
Di suasana malam saat kedua pasutri itu masih berada di luar rumah. Mereka masih berpetualang untuk mencari kue cubit yang di inginkan oleh Ayunda, tapi setelah beberapa menit berputar-putar, Naren tidak juga mendapatkan kue cubit nya.
"Biasa nya disini tuh ada yang jual kue cubit, sekarang kok gak ada ya?" Gumam Narendra sambil celingukan. Memang, biasanya setiap dia pulang pasti melewati jalan ini dan banyak sekali pedagang disini karena area nya yang dekat dengan kawasan perkantoran, sudah pasti saat pulang kerja karyawan pasti jajan dulu di sini sebelum pulang, apalagi yang malas masak karena disini juga ada yang menjual nasi dan lauk nya sekalian.
"Lagi gak jualan mungkin, Mas."
"Hmm, terus gimana dong?"
"Gapapa kok, kita beli martabak pesenan Papi aja." Jawab Ayunda dengan lemas. Meskipun dia terlihat pasrah dan tidak merajuk, tapi Narendra tahu kalau sebenarnya istri nya itu merasa kecewa karena makanan yang dia inginkan ternyata tidak ada.
"Kita cari sekali lagi ya, semoga aja udah buka Abang penjual kue cubit nya." Ucap Narendra. Jujur, dia memang lelah tapi dia tidak tega melihat raut murung sang istri. Jadi, dia tidak akan menyerah untuk membuat mood istri nya membaik.
"Mas, kamu pasti capek kan? Udah, kita beli martabak aja."
"Kamu pengen kue cubit kan, sayang?"
"Iya pengen, tapi kalau gak ada aku juga gak bakalan maksain." Jawab Ayunda dengan senyum nya. Namun, Narendra memilih untuk kembali ke tempat biasa penjual kue cubit itu berjualan dan benar saja, sekarang tempat itu sudah buka dan si Abang nya baru saja datang.
"Tuh, ada kue cubit nya, sayang." Ucap Narendra membuat Ayunda menoleh ke arah jendela dan seketika itu juga, senyum nya terlihat sangat bahagia. Siapa sih yang tidak bahagia kalau makanan yang sedang di idam-idamkan lalu mendapatkan nya? Siapa pun akan senang, apalagi bagi Ayunda yang merupakan ibu hamil dan ini adalah pertama kali nya dia mengidam untuk memakan sesuatu.
"Yeeee, terimakasih Mas."
"Iya, ayo turun. Kita ngantri duluan, biar nanti di duluin." Ayunda menganggukan kepala nya, dia dan Narendra pun turun dari mobil dan mendekat ke arah penjual kue cubit yang cukup terkenal di daerah ini karena rasa nya yang memang enak.
"Bang, kue cubit nya dua porsi."
"Siap, sebentar ya. Mau rasa apa?" Tanya si Abang penjual kue cubit itu, Ayunda terlihat berpikir. Dia tidak tahu harus memesan rasa apa, karena ini pertama kali nya dia akan makan kue cubit.
"Sayang, mau rasa apa?" Tanya Narendra, membuat Ayunda menggeleng tidak tahu. Narendra terkekeh pelan, lalu mengusap lembut puncak kepala sang istri.
"Eemm, yang paling sering di pesen itu rasa apa ya?"
"Green tea sama choco hazelnut, taro juga. Bisa setengah matang atau matang."
"Yaudah, green tea setengah matang. Choco hazelnut nya juga, terus taro nya mateng aja." Jawab Narendra. Aneh bukan? Ayunda yang ngidam pengen makan kue cubit, tapi dia tidak tahu ingin memesan yang rasa apa.
"Mas, mau yang original juga nyobain." Rengek Ayunda, membuat Narendra terkekeh pelan.
"Bang, tambah original ya satu. Jadi total empat porsi." Jawab Narendra. Abang-abang itu pun menganggukan kepala nya, sedangkan Ayunda merasa kalau pesanan kue cubit nya terlalu banyak sampai empat porsi.
"Bang, jangan empat porsi deh. Pesen nya dua porsi nya aja tapi di campur empat rasa, bisa kan?"
"Bisa, Nona. Mau di banyakin yang rasa apa?"
"Green tea aja sama yang choco hazelnut, Bang."
"Oke siap, Nona. Di tunggu sebentar ya." Jawab nya. Ayunda pun menganggukan kepala nya.
"Kenapa?" Tanya Ayunda saat melihat dan menyadari tatapan sang suami yang terlihat sedikit aneh.
"Kenapa di cancel dua porsi?"
__ADS_1
"Kebanyakan, Mas. Nanti gak ada yang makan, Mami udah bilang kalau dia gak suka kue cubit kan? Papi juga pasti makan martabak, bukan kue cubit." Jawab Ayunda membuat Narendra mengangguk pelan.
"Tapi kan bisa buat besok, ada maid juga di rumah."
"Gapapa lah, Mas. Udah dua porsi juga belum tentu habis." Jawab Ayunda, Narendra pun menganggukan kepala nya mengiyakan. Kedua nya pun duduk berdampingan di sebuah bangku panjang sambil menunggu pesanan mereka selesai. Nanti saat pulang mereka harus berhenti di tempat tukang martabak yang selalu menjadi langganan sang Papi. Disana ngantri nya cukup lama juga, bisa-bisa kemaleman di jalanan tapi Narendra tidak akan bisa meninggalkan istrinya disini sendirian.
"Kenapa, Mas?"
"Gapapa, sayang ku." Jawab Narendra, dia menggenggam tangan sang istri dengan erat. Ayunda juga tidak keberatan sama sekali saat sang suami menggenggam tangan nya dengan mesra, dia tidak merasa sedikit pun padahal ini adalah tempat umum. Tapi kan yang nama nya udah sah jadi suami istri ya bebas-bebas saja. Palingan membuat orang-orang bapwe, itu saja.
"Tangan kamu dingin banget, kamu nunggu di mobil aja ya? Angin malam nya gak bagus buat kesehatan kamu." Ucap Narendra sambil merangkul sang istri dari samping.
"Enggak, aku disini saja." Jawab Ayunda membuat Narendra mengacak rambut sang istri dengan gemas nya, seperti biasa kalau gak keras kepala ya bukan Ayunda nama nya. Kalau sudah kerasa, barulah dia akan menurut.
"Jangan keras kepala dong, yang. Kamu lagi hamil lho, jadi tolong pikirkan anak kita juga."
"Hmm, baiklah. Aku nunggu di mobil aja kalau gitu." Jawab Ayunda. Narendra pun langsung membukakan pintu mobil nya dengan sigap, dan setelah melihat istrinya duduk dengan nyaman di kursi nya, Narendra pun menutup pintu nya, tapi Ayunda malah menurunkan kaca jendela nya.
Bukankah sama juga bohong kalau begini? Tapi biarkan lah, tidak apa-apa. Ayunda menuruti perkataan nya saja sudah membuat Narendra senang.
Tak lama kemudian, pesanan kue cubit nya pun selesai. Tak lupa, Naren juga membeli minuman nya, jus buah naga kesukaan sang istri. Lalu dia juga membeli air mineral dan setelah membayar semua makanan juga minuman yang dia ambil, Narendra pun langsung masuk ke dalam mobil dan dia mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan sedang.
"Ini kue cubit nya, sayang."
"Terimakasih, Mas. Maaf ya ngerepotin kamu malem-malem."
"Gapapa, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum.
"Silahkan, sayang. Selamat makan.." Ucap Narendra. Ayunda pun tersenyum saat melihat kue cubit di tangan nya. Perempuan hamil itu pun memakan kue cubit yang sedari tadi terus saja terbayang-bayang di kepala nya.
Ayunda memakan nya dengan sekali suapan, karena ukuran kue cubit nya kecil-kecil jadi satu porsi itu banyak sekali karena ukuran nya kecil-kecil, sekali gigitan saja.
"Gimana?"
"Enak banget, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis.
"Suka?"
"Iya Mas, aku suka sekali." Jawab perempuan itu, dia pun kembali memakan kue nya dengan lahap.
"Nyobain dong, sayang." Pinta Narendra. Ayunda menganggukan kepala nya dan menyuapi sang suami dengan kue cubit yang setengah matang. Narendra yang biasa nya tidak terlalu suka makan makanan manis, aneh sekali dia langsung menyukai kue ini bahkan kembali meminta nya pada Ayunda.
Nyata nya, dua porsi kue cubit itu habis oleh kedua nya saat di mobil. Bahkan Ayunda masih merasa ingin kembali memakan kue itu lagi, tapi tempat nya sudah jauh karena sekarang mereka sudah berada di jalan pulang setelah membeli martabak manis pesanan Papi nya di rumah. Biasa lah, kayak anak kecil kalau semisal ada yang bepergian pasti menitip makanan sebagai buah tangan alias oleh-oleh.
"Enak ya kue cubit nya?"
"Iya, Mas. Tapi agak enek juga ya kalau habis banyak, hehe." Jawab Ayunda sambil terkekeh pelan.
"Ngidam nya baby udah keturutan belum?"
"Udah dong, makasih Daddy." Ucap Ayunda membuat Narendra menoleh ke arah sang istri. Entahlah, dia menyukai panggilan Daddy yang di ucapkan oleh sang istri.
__ADS_1
"Aku suka dengan panggilan itu, sayang."
"Benarkah?" Tanya Ayunda sambil tersenyum, begitu juga Narendra. Pria itu tersenyum membuat wajah nya terlihat jauh lebih tampan saat tersenyum seperti ini.
"Iya, sayang."
"Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggil kamu Mas, kalau enggak ya Daddy." Jawab Ayunda membuat wajah Narendra seketika berbinar begitu mendengar ucapan Ayunda.
"Aku akan memanggil mu Mommy, bagaimana?"
"Cukup bagus juga, oke Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Akhirnya, malam itu mereka memiliki nama panggilan yang baru. Karena sebentar lagi, mereka juga akan memiliki status yang baru yaitu sebagai orang tua.
Akhirnya, setelah hampir satu jam kemudian Narendra mengemudikan kendaraan nya, mereka pun sampai di rumah. Narendra dan Ayunda pun keluar dari mobil dengan tangan yang saling bertautan mesra, layaknya pasangan suami istri yang harmonis. Wajar saja, mereka menikah belum ada satu tahun. Baru beberapa bulan saja, lagi hangat-hangat nya jadi pasutri baru.
"Eehh, kalian sudah pulang?" Sapa Melisa sambil menggandeng lengan sang menantu, seperti biasa Narendra di lupakan, seperti biasa juga hal itu membuat pria itu merasa cemburu karena sikap sang ibu yang menurut nya terlalu kelihatan pilih kasih nya.
"Sudah kok, Mi."
"Ini martabak pesanan Papi." Ucap Narendra sambil menyimpan satu kotak berisi martabak manis pesanan sang Papi di atas meja lalu dia memilih untuk pergi ke kamar sambil menggerutu tapi di dalam hati. Mana berani dia menggerutu secara langsung, kalau terdengar sang ibu ya bisa berabe nanti. Sudah pasti akan ada perang ketiga antara ibu dan anak itu.
"Lho, dia mau kemana?" Tanya Melisa begitu melihat putra nya langsung pergi ke kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun pada nya atau pun pada sang papi yang sedang duduk di ruang tamu. Dia hanya menyimpan martabak nya lalu pergi dengan wajah datar nya.
"Ke kamar palingan, Mi.
"Seperti nya dia cemburu lagi itu."
"Cemburu, Mi? Tapi cemburu karena apa ya?"
"Biasa lah, karena Mami lebih milih menyambut kamu tadi di banding dia." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Ohh, jadi dia cemburu karena Mami lebih perhatian sama aku dari pada dia, begitu?"
"Iya, seperti itu."
"Kok bisa ya?"
"Mami juga gak tahu, harusnya dia tuh seneng pas Mami sayang sama kamu melebihi anak Mami sendiri kan?"
"Tapi ada wajar nya juga sih Mas Narendra cemburu sama aku, soalnya Mami lebih perhatian sama aku di banding Mas Naren."
"Gapapa lah, emang pada dasarnya dia nya aja yang sensitif. Susulin sana, nanti merajuk susah bujuk nya." Ucap Melisa.
Ayunda pun menurut dan langsung menyusul sang suami ke kamar nya, sedangkan Melisa menggelengkan kepala nya melihat kelakuan putra nya. Lucu bagi Melisa, tapi menyebalkan juga. Apalagi bagi Narendra sendiri.
"Cemburu ya anak nya?"
"Biasalah, nama nya juga Naren." Jawab Melisa sambil terkekeh pelan.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1