Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 98 - Mau Tas?


__ADS_3

Narendra masuk ke kamar nya, pria itu masuk dengan wajah datar nya. Dia berniat untuk menyusul sang istri ke kamar. Dia tidak berekspektasi apapun, tapi begitu dia melihat ke arah ranjang, kedua mata nya di buat melotot saat melihat siapa yang duduk dengan gaya menantang di atas sana. 


"Lho lho, gak bahaya ta?" Gumam Narendra sambil mengusap wajah nya dengan kasar. Bagaimana tidak? Dia melihat istrinya sedang duduk di tengah-tengah kasur dengan gaya yang sungguh menantang. Dia mengenakan pakaian haram berwarna merah yang membuat tubuh Ayunda semakin terlihat sempurna di mata Narendra. 


"Kenapa, Mas?"


"Kamu ini, kenapa memakai pakaian seperti ini, sayang? Kau tahu kan, aku sedang mengurangi jatah karena aku tak mau membuat mu atau baby kita terluka, sayang. Tapi kamu malah memakai pakaian seperti ini, apa-apaan ini?" Tanya Narendra membuat Ayunda terkekeh pelan. 


"Aku hanya memancing mu saja, tapi jika kamu bergairaah itu masalah mu. Lagi pun, aku rasa tidak ada yang salah dengan pakaian ku."


"Tidak masalah kata mu? Itu pakaian dinas, sayang. Tipis sekali, menerawang seperti itu kamu bilang gak masalah?" Tanya Narendra lagi.


"Yaudah sih, kamu mau kan? Udah seminggu kita gak main. Aku kangen lho." Ucap Ayunda membuat pertahanan seorang Narendra runtuh seketika. Dia mana tahan saat melihat penampilan sang istri yang terlihat menantang seperti ini, jangan salahkan dirinya atau junior nya, salahkan saja Ayunda yang memancing nya.


"Mau, tentu saja aku mau. Aku akan melakukan nya dengan perlahan." Jawab Narendra. Dia berjalan mendekat ke arah ranjang dan segera meraih tubuh istrinya, pria itu mendorong tubuh Ayunda secara perlahan lalu menindih nya.


Pertama-tama, Narendra mencium bibir sang istri lalu melumaat nya dengan nikmat, Ayunda juga membalas ciuman juga perlakuan yang di lakukan suami nya. Dia benar-benar sangat menyukai cara pria itu menyentuh nya, benar-benar penuh kelembutan namun tidak mengurangi kemesraan dan gairaah mereka. 


Malam itu, akhirnya Narendra kembali mendapatkan jatah malam nya setelah satu Minggu berpuasa. Narendra melakukan nya dengan penuh hasraat namun dia tetap melakukan nya dengan perlahan dan penuh kelembutan agar tidak menyakiti istri dan juga baby nya. 


"Aaahhh, pelan-pelan Mas. Jangan terlalu dalam.." Pinta Ayunda sambil mendesaah pelan, dia tidak malu-malu lagi untuk mengeluarkan suara erotis nya karena dia ternyata Narendra sangat menyukai suara nya, itu membuat nya semakin bergairaah untuk terus menyentuh istrinya. 


"Panggil nama ku, sayang."


"Aahhh, Naren lebih cepat. Aku akan sampai.." Pinta Ayunda. Narendra tersenyum kecil lalu menundukan kepala nya, lalu mencium bibir sang istri. Ayunda mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh sang suami, kedua nya bermain dengan panas malam ini.


"Bersama, sayang.." 


Narendra menekan senjata nya agar masuk lebih dalam, akhirnya kedua nya berhasil meraih klimaaks mereka masing-masing. Narendra mengecup mesra kening Ayunda dan juga bibir nya. Dia mencabut penyatuan nya dan berguling ke samping. Pria itu meraih sang istri ke dalam pelukan nya. 


"Terimakasih untuk malam ini, Mas sangat puas dengan pelayanan kamu, sayang." Bisik Narendra membuat wajah Ayunda memerah karena malu. Dia malu karena Narendra selalu saja berbisik seperti ini setelah mereka bercintaa. 


"Sama-sama, ini sudah kewajiban aku kan, Mas?"


"Iya, Mas tahu ini kewajiban kamu. Tapi Mas tidak akan meminta lebih dulu kalau bukan kamu yang minta setelah ini. Mas gak mau di marahin lagi sama perawat." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan, begitu juga dengan Ayunda.


"Kok gitu sih, Mas?"


"Tidak apa-apa, sayang." Jawab Narendra sambil mengusap lembut rambut sang istri, lagi-lagi dia melayangkan kecupan mesra di kening istrinya. Setelah itu mengusap-usap perut Ayunda yang sudah sedikit membuncit, lucu sekali.


"Mas.."


"Iya, istriku. Kenapa?"


"Ayu pengen beli tas, boleh?" Tanya Ayunda. Entahlah, padahal biasa nya dia tidak suka membeli apalagi mengoleksi tas atau barang-barang lain nya, tapi sekarang dia ingin membeli tas gara-gara melihat sebuah iklan tas di televisi. Tas itu begitu memikat hatinya saat pertama kali melihat nya. Dia menyukai nya, meskipun dia tahu harga nya pasti tidak main-main. 


"Boleh, tumben sekali kamu pengen tas. Memang nya tas seperti apa, sayang?" Tanya Narendra, tangan nya masih setia mengusap-usap puncak kepala sang istri. 


"Sebentar, Mas." Ayunda mengambil ponsel nya yang sedari tadi tergeletak begitu saja di atas meja nakas. Ayunda mengambil nya lalu membuka ponsel nya dan melihat gambar tas di ponsel nya.


"Yang kayak gini, Mas. Boleh gak?" Tanya Ayunda sambil menunjukkan gambar tas yang dia inginkan pada suaminya. 


"Oke, besok beli ya." Ucap Naren tanpa harus berpikir dua kali. Hanya satu tas saja, meskipun membeli dengan toko nya sekalian pun dia mampu. Tapi istrinya ini bukanlah tipe wanita yang suka mengoleksi barang-barang semacam itu, biasa nya dia akan lebih memilih membeli makanan atau cemilan jika di bandingkan membeli baju, tas atau sepatu. 


Jangan heran, kenapa Ayunda selalu memakai pakaian yang cantik meskipun dia tidak suka membeli baju, namun hal itu bertolak belakang dengan mami mertua nya yang suka belanja. Kebanyakan, pakaian yang di miliki oleh Ayunda adalah Melisa yang membelikan termasuk pakaian dinas nya. Perhatian sekali bukan? Bukan hanya membeli pakaian seperti itu, bahkan pakaian dalaam saja, Melisa yang membelikan nya. 

__ADS_1


"Seriusan, Mas?"


"Iya, memang nya kenapa?" 


"Tapi ini harga nya pasti mahal, Mas."


"Mas tanya, kamu mau tas nya?" Tanya Narendra. Ayunda menganggukan kepala nya, dia memang menginginkan tas itu. 


"Iya, Mas."


"Ya sudah, besok kita beli ke toko nya langsung. Gimana? Kamu mau?"


"Mau banget, Mas."


"Oke, besok Mas pulang lebih awal ya." Jawab Narendra, dia menggesekan hidung nya dengan milik sang istri. 


"Makasih, Mas."


"Sama-sama, sayang. Memberikan mu kebahagiaan adalah tugas Mas." Jawab Narendran dia pun tersenyum sambil memeluk tubuh polos Narendra dan mendusel di dada bidang nya. Sungguh, kelakuan istrinya itu membuat Narendra merasakan sesuatu yang berontak di bawah sana.


"Sayang.."


"Mas.." 


Kedua nya memanggil bersamaan, membuat kedua nya terkekeh pelan lalu kembali saling mengeratkan pelukan satu sama lain. 


"Kamu dulu saja, sayang."


"Mas saja."


"Mau lagi, hehe."


"Mau apa hmm?" Tanya Narendra dengan senyum menggoda nya, dia pura-pura tidak mengetahui maksud perkataan istri nya, padahal jauh di dalam hati dia sudah paham lewat tingkah istrinya saja dia sudah mengetahui nya. 


"Itu lho, yang barusan.."


"Apa?"


"Mas iihhh.." Rengek Ayunda membuat Narendra tertawa, dia pun kembali menindih tubuh sang istri dan kembali memberikan sentuhan-sentuhan di titik sensitif sang istri yang membuat nya kembali bergairaah. 


"Sesuai permintaan mu, istriku." Bisik Narendra dengan suara berat nya, dia sudah kembali berhasraat, akhirnya malam itu mereka kembali mengulangi permainan hingga beberapa ronde yang membuat Ayunda baru bisa tertidur di jam dua belas malam. 


Keesokan pagi nya, Narendra terlihat sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Ayunda juga sudah membereskan ranjang tempat mereka bertempur semalam juga mengganti seprei nya yang mungkin saja kotor terkena cairan-cairan yang tidak seharusnya. 


"Sudah, biar bibi yang nyuci. Kamu gak boleh nyuci, oke?"


"Iya, Mas. Aku cuma ganti doang, setelah itu biar bibi yang nyuci." Jawab Ayunda. 


"Good girl." Ucap Narendra sambil mengacak rambut sang istri yang sudah di sisir rapi membuat nya berantakan lagi. Ayunda mencebikan bibir nya karena kesal, baru saja dia menyisir rambut nya sekarang sudah acak-acakan lagi. 


"Mas ihhh, ini baru aja aku sisir lho. Ngeselin amat."


"Tapi wajah kamu lucu banget, gemesin gini tau gak?"


"Gak tahu, udah aahh. Sana turun duluan, aku mau nyisir lagi." Jawab Ayunda, dia berjalan ke meja rias dan kembali menyisir rambut nya hingga rapih. 

__ADS_1


"Maaf deh, tapi jangan bad mood gitu dong, sayang. Nanti cantik nya hilang lho."


"Bodo amat.."


"Lho, kamu belajar gituan dari mana? Jangan bicara begitu, gak sopan sama suami." 


"Iya kah? Maafin aku, Mas." Ucap Ayunda, Narendra menganggukan kepala nya. Pertanda kalau dia sudah memaafkan sang istri, lagi pun mungkin itu tidak di sengaja. 


"Mas.."


"Iya, istriku?"


"Parfum aku habis.." Lirih Ayunda sambil menunjukkan botol parfum nya yang sudah kosong, hanya tersisa beberapa semprotan lagi dan parfum nya akan habis tak bersisa.


"Ngapain pakai parfum? Gak perlu, aroma tubuh kamu lebih candu dari pada parfum nya." Jawab Narendra.


"Hmm, tetap saja Mas.."


"Nanti kita beli ya, sekalian kita beli tas yang kamu mau itu." 


"Beneran, Mas?"


"Iya, ganti juga parfum nya. Mas agak kurang suka dengan aroma nya, terlalu menyengat." Ucap Narendra. Ayunda menganggukan kepala nya, Naren tersenyum manis. Inilah yang membuat nya jatuh cinta pada Ayunda setiap hari nya, dia adalah wanita yang baik dan penurut. Bahkan bisa di bilang sangat penurut, apapun perkataan nya pasti Ayunda akan menuruti nya. 


"Oke, Mas."


"Ya sudah, ayo kita pergi ke bawah." Jawab Ayunda. Kedua nya pun berjalan keluar kamar dengan tangan yang saling bergandengan mesra, sungguh mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang selalu terlihat romantis, dimana pun dan kapanpun.


Di bawah, Melisa sudah menyambut pasangan itu dengan senyuman ramah tamah nya. Dia tersenyum manis, sungguh melihat Naren dan Ayunda dia seperti deja vu. Dia merasa kalau kedua nya adalah dirinya dan Arvin sewaktu masih muda, benar-benar mirip, bahkan tingkah Ayunda dan Naren benar-benar mirip dengan nya. Seperti mengidam ala Ayunda, dia juga mengalami hal yang sama. Tidak suka dengan aroma suami sendiri dan juga tidak mengidam buah-buahan yang aneh seperti mangga muda atau pun yang lain nya.


"Sayang, sudah siap?"


"Iya, Mami.."


"Mau ke kantor?"


"Iya, Mi. Katanya sih ada meeting penting." Jawab Narendra. 


"Hmm, ya sudah. Ayo sekarang sarapan dulu, Mami masakin makanan kesukaan kalian berdua lho."


"Benarkah?"


"Iya, udang saus mentega, capcai seafood dan beberapa makanan lain nya. Ayo kita makan dulu."


"Papi mana, Mi?"


"Udah nunggu di meja makan tuh." Jawab Melisa. Ketiga nya pun berjalan ke ruang makan, benar saja di salah kursi sudah ada Arvin yang sedang menunggu ketiga nya bergabung untuk sarapan. Meskipun dia tidak bekerja dan tidak akan pergi kemana-mana karena dia sudah pensiun, tapi tetap saja Arvin tidak pernah melewatkan yang nama nya sarapan. 


Pertama, karena dia takut pada istrinya. Alasan kedua, dia suka dengan apapun makanan yang di buat oleh tangan istrinya dan yang ketiga, dia memiliki penyakit lambung. Sedikit saja terlambat makan, pasti perut nya akan sakit dan saat itu pasti istrinya akan marah besar padanya karena telat makan.


Kalau sudah di marahi seperti itu, akhirnya Arvin akan minta maaf namun istrinya akan menghukum nya untuk tidur di luar, maka dari itu sekarang dia tidak pernah terlambat makan lagi untuk menghindari kemarahan sang istri. 


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2