Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 90 - Kasih Sayang Melisa


__ADS_3

Narendra terduduk di kursi tunggu, mata nya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Hati nya sakit, rasa shock juga masih bercampur aduk sekarang. Dia merasakan banyak perasaan yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata.


Terkejut? Jelas, karena tadi pagi dia melihat Ayunda baik-baik saja, bahkan perempuan itu menemani nya sarapan, tadi pagi juga dia sempat beberes di kamar, malam nya juga dia masih melayani nya di atas ranjang seperti biasa nya. Tapi siang hari nya dia mendapatkan kabar kalau sang istri di bawa ke rumah sakit karena pendarahan. Jadi bisa di bayangkan seterkejut apa Narendra saat ini. 


Naren melirik pintu kaca yang masih tertutup rapat, dia mendesaah kecewa. Dia tak bisa menahan lagi, dia ingin mengetahui keadaan istri dan juga anak nya. Dia beranjak dari duduk nya, tapi beruntung nya, Mark ada disana dan menghalangi niat Narendra. 


"Tuan, anda mau apa?" Tanya Mark sambil menempatkan tubuh nya di depan pintu kaca itu. 


"Aku mau masuk ke dalam, Mark. Aku ingin tahu keadaan istri dan anak ku!" Jawab Narendra, membuat Melisa dan Arvin yang juga ada disana terkejut bukan main. Mereka memang tahu kalau Narendra paling tidak suka menunggu, karena hal itu sangat membosankan bagi Naren. 


Namun mereka tidak menyangka kalau Narendra akan melakukan hal seperti ini. Untung saja ada Mark yang bisa menahan Narendra, kalau tidak entah apa yang akan terjadi. Bisa saja pria itu akan membuat keributan di rumah sakit hanya karena tidak bisa sabar. 


"Tuan, bersabar lah sedikit lagi. Saya yakin, di dalam sana tenaga medis sedang berusaha untuk memberikan penanganan yang terbaik untuk istri dan anak anda. Jadi, jangan lakukan hal gegabah yang akan membuat anda rugi." Ucap Mark.


"Rugi apa nya? Tidak ada, aku akan membayar biaya rumah sakit ini berapa pun, Mark!"


"Di dalam sana kita tidak tahu apa yang terjadi bukan? Bagaimana kalau semisal keadaan Nona Ayunda sangat parah? Lalu anda datang dan masuk begitu saja, bagaimana kalau itu membuat sesuatu yang buruk terjadi, Tuan? Jadi tolong, jangan bertindak konyol yang mungkin akan anda sesali nanti nya." 


Mendengar hal itu, Narendra terdiam. Ucapan Mark sangat benar, benar sekali. Harusnya dia bisa berpikir sejauh mana pikiran Mark, tapi dia terlalu khawatir dan membuat dirinya tidak bisa menunggu, padahal itu juga akan merugikan diri nya sendiri. 


"Mari, kita duduk disana, Tuan."


"Tidak, aku disini saja. Aku berjanji tidak akan berbuat apapun, aku akan menunggu istriku." Jawab Narendra. Dia pun memilih berdiri dengan bersandar di tiang yang berada tepat di depan pintu ruangan IGD. 


'Sayang, kamu pasti baik-baik saja kan? Tolong, jangan kenapa-napa.' Batin Narendra. Dia meremat jemari nya yang terasa dingin dan berkeringat, karena efek gugup dan juga khawatir yang bercampur menjadi satu sekarang ini. 


Beberapa menit kemudian, pintu kaca itu terbuka dan menampilkan seorang perawat berpakaian serba putih.


"Permisi, dengan keluarga pasien atas nama Ayunda?" Tanya perawat itu, Narendra langsung berjalan mendekat secepat mungkin. 


"Saya suami nya, suster. Ada apa? Bagaimana keadaan istri saya sekarang?" Tanya Narendra. Raut wajah penuh ke khawatiran nya begitu kentara di wajah tampan nya. 


"Nona Ayunda hanya pendarahan biasa, seperti nya dia kelelahan karena terlalu banyak beraktivitas, Tuan. Saya sarankan, agar tidak terlalu banyak berkegiatan apalagi melajukan hal-hal yang berat. Itu sangat berbahaya, apalagi Nona Ayunda masih trimester pertama dan itu sangat rentan terjadi keguguran, Tuan."


"Saya ingatkan lagi untuk istirahat total, bed rest saja. Kandungan Nona Ayunda sangat lemah, jadi membuat anda dan orang terdekat, sebagai suami dan keluarga nya di mohon untuk menjaga kehamilan Nona Ayunda dengan ekstra hati-hati." Jelas perawat itu dengan wajah serius nya ini.


"Tapi sekarang, bagaimana keadaan istri saya?"


"Saat ini Nona Ayunda baik-baik saja, janin nya juga masih bisa bertahan. Tapi kalau hal ini sampai terulang, itu bisa sangat berbahaya. Bukan hanya janin nya yang bisa keguguran, bahkan nyawa Nona Ayunda juga bisa terancam, Tuan." Jelas nya lagi, membuat Narendra membulatkan kedua mata nya. Sungguh demi apapun, dia tidak menyangka kalau kandungan sang istri bisa selemah ini.


"Beruntung saja, orang tua anda langsung gerak cepat membawa pasien ke rumah sakit. Kalau terlambat sedikit saja, bisa-bisa janin yang di kandung oleh Nona Ayunda bisa tidak selamat, Tuan. Usahakan, jangan sampai hal semacam ini tidak terjadi lagi. Itu akan sangat berbahaya, Tuan." Peringat plus nasehat dari perawat itu membuat Narendra terdiam.


"Lagi, saya sarankan untuk mengurangi berhubungan badan yang terlalu sering dengan durasi lama. Itu saja yang bisa saya sampaikan untuk sekarang ini, Tuan." 


"Baiklah, Suster. Apa saya bisa bertemu dengan istri saya?"


"Silahkan, Tuan. Tapi untuk sekarang ini, Nona Ayunda masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius tadi."

__ADS_1


"Obat bius? Bukankah itu akan membahayakan kandungan istri saya, suster?"


"Kami petugas medis, Tuan. Kami tahu mana yang berbahaya untuk pasien dan yang tidak menyebabkan apa-apa. Tidak perlu khawatir, kami menggunakan bius khusus untuk ibu hamil." Jelas perawat itu dengan senyuman kecil nya.


"Hufftt, baiklah kalau begitu. Saya izin masuk dulu ya, sus?"


"Silahkan, Tuan. Tapi, siapa yang akan mengurus administrasi nya?" Tanya Perawat itu, tapi terlambat karena Narendra sudah masuk. Ini adalah yang dia inginkan sejak tadi, bertemu dengan istrinya. 


"Saya, Sus. Saya Papa nya pasien."


"Baiklah, mari ikut saya, Tuan." 


"Mi, Papi beresin dulu administrasi nya. Mami gapapa kan disini sendiri dulu? Ada Mark kok."


"Iya, Pi. Sana pergilah cepat." Ucap Melisa. Arvin pun mengangguk, lalu menepuk pundak Mark yang berdiri di dekat pasangan suami istri itu.


"Mark, nitip Ibu dulu ya. Gak lama kok."


"Baik, Tuan besar." Jawab Mark. Arvin pun berjalan menjauh dari ruangan tempat menantu nya di rawat, dia pun segera menyelesaikan administrasi nya. 


Di dalam ruangan itu, Narendra merasakan sesak di hati nya saat melihat Ayunda memejamkan kedua mata nya dengan dapat, wajah nya terlihat sangat pucat, mungkin karena efek terlalu kehilangan banyak darah mungkin. 


"Sayang, Mas kangen. Bangun ya? Maafin, Mas. Karena gagal jagain kamu, maaf.." Lirih Narendra sambil mengusap-usap punggung tangan Ayunda. Di sebelah tangan lain nya, ada jarum infusan yang tertancap disana. 


"Mas khawatir sekali saat denger kata nya kamu pendarahan terus di bawa ke rumah sakit, Mas terkejut sekali tadi. Padahal tadi kamu baik-baik saja." Lirih pria itu lagi, kedua mata berkaca-kaca. Dia benar-benar bersedih dengan apa yang terjadi sekarang ini. Meskipun saat ini janin nya masih bisa di selamatkan karena orang tua nya langsung gerak cepat membawa Ayunda ke rumah sakit, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada Ayunda dan bayi nya.


"M-as.." Narendra mendongak, dia tersenyum kecil ke arah istri cantik nya. Meskipun Ayunda bisa melihat kalau senyum yang di tunjukkan oleh suami nya itu sangat di paksakan.


"Hmm, iya Mas. Aku dimana?" Tanya Ayunda lirih.


"Kamu di rumah sakit, sayang."


"Lho, memang nya aku kenapa, Mas?" Tanya perempuan itu. Narendra membelai wajah cantik sang istri lalu mengecup kening nya dengan mesra. 


"Kamu pendarahan tadi, sayang."


"Ohh ya, tadi perut aku sakit sekali. Apa anak kita baik-baik saja, Mas?"


"Iya, dia baik-baik saja sayang." Jawab Narendra, sambil mengusap-usap lembut perut Ayunda yang sedikit membuncit. 


"Syukurlah kalau begitu, tapi kenapa Mas bisa disini?"


"Mami yang nelpon ngasih tahu kalau kamu di bawa ke rumah sakit, Mas khawatir sama kamu, sayang."


"Maafin Ayu, Mas."


"Kenapa minta maaf, sayang? Kamu tidak salah apapun, karena ini juga bukan keinginan kamu atau Mas. Ini sudah takdir, tapi sekarang tidak ada salah nya kalau kamu nurut sama perintah Mas, ya?" 

__ADS_1


"Perintah yang mana, Mas?"


"Kandungan kamu tuh lemah, sayang. Jadi kamu harus bed rest total minimal seminggu ke depan, kamu gak usah masak, apalagi beres-beres. Biarin aja maid yang melakukan itu agar mereka berguna, tidak memakan gaji buta." 


"Masak aja ya, Mas? Itu kan hobi aku."


"Tidak, sayang." Jawab Narendra dengan tegas membuat Ayunda mengerucutkan bibir nya.


"Please, sayang. Mas gak mau hal kayak gini terjadi lagi, Mas gak suka ngeliat kamu seperti ini, sayang." 


"Hmm, baiklah. Tapi aku bakalan malu sama Mami kalau cuma diem aja di rumah seharian tanpa melakukan apa-apa, Mas."


"Lho kok malu sama Mami? Gapapa, sayang. Mami gak pernah nuntut kamu buat bantuin Mami masak kok, kamu datang ke rumah Mami sebagai menantu bukan pembantu. Jadi, turuti perintah suami kamu, sayang." Ucap Melisa yang tidak sengaja mendengar ucapan sang menantu. 


"Mami.."


"Sayang, Mami gapapa kok kalau kamu gak bisa bantuin Mami masak. Lagi pula itu bukan sepenuhnya kewajiban kamu, ada maid yang bisa memasak untuk kita. Jadi mulai sekarang, turuti saja apa kata suami mu karena dia melakukan hal ini demi kebaikan kamu juga. Mengerti ya?" 


"Maafin Ayu ya, Mi."


"Tidak apa-apa, sayang. Kamu harus banyak istirahat mulai sekarang, kamu harus lebih mengkhawatirkan keadaan kamu sama anak kamu." Nasehat Melisa membuat Ayunda menangis. Dia senang karena mertua nya begitu perhatian dengan keadaan nya, di lain sisi dia juga bersedih karena dia tidak bisa lagi memasak karena suami juga mertua nya melarang mulai saat ini karena kandungan nya yang lemah. 


"Terimakasih, Mami."


"Sama-sama, sayang. Jangan menangis, nanti adik bayi di sini juga ikutan nangis." Ayunda tersenyum saat mendengar cara mami mertua nya membujuk dirinya.


"Kamu belum makan lho, mau makan sekarang?" Tawar Melisa membuat Ayunda mengangguk. Jujur saja, dia lapar sekarang ini. Perut nya terasa kosong, tadi dia hanya memakan beberapa kue kering yang di buatnya bersama Mami mertua nya. 


"Ren, ambilin sup di luar."


"Di luar?"


"Iya, ada sama Mark." Jawab Melisa. Naren pun mengangguk dan mengambil sup yang ada di tangan asisten nya.


"Mark, kau kembali lah ke perusahaan. Maaf karena aku, kau harus bekerja lembur hari ini."


"Tidak apa-apa, Tuan. Ini sup nya, kalau begitu saya permisi dulu."


"Ya, ini kunci mobil ku. Bawa saja."


"Baik, Tuan. Terimakasih." Jawab Mark, dia pun menerima kunci mobil yang di ulurkan oleh Narendra dan pergi dari rumah sakit menuju ke perusahaan kembali. Dia harus bekerja dan sebentar lagi ada pertemuan bersama klien, untung nya Narendra memang sudah memberikan tanggung jawab untuk menggantikan diri nya dalam meeting ini. 


Mewakili Narendra karena dia malas bertemu dengan klien perempuan sejak menikah dengan Ayunda, jadi dia melemparkan urusan itu pada Mark yang masih asik dengan kesendirian nya di usia nya yang sudah hampir menyentuh angka kepala tiga.


"Ini sup nya, Mi." 


Melisa menerima nya dan membuka bungkusan berisi sup buntut itu, lalu mencampur nya dengan nasi dan mulai menyuapi Ayunda dengan telaten. Dia tidak keberatan sama sekali kalau harus menyuapi menantu nya, justru dia senang karena memiliki menantu seperti Ayunda membuat nya merasa dia memiliki anak perempuan. 

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2