
Malam harinya, Narendra pun mengantar para wanita untuk membeli Tupperware baru. Sebelumnya, dia sudah meminta maaf pada sang istri karena sudah merusakan Tupperware kesukaan Ayunda.
Pria itu menyetir dengan kecepatan rata-rata, hingga akhirnya mobil yang di kendarai oleh pria itu sampai di sebuah mall yang cukup terkenal. Disana memang ada berbagai macam toko perabotan ya salah satunya toko perabotan kesukaan ibu-ibu, apalagi kalau bukan Tupperware.
Wanita itu berjalan dengan menggandeng lengan besar sang suami, kedua nya pun masuk ke dalam toko. Tentunya dengan Melisa dan Arvin yang mau tak mau harus mengikuti para wanita, dari pada mereka kena marah kan? Mendingan ikut saja.
"Sayang, mau beli yang mana?" Tanya Narendra. Tapi, Ayunda malah terlihat kebingungan memilih, karena disini banyak sekali aneka model dan jenis Tupperware.
"Aku bingung, Mas."
"Kok bingung sih? Ini kan syurga nya perabotan, kamu mau beli model yang kamu suka kemaren kan?" Tanya Narendra. Ayunda pun menganggukan kepala nya mengiyakan.
"Ayo, di sebelah sini, sayang." Ajak Narendra lagi. Pria itu pun menunjuk model Tupperware yang sama dengan yang dia hilangkan, kata Arvino sih itu adalah Tupperware kesukaan Ayunda.
"Mau yang biru dong, Mas. Ambilin, aku kan pendek gak sampai." Pinta Ayunda. Narendra pun mengambil model wadah makanan itu di atas etalase paling tinggi. Ayunda terlihat senang, sambil memeluk toples dan aneka perabotan lain di dalamnya.
"Suka?"
"Banget, Mas. Makasih."
"Sama-sama, sayang. Ayo beli yang mana lagi? Biar nanti Mas gak beli lagi, gimana?"
"Yaudah, yuk cari lagi. Soalnya Ayu kan bingung mau yang mana." Jawab Ayunda. Narendra pun dengan setia menemani sang istri untuk hunting mencari perabotan yang dia inginkan.
Setelah sekian lama berkeliling, akhirnya Ayunda pun menyudahi acara berkeliling nya, seperti biasa Narendra yang membayar semua Tupperware yang di ambil oleh Ayunda dan Melisa. Tentu saja wanita paruh baya itu juga mengambil beberapa model toples yang dia inginkan.
Akhirnya, saat ini semuanya pun pergi ke restoran sushi. Ayunda nampak sangat antusias untuk mencoba makanan itu, sebenarnya bukan mencoba karena dia sudah pernah memakan makanan khas Jepang itu beberapa kali. Tapi saat ini, dia sedang mengidam makanan itu lagi.
Ayunda duduk di samping Naren, dia makan dengan lahap. Begitu juga dengan Narendra dan orang tua nya. Restoran sushi ini adalah restoran langganan Melisa, jadi jangan heran kalau mereka makan dengan lahap karena rasanya yang memang enak.
"Sayang, makan salmon nya lagi." Narendra meletakan sepotong sushi salmon mentah di piring sang istri. Karena ikan itu sangat baik untuk ibu hamil meskipun jangan terlalu sering karena yang namanya makanan mentah, pasti ada resiko nya.
"Iya, Mas. Aku suka, ini ikan nya mentah kan? Tapi gak amis ya?" Tanya Ayunda sambil melahap sepotong sushi itu dengan sekali suapan.
"Enak?"
"Banget, aku suka banget, Mas."
"Baguslah, ayo makan lagi. Masih banyak lho, kalau kurang kita bisa pesan lagi." Tawar Narendra.
"Okey, Mas. Aku bakalan makan yang banyak."
__ADS_1
"Sekalian ngisi tenaga buat layanin Mas nanti, iyakan?" Bisik Ayunda yang membuat wajah Narendra berbinar seketika.
"Iya, sayang. Ayo makan yang banyak ya.." Narendra seketika menjadi bersemangat, sedangkan Ayunda hanya tersenyum saja melihat suaminya itu. Jika berurusan dengan jatah, sudah jelas dia akan bersemangat karena itu adalah kegiatan kesukaan nya.
"Makasih, suamiku." Ucap Ayunda sambil tersenyum manis. Melisa dan Arvin saling melirik dengan tatapan heran, tapi mereka kembali bersikap seolah tidak peduli dan akhirnya fokus dengan makanan mereka.
"Sayang, kamu makan dengan lahap sekali. Kalau begitu, bagaimana kalau setiap hari kita kesini?" Tanya Melisa. Memang benar, jika di rumah Ayunda jarang makan. Kalaupun makan, paling hanya sedikit-sedikit saja, tidak pernah selahap ini biasanya. Apalagi setelah hamil, dia benar-benar kehilangan nafssu makan nya. Tapi meskipun begitu, nafssu makan Ayunda masih di bilang normal dan baik.
"Gak usah, Mami. Sekarang memang Ayu lagi pengen aja." Jawab Ayunda.
"Lagian, kalau makan disini setiap hari kan kita nya repot, Mami." Timpal Arvino.
"Kan bisa pesan antar, Papi."
"Ohh, iya itu agak sedikit masuk akal. Bagaimana, sayang?" Tanya Narendra. Ayunda terdiam sejenak, emang ada benarnya, tapi dia juga tidak ingin makan makanan ini setiap hari. Meskipun dia menyukainya, tapi kalau di makan setiap hari pasti pasti akan merasa bosan.
"Aku akan meminta nya kalau aku ingin." Putus Ayunda. Akhirnya di angguki dan di setujui oleh semuanya. Keputusan yang cukup bagus untuk membuat semuanya bungkam karena suara Ayunda adalah keputusan final bagi semuanya. Karena disini, niat awal Melisa adalah untuk menyenangkan menantu nya dan agar Ayunda mau makan dengan lahap seperti ini lagi.
"Baiklah."
Setelah selesai dengan acara memasak nya, akhirnya mereka semua pun memutuskan untuk pulang. Tapi saat mereka berjalan, mata Ayunda tak sengaja melihat Fira. Teman nya dulu, saat dia masih awal-awal datang ke kota ini.
"Ayu.." Gadis itu berjalan mendekat dan memeluk sahabatnya, mereka sudah lama tidak bertemu. Tepatnya, sejak kejadian kelam malam itu, keduanya tidak lagi saling berkomunikasi apalagi bertemu. Karena setelah menikah, Ayunda benar-benar seperti ratu yang hanya diam di rumah.
"Apa kabar kamu, Fir?" Tanya Ayunda lirih.
"Aku baik, kamu gimana?"
"Aku juga baik-baik saja." Jawab Ayunda lagi.
"Kamu lagi hamil, Ayu?" Tanya Fira sambil melihat ke arah perut Ayunda yang membuncit.
"Bolehkah aku mengusap nya? Perut mu sangat menggemaskan."
"Boleh, silahkan di usap." Jawab Ayunda. Fira pun mengusap-usap lembut perut Ayunda yang membuncit besar itu. Seperti kata Fira, perut Ayunda memang terlihat sangat menggemaskan bagi Fira.
"Kamu hamil berapa bulan, Yu?" Tanya Fira.
"Lima bulan, Fir."
"Lima bulan, tapi perut kamu besar banget, Ayu." Ucap Fira sambil melihat ke arah Ayunda dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Aku hamil kembar, Fira."
"A-apa? Twins?"
"Iya, aku hamil kembar." Jawab Ayunda sambil tersenyum, dia juga ikut mengusap perut buncitnya dengan lembut.
"Wahh, selamat ya. Aku ikut senang mendengarnya."
"Kamu masih kerja di restoran itu atau udah keluar?" Tanya Ayunda.
"Udah keluar, sekarang aku sudah menikah."
"Benarkah? Jahat banget kamu gak ngundang aku, Fir." Kesal Ayunda.
"Hahaha, maaf. Namanya juga nikah dadakan, soalnya kisah aku juga mirip kayak kamu." Jawab Safira.
"Aduh, nanti kita cerita-cerita lagi ya? Mana nomor ponsel kamu? Aku harus pulang, itu suami sama keluarga aku udah nungguin." Ucap Ayunda. Safira pun tersenyum, lalu memberikan nomor ponsel nya.
"Nanti aku chat duluan ya, aku duluan. Babay.."
"Babay, hati-hati di jalan nya Ayu. Lain kali kita ketemu lagi yaaw." Ucap Fira sambil membalas lambaian tangan sahabatnya. Mereka pun harus berpisah karena Ayunda harus segera pulang, kalau tidak pasti suaminya akan kesal.
"Siapa?"
"Safira, dia temen aku pas baru datang kesini." Jawab Ayunda sambil menggandeng tangan Narendra.
"Ohh, gitu?"
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Wajah nya kayak gak asing, Mas kayak pernah lihat dia tapi gak tahu dimana."
"Hmm, mungkin di restoran?"
"Mungkin, biarlah. Gak penting juga, nanti Mas ingat-ingat lagi." Jawab Narendra. Lalu membukakan pintu mobil untuk sang istri dan Ayunda pun duduk dengan nyaman di dalamnya.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1