Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 195 - Backingan Rosalina


__ADS_3

"Tuan Naren.." Panggil Mark, membuat Naren yang merasa terpanggil pun menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat Mark berjalan dengan cepat ke arahnya. 


"Iya, ada apa Mark?" Tanya Narendra dengan wajah datarnya.


"Hari ini Rosalina benar-benar hancur, Tuan." Ucap Mark membuat Naren mengangkat sudut bibirnya dengan sinis. Dia menyeringai ketika mendengar ucapan Asisten pribadi nya itu. 


"Kau yakin, Mark?"


"Yakin, Tuan. Kali ini aku benar-benar membuat perhitungan dengan nya karena sudah berani mengusik anda." Jawab Mark dengan yakin.


"Bagus, sekarang dia hidup seperti gelandangan bukan?" Tanya Narendra lagi. Kedua pria itu berjalan beriringan dengan Naren berada di depan. Di belakang nya ada Mark yang mengikuti langkah Narendra.


"Mungkin jauh lebih dari kata gelandangan, Tuan."


"Baguslah, itu sebagai pelajaran karena dia sudah berani menyinggung perasaan istriku. Dia sampai menangis semalam setelah mengetahui apa perkataan Rosalina, Mark."


"H-aahh? Nona Ayunda mengetahui nya, Tuan?" Tanya Mark lagi membuat Narendra menjawab hanya dengan anggukan kepala nya saja. 


"Dari mana dia tahu, Tuan?"


"Aku, karena dia bertanya kenapa aku memiliki masalah dengan wanita bernama Rosalina itu. Jadi aku menjelaskan semuanya, bahkan di depan Papi dan Kakek. Mereka tidak menyalahkan tindakan ku karena mereka juga tidak suka saat menantu kesayangan mereka di sakiti seperti ini." Jelas Narendra panjang lebar, membuat Mark mengangguk-anggukan kepala nya. 


"Mana ada ya orang yang rela melihat orang yang dia sayangi di sakiti seperti itu, saya aja kesel apalagi Tuan dan tuan besar ya kan." 


"Awasi saja wanita musang itu, dia wanita yang cukup berbahaya seperti nya. Aku takkan memaafkan apapun jika sampai wanita itu menyakiti istriku lagi. Kali ini masih ada toleransi, aku hanya menghancurkan nya, tidak sampai membunuhnya." Ucap Narendra membuat Mark bergidik. Inilah yang dia takuti dari sosok Narendra, dia selalu paling bisa membuatnya ketakutan bahkan hanya dengan kata-kata nya saja. 


Naren tidak pernah bercanda dengan apapun yang dia katakan, Narendra juga tipe laki-laki pendendam. Dia akan mengingat apapun yang pernah di lakukan seseorang kepadanya terlebih jika itu menyakitinya. Dia tidak segan-segan untuk turun tangan sendiri, meskipun sampai saat ini belum pernah ada orang yang mati di tangan Narendra, tapi tidak menutup kemungkinan jika pria itu bisa melakukan nya jika kesalahan nya sudah sangat fatal dan sulit di maafkan. 


"Baik, Tuan. Saya akan mengawasi pergerakan wanita itu."


"Hmm, baiklah. Ayo mulai bekerja, pekerjaan kita banyak hari ini."


"Iya, Tuan. Ada meeting juga hari ini."


"Meeting dengan klien dari mana? Aku tidak mau meeting membawa petaka seperti yang sudah-sudah ya." Ucap Narendra.


"Tidak, Tuan. Ini meeting dengan klien tetap, seperti nya ada yang ingin mereka bicarakan." 


"Apa ini ada hubungan nya dengan Rosalina?" Tanya Narendra pada Mark, pria itu menganggukan kepala nya membuat Narendra tersenyum sinis.


"Jacob?"


"Iya, Tuan."


"Ada hubungan apa Rosalina dengan Jacob?" Tanya Narendra lagi sambil menatap Mark.


"Saya belum bisa memastikan nya, tapi sepertinya dia memiliki hubungan dengan Tuan Jacob, namun apa hubungan nya saya belum tahu." Jelas Mark. Narendra mencebikan bibir nya, baru saja dia merasa puas dengan apa yang di laporkan oleh Mark, tapi sekarang dia sudah merasa kesal lagi. 


"Tadi kau bilang kalau kau sudah menghancurkan nya, tapi kenapa dia masih bisa melawan dengan meminta tolong pada orang lain, Mark?" Tanya Narendra dengan suara datar nya.


"Entahlah, saya juga bingung. Hehe.."

__ADS_1


"Cengengesan kau, sudahlah. Kalau pria itu datang, suruh saja masuk ke ruangan ku. Kau juga ikut masuk, paham?" Tanya Narendra dengan tegas.


"Paham, Tuan."


"Bagus, aku masuk dulu. Selamat bekerja." Ucap Naren. Dia pun masuk ke dalam ruangan nya dan menutup pintu nya dengan perlahan, begitu juga dengan Mark yang juga masuk ke dalam ruangan nya dan keduanya pun memulai pekerjaan masing-masing dengan fokus sebelum keributan melanda. 


Narendra sudah memiliki feeling sendiri, kalau kedatangan pria itu pasti akan membawa keributan nantinya. Dia tidak menyangka kalau permasalahan ini akan berujung panjang seperti ini. Narendra tidak terima istrinya di kata-katai, Rosalina juga tidak terima dirinya hancur sendirian hingga nekat meminta bantuan seorang pria berkuasa sebagai backingan nya untuk bisa menghancurkan Naren. 


Tapi, Naren lebih kuat dan cerdik. Dia takkan bisa di hancurkan semudah itu, dia memiliki apa yang tidak di miliki oleh pengusaha lainnya, yaitu Mark sebagai asisten pribadi yang dia banggakan karena kinerja nya yang luar biasa. Kalau tanpa Mark, seperti nya Naren akan merasa ada yang kurang karena selama ini pria itu banyak membantu nya dalam hal apapun. Bahkan dalam kehidupan pribadi juga, Mark ikut berperan akan hal itu. 


Siang harinya, tepatnya ketika jam makan siang, Jacob dan asisten nya pun datang ke perusahaan, mereka di sambut dengan ramah oleh Mark selaku asisten pribadi Narendra. Pria itu mempersilahkan keduanya untuk masuk ke ruangan Narendra. 


"Ohh, anda sudah datang, Tuan?" Sapa Narendra dengan senyum kecilnya ketika dia melihat pintu terbuka dan menampilkan Jacob yang datang dengan wajah datarnya. Dari aura nya saja sudah benar-benar tidak bersahabat. Seperti nya saat ini, Naren juga harus kembali menahan emosi nya. Dia harus meningkatkan kesabaran nya lagi untuk menghadapi pria paruh baya ini.


"Hmm.." Pria paruh baya itu hanya berdehem sebagai jawaban. 


"Silahkan duduk, Tuan." Ucap Mark ke arah sofa yang ada di tengah-tengah ruangan Naren. Keduanya pun langsung menduduki sofa itu, tak lama kemudian di susul oleh Narendra yang juga ikut duduk disana dengan posisi saling berhadapan. 


"Saya tidak terlalu suka basa-basi, tapi kedatangan saya kesini sebenarnya bukan untuk pekerjaan." Ucap Jacob sambil menatap Narendra dengan tajam. Tapi sedikitpun Naren tidak merasa gentar, dia malah dengan tenang membalas tatapan tajam itu dengan tak kalah tajam nya. 


"Lalu, untuk apa? Harusnya, kalau bukan urusan pekerjaan kita atur waktu untuk bertemu di luar kantor, Tuan." Jawab Naren sambil tersenyum. Tapi senyum sinis yang tersungging di bibirnya itu.


"Aku kesini hanya ingin menanyakan, ada masalah apa kau dengan Rosalina?" 


"Ohh, wanita itu. Tapi memang nya ada hubungan apa anda dengan wanita ular itu, Tuan Jacob yang terhormat?" Tanya Narendra dengan sindiran halus, yang membuat Jacob menatap sinis ke arah Narendra. 


"Dia adik ipar ku."


"Maaf, setahu saya istri anda tidak memiliki adik dan tentunya itu bukan Rosalina." Ucap Mark ikut buka suara. Sedangkan Asisten Jacob hanya terdiam, namun sesekali dia mengernyitkan kening nya heran dengan apa yang di katakan tuan nya mungkin.


"Diam, kau tidak di ajak bicara!"


"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya mengatakan apa yang saya tahu." Jawab Mark tetap sopan, meskipun rasanya dia juga sudah ingin menampol kepala plontos pria paruh baya itu menggunakan pena yang sedang dia pegang.


"Jadi, apa alasan kenapa kau melakukan hal seperti itu pada Rosalina."


"Simpel saja, karena aku tidak terima saat dia mengata-ngatai istriku dengan kata murahaan dan jalaang padahal dirinya sendiri yang memenuhi kriteria kedua kata-kata kotor yang dia ucapkan dengan lantang tanpa sedikitpun merasa bersalah. Bahkan, setelah aku menghancurkan nya pun dia tidak meminta maaf sama sekali." Jelas Narendra panjang lebar, membuat kedua mata Jacob membulat seketika. 


Rasanya tidak percaya kalau Rosalina bisa mengatakan hal demikian pada istri Narendra padahal sejauh ini, dia saja tidak tahu seperti wajah wanita yang berstatus istri Narendra. Wanita yang beruntung karena bisa di cintai dengan hebat oleh pria sekelas Narendra, sudah jelas jika dia bukanlah wanita sembarangan tentunya. 


"Rasanya tidak mungkin Rosalina mengatakan hal seperti itu." 


"Ada Mark sebagai saksi dan kalau perlu, silahkan cek cctv di cafe xxx." Ucap Narendra dengan wajah datarnya, seolah tanpa beban ketika dia mengatakan hal itu.


"Dari awal, aku sudah tidak mau menghadiri meeting itu. Aku dan Mark sepakat untuk meeting bersama James, tapi ternyata malah di wakilkan oleh Rosalina. Aku benar-benar merasa malu ketika melihat cara wanita itu berpakaian, sebagai seorang pria saja aku merasa malu karena wanita itu nyaris mengenakan pakaian dinas untuk menemui ku. Apa itu pantas? Itu adalah alasan pertama."


"Kedua, dia marah besar ketika aku dan Mark sepakat untuk tidak menerima kerja sama dengan perusahaan milik James karena aku rasa ada yang tidak beres dengan perusahaan itu, ternyata benar dugaan ku kalau perusahaan itu memang bermasalah di bagian produksi nya."


"Ketiga, dia mengatakan kalau istriku itu murahaan, jalaang. Itu benar-benar kata yang paling tidak pantas yang di tujukan untuk istriku, wanita yang paling aku cintai, wanita yang paling aku puja setelah ibuku. Itu adalah kesalahan terbesar yang di lakukan oleh Rosalina padaku."


"Keempat, ketika dia datang kemari bersama James, aku kira dia datang kemari untuk meminta maaf dan meminta damai secara baik-baik. Tapi rupanya tidak, James memang melakukan nya tapi tidak dengan Rosalina. Wanita itu dengan angkuh mengatakan kalau dia tidak bersalah, padahal akar permasalahan nya ada pada dirinya yang tak bisa menjaga lisan." 

__ADS_1


Jelas Narendra panjang kali lebar, agar tidak menimbulkan masalah lain. Mau bagaimana pun, Jacob adalah klien yang baik. Mereka sudah sering bekerja sama dalam banyak bidang, tapi sekarang keduanya harus terlibat hal semacam ini hanya karena keangkuhan satu wanita yang membuat masalahnya jadi panjang. 


"Coba saja anda pikirkan, bagaimana perasaan anda jika hal itu terjadi pada anda. Dia mengatakan kalau istri anda seperti itu, apa anda akan diam saja? Saya jamin, tidak. Anda pasti akan bertindak untuk memberikan pelajaran pada orang itu, bukan?" Tanya Narendra membuat Jacob akhirnya paham inti dari permasalahan ini.


"Aku sendiri tidak keberatan untuk memaafkan kesalahan Rosalina, hari itu saja andai dia meminta maaf padaku, mungkin aku takkan membuat nya seperti sekarang. Tapi mulutnya benar-benar pedas hingga membuat aku marah sekali, Tuan Jacob."


"Aku tidak tahu ternyata kesalahan Rosalina sefatal ini."


"Saya takkan melakukan hal yang keterlaluan jika kesalahan nya tidak fatal, Tuan. Tapi kali ini, dia sudah sangat keterlaluan bahkan perkataan nya itu membuat istriku murung beberapa hari ini. Saya tidak terima akan hal itu!" Tegas Narendra membuat Jacob mengangguk-anggukan kepala nya mengiyakan.


Baginya, apa yang sudah di lakukan oleh Narendra tidak salah sepenuhnya. Karena dia sudah berlapang dada untuk mencoba memaafkan wanita itu andai dia mau meminta maaf, tapi sayang nya wanita itu tetap bertahan dengan keangkuhan nya. Melindungi orang yang paling berharga dalam hidupnya adalah sebuah prioritas yang di utamakan oleh Narendra. Dia menjaga perasaan sang istri dengan baik, dari hal apapun bahkan rela melakukan segala cara untuk melindungi sang istri.


"Kata-kata itu sangat menyakitkan tentunya."


"Jelas, sampai istriku murung hingga sekarang." Ucap Narendra membuat Jacob terdiam. Tadinya dia ingin membantu Rosalina untuk melabrak Narendra karena sudah membuatnya sengsara. Tapi sekarang dia berubah pikiran, dia merasa kalau apa yang di lakukan oleh Narendra hanya upaya untuk melindungi sang istri, tidak lebih. 


"Jadi, katakan apa pendapatmu sekarang terhadapku?"


"Aku memihak mu, karena aku pun pasti akan melakukan hal yang sama jika hal itu terjadi pada istriku."


"Hahaha, kau akan membela nya kan? Tapi kenapa sekarang kau malah menghianati nya?" Tanya Narendra membuat Jacob mati kutu. Dari mana pria ini tahu kalau dia ada main dengan Rosalina?


"Bosan dalam sebuah hubungan itu wajar, apalagi kau dan istrimu sudah bersama selama puluhan tahun, bukan? Tapi caramu menghilangkan rasa bosan mu itu sangat salah, Tuan Jacob." Ucap Narendra membuat Jacob menatap wajah Narendra.


"Cari solusi yang terbaik, bukan dengan cara menghianati kepercayaan istrimu sendiri. Setia itu lebih menantang meskipun ada ratusan wanita yang siap untuk menggoda, tapi kau harus menguatkan hatimu."


"Ingat, siapa yang menyambutmu sepulang bekerja? Siapa yang memasak, yang mencuci pakaian mu, menyiapkan segala keperluan mu, bahkan mengandung dan melahirkan anak-anak sebagai penerus mu. Itu adalah istri, selingkuhan mu belum tentu bisa melakukan hal itu, tapi istrimu sudah jelas-jelas bisa melakukan nya." Ucap Narendra membuat Jacob merasa malu.


Usia nya dengan Narendra terpaut cukup jauh, tapi Naren bisa berpikira jauh lebih dewasa di bandingkan dengan dirinya. Harusnya dia belajar dari Narendra yang memilih untuk tetap setia meskipun godaan sudah di depan mata, saat meeting bersama Rosalina saja contohnya. Jika laki-laki lain, mungkin saja dia sudah tergoda tapi untung saja dia memiliki iman yang kuat dan akhirnya dia bisa menahan semua godaan itu karena dia berpikir takkan ada wanita yang bisa mengalahkan istrinya. Sehebat apapun dia, tetap istrinya yang paling hebat. 


"Tundukkan pandangan mu, jika bosan cari solusi atau suasana yang akan membuat hati dan perasaan mu tenang, selesaikan rasa bosan mu bukan hubungan nya. Itu saja dariku, sebaiknya segera akhiri hubungan tak sehat itu sebelum kau kehilangan istrimu. Istri yang telah menemani mu sejak dari bawah, kau akan menyesal jika sampai kehilangan nya."


"Jaman sekarang tidak banyak wanita yang mau menemani pria nya berjuang, itu sudah sangat sulit di temui. Kau harusnya merasa beruntung karena memiliki istri sebaik itu, tapi kenapa kau malah menyakitinya?"


"Entahlah, aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa aku melakukan hal sekotor itu padahal yang aku miliki sekarang hanyalah istriku. Bahkan anak-anak ku saja tidak bisa menjaga ku sebaik istriku." Ucap Jacob. 


"Kau baru menyadari nya? Sebelum semua nya terlanjur, lebih baik kau tinggalkan Rosalina. Dari wajahnya saja seharusnya kau bisa menilai kalau dia bukan wanita yang baik, mana ada wanita yang baru cerai bahkan belum ada seminggu tapi sudah memiliki kekasih yang baru?" 


"Iya, aku juga memikirkan nya."


"Pikirkan dengan baik, istrimu jauh lebih baik dari wanita itu. Jangan tertipu oleh paras nya, karena itu tidak menjamin sebuah kebaikan hati."


"Terimakasih sudah memberi ku nasehat yang baik, Naren. Padahal niatku datang kesini itu tidak baik, tapi kau tetap bersikap ramah seperti ini. Jujur, aku merasa malu. Bahkan saat melangkahkan kaki kesini pun aku sudah merasa malu dan tidak percaya diri." Lirih Jacob membuat Narendra tersenyum kecil.


"Sama-sama, aku sudah tahu niat mu. Tapi bukan berarti aku harus bersikap tidak baik padamu, kan? Pergilah, minta maaf pada istrimu dan perbaiki hubungan mu dengan nya."


"Iya, aku akan mengakhiri hubungan ku dengan Rosalina dan memperbaiki hubungan ku dengan istriku." Ucap Jacob lalu beranjak dari duduknya, pria itu saling berjabat tangan lalu pergi meninggalkan ruangan Narendra dengan setengah badan yang membungkuk hormat.


Intinya, semua bisa di selesaikan dengan kepala dingin. Meskipun rasa nya dia ingin marah, tapi emosi di lawan emosi takkan berakhir dengan baik nantinya.


.........

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2