Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 112 - Nasehat Ayunda


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Mark sudah berada di mansion keluarga Sanjaya. Bukan untuk ngapel, tapi kali ini dia datang memang benar-benar untuk pekerjaan. Bukan pekerjaan sih lebih tepatnya, tapi untuk mengingatkan Narendra kalau hari ini adalah jadwal ke pengadilan untuk kasus Trisa, Johan dan juga Mona. 


Siapa Johan? Dia adalah pria yang meretas data-data perusahaan dan memperjual belikan nya pada Trisa. Bayaran nya memang bukanlah uang, tapi kepuasan. Ya, Trisa mendapatkan celah untuk bisa mendekat pada Narendra dan Johan mendapatkan kepuasan karena bayaran yang dia dapatkan adalah tubuh model seperti Trisa. 


Kesempatan yang tidak datang dua kali bukan? Jadi, Johan memanfaatkan kesempatan dengan baik. Bahkan, Trisa mendapatkan sensasi baru saat bermain bersama Johan karena cara bermain nya yang kasar namun nikmat. Mereka sepakat untuk menjadi partner, namun itu tidak bertahan lama karena kedua nya keburu terciduk dan terpaksa harus tidur di lantai dingin penjara.


"Ngapain Lu, pagi-pagi udah nyengir di rumah gue." Celetuk Narendra dengan ketus.


"Hehe, mau nyamper anda, Tuan. Soalnya hari ini kan sidang perdana." Jawab Mark sambil tersenyum kecil.


"Gue harus ke pengadilan gue? Ketemu wanita itu? Lu aja deh, Mark. Gue males." Jawab Narendra membuat Mark tercengang, kalau boleh jujur ya dia juga malas sebenarnya.


"Mas, gak boleh gitu lho. Mark itu cuma asisten kamu doang, jangan kamu limpahkan semua kerjaan sama dia, kasian. Mana masih jomblo, kasih lah waktu buat dia pacaran gitu." Ucap Ayunda yang membuat Narendra mendelik, sedangkan Mark tersenyum manis. Dia merasa senang karena ada yang membela hak nya. 


"Pacar nya juga ada disini, yang."


"Hah, siapa Mas?" Tanya Ayunda lagi. Mana dia tahu kalau maid yang sekarang menjadi maid khusus melayani nya adalah kekasih Mark.


"Maya."


"What? Walah, cocok banget kalian berdua tuh." Ucap Ayunda sambil tersenyum antusias.


"Hehe, susah yakinin dia nya Nona."


"Wajar aja sih, nama nya juga perempuan. Tapi sekarang udah resmi kan? Pacaran gitu."


"Hehe, iya sudah, Nona." Jawab Mark sambil tersenyum manis.


"Wah, kapan?"


"Semalam, Nona."


"Walah, pantesan semalem ada martabak. Pasti dari anda kan? Nyogok Papi itu, gara-gara pulang telat."


"Hehe, iya Nona. Cari aman lah, biar gak kena amuk." Jawab Mark sambil tersenyum malu-malu. 


"Yaudah, selamat ya. Jangan lupa cepet di resmiin, Maya itu cantik nanti di taksir cowok lain lho."


"Hehe, iya Nona. Niat nya juga gak mau pacaran, mau langsung lamaran aja." 


"Bagus itu, jangan lupa undangan nya ya."


"Sayang, gak di undang juga kita bakalan ikutan sibuk soalnya Maya itu kan udah di anggap anak sendiri sama Mami." Celetuk Narendra membuat Ayunda tersenyum.


"Iya juga ya. Nah, makanya dia udah mau pengantinan, jadi di ringanin dikit kerjaan nya kasian."


"Jadi, kamu mau Mas yang bekerja keras? Nanti Mas lembur kamu marah-marah lagi, bilang gak ada waktu lah buat kamu sama anak kita." Cerocos Narendra sambil mendelik, Ayunda menggandeng tangan besar sang suami dengan manja. 


"Hehe, iya juga. Aku gak suka kamu gila kerja."


"Nah kan, yaudah." 


"Ini malah drama rumah tangga di ajakin ke pengadilan buat sidang padahal." Gumam Mark lirih sambil menggelengkan kepala nya. 


Dari dapur, Maya terlihat mesem-mesem saat melihat wajah tampan sang pujaan hati di pagi hari yang terlihat agak mendung ini. Siti yang melihat itu terlihat menggoda teman nya karena sedari tadi dia terus saja tersenyum. 


"Ciee, yang habis jadian terus pagi-pagi udah di apelin." Celetuk Siti. 


"Apaan sih, enggak ya."


"Wajah kamu tuh gak bisa bohong, keliatan banget seneng nya." Jawab Siti sambil mencubit pelan pipi gembul sahabat nya.


"Udah di buatin kopi apa belum?" Tanya Amel. Dia sedang bertugas untuk membersihkan sayuran dan akan di masak untuk menu sarapan hari ini. Maya juga sedang menyiapkan makanan khusus untuk Ayunda, karena dia tidak boleh makan makanan yang bersantan, apalagi yang pedas. Jadi menu sarapan nya setiap hari berbeda dengan yang di makan oleh anggota keluarga yang lain.


"Belum, ini lagi mau di buatin kok."


"Yaudah, buatin dulu sekalian buat Tuan Naren sama susu nya Nona Ayunda, ini biar aku yang selesaikan." 


"Makasih, Sit."


"Sama-sama, bestie ku." Jawab Siti. Maya pun segera membuatkan kopi dan susu untuk majikan dan juga kekasih nya. 


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya dua cangkir kopi dan segelas susu hangat untuk Ayunda selesai di buat. Maya meletakan nya di atas nampan dan membawa nya ke depan. 


"Tuh pacar kamu.." Tunjuk Narendra ke arah belakang, Mark menoleh dan tersenyum manis saat melihat kekasih nya datang dengan kopi. 


"Ini kopi dan susu nya, Tuan dan Nona muda."


"Terimakasih, Maya." Ucap Ayunda sambil tersenyum.


"Sama-sama, Nona. Menu sarapan pagi ini ada cream soup dengan ikan salmon, Nona. Apa ada sesuatu yang ingin anda tambahkan?" Tanya Maya. Kebiasaan nya setiap pagi ya seperti ini. Dia memasak apa yang di sarankan oleh Melisa, namun dia tetap meminta saran kalau seandainya ada yang ingin wanita itu tambahkan. Maklum lah, nama nya juga bumil kan? Mood nya terkadang tidak bisa di tebak.


"Sudah, itu saja. Tapi buat makan siang, aku mau ceker dong."


"Baik, di buat sup atau di dimsum?" Tanya Maya. 


"Kayak seblak gitu di kasih kencur, tapi jangan pakai cabe. Oke?"


"Baik, Nona. Akan saya buatkan." Jawab Maya, setelah itu dia pun undur diri. Tapi Mark malah menatap wanita itu nyaris tanpa berkedip, bahkan hingga punggung sang kekasih menghilang di balik belokan menuju dapur.

__ADS_1


"Kamu bisa bucin juga, Mark."


"Eehh, hehe.."


"Maklumin aja, Mas. Dia lama sendiri, pas jatuh cinta sama punya pacar ya wajar aja kalau dia bucin." Celetuk Ayunda sambil meminum susu nya hingga habis setengah nya.


"Susu nya enak, Mas."


"Lebih enak punya kamu, susu murni langsung dari sumber nya." Jawab Narendra dengan wajah datar nya. Seolah apa yang dia katakan tidak membuat Mark sport jantung, padahal dia jomblo mana paham yang begituan ya? Tapi dari ucapan Narendra terdengar sangat ambigu. 


"Mas.."


"Dih, susu murni apaan? Dari mana sih, Tuan? Apa anda ternak sapi sekarang?" Tanya Mark yang membuat Narendra mencebikan bibir nya.


"Heleh, nanti juga tahu kalo udah punya bini." Jawab Narendra sambil merangkul sang istri dengan mesra, membuat Mark merasa malu sendiri melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Tapi yang melakukan nya malah terlihat biasa saja, bahkan wajah nya masih datar tidak berubah sama sekali. Bisa begitu ya?


"Jadi, anda akan menghadiri sidang atau tidak?"


"Bisa di wakilkan tidak?" Tanya Narendra. Jujur saja, dia sudah sangat muak melihat atau mendengar nama wanita itu. Dia sudah ingin berhenti mendengar nama nya, tapi sialnya dia malah harus kembali mendengar nya akhir-akhir ini. 


"Seperti nya bisa, Tuan."


"Ya sudah, wakilkan saja sama pengacara. Terima beres aja, sekarang kita ke kantor saja." Jawab Narendra.


"Baiklah, Tuan. Saya akan memberitahu pada pengacara kita terlebih dulu."


"Hmm, baiklah. Habiskan kopi mu, setelah itu kita berangkat." Ucap Narendra dan langsung di angguki oleh Mark.


"Nanti saya minta waktu sebentar ya? Buat pamitan sama Maya." Pinta Mark sambil tersenyum kecil. Narendra menghembuskan nafas nya dengan kesal lalu melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya.


"Lima menit, kalau telat gaji mu aku potong." 


"Baik, Tuan."


'Ngeri nya kalau urusan nya udah sama gaji.' Batin pria itu. Dia harus rajin menabung sekarang, memang orang tua nya pasti akan sangat menyanggupi untuk membuat pesta pernikahan yang mewah, tapi dia juga harus tahu diri bukan? Dia hanya anak angkat, jadi dia tidak boleh terlalu menggantungkan hal ini pada kedua nya. Sudah cukup dia bergantung pada kedua nya selama ini, tapi sekarang dia sudah dewasa dan sebentar lagi akan memiliki seorang istri. 


"Kok bengong, kenapa?" Tanya Narendra membuat Mark langsung terkekeh pelan.


"Maaf, kebiasaan suka bengong." Jawab Mark. 


"Sana kalo mau pamitan." 


"Baik, Tuan." Jawab Mark. Pria itu pun segera pergi dari ruang tamu, dia berjalan santai ke dapur untuk mendatangi sang kekasih. 


"Sayang.." Panggil Mark membuat Maya menoleh, pria itu tersenyum lalu memeluk sang pujaan hati dari belakang.


"Iya, Mas. Kenapa? Jangan peluk-peluk, nanti ada yang lihat."


"Hmm, jadi mau apa?"


"Mau pamitan, aku mau kerja. Doain aku ya? Semoga kerjaan aku lancar, biar gajian nya juga lancar."


"Iya, aku pasti doain kamu kok." Jawab Maya. 


"Sun dulu dong, biar aku semangat kerja nya."


"Apaan sih? Gak ada ya, gak usah nyosor-nyosor terus kamu nya. Belum juga halal udah nyosor terus." Celetuk Maya membuat Mark tertawa. 


"Baru bibir atas, sayang. Belum ke tahap bibir yang bawah."


"Heh, udah jangan mesuum disini." 


"Oke, nanti di kamar."


"Mas, ihhh.."


"Haha, baiklah. Kalau begitu, aku pergi kerja dulu buat nikahin kamu ya?"


"Iya, hati-hati di jalan nya. Jangan nakal, jangan genit sama cewek, oke?"


"Ciee, ayang mulai posesif."


"Mas.." 


"Iya iya, sayangku." Jawab Mark. 


"Sana berangkat, ngapain masih disini? Nanti kesiangan kamu nya, nanti di marahin tuan muda lho baru tau rasa." Ucap Maya membuat Mark menunjuk pipi nya. Maya yang paham akan apa yang di maksud oleh sang kekasih pun sontak membulatkan kedua mata nya.


"Enggak, nanti aja."


"Sekarang, apa susah nya sih cuma kiss pipi doang. Cepetan, keburu siang ini." Bujuk Mark.


"Yaudah, sana berangkat. Tahu udah siang ngapain masih disini sih?"


"Sun dulu, sayang. Semakin cepat kamu cium aku, semakin cepat aku pergi." Jawab Mark lagi. Akhirnya, mau tak mau Maya pun harus menuruti permintaan pujaan hatinya. Perempuan itu mendekatkan wajah nya ke wajan Mark, pria itu tersenyum nakal, seperti nya dia memiliki ide yang cukup licik untuk bisa mengelabui kekasih nya. 


Beberapa inchi lagi sampai bibir Maya menyentuh pipi Mark, namun pria itu membalikan wajah nya dan akhirnya bukan pipi yang di Maya dapatkan, namun bibir tebal sang kekasih. Maya membulatkan kedua mata nya, namun dengan cepat Mark menahan tengkuk Maya untuk memperdalam ciuman nya. 


Pria itu melumaat singkat bibir Maya dan menyudahi nya karena hari sudah siang, kalau bisa dia ingin terus mencium sang kekasih, tapi waktu nya terlalu mepet. Hanya tinggal satu jam lagi untuk waktu jam masuk kantor, bisa-bisa gaji nya benar-benar di potong oleh Narendra kalau dia keenakan mencium sang kekasih.

__ADS_1


"Terimakasih, sayang. Nanti sore Mas kesini lagi, jangan nakal ya. Mas pergi dulu." Ucap Mark sambil mengacak rambut sang kekasih dengan gemas, lalu pergi meninggalkan dapur dengan langkah tegap nya. 


Sepeninggal nya pria itu dari dapur, Maya memegangi dada nya yang berdebar tidak karuan, bahkan jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Astaga, seperti nya aku akan mati muda kalau terus-terusan berdekatan dengan Mas Mark." 


"Ehem, ciee.."


"Astaga, ngagetin aja kalian berdua." Ucap Maya, jujur saja dia terkejut saat mendapati kedua teman nya ternyata berada di ruangan ini juga. Bagaimana kalau mereka melihat apa yang Mark dan dia lakukan tadi? Astaga, malu sekali kalau semisal mereka berdua melihat nya. 


"Ciee, di samperin ayang ke dapur."


"Husshh, sana kerja lagi. Jangan godain aku, nanti aku baper." Jawab Maya yang membuat kedua teman nya tergelak.


"Yaudah, kita lanjutin kerjaan dulu. Jangan sampai terbayang-bayang ya."


"Apanya?" Tanya Maya.


"Ehem, yang di acak-acak rambutnya Maya tapi yang berantakan malah hati kita. Sialan.." Ucap Amel sambil berpura-pura menunjukkan wajah sedih nya.


"Pengen punya pacar juga gak sih?"


"Jadian sama Bejo sana."


"Bejo ganteng sih, tapi kemayu." Jawab Siti sambil terkekeh. 


"Hahaha.." Ketiga nya pun tertawa, lalu pergi untuk melanjutkan kegiatan masing-masing. 


Maya kembali fokus membuat cream soup untuk sarapan Ayunda, sang bumil cantik yang moodyan, tapi tidak masalah karena Ayunda sangat baik dan ramah. Meskipun terkadang ada saja yang membuat bumil itu bad mood. 


"Maya.." Panggil Ayunda. Wanita itu tersenyum kecil sambil menatap wajah sang Nona. 


"Iya, Nona. Selamat pagi."


"Pagi, Maya. Cream soup nya sudah siap? Aku laper, hehe."


"Sebentar lagi, Nona." 


"Baiklah, ini kue buatan siapa?"


"Buatan saya, Nona. Saya membuat nya kemarin untuk anda."


"Baiklah, sebelum makan aku mau ngemil kue dulu." Ucap Ayunda.


"Semoga rasa kue nya enak dan sesuai dengan lidah anda, Nona. Selamat menikmati, Nona." Ucap Maya dengan ramah. Ayunda tersenyum, saat bersama Mona dulu dia tidak pernah bicara seakrab ini, bahkan mereka jarang sekali bicara. Tapi berbeda dengan Maya, bahkan dalam beberapa hari mereka bisa sangat akrab dan bisa mengobrol dengan santai seperti seorang teman.


"Kue nya enak, May. Lain kali buatin cookies dong, kayaknya enak deh."


"Cookies? Baiklah, akan saya buatkan besok, Nona."


"Terimakasih, Maya." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.


"Sama-sama, Nona. Itu sudah tugas saya sebagai maid."


"Kamu terlalu baik, mungkin itulah yang membuat Mark jatuh hati sama kamu. Selain itu, kamu juga kalem dan tidak menunjukan sifat-sifat yang membuat seorang laki-laki illfeel."


"Anda terlalu memuji saya, Nona. Saya hanya bersikap seperti biasanya saja, lagipun saya tidak menyangka kalau Tuan Mark akan mengungkapkan perasaan nya malam itu. Jujur saja, saya malu."


"Kenapa harus malu, May?" Tanya Ayunda. 


"Saya sadar diri, Nona. Saya hanya seorang maid, sedangkan Tuan Mark adalah pria yang mapan dan memiliki pekerjaan bagus."


"Tapi cinta tidak mengenal semua itu, May. Kamu tahu? Aku juga seperti mu awalnya, siapa lah aku? Hanya gadis desa yang di telantarkan, lalu tak sengaja bertemu dengan Mas Narendra dan terjadi kecelakaan yang mengharuskan aku menikah dengan nya."


"Kecelakaan, Nona?"


"Hmm, sebuah jebakan yang membuat kami menghabiskan satu malam yang panjang bersama. Aku tidak percaya pada Narendra awalnya, aku kira dia hanya pria brengseek yang mengambil keuntungan dari seorang gadis lugu." Jelas Ayunda sambil tersenyum kecil. Jika mengingat awal pertemuan nya dengan Narendra, selalu membuat hati nya miris. 


"Saat dia mengatakan kalau akan mempertanggung jawabkan semua nya, aku kira itu hanya bualan semata. Tapi ternyata, dia serius dengan ucapan nya. Selang satu minggu, dia membawa aku ke rumah ini untuk bertemu kedua orang tua nya, May. Percayalah, tidak semua laki-laki di dunia ini brengseek." 


"Hmmm, iya Nona. Tapi tetap saja saya merasa tidak pantas untuk membersamai Tuan Mark."


"Jangan seperti itu, May. Kamu cinta sama Mark kan? Begitu pun juga dengan Mark. Perjuangkan cinta kalian, ingat tidak ada kata pantas atau tidak pantas. Selama kalian bahagia, jangan pikirkan hal-hal yang tidak perlu apalagi sampai membebani diri sendiri." Ucap Ayunda menasehati sang maid. 


"Jadi, saya harus berani?"


"Tentu saja, kamu berhak bahagia begitu juga dengan Mark. Kalian sama-sama saling mencintai bukan? Kalau iya, maka tidak ada satu pun orang yang bisa memisahkan kalian, kecuali kalau Tuhan berkehendak lain. Kamu paham kan?"


"Paham, Nona. Terimakasih sudah memberikan saran yang baik untuk saya."


"Semangat, kalian harus bahagia. Aku yakin itu, Mark adalah pria yang baik, begitu juga dengan mu. Kalian sama-sama baik, jadi harus bersama." 


"Terimakasih, Nona. Mau sarapan sekarang?"


"Iya, kamu temani ya? Kamu juga belum sarapan kan?"


"Baik, Nona." Jawab Maya, sudah biasa baginya untuk menemani Ayunda sarapan. Namun menu mereka berbeda, Ayunda akan makan makanan yang sama dengan anggota keluarga yang lain. Hanya Ayunda saja yang memakan menu yang berbeda karena dia tidak boleh makan terlalu banyak yang memakai garam apalagi cabai. 


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2