Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 143 - R.I.P Trisa


__ADS_3

"Tuan.." Sapa Mark. Ini sudah seminggu sejak dia menikah dengan Maya, pria itu terlihat jauh lebih segar sekarang ini. Mungkin karena dia sudah bisa menyalurkan sesuatu pada tempat nya. Wajah nya berseri, membuat Narendra pangling ketika melihat gaya baru asisten nya itu.


"Ohh, Mark. Kau sudah datang?"


"Iya, Tuan. Agak sedikit canggung setelah seminggu tidak bekerja." Jawab Mark sambil terkekeh pelan. 


"Hmm, selamat datang kembali, Mark."


"Terimakasih, Tuan."


"Sama-sama, bagaimana rasanya sekarang, Mark?" Tanya Narendra sambil tersenyum jahil.


"Apa nya, Tuan?"


"Itu lho.."


"Hehe, rahasia itu mah."


"Dih, siapa juga yang nanyain ke arah sana. Aku sih nanyain gimana rasa nya setelah berstatus suami sekarang, Mark?" Tanya Narendra sambil tertawa. Dia tahu benar kemana arah pembicaraan Mark. 


"Ketahuan kau mesuum!" 


"Astaga, Tuan.."


"Hahaha.." Narendra tergelak sambil menepuk pelan pundak Mark. 


"Jadi, rasanya pasti berbeda kan?" Tanya Narendra lagi, kedua nya berjalan ke arah ruangan masing-masing.


"Iya, Tuan. Rasanya berbeda sekali, apalagi pas pulang ada yang nyambut tuh kayak seneng gitu." 


"Nah kan, apalagi kalo malem nya di suguhi istri pake baju dinas." Celetuk Narendra membuat Mark menoleh ke arah Naren. Benar, dia sangat suka ketika melihat istrinya memakai pakaian kurang bahan. Entah ide dari mana, tapi Maya selalu mengenakan pakaian dinas setiap malam. 


"Saya masih pengantin baru, Tuan. Hehe.."


"Nah kan bener, pantesan wajah mu berbinar sekarang, Mark."


"Soalnya keluar nya lancar, Tuan." Jawab Narendra sambil tertawa. 


"Ya sudah, sana kerja. Selamat bekerja keras, Mark. Nanti ngelembur di kamar kalo udah pulang ya.."


"Astaga Tuan.."


"Bercanda kali, Mark." 


Mark dan Narendra pun pergi ke ruangan masing-masing, pria itu membuka laptop dan melihat email-email yang di kirimkan oleh asisten pengganti Mark untuk sementara waktu saat Mark cuti menikah, sekarang dia sudah tidak bekerja lagi. Karena, Narendra tidak bisa bekerja sendirian. Pekerjaan nya terlalu banyak, belum lagi dengan kondisi Ayunda yang saat itu juga mendadak sakit. 


Naren terlihat sangat fokus bekerja, hingga tak lama kemudian Mark masuk dengan tatapan yang sulit di artikan. Seperti nya ada hal yang membuat wajah berbinar seorang Mark seketika redup, namun entah apa itu. Sebentar lagi, mungkin akan mendapatkan jawaban nya.


"Tuan.."


"Iya, Mark. Ada apa?" Tanya Narendra. Dia mendongak dan menatap wajah asisten nya.


"Kusut amat itu muka, kenapa? Tadi aja keliatan berbinar, Mark." Pria itu merasa heran sendiri dengan perubahan wajah asisten nya itu, kenapa bisa berubah secepat itu? Aneh dan mengherankan. 


"Ada berita yang cukup membuat saya terkejut, Tuan."


"Apa, Mark? Jangan bertele-tele dan membuat aku penasaran."


"Trisa.."


"Astaga, ada apa lagi dengan wanita itu?" Tanya Naren. Pria itu mendengus ketika Mark menyebutkan nama Trisa, mantan kekasih nya yang kini sangat dia benci. Setelah dia melakukan hal yang kejam hingga membuat nya harus kehilangan buah hati pertama nya bersama Ayunda. 


"Dia bunuh diri."


"What?" Tanya Narendra dengan ekspresi terkejut nya. Bunuh diri? Astaga, kenapa bisa wanita itu berbuat senekat itu?


"Iya, saya baru saja mendapat kabar dari pihak kepolisian, Tuan." Jelas Mark. Narendra terdiam, ada sedikit rasa yang mengganjal di hatinya. Namun, dia yakin ini bukan perasaan menyesal karena sudah memasukkan wanita itu ke dalam penjara. Bukan itu, tapi hanya sedikit berduka mungkin. Terlebih, dulu dia pernah sangat mencintai wanita itu, sebelum rasa cinta itu pudar dan terganti dengan rasa benci yang mendalam. 


"Dia di temukan tewas dengan luka menganga di pergelangan tangan nya, Tuan. Di duga, wanita itu menyayat pergelangan tangan nya menggunakan serpihan kaca yang di temukan tak jauh dari mayat wanita itu." Jelas Mark lagi. 

__ADS_1


Narendra masih terdiam, otak nya masih mencerna kabar yang terasa sangat mengejutkan ini. Tiada angin, tiada hujan tiba-tiba saja dia mendengar kabar ini. 


"Tuan.."


"Ini valid, Mark?" Tanya Narendra sekali lagi dan Mark mengiyakan dengan menganggukan kepala nya sebagai jawaban. 


"Menurut mu, aku harus bereaksi seperti apa? Aku tidak ingin menunjukkan penyesalan apapun, tapi tetap saja dulu dia adalah wanita yang pernah mengisi hati ku, Mark. Sebelum akhirnya Ayunda datang menggantikan wanita itu." Ucap Narendra. 


"Saya juga bingung, Tuan. Mungkin, hanya sebagai bentuk bela sungkawa. Ikut berduka sesama manusia saja, Tuan. Mau bagaimana pun, jika Nona Ayunda mengetahui hal ini dia akan merasa tidak enak atau mungkin dia akan cemburu dan kecewa karena berpikir anda masih mencintainya." Jelas Mark. 


Benar, ucapan Mark memang benar. Dia tidak boleh berduka secara berlebihan, bersedih boleh saja tapi anggap saja itu sebagai bentuk kemanusiaan. 


"Kau benar, Mark. Kapan jenazah nya akan di urus?" Tanya Narendra lagi.


"Hari ini, Tuan."


"Apa ada meeting?" Tanya pria itu. Mark menggelengkan kepala nya, kebetulan memang sedang tidak ada meeting sekarang. Pekerjaan juga agak sedikit longgar, tidak sebanyak biasa nya. Kinerja asisten sementara yang menggantikan Mark ternyata lumayan juga, bisa di andalkan dan hasil pekerjaan nya juga rapi. 


"Apa menurut mu aku salah kalau aku datang kesana dan menghadiri pemakaman mantan kekasih ku sendiri, Mark?"


"Kalau menurut saya sih tidak, tapi bagaimana pun juga anda tetap harus meminta izin pada istri anda sekarang. Agar dia merasa di hargai." 


"Baiklah, kita pulang terlebih dulu. Kau harus mendampingi ku, Mark." Pinta Narendra. Jadi, mau tidak mau pun Mark harus menerima permintaan sang atasan. Meskipun sebenarnya, dia enggan pergi. Tapi ketika mengingat rasa kemanusiaan nya, jadi dia memutuskan untuk menuruti saja keinginan Narendra. 


Tak peduli sejahat apapun ketika dia masih hidup, tapi sekarang dia sudah pergi. Jangan membalas perbuatan jahat seseorang dengan kejahatan juga, akan terasa sangat jahat kalau mereka mengetahui kepergian wanita itu tapi tidak ikut mengantarkan nya ke tempat peristirahatan nya yang terakhir. Ke dunia nya yang baru. 


"Baiklah, Tuan. Mari.." Mark pun mempersilakan Narendra untuk pergi terlebih dulu dari ruangan nya, setelah beberapa langkah barulah Mark mengikuti nya dari belakang. Seperti itulah jika dia akan pergi bersama Narendra, meskipun seringkali Naren tidak suka dengan cara Mark yang seperti itu. Dia lebih suka saat Mark berjalan sejajar dengan nya, tidak seperti ini. Seperti ada tembok penghalang yang di ciptakan oleh pria itu, dia mengerti kalau ada batasan antara atasan dan bawahan, tapi tetap saja Narendra lebih suka kalau Mark berjalan bersisian dengan nya.


"Mark, kemarilah. Berjalan di samping ku, jangan di belakang ku. Biasakan, aku tidak suka!"


"Tapi, Tuan.."


"Derajat kita sama, Mark. Kau manusia, begitu juga aku. Tak ada yang berbeda dari kita berdua, jadi cepatlah." Pinta Narendra. Mark pun mengiyakan, dia mempercepat langkah nya dan akhirnya kedua nya berjalan berdampingan sebagai atasan dan bawahan, sesama manusia memiliki derajat yang sama seperti keinginan Narendra. 


Memang niat Mark itu baik, karena dia menghormati Narendra sebagai atasan nya, namun Naren merasa tidak seperti itu. Baginya, dirinya maupun Mark sama-sama manusia yang memiliki derajat yang sama dan dia tidak ingin di beda-bedakan hanya karena berbeda jabatan karena hal itu tidak akan bertahan selamanya. 


Mark pun ikut masuk dan segera mengemudikan kendaraan roda empat nya itu menjauhi kawasan perusahaan milik Narendra. Pria itu terlihat fokus mengendikan kendaraan itu, bahkan dia tidak menatap wajah Narendra ketika di mengajak nya bicara. Seperti biasa, ini memang sudah kebiasaan Mark. Kalau mengemudi, dia sangat fokus ke depan. 


Sesampai nya di mansion, Narendra langsung masuk begitu saja. Tentu nya, bersama Mark yang selalu setia mengikuti atasan nya kemana pun. Pria itu tersenyum kecil ketika melihat istrinya sudah benar-benar membaik. 


Saat itu, Ayunda melakukan test kehamilan dan hasilnya negatif. Artinya, Ayunda tidak sedang hamil saat ini. Jadi, kejadian yang terjadi hari itu, benar-benar pure mabuk perjalanan saja. Kecewa? Tidak sama sekali, masih banyak waktu dan masih perlu banyak usaha untuk mendapatkan sesuatu. Benarkan?


"Sayang.." Panggil Naren, dia berjalan mendekat ke arah sang istri yang sedang duduk di sofa dengan sepiring buah di tangan nya. Dia lebih banyak mengemil buah sekarang ini.


"Lho, kok udah pulang, Mas?" Tanya Ayunda. 


"Udah, ada sedikit problem. Kamu baik-baik saja?" Balik tanya Naren pada istrinya.


"Iya, aku baik-baik saja kok, Mas. Kenapa memang nya? Kamu keliatan khawatir gitu, ada apa sebenarnya? Masalah apa yang membuat kamu pulang cepat seperti ini?" Tanya Ayunda. 


"Berjanjilah untuk tidak marah, sayang."


"Marah karena apa memang nya? Apa kamu selingkuh, Mas?"


"Tidak, mana ada Mas selingkuh. Kamu tahu sendiri kalo Mas udah cinta mati sama kamu." Ucap Narendra.


"Ya, terus?"


"Trisa meninggal, sayang."


"H-aahh? Meninggal?" Tanya Ayunda. Reaksi nya sama persis seperti Narendra tadi, ketika pertama kali mendengar berita itu dari mulut Mark. Ayunda terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Naren. 


"Kok bisa, Mas?"


"Dia bunuh diri, sayang."


"Astaga, Trisa. Kenapa dia bisa senekat itu mengakhiri hidup nya sendiri, Mas?"


"Kata polisi disana, ada kemungkinan besar kalau dia mengalami depresi. Karena setiap malam dia tidak tidur, hanya diam dengan tatapan kosong." Jelas Mark. Dia lupa mengatakan ini pada Narendra tadi. 

__ADS_1


"Depresi?"


"Iya, Nona tahu sendiri seperti apa karakter Trisa kan? Dia adalah wanita yang ambisius, dia tidak suka di penjara. Setiap hari dia selalu meminta polisi yang ada disana untuk membebaskan nya, Nona."


"Astaga, separah itu ya?"


"Iya, Nona. Biasa hidup bergelimang harta, lalu reputasi nya hancur karena skandal, di penjara. Tentu saja membuat pikiran wanita itu sempit."


"Jadi, kapan jenazah nya akan di makamkan?" Tanya Ayunda lagi. Sedangkan Narendra hanya terdiam, dia tidak menyangka kalau reaksi Ayunda akan seperti ini. Kalau Ayunda jahat, dia harus nya senang bukan? Setelah ini, tidak akan ada yang mengganggu nya lagi. Tapi, Ayunda tidak sejahat itu. Dia masih memiliki hati.


"Hari ini juga, Nona."


"Mas, kita kesana ya? Kita ikut mengantarkan Trisa ke tempat tinggal nya yang baru." Ajak Ayunda, membuat Narendra mendongakan kepala nya dan menatap sang istri dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kalau kita datang kesana?"


"Tidak, Mas. Ayo, kita ganti pakaian." Ajak Ayunda.


"Mark, tunggu sebentar ya. Aku ganti pakaian dulu."


"Baik, Tuan." Jawab Mark. Dia pun hanya tersenyum kecil ketika melihat pasangan suami istri itu pergi ke kamar mereka. Sungguh, dia kagum dengan kebaikan yang di miliki oleh Ayunda. Dia memiliki hati yang seluas samudera.


"Selain cantik, Nona Ayunda juga sangat baik. Beruntung sekali Tuan Naren karena memiliki istri sebaik Nona Ayunda." Gumam Mark, dia pun memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu sembari menunggu Naren dan Ayunda bersiap. 


Tak lama kemudian, Narendra dan Ayunda pun kembali menemui Mark di ruang keluarga. Kedua nya kompak mengenakan pakaian serba hitam, Ayunda menggandeng lengan suami nya seperti biasa.


"Ayo, Mark.."


"Baik, Tuan." Jawab Mark. Dia pun melangkah lebih dulu ke luar dari mansion mewah itu, lalu membukakan pintu mobil belakang untuk Naren dan Ayunda. 


"Mark, buang pengharum mobil nya dulu. Istriku akan mabuk jika mencium aroma nya." Ucap Narendra. Mark mengangguk, dia menarik pewangi mobil itu dan membuang nya ke tong sampah. Setelah itu, dia pun ikut masuk dan segera mengemudikan kendaraan roda empat miliknya itu dengan kecepatan rata-rata. 


Tujuan mereka saat ini adalah rumah sakit, dimana jenazah Trisa di semayamkan. Kejadian nya tadi malam, bukan pagi ini. Namun pihak kepolisian baru mengabari Mark hari ini. Sepanjang perjalanan, Narendra merasa gugup hingga dia menggenggam terus menerus tangan Ayunda tanpa melepaskan nya sedetik pun. 


Ayunda yang melihat raut wajah sang suami pun mengusap punggung tangan pria itu, membuat Naren menoleh dan menatap ke arah sang istri yang tersenyum ke arahnya. 


"Tenanglah, Mas. Tidak akan terjadi apa-apa."


"Terimakasih, sayang." Jawab Narendra dan Ayunda menganggukan kepala nya sebagai jawaban kalau dia mengiyakan ucapan sang suami. Disaat seperti ini, bukanlah saat nya untuk cemburu karena ini adalah keadaan yang mengejutkan karena terjadi secara tiba-tiba, meskipun mungkin Trisa sudah merencanakan aksi bunuh dirinya ini sejak lama.


Ketiga orang itu sampai di rumah sakit, Ayunda terlihat berjalan bersama Naren yang selalu menggenggam tangan istrinya. Dia tidak bisa melepaskan tangan sang istri karena dia membutuhkan nya untuk menguatkan nya. 


Mereka sampai di sebuah ruangan, disana ada seorang wanita paruh baya yang sedang menangis di kursi tunggu. Dia adalah ibu dari mendiang Trisa. Wanita paruh baya itu beranjak dari duduk nya ketika melihat kedatangan Naren dan Ayunda, lalu tak lama Mark juga datang. 


"Nak Naren.."


"Ibu.." 


"Kalian datang? Terimakasih, Ibu kira setelah semua yang di lakukan Trisa pada kalian, akan membuat kalian membenci anak ibu."


"Tidak, Bu. Jangan mengatakan hal seperti itu." Ucap Ayunda. 


"Ini istrimu?" Tanya nya pada Narendra. Pria itu mengangguk, dia mengiyakan pertanyaan wanita itu.


"Iya, nama nya Ayunda."


"Cantik sekali." Puji nya sambil tersenyum, namun di balik senyuman itu terlihat menyimpan banyak luka.


"Ini, ada surat dari mendiang Trisa. Di baca ya, ibu mohon kalau putri ibu banyak kesalahan sama kamu, harap di maafkan meskipun sulit." Lirih nya. Ayunda menatap sendu sesosok wanita yang berstatus ibu itu, ibu mana yang mau putri nya menjadi jahat dan mengakhiri hidup nya sendiri dengan cara tragis seperti ini? 


Tidak akan ada, semua wanita bergelar ibu pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk anak nya, termasuk wanita di depan nya ini. 


"Terimakasih, Bu." Jawab Ayunda. Dia berjalan sendirian, agak sedikit menjauh dari tempat ibu dan suami nya itu berdiri.


Ayunda membuka surat nya dan membaca nya dengan seksama, untaian kata-kata yang membuat hati Ayunda terasa sedikit sesak. Tak terasa, air mata Ayunda menetes hingga membasahi secarik kertas itu. Entah apa isi surat yang di tulis oleh wanita itu, namun seperti nya itu sangat menyentuh hingga membuat Ayunda menangis. 


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2