
"Sayang.." Panggil Narendra sambil tersenyum kecil. Dia terlihat membawa dasi di tangan nya, hari ini dia harus bekerja ke kantor karena Mark mengeluh pekerjaan nya terlalu banyak jika dia mengerjakan nya sendirian. Kalau ada Narendra, jadi pekerjaan nya akan di kerjakan berdua.
"Iya, Mas. Kenapa?" Tanya Ayunda, dia berbalik saat mendengar suara sang suami yang memanggil nya. Dia sedang membereskan ranjang yang terlihat berantakan setelah semalam mereka bermain sepak bola di atas ranjang, jadinya ya seperti kapal pecah saat pagi hari nya.
Ayunda juga memunguti pakaian mereka yang berserakan karena Narendra melempar nya sembarangan tadi malam karena tak sabar untuk bermain sepak bola.
"Pasangin dasi dong buat Mas, hehe."
"Mas, aku gak bisa pasang dasi." Ucap Ayunda. Selama ini dia tinggal di kampung, mana ada orang yang memakai dasi atau setelan jas seperti Naren disana. Hanya ada orang-orang berpakaian lusuh dengan membawa cangkul atau parang di pundak mereka, bukan menenteng tas kerja berisi laptop.
"Benarkah? Yaudah, yuk sekalian belajar masang dasi." Ucap Narendra sambil tersenyum manis. Dia pun memberikan dasi dengan motif garis-garis berwarna biru navy itu ke tangan Ayunda.
"Lipat kesini, sayang." Pinta Narendra, Ayunda menurut dan terlihat sangat serius belajar memasang dasi nya. Naren tersenyum kecil, wajah Ayunda saat sedang serius seperti ini terlihat lebih cantik, dengan kening yang sesekali mengernyit.
"Ini udah, terus di gimanain lagi?" Tanya Ayunda. Narendra pun mengajarkan kembali istrinya untuk memasang dasi dan setelah beberapa menit kemudian, dasi nya pun terikat cukup rapi di leher Narendra.
"Maaf, Mas. Kurang rapih deh dasi nya." Ucap Ayunda sambil meneliti kembali dasi yang baru saja dia pasangkan oleh Ayunda.
"Agak sedikit miring, tapi untuk percobaan pertama, ini sudah sangat bagus, sayang. Besok belajar lagi ya?"
"Iya, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Narendra mengacak puncak kepala sang istri dengan gemas, membuat Ayunda cemberut. Dia kesal karena rambut yang sudah dia sisir rapih malah di berantakin lagi oleh tangan nakal suami nya.
"Kamu masih belum selesai, sayang?"
"Tinggal di sapu aja pake sapu lidi biar gak ada debu nya, kenapa gitu?"
"Temenin sarapan dong."
"Ohh, yaudah." Ayunda pun menyimpan kembali sapu lidi nya ke tempat asal, lalu pergi ke luar kamar bersama Naren yang menggandeng mesra tangan sang istri.
Melisa dan Arvin juga baru saja keluar dari kamar mereka, sama seperti Naren dan Ayunda, kedua nya keluar dari kamar dengan saling menggandeng tangan satu sama lain.
"Kok bisa barengan ya keluar nya.." Ucap Melisa sambil terkekeh pelan.
"Mana Naren tahu, kan gak ada diskusi dulu tadi." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan.
"Yaudah, ayo sarapan." Ajak Arvin. Dia sudah pensiun dari dunia pekerjaan, dia menyerahkan semua nya pada Narendra, putra nya sebagai putra tunggal pewaris keluarga Sanjaya.
"Iya, Mi." Jawab Narendra. Ke empat nya pun langsung pergi ke ruang makan untuk makan, hari ini kedua wanita itu sepakat untuk tidak memasak sarapan, mereka ingin bersantai sejenak.
Melisa yang mungkin karena usia nya saat ini, jadi lebih sering merasakan lelah dan sakit di bagian punggung juga pinggang nya, jangan lupakan lutut nya yang juga sering terasa sakit, mungkin karena efek akan memiliki cucu. Kata orang jaman dulu, katanya orang tua akan merasakan sakit di lutut saat dia akan memiliki cucu.
Sedangkan Ayunda, dia juga sedang hamil muda jadi sering moody an, kadang juga dia mengalami morning sickness parah, namun tidak terjadi setiap hari hanya beberapa hari saja setiap minggu nya. Wanita hamil itu juga sering mengeluh kelelahan, benar-benar kelelahan padahal usia kehamilan nya masih berada di trimester awal.
Maid yang ada disana, langsung melayani majikan mereka dengan baik juga ramah seperti biasa nya. Ayunda menebar senyuman manis nya, namun terlihat jelas kalau wajah cantik wanita hamil itu pucat pasi, apalagi di bagian bibir nya.
"Selamat makan."
"Terimakasih, kalian sudah makan juga?" Tanya Melisa.
"Kami akan makan nanti, setelah beres-beres dan menyelesaikan pekerjaan masing-masing, Nyonya." Jawab salah satu maid yang sedang melayani mereka di atas meja makan itu.
__ADS_1
"Makan, jangan sampai kalian telat makan."
"Baik, Nyonya." Jawab nya. Melisa pun kembali melanjutkan acara sarapan nya dengan lahap, makanan buatan maid tidak kalah enak nya dengan makanan buatan Melisa atau Ayunda. Tapi bagi lidah Narendra juga Arvin, masakan istri mereka jauh lebih enak meskipun ini juga masih worth it untuk di makan.
"Kakek kapan pulang, Mi?" Tanya Narendra. Pasalnya, sudah hampir satu bulan ini, Darren pergi ke luar negeri untuk berkunjung ke rumah saudara nya disana, sekalian liburan mungkin. Meskipun dia tidak bekerja karena sudah berumur, tapi Darren sering mengeluh lelah. Jadi dia bepergian keluar negeri sebagai hiburan agar tidak suntuk di rumah.
"Katanya sih mau dua bulan disana, iya kan Pi?"
"Hmm, mungkin. Papa kan gak pernah nelpon sama Papi. Biasa nya kan Papa nelpon nya ke Mami, bukan sama Papi." Jawab Arvin.
Like father, like son. Ya, kedua nya sama-sama iri juga cemburu atas perhatian yang di berikan oleh orang tua masing-masing. Darren lebih sering mengabari Melisa ketimbang Arvin yang sudah jelas putra nya. Begitu hal nya dengan Narendra, dia sering merasa iri melihat perhatian sang ibu pada Ayunda.
Terkadang, Melisa lebih memperhatikan Ayunda dan mengabaikan dirinya yang sudah jelas-jelas putra nya. Tapi benar, harusnya dia senang karena Melisa bisa akrab dengan Ayunda bahkan sangat menyayangi nya. Tapi tetap saja, dia sering di buat cemburu saat melihat ke akraban kedua nya.
"Idih, Papi baperan ya?"
"Sama aja kayak kamu." Celetuk Ayunda membuat Narendra menatap ke samping, menatap sang istri yang sudah menunjukkan senyum nakal nya.
"Gak usah buka aib dong, yang."
"Haha, kamu ini. Masa gitu doang di bilang aib sih?"
"Diem aja, yang. Jangan membuat image pria cool aku tuh luntur, aku susah-susah membangun image itu dari dulu." Jawab Narendra, membuat Ayunda terkekeh pelan.
"Tapi bener sih, emang agak keliatan sepi ya kalau kakek gak ada." Ucap Melisa.
"Iya, kamu benar. Semoga saja Papa cepetan pulang buat kumpul-kumpul lagi sama kita disini." Jawab Arvin.
"Yaudah, lanjutin makan nya. Habisin, kalau perlu ayo nambah. Khusus nya Ayunda, kamu harus makan banyak biar kamu gak lemes."
"Mana ada, itu satu centong nasi juga gak penuh. Masa kenyang sih? Tambah satu lagi, biar bayi kamu bertumbuh dengan baik, sayang."
"Baiklah, Mi." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil, dia pun kembali menambah nasi dan juga lauknya. Sebenarnya, Ayunda merasa memang sudah sangat kenyang. Kehamilan nya sekarang ini membuat dirinya gampang lapar, tapi mudah kenyang juga. Benar-benar di luar nalar sekali, tapi ya nama nya juga ibu hamil.
Tapi, dia memilih menurut saja pada perintah Mami mertua nya, dia tahu benar kalau Mami nya meminta nya untuk makan banyak seperti ini agar dia sehat dan tidak lemas. Ini juga untuk kebaikan nya sendiri, lagi pula apa susah nya? Timbang di suruh makan doang.
Naren tersenyum, ada pantas nya juga kenapa Melisa sangat menyukai dan menyayangi Ayunda bahkan saat mereka baru bertemu satu kali saja. Ayunda memang sosok yang baik dan juga penurut, hanya saja dia agak sedikit polos jadi harus sering di ajari agar tidak terlalu polos-polos amat.
Ada wajar nya juga kan, kenapa Ayunda sangat polos. Karena kehidupan di kampung dan di kota itu benar-benar berbeda, perbedaan nya juga sangat jauh. Disini, semua nya di perbolehkan. Berbeda dengan kehidupan di desa yang segala nya masih menuruti tradisi leluhur.
"Sayang.."
"Iya, Mas. Sudah selesai sarapan nya?"
"Hmm, iya. Mas pergi dulu ke kantor ya."
"Iya, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis. Dia menyalin tangan suami nya dengan takzim dan di balas dengan kecupan mesra penuh kasih sayang oleh Naren di kening sang istri.
"Hati-hati ya kerja nya, Mas."
"Tentu saja, sayang. Nanti Mas pulang mau di bawain apa hmm?" Tanya Narendra sambil mengusap rambut sang istri dengan lembut.
__ADS_1
"Belum kepikiran, Mas. Nanti saja ya? Kalau aku kepikiran mau apa, nanti aku telepon."
"Oke, sayang. Mas berangkat dulu ya? Kamu jangan kelelahan, tiduran aja di kamar atau enggak ngemil sambil nonton Drakor."
"Hehe, iya Masku." Jawab Ayunda membuat Naren merasa gemas dengan tingkah menggemaskan sang istri. Dia mengunyel-unyel pipi cabi sang istri saking gemas nya.
"Pipi kamu kenyal kayak bakpau."
"Isshh, efek ada baby nya ini. Jadi doyan makan."
"Lho, gapapa dong. Justru bagus kalau kamu sering makan, sayang. Biar baby sama Mommy nya sehat."
"Hehe, iya Mas. Makasih."
"Iya, yaudah Mas berangkat dulu ya." Pamit Narendra, dia melerai pelukan nya lalu berbalik dan melambaikan tangan nya pada ke arah sang istri dengan senyuman manis nya.
"Hati-hati, Mas. Jangan nakal ya.."
"Iya, sayangku." Jawab Narendra. Ayunda pun membalas lambaikan tangan dengan senyum manis, Narendra pun mengemudikan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan tinggi. Ayunda pun kembali masuk ke rumah setelah melihat mobil sang suami menjauh dari rumah besar itu.
Ayunda pun kembali masuk ke kamar nya untuk membereskan kamar yang tadi belum sempat dia selesaikan karena suami nya meminta di temani sarapan. Wanita hamil itu tersenyum saat melihat layar ponsel nya yang wallpaper ponsel nya itu adalah poto dirinya dan sang suaminya yang tengah tersenyum manis ke arah kamera.
"Dia sangat tampan.." Gumam Ayunda. Dia merasa beruntung, benar-benar beruntung karena dia di pertemukan dengan Narendra. Ya, meskipun dia tahu pertemuan mereka sangat salah. Tidur seranjang, berdua karena jebakan. Jebakan yang membuat kedua nya terpaksa harus menikah karena kecelakaan dan Narendra melepaskan banyak kecebong di rahim Ayunda dan sekarang perempuan itu tengah hamil seperti dugaan Narendra dari awal.
Setelah malam itu, Narendra memikirkan semua nya secara matang. Hingga akhirnya dia menemukan jalan keluar nya, hanya satu solusi nya yaitu dia harus bertanggung jawab pada Ayunda yang sudah dia rusak kegadisan nya, dengan menikahi nya dan menjadikan nya seorang istri.
Tapi, jujur saja Narendra belum selesai dengan masa lalu nya alias dia belum berhasil seratus persen untuk melupakan mantan kekasih nya, yaitu Trisa. Saat menikah dengan Ayunda, Naren masih belum bisa mencintai Ayunda. Tapi seiring berjalan nya waktu, akhirnya Naren bisa membuka hatinya untuk Ayunda dan kini semua nya seolah berbalik, Naren sangat mencintai istri nya, Ayunda.
Apalagi setelah kehadiran si jabang bayi di dalam rahim Ayunda, rasa cinta di hati Narendra untuk wanita itu semakin besar dan bertambah besar setiap hari nya. Itu bagus bukan? Artinya, Ayunda berhasil membuat Narendra melupakan mantan kekasih nya secara total.
Senyuman Ayunda seketika redup saat dia mengingat kalau sekarang, masa lalu sang suami telah kembali ke negara ini. Dia adalah model terkenal yang nama nya sedang naik daun akhir-akhir ini karena karir cemerlang dan wajah cantik nya.
Seketika, hati Ayunda merasa ragu. Dia merasa tak percaya diri jika seandainya dia di bandingkan dengan Trisa. Mereka jauh berbeda, Ayunda hanya seorang gadis biasa. Sedangkan Trisa adalah wanita yang terpelajar dan memiliki pencapaian yang bagus. Tapi itu semua tidak apa-apa nya di mata kedua orang tua Naren.
Kedua nya kompak tidak memberikan restu mereka pada Trisa karena mereka tahu kalau wanita itu bukan wanita yang baik untuk Naren, untuk mendampingi Narendra ke depan nya.
"Apa suamiku tidak akan berpaling? Aku takut, bagaimana kalau wanita itu menggoda suami ku?" Gumam Ayunda lirih. Dia takut, benar-benar takut. Dia akan benar-benar kalah kalau semisal wanita itu datang untuk kembali bersama Naren, melanjutkan hubungan mereka yang belum selesai.
Ibarat kata pepatah, mau sekuat apapun kamu berjuang, jika yang dia inginkan bukan kamu, maka berhentilah. Jangan menyia-nyiakan waktu mu dengan orang yang salah, karena itu sama saja dengan menyakiti diri sendiri secara sengaja. Masa lalu tetap jadi pemenang nya!
"Tidak, aku harus percaya dengan suamiku. Aku yakin, dia sudah melupakan masa lalu nya dan sekarang dia akan fokus menata masa depan bersama ku." Gumam Ayunda lagi. Dia pun membuka ponsel dan membuka pesan dari suami nya.
'Aku baru sampai di kantor, ini baru mau kerja. Kamu jangan banyak berpikiran berat ya? Mas gak mau kamu sakit. Love you❤️' Isi pesan yang dia kirimkan oleh Narendra membuat hati Ayunda berdebar hebat.
Dia tersenyum kecil, entahlah pesan semacam ini saja mampu membuat mood Ayunda membaik setelah dia banyak berpikiran kesana kemari memikirkan banyak kemungkinan hanya karena kedatangan dan pertemuan nya secara tak sengaja dengan masa lalu suami nya di rumah sakit.
Sekarang, dia sedikit merasa paham kenapa orang tua Narendra kompak tidak memberikan restu pada Trisa karena sikap dan perilaku nya sangat jauh berbanding terbalik dengan apa yang selama ini dia perlihatkan di depan kamera.
"Iya, Mas. Semangat kerja nya, aku mau bikin kukis sama Mami. Nanti aku anterin pas makan siang ya?" Balas Ayunda dan hanya beberapa detik saja, Ayunda sudah mendapatkan balasan dari pesan yang baru saja dia kirimkan itu.
'Iya, sayang. Kirimkan saja ya? Gak sabar pengen makan kukis buatan istri, pasti enak banget.' Balas Narendra, terlihat dari balasan nya seperti nya Naren sangat antusias begitu membaca pesan dari Ayunda yang mengatakan kalau dia akan membuat kukis bersama mami nya nanti.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻