
"Ngapain disitu, sayang?" Tanya Narendra, dia baru saja pulang dari kantor. Lalu pergi ke kamar nya, tapi dia melihat istri nya sedang melamun di balkon.
"Eehh, sudah pulang, Mas?"
"Hmm, kamu lagi ngapain?" Tanya Narendra lagi.
"Enggak ngapa-ngapain kok, cuma menikmati angin saja, Mas."
"Masuk, nanti masuk angin. Kalau mau ngadem cari angin, jangan pakai pakaian seperti itu."
"Iya, Mas." Jawab Ayunda, dia pun segera masuk sebelum Naren marah. Kalau sudah marah, ya cara menenangkan amarah nya hanya ada satu jalan, yaitu bermain dengan nya. Tapi saat ini dia sedang merasa lemas sekali, jadi sudah di pastikan dia takkan mampu kalau harus menggoda suami nya sendiri. Sudah bisa di pastikan, kalau membujuk ya tentu saja dia yang harus banyak gerak, iya kan?
"Tumben langsung nurut?"
"Salah kah? Jadi kamu maunya aku kayak gimana, Mas? Penurut salah, pembangkang juga salah."
"Enggak, kamu gak salah kok karena kamu perempuan." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil.
"Bagaimana kerjaan kamu di kantor hari ini, Mas?"
"Lancar saja, tapi Mas capek banget ini."
"Ohh iya, Mami ada bikinin kamu kue bolu coklat lho, Mas."
"Benarkah? Udah lama Mas gak makan kue bolu buatan Mami." Jawab Narendra sambil tersenyum.
"Mas mau? Kalau mau aku ambilin dulu."
"Iya, ambilin dong. Kayak nya enak, sekalian sama kopi hitam nya."
"Siap, Mas nya mandi dulu ya?" Tanya Ayunda. Narendra menganggukan kepala nya, Ayunda pun pergi keluar dari kamar untuk membawakan kue bolu buatan Mami mertua nya ke kamar.
"Lho, sayang.."
"Iya, Mi. Kenapa?"
__ADS_1
"Naren tadi ke kamar, kok kamu disini?" Tanya Melisa. Dia melihat kalau menantu nya terlihat sangat cantik dengan dress selutut yang dia kenakan, Ayunda sudah mandi tadi.
"Ayu di suruh ngambil kue sama buat kopi sekalian katanya." Jawab Ayunda, membuat Melisa membulatkan bibir nya membentuk huruf O.
"Tumben dia makan di kamar, sayang?"
"Ayu gak tahu, Mami. Tapi Mas Naren minta nya gitu."
"Yasudah, hati-hati bawa makanan nya ke kamar. Kalau butuh bantuan, minta sama maid ya?"
"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Setelah kopi nya selesai di seduh, Ayunda pun membawa nya ke kamar. Dia membuka pintu kamar secara perlahan lalu kembali menutup nya, tapi dia melihat kalau Narendra belum mandi bahkan belum beranjak dari tempat dia duduk tadi.
"Kok belum mandi, Mas?" Tanya Ayunda sambil berjalan mendekat. Dia pun menyimpan sepiring kue dan kopi di atas meja dekat dengan sofa tempat suami nya duduk saat ini.
"Kemarilah.." Pinta Narendra, membuat Ayunda segera mendekat.
"Duduk disini." Pria itu menepuk-nepuk paha nya, meminta sang istri untuk duduk di pangkuan nya.
"Tapi, Mas.."
"Aku tidak suka di bantah, sayang."
"Bukan begini, sayang!" Ayunda langsung memperbaiki duduk nya, dia duduk mengangkaang di pangkuan sang suami.
"Good girl, baby.." Ucap Narendra sambil membelai lembut wajah cantik Ayunda, lalu mengecup singkat leher sang istri.
"Enghh, Mas.."
"Yes, Baby."
"Jangan.."
"Hmm, kenapa jangan? Aku ingin hadiah ku." Jawab Narendra dengan suara berat nya. Kedua tangan pria itu membelit pinggang ramping istri nya dengan posesif.
"Masih sore, Mas.."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kita sudah menikah jadi tidak akan ada yang melarang kita melakukan apapun." Jawab Narendra, membuat Melisa kebingungan mencari alasan agar Naren tidak melakukan hal-hal mesuum pada tubuh nya.
"Mas.."
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Gak nyaman banget duduk begini, Mas."
"Di buat nyaman saja." Jawab Narendra. Bohong kalau Ayunda mengatakan kalau duduk di pangkuan suami nya tidak memberikan rasa nyaman. Dia nyaman, tapi yang membuat nya tidak nyaman adalah sesuatu yang mengganjal di bagian bawah dan menggesek ke bagian paha dalam nya.
"Mas, mandi dulu ya?"
"Main dulu, baru aku akan mandi." Jawab Narendra. Dia mendekatkan wajah nya ke arah wajah sang istri, dia juga menyusupkan tangan nya ke tengkuk belakang sang istri, sebelah tangan nya lagi memeluk pinggang sang istri dengan erat, hingga membuat posisi mereka sangat dekat tanpa jarak sedikit pun.
"Enghh, Mas.." Ayunda kembali melenguuh saat bibir nakal Narendra mulai mengecupi kembali leher nya.
Tapi, saat Narendra ingin mencium bibir Ayunda, perempuan itu dengan cepat menahan dada bidang sang suami sambil menutupi mulut nya. Ayunda turun dari pangkuan sang suami dengan terburu-buru lalu berlari ke kamar mandi.
Naren yang melihat hal itu pun kebingungan sendiri, ada apa dengan istri nya? Baru saja dia akan mencium bibir sang istri, dia langsung pergi ke kamar mandi. Pria itu beranjak dari duduknya lalu menyusul istrinya ke kamar mandi.
Huekk.. huekk..
Ayunda memuntahkan semua isi perut nya di wastafel, Naren masuk dan langsung memijat tengkuk leher sang istri dengan lembut.
"Pergilah, Mas."
"Tidak, kenapa aku harus pergi memang nya?"
"Pergilah, ini sangat menjijikan." Jawab Ayunda lirih.
"Tidak, aku tidak jijik sama sekali."
Akhirnya, Ayunda terkulai lemas. Naren datang dan langsung menggendong istri nya ke atas ranjang dan merebahkan nya dengan perlahan, sangat perlahan seolah Ayunda adalah kaca yang mudah pecah.
"Tuh kan, tadi juga aku bilang apa. Gak usah ngangin di luar, jadi nya masuk angin begini."
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻