
"Ayu.." Panggil seseorang, membuat Ayunda yang nama nya merasa terpanggil seketika menoleh. Dia tersenyum saat melihat seseorang berjalan mendekat ke arah nya.
"Fira.."
Ya, orang yang memanggil Ayunda adalah Fira. Teman sepekerjaan Ayunda di restoran beberapa waktu lalu, plus teman sekamar Ayunda saat dia datang ke kota ini.
"Kamu apa kabar, Yu?"
"Aku baik kok, kamu gimana kabar nya?" Tanya Ayunda sambil memeluk Fira. Dia adalah teman pertama yang di miliki oleh Ayunda. Selama ini, Ayunda memang tidak pernah punya teman karena dia terlalu pendiam seperti nya.
"Aku juga baik. Kamu kesini sama siapa?"
"Sama Mas Naren."
"Ohh, iya." Jawab Fira sambil duduk di samping Ayunda. Dia benar-benar merindukan sahabat nya ini, begitu juga dengan Ayunda.
"Kamu masih kerja di restoran itu, Fir?"
"Iya, nyari kerjaan di kota sebesar ini gak gampang, jadi selama masih ada kerjaan gapapa lah. Aku juga kan punya kerjaan sampingan." Jawab Safira sambil terkekeh.
"Kamu juga masih kerja sebagai kupu-kupu?"
"Hmm, bukan kupu-kupu sih. Lebih tepat nya wanita penghibur, haha." Jawab Fira sambil tertawa.
"Kamu gak ada niatan berhenti gitu?"
"Niat sih pasti ada, tapi gimana lagi kebutuhan mendesak sedangkan gaji aku kan gak seberapa di restoran sana, Yu. Jadi ya mau gak mau aku harus tetep kerja seperti itu biar semua kebutuhan ku tercukupi." Jelas Safira. Ayunda menganggukan kepala nya, dia mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Safira. Kebutuhan sehari-hari memang penting, itulah yang membuat Safira nekat mengorbankan tubuh nya sendiri demi uang.
"Kamu sendiri, gimana sama pria itu?"
"Aku menikah sama dia, Fir." Jawab Ayunda, membuat kedua mata Safira membulat.
"H-aah beneran, Yu? Wah selamat ya, aku ikut senang kalau dia benar-benar tanggung jawab sama kamu."
"Dia pria yang baik kok, Fir. Orang tua nya juga baik, mereka menerima aku dengan sangat baik."
"Syukurlah kalau begitu, dimana dia sekarang?"
"Dia sedang mengantri, aku ingin makan es krim. Habis mabuk kendaraan soalnya, hehe." Jawab Ayunda sambil terkekeh.
"Aku senang kalau kamu baik-baik saja, Ayu. Lain kali, mari kita bertemu dan mengobrol lagi. Sekarang, aku harus pergi dulu."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Oke, aku pergi dulu ya. Dadah.." Safira melambaikan tangan nya pada sang sahabat, begitu juga dengan Ayunda yang membalas lambaian tangan Safira. Membuat Naren yang sedang membawa dua cup es krim itu tampak mengernyitkan kening nya dengan heran.
"Ngapain kamu?" Tanya Naren dengan ketus.
"Eehh, itu tadi ada Safira."
__ADS_1
"Siapa itu?" Tanya Naren sambil duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan sang istri sambil meletakkan cup es krim milik sang istri tepat di depan nya.
"Dia teman sekamar ku dulu, Mas."
"Ohh, gitu ya? Ngapain dia kesini?"
"Mana aku tahu, Mas. Mungkin hanya sekedar berjalan-jalan saja." Jawab Ayunda sambil menyendok es krim di dalam cup dan memakan nya dengan lahap.
"Enak sekali.." gumam Ayunda lirih. Dia benar-benar menyukai es krim tiga rasa ini.
"Aku sudah mengatakan kalau es krim disini semua nya enak."
"Kamu makan yang rasa apa?" Tanya Ayunda saat melihat es krim di cup yang di makan oleh Narendra.
"Green tea, rasa nya enak tidak terlalu manis dan ada sedikit rasa pahit nya." Jawab pria itu.
"Mau mencoba nya, sayang?" Tawar sang pria, Ayunda menganggukan kepala nya dengan cepat. Narendra menyendok es krim dan mendekatkan sendok es krim nya ke mulut sang istri. Perempuan itu menerima nya dan merasakan es krim yang perlahan meleleh di dalam mulut nya.
"Bagaimana?" Tanya Naren.
"Enak juga, lain kali kalau kesini aku akan memesan yang ini." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Oke, sayang. Mau bertukar?"
"Maksud nya?"
"Ckk, kamu kurang peka. Aku kan tadi sudah memberikan mu es krim milik ku, sekarang berikan aku juga milik mu." Jawab Naren sedikit kesal, karena Ayunda tidak peka juga.
"Enak juga, lain kali kita bertukar." Jawab Naren sambil terkekeh. Pria itu pun kembali memakan es krim nya dengan lahap.
"Iya, Mas." Jawab Ayunda. Pria itu pun menganggukan kepala nya.
Setelah menghabiskan satu cup masing-masing es krim nya, kedua nya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke supermarket untuk membeli kebutuhan seperti minyak goreng titipan sang Mami dan juga buah. Barang kali, Ayunda juga menginginkan sesuatu.
"Mau membeli sesuatu, sayang?" Tanya Naren pada istrinya.
"Aku ingin buah."
"Baiklah, kita membeli buah cukup banyak saja kalau begitu." Putus Naren, Ayunda pun menganggukan kepala nya.
"Yang, beli melon empat biji."
"Lho, kok banyak sekali?" Tanya Ayunda.
"Papi suka melon, yang." Jawab Naren. Ayunda pun mengangguk dan memilih buah melon yang sekira nya bagus dengan cara menepuk-nepuk nya. Cara yang cukup aneh bagi Naren, tapi wajar bagi orang desa seperti Ayu.
"Kok di tepuk-tepuk sih, yang?"
"Kan biar tahu ini melon nya mateng atau enggak." Jawab Ayunda membuat kening Naren mengernyit.
__ADS_1
"Aku baru tahu cara ini, yang."
"Ya, di desa tempat aku tinggal kalo milih melon atau semangka pasti di tepuk-tepuk dulu buat mastiin melon nya manis atau enggak. Soalnya ada tuh petani yang cepet butuh uang, jadi panen buah nya sebelum matang sempurna." Jelas Ayunda panjang lebar, membuat Naren terkekeh.
"Baiklah baiklah, terserah kamu saja. Lakukan apapun yang menurut mu baik, sayang."
"Aku aneh ya, Mas?"
"Enggak, siapa yang bilang kamu aneh? Sini, biar berhadapan sama aku." Jawab Naren, membuat Ayunda terkekeh.
"Kamu mau buah apa, yang?"
"Aku suka buah anggur, bolehkah?"
"Boleh, sayang." Jawab Naren, dia pun mengambil satu kotak anggur hijau dan memasukkan nya ke dalam troly belanja. Niat nya hanya membeli bathrobe, malah jadi belanja bulanan.
"Yang.."
"Iya, kenapa?" Tanya Ayunda.
"Beli ini ya, terus buatin puding." Pinta Naren sambil menunjuk buah mangga.
"Boleh, Mas." Jawab Naren. Ayunda pun memilih buah mangga yang bagus dan matang, lagi-lagi Naren di buat keheranan dengan apa yang di lakukan oleh Ayunda. Dia menciumi buah nya.
"Aku iri deh sama buah mangga."
"Iri kok sama buah mangga, memang nya kenapa?" Tanya Ayunda.
"Buah nya di cium-cium sama kamu, tapi aku enggak di cium sama kamu, yang."
"Lah, kok gitu.."
"Gak tahu aahh, aku iri pokoknya."
"Udah, gak usah merajuk. Nanti di rumah aku cium kamu deh."
"Beneran?" Tanya Naren dengan wajah berbinar cerah nya.
"Iya, aku cium nanti."
"Asik, sekalian main gak sih?"
"Boleh, aku masih ada pakaian tipis kayak kemarin beberapa biji lagi."
"Dari mana kamu punya baju begituan sih, Yang?" Tanya Narendra. Setahu nya, Ayunda ini gadis yang polos tapi kenapa dia bisa memiliki pakaian dinas seperti itu? Kemarin malam saja dia dibuat terkejut melihat penampilan sang istri.
"Dari Mami kamu kayaknya, soalnya udan tergantung di lemari pakaian." Jelas Ayunda sambil memilih buah mangga.
"Mami memang yang paling mengerti."
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻