
Trisa menenggak minuman tidak berwarna itu dengan sekali tegukan, sensasi panas membakar tenggorokan nya. Akan sedikit aneh bagi orang yang tidak terbiasa meminum cairan itu, tapi Trisa sudah biasa minum minuman haram itu bahkan dia tahan alkohol. Hanya satu botol saja takkan bisa membuat nya mabuk sempoyongan.
"Bagaimana rasa nya?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tidak, aku hanya khawatir kau merasa tidak nyaman."
"Aku suka minum ini kok, jadi kau tidak perlu khawatir. Lagi pun untuk apa kau mengkhawatirkan aku?" Tanya Trisa sambil menggerak-gerakkan gelas berisi minuman beralkohol di tangan nya.
"Hmm, salah kah?"
"Tidak, hanya saja agak sedikit menggelikan." Jawab Trisa sambil terkekeh pelan.
"Menggelikan?"
"Ya, menggelikan." Jawab Trisa membuat kening pria itu mengernyit heran.
"Kenapa begitu?"
"Ck, kau tahu kalau kita hanya partner. Kau bisa menikmati tubuh ku, melampiaskan hasraat mu padaku sebagai bayaran atas pekerjaan mu itu." Jawab Wanita itu sambil meletakan gelas yang sudah kosong di atas meja.
"Hmmm, baiklah terserah padamu saja."
"Jangan terlalu banyak basa basi, aku ingin cepat pulang. Jadi cepatlah." Ajak Trisa. Dia beranjak dari sofa dan berjalan pelan dengan langkah anggun nya ke arah ranjang king size yang terletak di tengah-tengah ruangan. Pakaian tipis nan pendek itu tersibak saat Trisa naik ke atas ranjang.
"Cepatlah, bukan kah kau ingin menikmati tubuh ku?" Tanya Trisa. Pria itu menghabiskan minuman nya, lalu beranjak dari duduknya. Dia melonggarkan dasi nya, lalu membuka kancing yang ada di pergelangan tangan nya lalu menggulung lengan kemeja nya hingga ke siku. Pria itu juga membuka beberapa kancing kemeja putih nya.
Trisa langsung menyambut sang pria ke dalam pelukan nya, kedua nya langsung berciuman dengan panas. Tangan pria itu langsung meraba-rabaa apa yang bisa di genggam, Trisa juga menikmati nya. Kebetulan, sudah cukup lama dia tidak di sentuh.
"Aahhh, pelan-pelan. Kau terlalu kasar!" Ucap Trisa, dia menepis tangan besar pria itu yang tengah meremaas buah kenyal miliknya, hingga membuat milik nya sakit.
Pria itu tidak peduli, dia malah menerkam Trisa semakin buas. Pria itu seolah kesetanan, dia menyerang Trisa dengan brutal bahkan tidak membiarkan wanita itu menghirup nafas nya dengan tenang. Pria itu benar-benar bernafssu untuk menyentuh seluruh inchi tubuh Trisa.
Dia menyentuh semua nya, nyaris tidak ada yang terlewat sedikit pun. Hingga di puncak nya, pria itu mulai menggesekan senjata nya yang sudah berdiri tegak itu di pintu masuk lubang kenikmatan milik Trisa yang beberapa saat lagi akan dia jamah.
Seluruh tubuh Trisa di penuhi dengan tanda kepemilikan yang berjejer rapi hasil mahakarya sang pria yang sudah tergila-gilaa dengan tubuh di depan nya. Trisa benar-benar di buat kelimpungan saat merasakan permainan pria itu yang sungguh membuat nya melayang, bahkan sebelum ada nya penyatuan.
"Aaahhh.." Trisa memekik tertahan saat pisang tanduk milik pria itu memasuki lubang nya dan mengobrak-abrik semua yang ada di dalam nya dengan gagah nya.
"Jangan terlalu keras, sakit!" Pinta Trisa, tapi lagi-lagi pria itu tidak peduli. Dia tetap bergerak maju mundur, menghentak milik Trisa dengan keras dan kuat hingga senjata miliknya itu terbenam sempurna.
"Keras atau enak hah? Jawab!" Bentak pria itu tanpa berhenti menggerakan pinggang nya. Dia tetap bermain dengan cepat dan keras, sangat kasar tapi bukan nya Trisa menolak, dia malah menikmati nya meskipun sesekali bibir tipis wanita itu melayangkan protes, namun rasa yang di berikan oleh pria ini sungguh berbeda dari penyatuan yang sudah sering dia rasakan. Rasa nya jauh berbeda, membuat nya merasa lebih tertantang.
"Aaahhh, enak. Ouh yesss, lebih cepath.." Pinta Trisa membuat sang pria tersenyum penuh kepuasan.
__ADS_1
"As wish you, babe!" Jawab nya, dia pun menurut dan semakin mempercepat gerakan maju mundur nya hingga membuat tubuh Trisa terguncang hebat, ranjang juga berderit cepat menandakan kalau orang yang ada di atas nya sedang mengejar pelepasan masing-masing.
"Aaaasshhh.." Wanita itu memekik keras saat dengan sengaja pria itu menekan miliknya sepenuhnya hingga mentok ke dalam sana. Dia mencapai puncak nirwana untuk pertama kali nya di penyatuan ini.
Satu jam kemudian..
Pria itu semakin bergerak dengan cepat, dia juga ingin melepaskan semua nya. Dia ingin mendapatkan klimaaks nya juga.
"Aku akan sampai, keluarkan di dalam atau di luar?" Tanya sang pria, membuat Trisa yang sedang memejamkan kedua mata nya itu seketika membuka mata nya.
"Terserah kau saja, di dalam atau di luar bukan masalah bagiku!" Jawab Trisa, membuat pria itu tersenyum. Tentu saja jika di beri pilihan seperti itu, pria mana pun pasti akan memilih untuk mengeluarkan cairan nya di dalam.
"Hufftt, nikmat sekali. Tidak sia-sia aku meminta tubuh mu sebagai bayaran nya." Ucap pria tampan itu, dia mengusap keringat di kening Trisa.
"Kau hebat juga ternyata."
"Jangan salah, badan ku memang kecil tapi tidak dengan senjata ku!" Jawab nya membanggakan diri.
"Bagaimana kalau mulai sekarang kita menjadi partner ranjang saja?"
"Lalu, untuk apa kau masih mengejar Narendra jika kau sudah punya partner?" Tanya pria itu sambil tersenyum, namun tangan nya tetap menjamah tubuh Trisa.
"Beda lagi urusan nya. Bagaimana dengan tawaran ku? Aku suka cara mu bermain." Ucap Trisa.
"Oke, kalau begitu. Senang bekerja sama dengan mu."
"Bagaimana kalau satu ronde lagi?"
"Of course, Honey." Jawab Trisa. Dia dengan senang hati melayani sang pria, karena pada dasarnya dia memang menyukai permainan pria itu.
Di tempat lain, Ayunda terlihat sudah tertidur dengan pulas di kamar nya. Padahal, Narendra pulang pukul tujuh malam tapi dia melihat istrinya sudah tertidur. Padahal dia ingin bermanja-manja dan menceritakan semua nya pada sang istri, tapi wanita hamil itu malah sudah tertidur.
"Apa aku harus menceritakan semua nya pada mu, sayang? Sebaiknya jangan, aku khawatir kalau itu akan membuat mu kepikiran." Gumam Narendra. Dia mengusap lembut wajah sang istri, menyelipkan anak rambut Ayunda ke belakang telinga nya lalu mengecup kening nya dengan mesra.
Pandangan mata Narendra beralih ke bawah, dia melihat perut Ayunda yang sudah terlihat membuncit agak besar. Saat ini, dia mengandung di usia ke lima bulan. Wajar saja perut nya sudah terlihat membuncit, lucu dan menggemaskan sekali. Namun, itu membuat beban yang di bawa oleh Ayunda di tubuh nya akan semakin berat. Maklum saja, kalau sekarang Ayunda semakin cepat kelelahan. Apalagi kalau semisal nanti setelah mengandung sembilan bulan.
"Baby, lagi apa? Gak rewel kan sama Mama? Maaf ya, mungkin seminggu atau dua Minggu ke depan, Papa bakalan sibuk sama pekerjaan Papa di kantor." Ucap Narendra sambil mengusap perut Ayunda lalu mengecup nya.
Pria itu beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa lengket sekali. Di bawah guyuran air shower, Narendra membuang semua pemikiran-pemikiran nya tentang perusahaan barang sejenak. Ingin sekali rasa nya dia menghubungi orang tua nya untuk menangani semua nya.
Tapi, dia tidak bisa melakukan hal itu karena perusahaan itu sudah di berikan dan sudah beralih atas nama nya. Jadi, hal ini bukanlah urusan nya lagi sekarang. Dia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, tapi untuk menerima tawaran wanita itu, dia sama sekali tidak memikirkan nya dan tawaran itu tidak ada di dalam pilihan nya.
Dia malah berpikir untuk menjual saham perusahaan nya untuk menolong perusahaan nya dari kebangkrutan. Tapi lagi-lagi, dia harus memikirkan semua nya dengan baik, dengan kepala dingin. Dia tidak bisa bertindak gegabah karena ini menyangkut perusahaan milik nya dan juga ribuan karyawan yang selama ini menggantungkan hidup mereka di perusahaan nya.
"Aaahhh, aku pusing dengan semua ini.." Ucap Narendra. Dia menjambak rambut nya sendiri di bawah guyuran shower itu.
__ADS_1
Selang setengah jam kemudian, Naren keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit lebih fresh karena dia sudah membuang sedikit pemikiran buruk nya di kamar mandi. Tapi ternyata, Ayunda sudah terbangun dari tidurnya. Wanita cantik itu melihat ke arah nya dengan senyuman manis nya yang membuat hati Narendra merasa tenang seketika.
Inilah yang dia sukai dari sosok Ayunda dan dia tunggu dari istri nya itu, senyuman yang membuat beban di pikiran nya seolah hilang seketika.
"Kok bangun, sayang?"
"Hehe, tadi denger ada yang buka pintu kamar mandi. Terus aku denger suara gemericik air, jadinya kebangun, Mas." Jawab Ayunda dengan senyum indah yang tersungging cantik.
"Aku boleh peluk, sayang?"
"No, pake baju dulu. Seenggaknya, kamu pake celana dulu terus keringin badan kamu." Ucap Ayunda sambil mengulurkan pakaian yang sudah dia siapkan untuk sang suami.
"Hmm, tapi aku mau nya sekarang."
"Ya sudah, kemari.." Akhirnya, Ayunda pasrah saja saat mendengar suami nya merengek manja seperti itu. Entah ada apa dengan sang suami, karena hal ini tak biasa nya di lakukan oleh Narendra. Jarang-jarang memang kalau dia tiba-tiba manja seperti ini.
"Terimakasih, sayang." Narendra berjalan pelan mendekati sang istri yang masih setengah berbaring dia atas ranjang dengan kaki selonjoran. Pria tampan itu langsung memeluk tubuh sang istri, Ayunda mengusap-usap kepala sang suami dengan lembut, sedangkan Narendra langsung mendusel-dusel manja di perut sang istri.
"Kamu kenapa, Mas?"
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, sayang. Mas cuma capek aja, terus kangen sama kamu, sama Baby juga." Jawab Narendra. Meskipun Ayunda merasa ada yang cukup aneh dengan jawaban sang suami, tapi dia mencoba untuk tetap berpikir positif. Dia tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak pada suami nya sendiri, meskipun setelah melihat foto-foto yang di kirimkan oleh nomor tidak di kenal itu.
"Hari ini, Baby pengen makan rujak aja. Dia gak rewel kok, Mas."
"Kamu rujakan sama siapa?"
"Sama maid saja, Mas. Tau gak? Sambel kacang nya enak banget lho, aku sampe ketagihan." Ucap Ayunda dengan antusias.
"Benarkah? Mereka bisa membuat apa saja, tapi kamu gak makan pedes kan?"
"Sedikit kok, aku cuma habis sepuluh jambu air doang."
"Sedikit? Kamu gapapa, adik bayi nya gimana?"
"Gapapa, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis.
"Seriusan nih? Kamu gak bohong sama Mas, kan?"
"Astaga, Mas. Enggak, yakali kenapa aku harus berbohong."
"Ya sudahlah, kalau begitu." Jawab Narendra, dia kembali mendusel-duselkan wajah nya di perut buncit sang istri, membuat Ayunda tersenyum kecil. Dia suka saat sang suami bersikap manja seperti ini.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1