
Narendra dan Mark sedang berbincang-bincang di luar, tepatnya di teras. Semua pria-pria yang ada disana mengapit rokoknya, kecuali Narendra. Dia merasa sedang tidak ingin merokok saat ini, lagi pun dia punya dua anak bayi yang harus di jauhkan dari rokok dan asapnya.
"Tuan tidak merokok?" Tanya Mark. Narendra menggelengkan kepala nya.
"Tidak, aku tidak suka rokok untuk saat ini."
"Ya, kau memang tidak merokok tapi baju mu terkena asap rokok, Naren." Ucap Arvin, pria itu menghembuskan asap rokoknya hingga asap berwarna putih itu terbang bebas mengudara.
"Aku mandi dan harus berganti pakaian dulu, Pi."
"Hmm, ya sudah." Jawab Arvin lagi.
"Tuan, saya perhatikan wajah anda terlihat murung seperti itu. Ada apa?" Tanya Mark, sedari tadi dia memperhatikan wajah pria itu, memang terlihat berbinar tapi wajahnya di tekuk. Entah apa yang terjadi dengan pria itu, tidak ada yang tahu. Hanya Narendra lah yang mengetahui hal apa yang membuatnya menunjukkan wajahnya seperti ini.
"Naren itu lagi bingung, gimana caranya agar dia bisa tahan berpuasa selama empat puluh hari, Mark." Celetuk Darren sambil tersenyum jahil ke arah cucu nya. Sedangkan Narendra yang mendengar hal itu hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ucapan Darren benar, dia bingung harus melakukan apa tanpa jatah malam nya.
"Kenapa empat puluh hari?" Tanya Mark dengan kening yang mengernyit. Dia mana tahu dengan istilah nifas yang akan di alami wanita setelah melahirkan dan itu dalam waktu yang cukup lama, empat puluh hari bahkan ada yang lebih lama.
"Ya masa nifas itu kan memang empat puluh hari, bahkan ada beberapa yang lebih lama lho." Ucap Arvino sambil tersenyum jahil. Ayah dan anak itu kompak menggoda Narendra yang sedang merengut karena dia sedang galau karena tidak bisa mendapatkan jatah malamnya.
"Ada begituan ya?"
"Ya jelas ada, bayangin aja itu perut sembilan bulan gak menstruasi karena hamil kan, terus pas melahirkan pasti banyak darah-darah kotor, ya itu keluar selama empat puluh hari sampai bersih. Kadang ada yang lebih dari empat puluh hari, tergantung bagaimana kondisi tubuh nya." Jelas Arvino lagi.
Dia ingat benar dulu, dia juga sama galau nya seperti Narendra. Sebagai pria normal, pastinya dia merasa seperti akan mati saat itu juga karena tidak mendapatkan jatahnya. Arvin juga terlihat lemas dan tidak bersemangat, tidak bertenaga seperti dia tidak makan saja. Tapi setelah empat puluh hari, masa nifas istrinya selesai, dia juga tidak langsung menggauli nya karena dia ngilu saja ketika melihat area sensitif milik sang istri yang masih terlihat bekas jahitan nya, itu membuat dirinya ngilu sendiri.
Akhirnya, Arvin kembali berpuasa sampai kurang lebih dua bulan, jadi total nya dia berpuasa sampai tiga bulan lebih. Itu pun ketika dia melakukan nya untuk pertama kali setelah sekian lama, Arvin melakukan nya dengan sangat perlahan, takut jika dia akan melukai area sensitif sang istri. Tapi ternyata rasanya jauh lebih nikmat tapi saat itu dia tidak kehilangan kendali, dia ingat kalau istrinya butuh kelembutan ketika melakukan nya agar tidak menyakiti sang istri.
"Papi dulu ngapain aja selama empat puluh hari?" Tanya Narendra lirih.
"Gak ngapa-ngapain sih, kerja juga malas. Soalnya jatah malam itu kan vitamin dan penyemangat ya."
"Terus?"
"Gak ada terusan nya, ya Papi sabar saja meskipun seringkali uring-uringan di kantor karena gak tersalurkan itunya." Jawab Arvino sambil tertawa pelan.
"Sekarang udah tua masih doyan gak, Pi?" Tanya Narendra, bergantian kini putranya yang terlihat menggoda sang ayah.
"Doyan lah, cuma sering encok aja." Jawab Arvin sambil terkekeh pelan.
"Masih suka lama apa.."
"Paling setengah jam, mau apa kamu?" Tanya Arvino lagi sambil menatap wajah putranya, Narendra sendiri sudah tertawa dengan kencang mendengar ucapan sang ayah.
"Hahaha, biasa aja dong, Pi."
"Dulu tuh ya, Papi puasa tuh tiga bulan lebih." Ucap pria paruh baya itu sambil mengambil biskuit lalu memakan nya.
"Tiga bulan?"
"Iya, tiga bulan." Jawab Arvino sambil menunjukkan tiga jarinya.
"Lama banget, katanya cuma empat puluh hari doang. Kalau empat puluh hari kan berarti kan cuma satu bulan lebih sepuluh hari doang." Jawab Narendra dengan nada tak percaya. Dia tidak percaya kalau harus berpuasa selama itu mungkin.
__ADS_1
"Hmm, kamu pikir Papi tega pakai Mami mu sedangkan dia mendapatkan luka jahit di itunya?" Tanya Arvino yang membuat Narendra terdiam seketika. Benar juga apa yang di katakan Papi nya, apakah dia akan tega melakukan hal itu nanti?
"Setelah bersih nanti, kamu pikir luka itu akan benar-benar sembuh dan tidak akan terasa sakit? Jika pikiran mu seperti itu, kau salah, Naren."
"Lalu?"
"Kata Mami mu, melakukan itu pertama kalinya setelah melahirkan, rasanya jauh lebih sakit di bandingkan saat pertama kali melakukan itu. Kau percaya?" Tanya Arvino yang membuat Narendra dan Mark membulatkan kedua mata mereka, jujur saja mereka terkejut dengan hal ini.
Tapi, Arvino sendiri sudah berpengalaman dalam hal itu kan? Jadi tidak mungkin jika dia berbohong tentang masalah sensitif seperti ini.
"Benarkah, Papi?"
"Tanyakan saja sama Mami mu, kalau kamu gak percaya sama omongan Papi."
"Iya, nanti Naren tanyain sendiri kalo udah gak malu." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan.
"Pake malu segala, kalau pengen tahu ya tanyain aja, gak usah malu." Ucap Darren.
"Tapi memang nya kenapa kalau bertanya sama Papi mu?" Tanya Adam, akhirnya dia juga ikut angkat bicara setelah sekian lama hanya diam dan menyimak obrolan tak berfaedah ini. Kalau para laki-laki yang sudah menikah berkumpul seperti ini, apakah pembahasan nya selalu begini semua? Bahkan sampai hal-hal absurd pun di bahas.
"Wajahnya agak kurang meyakinkan, Paman." Jawab Narendra membuat Arvino mendelik kesal ke arah putranya itu.
"Kau ini ya benar-benar sama Papi sendiri."
"Hehe, bercanda kali Pi."
"Tapi yang itu serius ya, Pi?" Tanya Narendra lagi.
"Tentu saja serius, Papi puasa tuh tiga bulan. Itu pun pas pertama kali, Papi yang ngilu sendiri. Tapi.."
"Enak lho.."
"H-aahh?"
"Seriusan, rasanya jauh lebih enak di bandingkan pas pertama kali." Jawab Arvino membuat kedua mata Narendra berbinar.
"Wah, kalau begitu Narendra bakalan sabar banget menunggu untuk mendapatkan itu."
"Ckkk, tadi aja keliatan murung, galau, lemes ya. Sekarang aja pas udah tahu kalau lebih enak langsung semangat." Ledek Darren yang membuat semua pria yang ada disana pun tertawa.
Tapi kali ini, gantian Mark yang terlihat diam. Jujur saja, saat ini dia tengah di landa rasa takut dan khawatir yang menyelimuti hatinya, apalagi setelah dia mengetahui kalau kehamilan Maya terlalu beresiko.
"Kau kenapa, Mark?" Tanya Arvino.
"Wajahmu di tekuk seperti itu, padahal istrimu belum waktunya melahirkan kan?" Tanya Narendra juga, membuat pria itu menghela nafas nya dengan berat.
"Bisakah aku curhat disini? Rasanya agak berat kalau aku harus menyimpan nya sendirian." Lirih Mark sambil menundukan kepala nya.
"Tentu saja, akan kami dengarkan. Mau curhat tentang apa?" Tanya Darren.
"Di usia kehamilan Maya yang ke enam saat ini, dokter menyarankan untuk aku memikirkan agar bisa menyelamatkan salah satunya."
"Maksudnya?" Tanya semua orang serentak, bahkan membuat Mark sampai terkejut dengan ke kompakan mereka.
__ADS_1
"Saat pertama kali kami memeriksakan kandungan, dokter sudah memberikan kabar yang tidak enak. Katanya ada masalah dengan rahim Maya yang membuat janin di dalam kandungan akan sulit bertahan." Lirih Mark.
"Astaga, benar begitu?" Tanya Arvino dan dengan perlahan, Mark menganggukan kepalanya karena memang itu kenyataan nya.
"Saat itu aku mendapatkan kabar baik dan kabar buruk sekaligus. Kabar baik karena akhirnya Maya hamil setelah perjuangan kami promil dan berikhtiar kesana kemari demi momongan, tapi baru saja kami ingin berbahagia malah ada masalah baru yang datang menimpa kami."
"Saat itu, dokter malah menyarankan agar Maya menggugurkan janin itu karena bisa membahayakan nyawa nya jika di biarkan tumbuh berkembang di dalam sana. Tapi Maya bersikukuh untuk tetap mempertahankan anak kami, hingga akhirnya dokter pun pasrah dan memberikan syarat kalau kamu harus melakukan pemeriksaan kandungan rutin setiap bulan, bahkan pernah tiga kali dalam satu bulan karena Maya terusnmenerus pendarahan." Jelas Mark panjang lebar, ada rasa sesak di dadanya ketika dia menceritakan hal pahit yang tengah dia rasakan saat ini.
"Mark.." Lirih Narendra. Dia tidak tahu kalau pria itu tengah di landa masalah yang sangat berat, apalagi ini berhubungan dengan kedua belahan jiwa nya. Padahal dia selalu bertemu dengan Mark setiap harinya, tapi dia tidak tahu kalau Mark memiliki masalah seperti ini.
"Saya pernah merasa down, tapi ketika melihat ketegaran Maya, membuat saya mau tak mau juga harus kuat. Kalau saya lemah, lalu siapa yang akan menguatkan dan mendukung Maya? Saya merasa sangat sakit dan takut di saat yang bersamaan." Lirih Mark membuat Narendra tak tega melihat pria yang sudah lama bekerja bersama nya ini dalam keadaan terpuruk seperti ini.
"Yang paling membuat saya hancur adalah ketika dokter mengatakan kalau saya harus memilih salah satu di antara mereka. Tapi saya tidak bisa, kalau boleh saya egois, saya menginginkan keduanya. Saya ingin istri saya tetap berada di samping saya sampai saya tua nanti, tapi saya juga ingin memiliki anak untuk menemani saya di masa tua nanti meskipun dia akan memiliki kehidupan masing-masing nantinya."
"Mark, percayalah. Semuanya pasti akan menemui jalan keluar, berdoalah dengan sungguh-sungguh. Tuhan itu maha pemurah, dia takkan mungkin memberikan masalah sebesar ini tanpa solusi. Ingat, doa jalur langit jauh lebih manjur. Bahkan ketika dokter mendiagnosa hal itu, tidak ada yang bisa melawan kehendak Tuhan, Mark." Ucap Darren memberikan semangat pada pria itu.
"Saya selalu melakukan nya, bahkan saya menangis ketika selesai beribadah. Tapi saya takut, apa itu akan mengurangi pahala saya?"
"Mengurangi atau tidaknya itu adalah urusan yang di atas, bukan urusan kita. Tugas kita hanya menjalankan perintahnya saja, jika di pinta untuk beribadah kepadanya, lakukanlah. Selebihnya jangan di pikirkan, mau kebaikan dan amal ibadah kita di terima itu kita tidak tahu, yang penting kita sudah melakukan yang terbaik dan sesuai dengan perintahnya." Ucap Darren lagi dengan bijak.
Di usianya yang memang sudah tua saat ini, memang tidak perlu di ragukan lagi tentang kebijakan nya, dia sudah mengalami banyak asam garam kehidupan ini. Dia pernah mengalami keputus asaan yang sama seperti Mark, tapi nyatanya dia masih bertahan sampai saat ini. Dia harus bangga pada dirinya sendiri, kalau saja saat itu dia lelah dan memilih menyerah, pasti dia takkan bisa melihat cucu dan cicitnya berbahagia dan hadir di tengah-tengah keluarga mereka.
"Terimakasih, Tuan Darren. Setelah saya menceritakan semua ini, rasanya lebih lega disini." Jawab pria itu.
"Lain kali, jangan pendam masalahmu sendiri. Kau bisa bercerita pada kami atau hanya Naren, karena dia yang sering bertemu dengan mu kan?"
"Iya, Tuan."
"Semangat, jangan menyerah, Mark. Kau harus yakin kalau semua ini ada jalan keluar nya." Ucap Darren lagi sambil menepuk-nepuk pundak Mark dengan perlahan.
"Benar, Tuan. Doa jalur langit lebih mujarab ya, manusia hanya bisa mendiagnosis tapi jika keajaiban datang lalu ternyata bisa menyelamatkan keduanya, manusia tidak ada yang tahu." Ucap Adam membuat Mark mengangguk-anggukan kepalanya.
"Semangat, papa muda."
"Hahaha, papa muda. Saya masih calon, tuh Tuan Naren yang udah jadi Papa muda." Jawab pria itu membuat Narendra hanya cengengesan.
"Mas.." Teriak suara yang terdengar familiar dari dalam mansion.
"Iya, sayang." Jawab Narendra lalu beranjak dari duduknya, dia masuk dan mendapati kalau Baby Hania tengah menangis kejer tidak bisa di tenangkan oleh siapapun.
"Loh, Hania kenapa? Nangis nya kayak kesakitan gitu."
"Gak tahu tuh, dia nangis gak bisa di tenangin. Coba deh kamu gendong."
"Mas ke kamar dulu ganti baju, bau asap rokok."
"Yaudah cepet!" Ucap Ayunda. Narendra pun berlari ke kamar dan mengganti pakaian nya secepat kilat. Setelah selesai, Narendra pun kembali keluar dari kamar dan melihat kalau Hania masih menangis disana. Narendra pun mengambil alih bayi perempuan itu dari pangkuan sang ibu.
"Cupcupcup, Hania kenapa, sayang? Ini Papa lho, jangan nangis dong.." Ucap Narendra sambil menimang-nimang tubuh bayi kecil itu. Benar saja, hanya dalam waktu beberapa menit saja tangis Hajia pun perlahan mulai reda dan akhirnya dia kembali tertidur lelap di pangkuan sang ayah.
"Nah kan bener apa kata Mami, Hania itu cuma bakalan diam kalau sama Papa nya aja." Ucap Melisa membuat Ayunda tersenyum. Padahal tadi mereka sudah panik karena Hania tidak kunjung diam juga, malah semakin keras menangis nya. Sampai-sampai baby Haneen harus di ungsikan dulu ke tempat yang agak jauh agar dia tidak ikutan menangis juga.
Benar kata Maya tadi, akan berabe urusan nya kalau keduanya menangis nantinya. Rumah itu akan terasa jauh lebih ramai karena kehadiran dua bayi yang sangat lucu itu. Bayi-bayi yang membawa kehangatan bagi keluarga ini.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻