
"Sayang, ambilin telur di kulkas." Pinta Melisa pada menantu nya. Ayunda yang sedang menakar tepung dengan timbangan pun langsung melakukan perintah Mami mertua nya dengan cepat, tanpa menunggu lama lagi.
"Berapa biji, Mi?"
"Empat biji, sayang." Jawab Melisa, Ayunda mengambil telur ayam dan memberikan nya pada Melisa. Setelah itu dia kembali menimbang terigu, mentega juga coklat. Karena sesuai rencana awal, mertua dan menantu itu akan membuat kue kesukaan Narendra, kue coklat.
"Mami, Ayu kok tiba-tiba pengen bolu pisang."
"Boleh, tapi sekarang gak ada pisang nya. Kita harus beli dulu, gimana? Gapapa?" Tanya Melisa. Dia melihat Ayunda terlihat sedikit kecewa, Melisa bisa melihat jelas dari sorot mata nya, meskipun bibir nya melengkungkan senyuman manis nya.
"Gapapa kok, Mi. Besok aja bikin nya." Jawab Ayunda.
"Sebentar ya, Mami nyuruh Mang Parto buat beli pisang nya."
"Tapi Mami.."
"Udah gapapa, sayang. Mami takut kalau kamu lagi ngidam, nanti cucu Mami ileran gara-gara pengen bolu pisang kan gak lucu." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Tapi Mi, Ayu kan gak hamil. Gak tahu kenapa malah tiba-tiba pengen bolu pisang."
"Iya, siapa tahu kamu beneran ngidam, hehe. Mami berharap sih begitu, tapi kalau ini cuma kebetulan juga Mami gapapa. Mami keluar sebentar, kamu lanjutin aja nimbang bahan-bahan nya ya." Ucap Melisa sambil tersenyum kecil dan di angguki oleh Ayunda.
Mengidam? Apa iya dia sedang mengidam saat ini? Entahlah, dia tiba-tiba saja menginginkan bolu pisang yang masih hangat dan di makan bersama teh hangat. Membayangkan nya saja sudah membuat iler nya hampir menetes.
Di luar rumah, Melisa celingukan mencari Mang Parto. Biasa nya dia berada di pos nya, tapi sekarang entah kemana. Hingga akhirnya, dia melihat orang yang dia cari baru datang dengan membawa secangkir kopi di tangan nya. Seperti nya, dia habis dari belakang untuk menyeduh kopi.
__ADS_1
"Mang, kesini dulu.." Panggil Melisa, Mang Parto adalah satpam di rumah nya.
"Iya, Nyonya. Ada apa?"
"Mau minta tolong boleh?"
"Boleh, Nyonya. Minta tolong apa?" Tanya Mang Parto.
"Ayu pengen makan bolu pisang katanya, tapi di rumah kebetulan pisang nya lagi habis. Bisa tolong beliin gak?"
"Ohh, bisa kok bisa, Nyonya." Jawab Mang Parto sambil tersenyum kecil.
"Gapapa, Mang Parto nya habisin aja dulu kopi nya, kalo udah langsung beliin ya."
"Siap, Nyonya. Tapi beli nya pisang apa, Nyonya?"
"Berapa sisir?"
"Satu sisir aja." Jawab Melisa lagi.
"Tapi ini uang nya kebanyakan, Nyonya. Satu lembar saja cukup." Ucap Mang Parto, sambil bersiap untuk memberikan kembali satu lembar uang pada Melisa.
"Udah, sisa nya buat Mang Parto aja. Buat beli susu anak di rumah. Udah dulu ya? Saya masuk dulu, lagi mau bikin bolu coklat buat Naren."
"Siap, Nyonya." Jawab Mang Parto sambil tersenyum. Dia menatap uang yang di berikan oleh Melisa.
__ADS_1
"Allhamdulilah, bisa buat beli susu anak di rumah." Gumam nya, dia pun menyimpan uang nya ke dalam saku. Dia pun duduk sebentar sambil menunggu kopi nya agak sedikit dingin dulu sebelum dia minum. Setelah menghabiskan nya, Mang Parto pun langsung pergi untuk membeli pisang pesanan Nyonya nya dengan menggunakan sepeda motor.
Di dalam rumah, Ayunda sedang mengaduk adonan bolu nya menggunakan mixer. Di dekat nya, ada Melisa yang sedang menyiapkan loyang untuk memanggang bolu nya. Melisa mengoleskan mentega dan tepung terigu di loyang nya menggunakan kuas, lalu Ayunda menuangkan adonan nya ke dalam loyang.
"Sudah, sayang?"
"Sudah, Mi. Tangan Ayu pegel juga ya, hehe."
"Yaudah, biar manggang bolu nya sama Mami aja." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Mami, Ayu boleh makan melon yang ada di kulkas gak?" Tanya Ayunda, dia tahu kalau Narendra membelikan melon itu untuk Arvin, karena pria paruh baya itu sangat menyukai buah melon.
"Makan saja, sayang."
"Papi marah gak kalau Ayu makan melon nya?" Tanya Ayunda lagi.
"Gak bakalan, kalau Papi marah sama kamu, biar Mami bales. Makan aja, sayang." Jawab Melisa, Ayunda pun tersenyum lalu mencuri kecupan di pipi kanan mami mertua nya, lalu berlari kecil ke arah kulkas dan mengambil beberapa potong buah melon lalu memakan nya dengan lahap. Rasa nya sangat manis dan menyegarkan sekali.
"Makan nya sambil duduk, sayang." Ucap Melisa membuat Ayunda cengengesan.
"Maaf, Mami.."
"Gapapa, sayang. Tapi jangan di biasain ya, pamali."
"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Dia pun melangkahkan kaki nya ke meja makan dan kembali memakan melon nya dengan lahap. Selain melon nya manis karena ini bukan buah melon yang ada di pinggir jalan, melon ini juga dingin jadi terasa lebih segar.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻