
"Sayang, makan dulu ya. Biar asi nya lancar nanti." Ucap Melisa sambil membawa nampan berisi bubur dan sup daging. Sup sangat bagus untuk pemulihan tenaga, maka dari itu Melisa memilih menu itu untuk menantu kesayangan nya.
"Mas Naren sama Papi kemana, Mi?"
"Lagi jemur Baby Haneen sama Hania, sayang."
"Tadi kan udah di jemur, Mi." Ucap Ayunda dengan khawatir.
"Kamu tenang saja, mereka melakukan nya sesuai anjuran dokter kok."
"Ohh begitu ya? Baiklah, Ayu mau makan dulu. Udah laper, hehe." Jawab wanita itu dan mulai makan dengan lahap. Dia sudah kelaparan sejak tadi, hanya saja rasanya tidak enak kalau dia meminta makan.
"Makan yang banyak, sayang."
"Paman Adam kemana, Mi?" Tanya Ayunda di sela makan nya.
"Beliau pergi ke kantor tadi pagi-pagi sekali, katanya gak enak kalau gak masuk kerja lagi. Nanti pulang kerja dia kesini." Jelas Melisa membuat Ayunda mengangguk-anggukan kepalanya mengiyakan. Dari dulu, Paman nya itu memang sosok yang pekerja keras dan selalu merasa tidak enakan.
Karena itulah, Adam seringkali di manfaatkan oleh orang lain karena perasaan tidak enakan nya itu.
"Paman mu itu penuh dengan energi positif ya.."
"Dari dulu, Paman memang seperti itu, Mi. Makanya seringkali di manfaatkan orang lain karena yang tidak pernah berpikiran negatif tentang orang lain." Jelas Ayunda sambil tersenyum.
"Dia pria yang baik."
"Iya, tapi maaf sekali. Ayunda mengatakan ini sama Mami, Paman itu orang yang sangat baik hanya saja di pertemukan dengan orang yang salah." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecut. Dia ingat benar bagaimana perlakuan bibi nya pada Adam ketika dirinya masih tinggal disana dulu.
Sebenarnya, pekerjaan rumah seperti mencuci baju, piring, mengerjakan pekerjaan rumah adalah tugas Adam. Tapi setelah ada Ayunda di rumah, tugas itu menjadi tugasnya. Lalu, apa pekerjaan bibi nya dan juga anaknya? Ongkang-ongkang kaki, kutekan, luluran. Mereka pandai menghabiskan uang dari hasil bekerja Adam, tapi untuk kebutuhan pria itu tidak di perhatikan sama sekali oleh istrinya.
"Hmm, Mami dengar beliau sudah ada di rumah sakit khusus penderita depresi."
"Iya, Mas Naren yang mengurus kepindahan Bibi kesini." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Kamu masih memiliki rasa sakit yang belum kamu ceritakan pada Mami, sayang?"
"Sebenarnya ada banyak, tapi tidak apa. Biar Ayu menyimpan nya sendiri saja." Jawab Ayunda. Benar, masih ada banyak sekali rasa sakit yang dia dapatkan semenjak dia tinggal bersama Adam juga istrinya. Tapi untuk yang itu, dia akan bungkam. Dia khawatir suami dan keluarga nya ini akan menuntut perbuatan wanita itu padanya.
"Tidak apa-apa, berceritalah kalau kamu sudah siap, sayang."
"Iya, Mami. Ini sup nya enak, apa gak ada lagi, Mi?" Tanya Ayunda sambil cengengesan. Dia menunjukkan nampan yang sudah kosong, nasi dan sup nya sudah masuk ke dalam perutnya.
"Masih pengen ya? Yaudah, Mami telepon Papi dulu buat beliin."
"Tapi Baby.."
"Mami yang ambil alih, tunggu sebentar ya, sayang."
"Hehe, iya Mami. Makasih ya dan maaf Ayu ngerepotin Mami."
"Tidak, sayang. Kamu tidak pernah merepotkan apapun pada Mami, sudah dulu ya. Mami ambil baby dulu." Ucap Melisa. Wanita paruh baya itu pun pergi keluar dari ruangan perawatan sang menantu. Ayunda sendiri menatap langit-langit ruangan itu dengan senyuman kecilnya.
"Mama, Papa, maaf Ayunda belum sempat datang untuk menjenguk Mama Papa disana. Tapi Mama Papa pasti lihatin Ayu dari atas sana kan? Sekarang, Ayu udah jadi orang tua. Ayu punya dua anak sekarang." Gumam Ayunda sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba saja, dia merindukan kedua orang tuanya.
"Mama sama Papa datang di mimpi Ayu ya nanti malem? Ayu kangen." Lirihnya sambil mengusap dadanya. Entahlah, dia selalu merasakan sakit dan sesak di dadanya ketika dia mengingat kedua orang tuanya. Apakah dia belum ikhlas akan kepergian mereka? Tidak, dia sudah melakukan itu. Dia sudah menerima keadaan sejak hari itu juga, dia menjalani hari-harinya yang terasa berat tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Hanya bimbingan sang paman lah yang membuatnya bisa setegar dan sekuat ini, tanpa pria itu mungkin sudah lama Ayunda putus asa dan bahkan mungkin memilih mengakhiri hidupnya sendiri saking beratnya cobaan yang datang padanya silih berganti.
Tak lama kemudian, Narendra dan Melisa kembali masuk ke dalam ruangan dengan dua stroler bayi yang mereka dorong.
"Sayang, Baby Haneen kayaknya pengen nyusu deh." Ucap Narendra sambil memberikan Baby Haneen ke pangkuan sang istri. Dengan senang hati, Ayunda menerima sang putra lalu mulai menyusui nya dengan perlahan.
"Aasshh, pelan-pelan saja, sayang.." Lirih Ayunda, dia meringis karena Haneen menyedot susu nya dengan kuat.
"Seperti nya dia sudah lapar, sayang."
"Iya, Mami." Jawab Ayunda sambil menyusui putranya dan mengusap-usap kepala sang putra lalu mengecupnya dengan lembut.
__ADS_1
"Tidur lagi ya, sayang." Ayunda menimang Haneen dengan lembut, hingga akhirnya putranya itu kembali tertidur dengan lelap.
"Dia sudah tidur, Mas."
"Biar Mas menidurkan nya, sayang." Ucap Narendra. Dia mengambil alih Haneen dari pangkuan sang istri dan kembali meletakan bayi kecil itu di dalam ranjang khusus bayi yang tadi pagi di antarkan oleh perawat.
"Sayang, gantian Baby Hania yang bangun pengen nyusu." Ucap Melisa sambil menggendong Hania yang terlihat gelisah dalam tidurnya.
"Sini, Mi." Ayunda mengambil alih baby Hania dari pelukan ibu mertuanya. Dia juga menyusui bayi perempuannya itu dengan perlahan, meskipun dia harus menahan rasa ngilu karena bayi nya menyusu dengan kuat.
"Hania iri sama Abang ya? Jangan iri ya, sayang. Mama bakalan adil kok sama kalian berdua, karena Mama sayang kalian." Ucap Ayunda lirih, dia melakukan hal yang sama. Mengusap lembut kepala buah hati nya itu dan mengecup kening bayi mungil dengan kulit yang kemerahan itu.
"Sayang.."
"Iya, Mami. Kenapa?"
"Hania sudah tidur lagi?" Tanya wanita itu. Melisa menganggukan kepala nya. Melisa pun mengambil alih cucu perempuan nya itu dan menidurkan nya di ranjang bayi. Tak lama kemudian, Arvino datang dengan membawa sup daging pesanan istrinya.
"Ini sup daging nya, Mi."
"Nah, akhirnya datang juga. Ayo makan lagi, sayang."
"Lho, ternyata buat Ayu toh? Papi pikir buat Mami." Ucap Arvino sambil terkekeh.
"Jangan-jangan sup nya pakai sambel?" Tanya Melisa.
"Enggak kok, Papi bilang sama penjual nya biar sambel nya di pisah."
"Pinter.." Ucap Melisa sambil mengusap rambut suaminya.
"Iya dong, Papi gitu lho." Bangga Arvino sambil tersenyum. Berbeda dengan Narendra yang mencebikan bibirnya ketika mendengar ucapan sang Papi yang agak menggelikan bagi telinganya itu.
"Ayo makan lagi, sayang."
"Terimakasih, Mami."
"Iya, sama-sama sayang." Ucap Melisa. Dia pun tersenyum ketika melihat Ayunda makan dengan lahap. Sungguh, melihat nafssu makan menantu kesayangan nya ini selalu membuatnya senang, dia selalu makan dengan lahap.
"Sini duduk, biar aku suapi."
"Hehe, makasih istriku." Ucap Narendra sambil mengelus kepala sang istri, dia juga mengecup kening Ayunda dengan mesra.
"Gak usah di manja, sayang. Ini ada porsi buat suamimu."
"Gapapa kok, Mi. Mas Naren juga pasti capek jagain baby dari pagi-pagi buta tadi." Ucap Ayunda. Melisa pun pasrah dan membiarkan Ayunda menyuapi Narendra.
Pria itu makan dengan lahap, sesekali Ayunda juga menyuapi dirinya sendiri. Setelah itu dia kembali menyuapi suaminya.
"Mas.."
"Iya, sayang."
"Kapan Ayu bisa pulang? Bosen rasanya disini terus, hehe."
"Sabar ya? Mas takut kalau jahitan nya putus lagi kalau kita maksain pulang sebelum jahitan di anu nya kering." Ucap Narendra sambil meringis ngilu sendiri. Bagaimana bisa manusia hidup di jahit? Apalagi di bagian sensitif nya. Membayangkan nya saja sudah membuatnya ngilu sendiri, lalu bagaimana dengan Ayunda yang merasakan nya?
"Ohh, harus nunggu sampai jahitan ini kering dulu ya, Mas?" Tanya Ayunda.
"Iya, sayang."
"Kalau kamu masih di rawat disini, nanti kalau ada yang terjadi kan kita bisa minta tolong dokter dan perawat." Jawab Narendra sambil mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.
"Yaudah deh, dari pada aku sakit nanti kena jahit lagi."
"Sabar ya, nanti kalau sudah sembuh kita pulang kok. Kamu kangen sama rumah ya?" Tanya Narendra.
"Iya, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Keduanya pun kembali mengobrol dengan santai, Arvino dan Melisa juga ada di ruangan itu, tapi mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ayunda juga tidur siang, Narendra? Dia bekerja lewat laptop yang sengaja dia bawa dari rumah. Meksipun dia cuti untuk menemani istrinya yang melahirkan, tapi pekerjaan tetap harus selesai meskipun dia tidak bisa datang ke perusahaan.
Sore harinya, Adam datang dengan membawa paperbag yang entah apa isinya. Pria paruh baya itu masih mengenakan seragam office boy nya lengkap dengan topi. Pria itu membuka pintu dan melihat Ayunda tengah menggendong salah satu bayi nya, di sampingnya ada Narendra yang sedang menemani istrinya. Tak jauh dari keduanya, ada Melisa dan Arvino yang tengah mengasuh cucu mereka juga. Mereka menimang nya dengan sayang, mengecupi nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Wah, lagi pada bangun ya.." Ucap Adam sambil meletakan paperbag itu di atas meja nakas. Adam membuka topi nya dan berdiri melihat kondisi Ayunda yang terlihat jauh lebih membaik. Narendra mengambil alih bayi kecil itu dari pelukan sang istri dan membawa nya agak sedikit menjauh, bukan tidak boleh Adam melihatnya tapi dia memberikan waktu dan ruang untuk Ayunda bicara dengan paman nya.
"Iya, agak rewel. Mungkin pusat nya sakit ya, kan belum copot." Ucap Ayunda.
"Hmm, kamu kurang tidur beberapa hari ini, sayang?" Tanya Adam dan wanita itu menganggukan kepala nya. Memang pada kenyataan nya dia agak sulit tidur, sejak kontraksi hari itu. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, entah kenapa dia juga tidak tahu alasan nya. Padahal dia tidak lagi merasakan sakit, tapi tetap saja rasanya tidak tenang.
"Ini awal perjuangan mu menjadi seorang ibu, sayang."
"Iya, Paman." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Tapi meskipun begitu, Ayu bahagia karena memiliki dua buah hati yang sangat berarti untuk Ayu." Sambung Ayunda lagi, membuat Adam tersenyum lalu mengacak rambut Ayunda dengan lembut dan gemas.
"Ini hadiah buat anak-anak kamu, sayang. Maaf ya harga nya murah, Paman gak bisa beliin barang-barang mahal buat anak-anak kamu."
"Paman.."
"Terimalah, jangan lihat dari harga nya ya. Paman memberikan ini ikhlas." Ucap Adam membuat Ayunda menerima paperbag itu dan memeluknya. Dia menatap wajah Adam yang terlihat lelah, keriput di wajahnya menggambarkan betapa lelahnya dia selama ini.
Kedua mata Ayunda berkaca-kaca, dia dekap tas itu lalu menangis sejadinya. Dia tak tahan lagi dengan semua ini, betapa dia sangat berterimakasih pada Adam. Tanpa pria itu dia takkan bisa seperti saat ini, Adam adalah orang yang memiliki peran penting bagi Ayunda, dalam kehidupan nya.
"Paman, terimakasih sudah memberikan hadiah untuk anak-anak Ayu. Ayu tidak pernah mempermasalahkan harga atau apapun nya, Ayu sudah sangat bahagia dengan semua ini. Terimakasih, Paman." Ucap Ayunda sambil menangis.
Adam tersenyum, dia meraih tubuh keponakan nya itu dan mendekapnya dengan erat. Dia mengusap-usap kepala belakang Ayunda dengan lembut, pria itu juga memejamkan matanya. Dia tidak ingin menangis, tapi suasana nya sangat mendukung. Dia sangat menyayangi Ayunda, hingga dia mengusahakan untuk membelikan hadiah kecil untuk anak-anak keponakan nya itu.
"Paman, terimakasih sudah menyayangi Ayu sejak kepergia Mama dan Papa. Ayunda sangat berterimakasih sama Paman, kalau saja Paman tidak menyayangi dan memberikan Ayu kekuatan hari itu, mungkin Ayu takkan berada disini sekarang." Ucap Ayunda di pelukan sang paman.
"Kamu tetap anak paman yang selalu membanggakan, sayang." Lirihnya. Benar, Adam sudah menganggap Ayunda sudah seperti anak kandung nya sendiri. Tapi rupanya hal itu menimbulkan banyak rasa iri pada diri Mona yang membuatnya tumbuh menjadi anak yang keras kepala dan susah di atur. Dia juga bersikap jahat pada Ayunda, padahal sebenarnya dia tidak bersalah apapun.
Tapi bagi Mona, Ayunda selalu bersalah karena sudah membuat kasih sayang Adam terbagi. Bahkan Adam terlihat jauh lebih menyayangi Ayunda di bandingkan dengan Mona yang notabene nya adalah putri kandung nya. Dari sanalah kebencian Mona mulai tumbuh di tambah dengan dukungan dari ibunya, membuat dia semakin jahat. Tapi Ayunda tidak begitu, dia adalah gadis yang baik hati dan dengan senang hati dia memaafkan semua kesalahan Mona tanpa di minta sekalipun.
"Paman hanya memberikan mu petuah, selebihnya itu bergantung pada dirimu sendiri, sayang. Paman bangga karena kamu bisa mencapai semua ini sekarang."
"Ini semua berkat Paman, terimakasih."
"Tidak, ini berkat dirimu sendiri, Nak." Ucap Adam. Dia mengecup puncak kepala Ayunda dengan lembut. Narendra yang melihat adegan itu mengusap matanya yang tiba-tiba saja berair.
"Jangan cengeng, udah punya dua anak juga." Celetuk Arvino sambil tersenyum mengejek ke arah putranya.
"Ckk, cuma kelilipan doang tadi. Mana ada aku nangis? Aku kan pria sejati, buktinya udah punya dua anak." Jawab Narendra, gantian dia yang tersenyum mengejek ke arah sang Papa.
"Papi gak mau bikin Mama mu kesakitan, makanya cuma punya satu anak."
"Haha, alasan."
"Jadi kamu mau punya adik? Oke, Papi kabulkan."
"Eehh, gak mau!"
"Hahaha, lagian Mami juga gak bakalan mau tuh hamil lagi." Jawab Arvino sambil terkekeh. Usia mereka sudah tua, jadi tidak mungkin punya anak lagi. Jadi, cukup satu anak saja. Satu anak saja sudah memusingkan apalagi anak nya macam Narendra, apalagi kalau dia punya adik?
"Jadi, rencana mau nambah atau udahan aja?" Tanya Arvino pada Narendra, putranya.
"Apanya, Pi?"
"Anak, mau nambah lagi atau udahan aja?"
"Ckkk, dua aja cukup Papi."
"Haha iya, dua anak lebih baik yaa.." Ucap Arvino sambil tersenyum. Naren juga memiliki alasan yang sama seperti sang ayah, dia tidak mau melihat istrinya kesakitan lagi seperti kemarin. Yang kemarin saja dia masih ingat benar bagaimana paniknya saat melihat keadaan istrinya, sebisa mungkin dia tidak ingin menambah momongan lagi. Dua anak sudah cukup, baru juga lahiran masa sudah membahas anak lagi?
"Seperti itu iklan keluarga berencana, iya kan?" Tanya Narendra sambil tertawa kecil.
"Iya, dua cucu saja sudah cukup untuk Papi." Jawab Arvin sambil tersenyum. Dua cucu dari Naren sudah lebih dari cukup, dia tidak mau ikutan panik seperti kemarin. Belum lagi rasanya juga dia merasakan sakitnya karena pernah ikut panik saat Melisa akan melahirkan dulu. Jadi, keputusan nya dua anak lebih baik.
__ADS_1
....
🌻🌻🌻🌻🌻