang membuat Melisa mengernyitkan kening nya.
"Papi tahu dari mana kalau mereka tidur larut malam?" Tanya Melisa yang membuat Arvin terkekeh pelan.
"Kali aja, soalnya Naren kelihatan marah banget tadi malam. Biasanya kalau marah kayak begitu, berarti mau ritual tapi keganggu."
"Hahaha, Papi ini ada-ada aja."
"Ya, soalnya papi juga begitu dulu. Hehe. Males plus kesel banget kalo lagi nanggung terus ada yang ngetuk pintu." Jawab Narendra membuat Melisa tertawa terbahak-bahak.
"Naren memang benar-benar anak kamu, Mas. Dia mewarisi semua sifat kamu." Ucap Melisa, Arvino hanya mendelik saja lalu memalingkan wajahnya. Tapi memang benar, semuanya yang di miliki oleh Naren saat ini memang sebelas dua belas dengan Arvino di masa lalu.
"Mami masak apa hari ini?"
"Udang saus tiram, sama bakwan jagung aja lah yang simpel." Jawab Melisa mabuk mencuci dan memasak makanan itu.
"Wahh, bakwan jagung sama sambel kayaknya enak deh, Mi."
"Yaudah iya, sambel bawang atau sambel apa?" Tanya Melisa yang membuat Arvino sedikit berpikir.
"Sambel bawang kayaknya enak deh, Mi." Bukan Arvino yang menjawab, tapi Ayunda yang tiba-tiba saja datang, membuat Arvin dan Melisa terkejut karena kedatangan menantu nya yang tiba-tiba itu.
"Aduh, sayang. Kamu ngagetin mami deh, kenapa datang tiba-tiba?" Tanya Melisa pada Ayunda. Wanita itu terkekeh, lalu mengambil alih mama mertuanya yang sedang mencuci sayuran.
"Ini biar Ayu selesaiin ya, Mi." Ucap Ayunda sambil tersenyum, Melisa pun pasrah. Dia memang selalu senang saat menantu cantiknya ini mau membantu pekerjaan nya.
__ADS_1
"Mami masak apa?"
"Rencana sih mau bikin udang saus tiram sama bakwan jagung, terus Papi mu minta di bikinin sambel."
"Sambel apa?" Tanya Ayunda, padahal dirinya sendiri yang menyarankan untuk membuat sambel bawang. Dia tahu benar, kalau mertua nya itu pasti akan membuat keputusan yang sama berdasarkan keputusan nya.
"Kata kamu tadi sambel bawang." Ucap Arvino.
"Hehe, kali aja Papi mau di bikinin sambel yang lain."
"Enggak kok, sambel bawang cocok-cocok aja sama bakwan jagung." Jawab Arvino yang membuat Ayunda tersenyum kecil. Padahal, dia tahu benar kalau mertua nya menjawab hal itu karena tak mau mengecewakan dirinya. Padahal, dirinya hanya hamil jadi tidak perlu di manjakan seperti ini. Tapi, jujur saja dia sangat menyukai hal ini. Dia sangat senang karena memiliki mertua dan juga suami yang pengertian dan baik hati.
Wanita mana yang tak senang jika memiliki keluarga yang sangat menyayangi nya bahkan keluarga nya saja tidak pernah melakukan hal ini, sejujurnya dia merindukan paman nya di desa. Tapi kondisi nya saat ini tidak memungkinkan, dia sedang hamil besar dan jalanan di desa pasti cukup rusak yang akan membuat mobil berguncang.
Dia takut kalau hal itu akan membuat kehamilan nya terganggu di kemudian hari, jadi keinginan nya itu sementara di tunda dulu sampai keadaan nya membaik dan memungkinkan untuknya berkunjung ke desa yang menjadi tempat dirinya di besarkan dengan penuh rasa sakit dan perjuangan. Hingga akhirnya dia mendapatkan hal yang tak terduga setelah itu semua terjadi. Pada akhirnya, memang yang di sakiti akan mendapatkan kebahagiaan nya. Meskipun agak lambat, tapi tidak apa-apa karena dia sangat bersyukur.
"Papi suka sambel terasi, kan? Ayu bikinin juga ya.."
"Gak usah, sayang.." ucap Arvino.
"Gapapa, jangan cuma Ayu yang kemauan nya selalu di iyain sama kalian. Sekali-kali, Ayu yang nyenengin kalian meskipun bukan dengan uang karena Ayu gak punya hal itu." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Kebahagiaan tidak selalu tentang uang, sayang." Melisa mengusap puncak kepala Ayunda dengan lembut, lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
"Memiliki keluarga seperti kalian saja sudah sangat membuat aku bahagia, yang terpenting kita selalu bersyukur. Iya kan?"
"Tentu saja, ucapan mu sangat benar, sayang. Kami sangat beruntung memiliki menantu seperti dirimu, bertahan dan sehat-sehat selalu ya, Nak."
"Iya, Mami. Ayu pasti bakalan sehat terus, apalagi disini Ayu selalu di manjain sampe badan Ayu jadi melar gini. Ini semua berkat Mami dan Papi yang selalu manjain Ayu." Jawab Ayunda sambil terkekeh.
"Gapapa dong, lagian gak ada yang ngelarang kita buat nyenengin menantu kesayangan. Iya kan?"
"Hehe, gak ada sih. Tapi kadang Ayu ngerasa gak enak aja sama kalian karena terlalu memanjakan Ayu sampai sebegini nya." Jawab Ayunda lirih.
"Memanjakan anak sendiri, memang nya salah? Bagi Mami enggak tuh, Mami akan selalu memanjakan kamu. Kalau Naren udah gak mau manjain kamu, biarin Mami sama Papi aja yang bakalan manjain kamu. Ya?"
"Terimakasih, Mami, Papi.."
"Wah, ada yang bakalan jadi anak tiri dong kalau kayak gini." Celetuk Narendra yang baru saja keluar dari kamar dengan menyampirkan jas di lengan kanan nya, di lengan kiri nya ada tas kerja yang dia tenteng.
"Mas, kok belum pakai dasi?" Tanya Ayunda. Biasanya, Naren akan keluar setelah dasi nya terpasang rapi mengikat lehernya.
"Kamu nya kan udah keluar duluan tadi, jadinya Mas belum pakai dasi. Nanti kamu aja yang pakein. Gimana?"
"Hmmm, iya nanti aku pakein. Sekarang aku lagi masak, duduk dulu. Mau kopi?" Tawar Ayunda saat melihat suaminya duduk dengan tenang di kursi yang kosong.
"Boleh deh, satu sendok aja gula nya."
"Iya, Mas." Jawab Ayunda.
Arvino menatap wajah Naren yang terlihat lebih cerah dari biasanya, dia juga melihat kalau rambut putranya benar-benar masih basah. Dari sana saja, Arvin sudah bisa menebak kalau Narendra baru saja mendapatkan jatahnya makanya dia keramas pagi-pagi begini. Tapi, rambut Ayunda terlihat kering-kering saja. Ohh, seperti nya Arvino melupakan ada benda bernama hair dryer di dunia ini. Padahal dunia sudah lama modern ya, hingga mengeringkan rambut saja bisa dalam waktu hitungan detik.
"Rambut mu basah, Ren." Cetus Arvino yang membuat Narendra menoleh ke arah sang ayah.
"Mana ada basah, ini tuh gel rambut kali, Pi." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan. Seperti nya, sewaktu muda Arvino tidak pernah memakai benda untuk merapikan rambut itu.
"Ckkk, tapi wajahmu gak bisa bohong sama Papi lho."
"Ya terus Papi maunya apa?" Tanya Narendra akhirnya.
"Kamu habis ngapain sama istrimu?"
"Astaga, papi kan harusnya tahu Naren habis ngapain sama Ayu. Gak usah belagak kayak gak pernah ngalamin deh." Ucap Narendra sambil menghela nafasnya, entah kenapa semakin kesini sang Papi menjadi lebih menyebalkan bagi nya.
"Jadi, semalam Papi mau ngomongin ini sama kamu, Ren."
"Hmm, apa? Kayaknya penting banget ya, sampai-sampai Papi masih nguber-nguber Naren segitunya." Tanya Narendra. Kali ini dia mulai penasaran dengan apa yang akan di bicarakan sang ayah. Apa kira nya?
"Perusahaan kakek mu mengalami masalah di Amerika, Ren."
"Kenapa bisa? Uncle Sam kan ada disana, dia ngapain aja sampe bisa bikin perusahaan ada masalah kayak gini?" Tanya Narendra.
__ADS_1
"Entahlah. Tapi sepertinya, kecelakaan kakek mu hari itu juga sudah di atur oleh seseorang."
"Seseorang?"
"Mungkin musuh bebuyutan kakek mu disaat dia masih berjaya dulu."
"Tapi kan itu perusahaan kakek, Pi. Biarkan saja Uncle Sam menyelesaikan masalah ini disana. Kalau Papi minta aku kesana buat beresin, aku dengan lantang menolak. Kenapa? Ya kali, aku ninggalin istri aku yang lagi hamil besar." Ucap Narendra, membuat Arvino paham akan penolakan yang di lakukan oleh putranya. Tapi keadaan nya saat ini benar-benar darurat.
"Kamu yakin, Nak?"
"Yakin, aku tak mau meninggalkan Ayunda, Papi. Ini keputusan final."
"Tapi, hal yang lebih buruknya lagi akibat masalah disana itu berimbas terhadap perusahaan kita." Ucap Arvino yang membuat Narendra terdiam. Susah-susah dia membuat perusahaan menjadi sebesar saat ini dengan kerja keras nya, lalu dengan mudahnya ada orang yang ingin menjatuhkan nya? Takkan pernah dia biarkan!
"Aku akan mengirim Mark kesana."
"Mark?"
"Ya, dia akan sangat bisa di andalkan." Jawab Narendra. Tentunya, dia membuat keputusan ini pun dengan pemikiran matang. Disini, dia juga akan sangat membutuhkan Mark dengan otak cerdas dan jenius nya, tapi bukanlah penyakit itu harus di berantas dari akarnya? Akar dari permasalahan yang akan menimpa perusahaan ini adalah cabang perusahaan milik sang kakek yang saat ini di pegang oleh Samuel, adik dari Darren.
"Lalu, bagaimana dengan mu disini?"
"Aku akan berusaha mendinginkan situasi terlebih dulu, Pi. Aku juga membutuhkan Mark untuk membantu aku menyelesaikan semua ini, tapi apa aku bisa membiarkan pusat masalah nya begitu saja? Tentu tidak!" Jawab Narendra dengan tegas.
Jika sudah berhubungan dengan hal semacam ini, Narendra akan selalu serius karena ini menyangkut harga diri dan juga tentang kerja keras nya dalam mengembangkan perusahaan hingga bisa menjadi sebesar ini. Tentunya, itu bukanlah hal yang mudah bukan? Di butuhkan banyak pengorbanan untuk bisa mendapatkan itu semua.
Dia tidak bisa membiarkan penyakit menjangkiti tubuh yang sehat, dia harus bisa mempertahankan perusahaan nya agar jangan sampai terimbas apapun. Tapi, tetap saja dia harus waspada. Sekarang, hari ini memang belum ada masalah apapun yang terjadi, tapi entah besok atau lusa. Semua kemungkinan bisa saja terjadi kapanpun dan dimana pun.
"Kita harus waspada, Pi. Kita tak bisa membiarkan hal semacam ini terjadi, apapun caranya Naren pasti takkan membiarkan perusahaan sampai bernasib sama seperti yang sudah-sudah." Jawab Narendra.
Pernah, Naren merasa gagal mengelola perusahaan karena perusahaan itu sudah 98 persen di ambang kehancuran, Naren bekerja keras untuk membuat perusahaan kembali berdiri, namun musuh terlalu kuat dan menyerang titik vital hingga membuatnya gagal untuk mempertahankan perusahaan itu.
Akhirnya, perusahaan itu pun tumbang pada saat masih di kelola oleh Narendra. Saat itu dia merasa gagal dan tidak mau memegang perusahaan kembali, tapi setelah bertahun-tahun berlalu akhirnya dia menerima saat papi nya meminta dirinya untuk meneruskan perusahaan karena hanya dirinyalah yang Arvino miliki.
Narendra adalah satu-satunya penerus keluarga Sanjaya, Arvino dan Melisa hanya memiliki satu putra saja yaitu Narendra Aksa Sanjaya. Mau tidak mau, Naren harus menerima hal itu meskipun rasanya sangat berat. Tapi semua itu tidak mengecewakan, perusahaan bisa menjadi sebesar ini berkat kerja keras dan pengorbanan Narendra.
"Baiklah, papi setuju dengan mu."
"Iya, itung-itung juga Mark bulan madu sama Maya. Setelah menikah, mereka belum bulan madu." Ucap Narendra sambil terkekeh pelan.
"Ya sudah, minum kopi mu. Jangan tunggu sampai dia dingin."
"Hmmm, papi sih ngajak ngobrol. Jadinya kopi Naren dingin." Narendra pun meminum kopi nya, tapi sudah terasa dingin.
"Jadi, keputusan mu sudah pasti untuk mengirim Mark kesana?"
"Iya, Pi."
"Kalau seandainya Ayunda mau di tinggal, kamu setuju pergi kesana, Nak?"
"Gak usah ya, papi gak usah nanya apa pendapat Ayu. Papi tuh punya menantu yang baiknya kebangetan, di tanya seperti itu dia pasti setuju-setuju saja." Jawab Narendra dengan sewot, membuat Melisa maupun Arvin terkekeh pelan mendengar jawaban Narendra.
"Mas, aku denger ya.."
"Hehe, maaf sayang.." Ucap Narendra. Sehebat apapun, semenakutkan atau sekejam apapun seorang laki-laki, tetap saja dia akan kalah dengan wanita yang dia cintai. Benar? Tentu saja, itu sudah terjadi pada Arvino dan Narendra.
Di luar, mereka boleh terlihat sangar tapi saat di rumah ya mereka menjelma menjadi kucing yang lucu dan menggemaskan, terutama di depan para istri agar bisa mendapatkan jatah, tentu saja mereka harus bekerja keras untuk itu. Jadi, tahta tertinggi dari pria sangar, datar, dingin dan kejam adalah istri yang galak. Titik, fiks no debat.
"Sudah dulu ngobrol nya, yuk sarapan dulu. Makanan nya udah siap semua." Melisa pun membantu menantu nya untuk menata makanan di atas meja lalu menyajikan nya.
Ayunda mengambil piring dan mengisi nasi juga lauknya untuk sang suami, setelahnya dia juga mengisikan nasi untuk Arvin dan Melisa. Setelahnya barulah dia duduk dan ikut makan dengan lahap, dia sangat menyukai bakwan jagung yang di cocol dengan sambel bawang, oleh karena itu dia membuat sambel nya tidak terlalu pedas karena itu akan membuatnya sakit perut nanti, kasian adik bayi di dalam perut kalau dia sampai mules-mules nantinya hanya karena memakan sambel.
"Makan yang banyak ya, Sayang. Biar adik bayi nya sehat di dalam sana." Ucap Narendra sambil tersenyum. Dia sangat senang melihat sang istri yang makan dengan lahap.
"Iya Mas, udang saus tiram buatan Mami enak banget." ucap Ayunda sambil mengacungkan jempol nya. Melisa terkekeh, lalu kembali mengisi piring menantu nya dengan udang yang dia masak.
"Kalau enak, makan yang banyak, yang kenyang ya, sayang." Melisa tersenyum kecil saat melihat Ayunda menganggukan kepala nya dengan patuh.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1