Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 188 - Rosalina & James


__ADS_3

Narendra masuk ke dalam ruangan dengan langkah tegap nya, di tangan nya dia menenteng tas kerjanya yang berisi laptop dan juga beberapa barang yang penting. 


"Tuan.." Sapa pria yang dia tebak mungkin usia nya sudah berkepala empat, dia beranjak dari duduknya lalu mendekat ke arah meja kerja Naren. Pria itu hanya menatap jengah, tanpa berbicara sepatah kata pun. Namun hatinya sangat bergemuruh, ingin sekali dia langsung memakai pria itu karena tak bisa mengajari sopan santun pada istrinya. 


"Hmm, ada apa?"


"Tuan.."


"Ya, ada apa? Kau ingin membicarakan sesuatu dengan ku?" Tanya Narendra sambil menatap pria itu dengan tajam. Kedua tangan nya bersedekap di dada dengan angkuh, dia menyeimbangkan semuanya dengan apa yang di lakukan oleh istri dari pria yang saat ini terlihat akan mengemis sesuatu padanya. 


"Rosa, kemarilah."


"Apa sih, Mas? Aku udah bilang kalau aku gak mau!" Jawab wanita itu dengan gaya angkuhnya. Dia menyedekapkan kedua tangan nya di dada sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. 


"Dia istrimu?"


"Benar, Tuan."


"Pakaian nya lebih tertutup sekarang, padahal saat meeting denganku pakaian nya sudah seperti wanita pekerja ****." Ucap Narendra yang membuat wanita itu seketika menoleh, begitu juga dengan pria yang menatap Narendra dengan tatapan keheranan dan penuh keterkejutan.


"A-apa maksud anda, Tuan?"


"Pakaian nya sangat ketat, apa kau tidak mampu untuk sekedar membelikan pakaian pada istri mu? Sampai-sampai dia memakai pakaian kekecilan?" 


"S-saya tidak tahu tentang hal itu.."


"Ohh ya? Aku pikir kau yang menyuruhnya memakai pakaian layaknya wanita murahaan untuk menggoda ku." Celetuk Narendra membuat wajah pria itu memerah. Fakta nya, dia sendiri yang menyarankan istrinya untuk memakai pakaian seksii. Dia pikir, dengan istrinya memakai pakaian seperti itu akan mempermudah langkahnya untuk menjalin bisnis dengan perusahaan Naren. Tapi ternyata yang terjadi malah sebaliknya. 


"B-bukan begitu, Tuan.."


"Lalu? Atau, kau juga yang menyuruh istrimu mengata-ngatai istriku dengan kata-kata menjijikan, James?" Tanya Naren. Pria bernama James itu menoleh ke arah istrinya yang masih enggan menatap ke arahnya.


"Tuan, saya berani bersumpah saya tidak pernah meminta nya untuk melakukan hal seperti itu." Jelas James membuat Narendra menyunggingkan senyuman sinis nya. 


"Lalu, maksud kedatangan mu kemari untuk apa? Bukankah aku tidak mengundang mu kesini?" Tanya Narendra membuat James terdiam. Benar, dia kesini memang tanpa undangan sama sekali. 


"S-saya.."


"Ohh ya, bagaimana apa kau suka dengan hadiah yang aku berikan? Masih ada banyak yang belum aku keluarkan jika memang belum berkesan." 


"Tuan, saya kesini untuk itu. Saya ingin meminta maaf pada Anda juga istri anda atas perbuatan istri saya." Ucap James. Dia rela datang kemari jauh-jauh dan merendahkan dirinya sendiri untuk mendapatkan sebuah kata maaf, dia berharap dengan Narendra yang bersedia untuk memaafkan nya, dia pikir perusahaan nya yang telah hancur itu bisa pulih kembali seperti semula. 


Entah dengan cara apa pria itu menghancurkan reputasi perusahaan nya, hanya dalam waktu satu malam, semuanya hancur. Bahkan skandal nya pun menyebar kemana-mana, hanya dalam waktu satu malam saja. Padahal Narendra menjanjikan untuk melakukan itu dalam waktu 24 jam, tapi sebelum itu semuanya sudah hancur. 


Investor mencabut saham-saham investasi mereka, hingga perusahaan mengalami banyak kerugian dan terancam bangkrut jika tidak segera mendapatkan suntikan dana secepatnya dan James tidak ingin kehilangan perusahaan yang sudah dia rintis sejak lama. 


"Kenapa harus kau yang meminta maaf? Ini bukan kesalahan mu."


"Saya rela bersujud di kaki anda asal anda mau memaafkan semua kesalahan istri saya."


"Mau kau bersujud di kaki ku bahkan membasuh kaki ku lalu meminum air nya sekalipun, aku takkan sudi memaafkan orang yang sudah menyinggung perasaan istriku!" Tegas Narendra, membuat James membulatkan kedua mata nya. Dia salah jika berhadapan dengan Narendra, dia adalah pria yang keras dan tegas. 


Jika dia sudah membuat keputusan, artinya sudah tidak bisa di ganggu gugat kecuali istrinya yang membujuk dirinya. Tapi dia rasa, Ayunda sekali pun takkan bisa membuat Naren memaafkan kesalahan yang di lakukan oleh Rosalina. Bagi Narendra, perkataan wanita itu sudah sangat keterlaluan dan di luar batas. 


"Tuan, bagaimana jika istri saya yang meminta maaf?"


"Kau bersedia membuat istriku bertekuk lutut di kaki ku?" Tanya Narendra menantang. James menoleh ke arah istrinya yang sudah menatap nya tajam, pertanda kalau dia tidak mau melakukan nya. Karena dia merasa kalau perkataan nya itu tidak salah sama sekali. 


"Rosa.."


"Tidak, Mas. Lagi pun aku tidak bersalah apapun, lalu kenapa aku harus meminta maaf padanya?" Tanya Rosalina dengan lantang. Seolah dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika dia tidak meminta maaf pada Narendra. 


"Kau dengar? Bahkan setelah kau jatuh miskin sekalipun, istrimu masih saja bersikap angkuh. Cihhh, mimpi apa aku semalam bisa berurusan dengan orang seribet kalian berdua?" Narendra menggelengkan kepala nya saking pusing nya dia saat ini, padahal masih pagi tapi sudah menguras emosi saja dengan semua ini. 


"Kau saja yang meribetkan hal sepele seperti itu, padahal aku tidak mengatakan hal yang buruk!" Cetus Rosalina membuat Narendra mengepalkan kedua tangan nya, James yang melihat hal itu tentu saja kelimpungan. Bagaimana kalau Narendra benar-benar marah dan membuatnya jatuh miskin seperti apa yang dia katakan?


"Menyebut istriku murahaan, kuper, itu bukan hal yang buruk, Nyonya Rosalina? Apa anda pikir anda sudah terhormat dengan mengatakan hal itu? Anda tidak merasa bersalah telah mengatakan hal itu di depan saya?" 


"Bahkan dengan lancang nya menampar asisten saya seperti itu?"


"Itu pantas dia dapatkan karena berani menghalangi jalan ku!" Jawab nya dengan lantang, membuat Narendra akhirnya kehabisan kesabaran.

__ADS_1


"ANDA PIKIR ANDA SIAPA HAH?!" Tanya Narendra dengan nada tinggi, pria itu menggebrak meja dengan keras hingga menimbulkan retakan di tengah-tengah meja itu. James bahkan sampai terlonjak saking kagetnya, begitu juga dengan Rosalina. Dia telah memancing amarah seorang Narendra, jangan harap dia akan lolos. 


"Jangan anda pikir kalau anda adalah seorang wanita, maka saya tidak berani melakukan kekerasan pada anda. Saya hanya menghormati anda, tapi ternyata mulut itu sangat kotor hingga ingin sekali aku merobek nya." Narendra beranjak dari duduknya, lalu berjalan mendekat ke arah sofa. 


Rosalina yang melihat itu juga segera berdiri dari duduknya, dia takut melihat kemarahan Narendra yang seolah ingin memakan nya hidup-hidup. Tatapan mata nya sangat tajam, hingga bisa membuat musuh saja gentar hanya dengan melihat tatapan setajam itu. 


Srreeett..


Secepat kilat, Narendra mencekik leher Rosalina, membuat wanita itu membulatkan kedua mata nya. Dia meronta, namun semakin meronta, semakin kuat juga Narendra mencengkram lehernya itu.


"Tuan.."


"Jangan mendekat atau berniat membantu wanita sialan ini, atau kau ingin kepala mu ada di tong sampah esok hari?" Tanya Narendra, membuat James melangkah mundur. Dia tidak mau mati secepat itu, dia masih ingin menikmati hidupnya.


"L-lepaskan.." Lirih wanita itu meminta di lepaskan. Dia juga berusaha untuk menyingkirkan tangan Naren dari leher nya. 


"Kenapa? Bukankah kau yang menantang ku dengan tidak tahu malu nya tadi?" Tanya Narendra dengan senyuman sinis nya.


"M-maafkan aku, Tuan."


"Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang sudah menyakiti istriku!" Jawab Narendra. Itu membuat otak Rosalina berpikir dengan cepat, dia memikirkan memang sehebat dan secantik apa wanita bernama Ayunda itu hingga membuat Narendra sangat menjaga nya, bahkan dia bisa menghabisi nyawa seseorang hanya karena dia mengatai istrinya. 


"S-sakit, tolong lepaskan.." 


"Begini saja baru kau meminta maaf, haha sialan! Kau takut mati di tanganku, Rosalina? Aku masih belum puas memberikan mu hukuman, nyatanya semua yang aku lakukan tidak membuat mu jera. Kau masih bisa menghina istriku dengan mulut sialan mu ini." Narendra semakin memperkuat cengkraman tangan nya hingga membuat wanita itu megap-megap karena kehabisan nafas nya.


Narendra pun melepaskan cengkraman tangan nya, lalu menatap wanita yang kini tengah kalang kabut menghirup oksigen. Dia tersenyum sinis, lalu terkekeh ketika melihat wajah wanita itu memerah karena hampir saja kehabisan nafas. 


"Jadi, bagaimana sekarang? Kau masih ingin berkata-kata kotor tentang istriku?"


"Ckkk, aku tidak takut.." Jawab Rosalina. 


Plak.. 


Tanpa ragu sekalipun, Narendra menampar wajah wanita angkuh itu dengan keras, bahkan hingga membuat wajah nya terhuyung ke samping. 


"Haha, lakukan lagi. Ayo!"


Satu tamparan kembali melayang ke pipi kiri Rosalina, tapi James tidak peduli. Dia membiarkan saja, dia rasa istri nya memang harus di berikan pelajaran. Dirinya sendiri sudah bosan untuk memperingatkan istrinya, tapi dia malah marah dan bahkan tidak segan-segan memberikan kekerasan fisik. Semoga saja, jika dia di berikan pelajaran oleh orang lain dia akan kapok. 


"Mas, lihat dia menampar ku dua kali."


"Itu untuk tamparan yang kau layangkan pada asisten ku, aku membalas nya!"


"Mas!"


"Apa? Aku tidak peduli, kau nikmati saja. Lagipula ini memang kesalahan mu, Rosalina. Mulut mu itu memang harus di hajar." Ucap James yang membuat Rosalina menatap suami nya dengan nyalang.


"Dia berani sekali menatap mu seperti itu, James. Lagi-lagi, jika aku membandingkan nya dengan istriku, dia jauh berbeda. Istriku selalu menatap ku dengan tatapan hangat dan penuh cinta, tidak seperti ini."


"Tuan.." 


"Kau mau apa sekarang?"


"Tolong pulihkan perusahaan saya.." lirih James.


"Aku hanya akan memberikan mu ganti rugi, tapi tidak akan membuat perusahaan mu pulih sepenuhnya. Aku ingin memberi mu tantangan, James."


"Tantangan apa, Nona?"


"Aku beri waktu satu bulan, jika perusahaan mu berkembang dalam kurun waktu yang aku berikan, aku akan memulihkan perusahaan mu seperti awal." Jawab Narendra.


"Tidak perlu, Mas. Kita tidak perlu belas kasihan orang congkak seperti dia, kita akan.."


"Diam!" Bentak James, membuat Rosalina terdiam seketika. Ini adalah kali pertama dia mendengar suaminya meninggikan suaranya padanya. 


"Hahaha, aku pikir kau dan istrimu bukan pasangan yang serasi, James."


"Ya, istriku terlalu dominan. Dia terlalu pengatur dan terlebih dia tidak menghargai aku sebagai suami." Jawab James sambil menatap sinis ke arah Rosalina. 


"Hmm, aku akan mempertimbangkan nya. Kau bisa pergi."

__ADS_1


"Terimakasih, Tuan. Anda sangat baik hati."


"Ya, karena aku hidup dan di besarkan di lingkungan dan di kelilingi orang-orang yang baik." Jawab Narendra. Setelah pembicaraan itu pun, James berpamitan untuk pulang. Sedangkan Rosalina juga pergi dengan membawa tas nya keluar dari ruangan Naren, bahkan dengan tidak sopan nya, wanita itu membanting pintu ruangan dengan kuat. Menyebalkan sekali. 


"Ckkk, menyebalkan sekali wanita itu. Mimpi apa aku berurusan dengan wanita seperti itu? Di jaman sekarang, kok ada manusia macam itu." Gumam Narendra sambil menggelengkan kepala nya, dengan cepat dia mengambil tissu basah dari atas meja dan mengelap tangan nya dengan cepat. 


"Berurusan dengan lalat membuat tangan ku terkontaminasi bakteri, tapi maklumlah soalnya lalat kan suka sampah." 


Sedangkan di luar ruangan Naren..


"Mas.." Panggil Rosalina, dia berjalan terseok-seok karena James berjalan sangat cepat, meninggalkan dirinya jauh di belakang. Dengan high heels yang dia gunakan, membuat dia tidak bisa berjalan dengan cepat. 


"Mas, tunggu dong. Kenapa cepet banget sih jalan nya?"


"Mau apa lagi hah? Kau sangat mempermalukan aku dengan mulut busuk mu itu, Rosalina!"


"Mempermalukan apa? Aku tidak melakukan hal yang membuat mu malu, Mas."


"Sampai kapan kau akan bersikap tak tahu malu seperti ini, Rosa? Jujur, aku muak dengan semua tingkah laku mu." Ucap James. 


"Kau mulai terpengaruh dengan ucapan pria itu, Mas."


"Berhenti menyalahkan orang lain atas kesalahan mu sendiri, Rosa. Aku lelah, aku capek berjuang dengan semua tingkah mu ini."


"Capek apa sih, Mas? Kita baik-baik saja lho sebelum kamu ketemu sama si Naren!" Jawab Rosa, membuat James berdecih kesal. 


"Yang menurutmu baik-baik saja itu tidak baik untuk ku, Rosa. Jadi mari akhiri semua ini, aku lelah berpura-pura tidak tahu dengan penghianatan mu di belakang ku."


"Hahaha, hello. Yang selingkuh disini bukan hanya cuma aku, tapi kau juga." Jawab Rosa tak mau kalah.


"Aku berselingkuh? Tidak, justru kau selingkuhanku, Rosa." Ucap James telak, membuat wanita itu terdiam.


"Apa maksudnya semua ini, Mas?"


"Wanita yang kau lihat di dalam video itu adalah istriku, istri yang sangat aku cintai."


"Jika dia istrimu, lalu aku apa, Mas?"


"Kau hanya sebuah alat untuk ku, seharusnya dari awal kau sadar akan hal itu. Aku tidak mencintaimu sama sekali, apalagi dengan semua tingkah laku menjijikan mu itu, Rosa. Jadi, mari kita akhiri semua ini."


"Mas, kau tidak serius tentang ini kan?" Tanya Rosa lirih.


"Sayang nya aku sangat serius, Rosa. Secepatnya, aku akan mengirimkan surat dari pengadilan. Kau hanya perlu menandatangani nya saja, tidak perlu repot-repot ke pengadilan, karena mulai saat ini, aku tak mau bertemu dengan mu lagi. Ini pertemuan terakhir kita." Jawab James membuat wanita itu menatap James dengan sendu.


"Mas.."


"Kau sudah tak memiliki hak untuk memanggil ku seperti ini, mulai saat ini aku menalak mu, Rosalina."


"Tapi.."


"Aku pergi, mantan istri." Jawab James, lalu pergi meninggalkan Rosa yang masih mematung. Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, secepat ini semua nya berakhir? Apa benar ini semua karena nya?


Rosa mengusap air mata nya, lalu pergi meninggalkan perusahaan milik Narendra. Di perusahaan ini dia di talak, setelah ini dia takkan pernah mau menginjakan kaki nya lagi disini. Cukup, ini adalah kunjungan yang pertama dan terakhir nya. 


Tanpa Rosa sadari, sedari tadi pertengkaran itu di saksikan oleh Mark dan juga Adam. Mereka kompak menguping keributan, tidak sengaja. Mereka ingin kembali ke ruangan Naren, tapi mereka malah di suguhi drama rumah tangga yang sangat sayang kalau tidak di lihat dulu. 


"Agak drama tapi aku puas melihat wanita itu di talak." Ucap Mark sambil berjalan.


"Seperti nya anda memiliki dendam pribadi terhadap wanita itu ya?" Tanya Adam sambil tersenyum.


"Banget, paman. Masa orang gak ada salah malah kena tampar sih? Mana sakit banget lagi, lihat nih masih merah. Sialan banget tuh cewek, mana sakit banget lagi tamparan nya." 


"Tapi, anda bisa melihat kalau pipi wanita itu juga memerah kan? Seperti nya, Naren sudah membalaskan nya untuk anda." 


"Rasanya tidak mungkin, Tuan Naren itu pria yang galak dan tegas. Tapi dia tidak pernah berani menyentuh wanita." Jawab Mark. Dia memang belum pernah melihat Naren melakukan hal semacam itu, tapi dia pernah melihat nya sekali, anardn menampar wajah Trisa saat itu. Itu kali pertama dan terakhir melihat Naren semarah itu, tapi mungkin sekarang dia juga marah seperti waktu itu. 


"Benar-benar menakutkan, astaga. Semoga aku tidak pernah melihat Tuan Naren semarah itu lagi. Rasanya nyawa ku hanya tinggal setengah setelah melihat dia marah." Gumam Mark sambil terus berjalan mengantarkan Adam. 


........


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2