Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 115 - Gadis Kampung?


__ADS_3

Narendra menggandeng lengan sang istri, pasangan yang terlihat sangat ideal itu berjalan di atas karpet merah yang di gelar sepanjang jalan dari luar hingga ke dalam gedung pesta yang terlihat sangat mewah. 


"Mas, aduh aku kok panik ya." Bisik Ayunda pada Narendra. Membuat pria itu tersenyum kecil, dia merasa geli dengan ucapan sang istri. Tapi seperti nya sang istri sedang mengalami panik attackm itu biasa terjadi, seperti pada artis-artis yang biasa nya tengah berada di puncak ketenaran, mereka biasa nya mengalami panick attack karena tak biasa bertemu dengan banyak orang mungkin.


"Tenang, sayang. Ada Mas disini, jangan panik. Kamu adalah istri pengusaha terkenal di negara ini, jadi harus terlihat santai saja. Jangan panik, ini hanya pesta." Ucap Narendra sambil tersenyum manis. Airyn pun tersenyum, dia menganggukan kepala nya karena merasa sedikit lebih tenang saat ini karena ucapan sang suami yang membuat hati nya tenang.


Hal yang sama pun di rasakan oleh Maya, dia yang notabene nya tidak terlalu pandai bergaul, jarang juga bertemu dengan banyak orang, membuat nya di landa panick attack, sungguh demi apapun dia merasa gugup saat ini yang membuat perut nya terasa mulas saking gugup nya. 


Bahkan wajah nya sekarang nampak pucat mungkin karena dia terlalu gugup. Sungguh, Maya tidak pernah melihat orang sebanyak ini dan Maya yakin jika semua orang yang berada disini pasti terdiri dari kalangan orang terpandang. Meskipun dia jarang melihat barang-barang yang mahal atau barang branded, tapi Maya bisa menilai lewat cara mereka bersikap, cara mereka berbicara masing-masing antara orang-orang kaya itu. Apalagi setelah melihat cara mereka berpakaian. 


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Mark, dia tahu benar ekspresi wajah sang kekasih yang berubah setelah dia turun dari mobil tadi. Penampilan nya saat ini memang terlihat sangat cantik dan mewah, namun apakah dia bisa bergaul dengan orang-orang kaya disini yang jelas-jelas bukan level nya?


"Eemm, aku merasa gugup dan malu. Itu saja, hehe."


"Jangan gugup, aku disini bersama mu. Aku akan selalu berada di samping mu, sayang. Jangan gugup ya, di bawa santai saja."


"Janji ya? Seperti nya aku mengalami panick apa ya, lupa aku." Ucap Maya sambil berusaha mengingat-ingat. 


"Panick attack, sayang. Tak apa, itu wajar kok. Tidak apa-apa, biasakan ya? Kedepan nya, setelah kita menikah nanti kamu akan sering menghadiri pesta seperti ini, sayang." Jelas Mark membuat Maya membulatkan kedua mata nya.


"Jangan kaget itu, aku orang yang cukup penting, hehe." 


"Iya deh, si paling orang penting." Celetuk Maya yang membuat Mark gemas sekali melihat kekasih nya itu, kalau saja saat ini bukan berada di tempat yang banyak orang, pasti Mark sudah menyosor duluan pada istrinya, namun dia sadar benar kalau saat ini mereka sedang berada di area publik, banyak orang penting di tempat ini. 


"Hehe, serius lho."


"Iya, aku tahu kok kamu orang penting tapi gak usah narsis juga dong, Mas."


"Gapapa deh, narsis gini juga kan pacar kamu. Eehh ralat, sebentar lagi jadi calon suami kamu, hehe."


"Isshh, apaan sih? Memang nya siapa yang bilang aku mau jadi istri kamu, Mas?" Tanya Maya membuat Mark terdiam. Benar, Maya memang belum mengatakan kalau dia bersedia untuk menjadi istri Mark atau tidak. 


"Jadi kamu nolak aku nih cerita nya apa gimana, yang?" Tanya Mark membuat Maya terkekeh pelan, apalagi saat melihat ekspresi wajah Mark yang terlihat sedikit di tekuk, mungkin karena dia tidak suka dengan ucapan Maya. Padahal, dari sikap nya sekarang saja sudah bisa di pastikan kalau Maya akan mau menjadi istri nya karena dia juga mencintai Mark. Namun, jauh dalam hatinya memang dia sedikit ragu dengan hubungan nya saat ini dengan Mark. Mengingat mereka berbeda, namun seperti nya Mark maupun kedua orang tua nya tidak mempermasalahkan hal itu. 


"Lihat saja nanti, udah jangan di tekuk seperti itu. Keliatan nya jelek sekali, sayangku."


"Aku kesel, tapi gapapa deh. Ayo kita duduk dekat Tuan Narendra disana." Tunjuk Mark sambil menunjuk meja bulat yang melingkar, terdapat dua kursi kosong yang memang sudah di siapkan oleh pemilik pesta ini. 


Maya dan Mark pun duduk di kursi kosong itu, mereka pun duduk dengan saling berhadapan. Kalau boleh jujur, untuk sekarang Maya masih merasa sedikit gugup. Namun ada Mark yang selalu menggenggam tangan nya untuk menenangkan nya, membuat hati Maya merasa tenang dan nyaman meskipun dia agak sedikit risih saat melihat tatapan orang-orang di sekitar nya. 


Mereka terlihat menatap nya dengan sinis, terlihat jelas kalau mereka tidak suka dengan kehadiran Maya, namun bersikap biasa saja pada Ayunda. Mungkin karena Ayunda adalah istri dari CEO terkenal di negara ini, pemilik perusahaan terbesar jadi nama nya cukup terjenal di kalangan pebisnis. 


"Sayang, Mas kesana dulu ya. Kamu disini saja dulu sama Maya, jangan beranjak dari sini biar kami tidak kesulitan mencari kalian nanti nya." Ucap Narendra sambil tersenyum.


"Ngapain kesana sih, Mas? Kita disini gimana?" Tanya Ayunda. Sejujurnya, dia sendiri juga merasa sedikit risih dengan tatapan orang-orang berpangkat itu. Memang mereka bersikap baik pada nya, namun dia merasa itu hanya kedok. Mereka hanya berpura-pura saja, di balik ekspresi itu ada sesuatu yang tidak Ayunda senangi.


Apa itu memang cara orang-orang kaya mengekspresikan ketidak sukaan mereka dengan menunjukkan sikap seolah mereka adalah orang yang ramah, namun sebenarnya dalam hati mereka jauh berbeda. Bermuka dua, seperti nya ungkapan yang sesuai untuk orang-orang itu. 


"Sebentar, mau ngucapin selamat sama pemilik pesta nya, setelah itu kita langsung kesini lagi."


"Hmm, yaudah deh. Bawa makanan ya, hehe."


"Oke, istriku sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum, dia mengusap pelan puncak kepala sang istri lalu mengecup kening nya dengan mesra. Hal itu, membuat orang-orang yang sedari tadi melihat ke arah meja Ayunda itu memalingkan wajah mereka tidak suka melihat pemandangan yang menampilkan kemesraan itu. Apa mungkin mereka iri? Mungkin iya. Makanya mereka terlihat seperti tidak suka, artinya mereka tidak pernah merasakan hal itu dari suami mereka mungkin.

__ADS_1


"Yaudah, jangan lama ya. Nanti kita keburu di godain sama om-om itu tuh." Gurau Ayunda sambil terkekeh membuat Narendra mendelik kesal.


"Om-om itu gak lebih kaya dari aku, sayang. Jadi lebih baik kamu gak usah nakal apalagi genit sama orang-orang disini, atau enggak aku seret kamu dari sini." Ancam Narendra, terdengar sedikit menakutkan, tapi lain bagi Ayunda. Ucapan sang suami terdengar sangat menggemaskan, itu membuktikan kalau suami nya itu tengah di landa kecemburuan bukan? Benar, pria itu tengah di landa cemburu saat ini.


"Oke oke, mana ada aku genit. Kamu bisa percaya sama aku, kalau enggak percaya ada Maya kok yang bakal ngawasin aku. Lagian, harusnya kamu tuh udah gak perlu cemburu-cemburuan kali, Mas."


"Memang kenapa aku gak boleh cemburu?" Tanya Narendra.


"Ya kali aku genit sama orang lain, sedangkan aku aja lagi hamil anak kamu sekarang."


"Hmm, justru itu. Kamu terlihat berkali-kali lipat terlihat sangat cantik saat hamil, sayangku."


"Hahaha, enggak kok. Kamu tenang aja, aku gak bakalan genit kok. Mana bisa aku genit ke cowok lain sedangkan suami aku aja seorang Narendra, pria idaman para wanita." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis. Begitu juga dengan Narendra yang mendengar hal itu, dia senang bukan main saat mendengar ucapan sang suami. Dia suka, sangat suka saat Ayunda dengan terang-terangan memuji kehebatan dan ketampanan nya. 


Tampan? Memang wanita itu tidak mengatakan kalau dia tampan, tapi secara tidak langsung Ayunda mengatakan kalau dia adalah pria yang menjadi idaman banyak wanita, artinya dia tampan bukan? Bukan hanya tampan saja, tapi kekayaan dan kemampuan nya memimpin perusahaan sebesar Sanjaya group sendirian di usia nya yang masih sangat muda.


"Yaudah, aku kesana dulu ya."


"Iya, Mas ku. Jangan nakal, nanti aku jewer."


"Iya iya."


"Ayo, Mark." Ajak Narendra. Mark pun langsung mengekor di belakang sang atasan. Pria itu terlihat sedikit khawatir saat menatap sang kekasih, dia tahu kalau Maya tidak nyaman berada di tempat ini apalagi dengan orang-orang yang berbagai macam dan kalangan.


"Jangan khawatir, Mas. Aku baik-baik saja, lagi pula disini ada Nona Ayunda. Aku akan tenang berada di dekatnya."


"Hmm, baiklah. Aku akan kembali, ini takkan lama." Jawab Mark sambil tersenyum kecil, sambil mengacak rambut sang kekasih dengan gemas. Lalu pergi dengan sang atasan. Kedua wanita itu terlihat menatap punggung kedua pria itu dengan tatapan nanar.


"May, duduk disini." Ayunda menepuk kursi di samping nya, dia meminta untuk Maya duduk di samping nya. Maya pun menurut dan duduk di samping sang Nona. 


"Hehe, iya Nona. Tapi saya pikir, Nona sudah terbiasa."


"Tidak, ini adalah pertama kali nya aku datang ke pesta klien suamiku." Jawab Ayunda sambil mengambil minuman dan meminum nya sedikit, namun dia tidak menyukai minuman itu seperti nya tidak menyukai minuman itu. 


"Benarkah, Nona?"


"Iya, Maya. Apa wajah ku terlihat seperti sedang berbohong?" Tanya Ayunda. Namun Maya tidak melihat raut kebohongan di wajah Ayunda, maupun ekspresi nya. Bahkan Maya hanya bisa melihat adanya kejujuran yang di perlihatkan oleh sang majikan.


"Saya percaya, Nona."


"Hmm, baiklah. Tapi aku kebelet ini, aku ke kamar mandi dulu ya, May?" Ucap Ayunda. Nama nya juga orang hamil kan ya? Jadi dia lebih sering pergi ke kamar mandi, saat malam hari pun seperti itu. Ayunda sampai bosan bolak balik ke kamar mandi. 


"Hati-hati, Nona. Apa perlu saya temani?"


"Haha, tidak perlu. Aku bisa sendiri kok, May. Kamu tunggu disini saja, aku gak bakalan lama kok. Pipis doang, setelah itu langsung balik lagi kesini. Oke?"


"Baik, Nona." Jawab Maya. Ayunda pun menyimpan tas berisi ponsel dan dompet miliknya di atas meja. Dia mempercayakan nya pada Maya, dia yakin kalau Maya adalah perempuan yang bisa di percaya.


"May, nitip ini ya?"


"Tapi, Nona.." 


"Aku percaya padamu kok, aku gak lama." Ucap Ayunda. Akhirnya, Maya pun menerima tanggung jawab untuk menjaga kan tas milik Ayunda. 

__ADS_1


Wanita hamil itu pun beranjak dari duduk nya lalu bertanya pada seorang pelayan yang mondar mandir mengantarkan makanan ke meja-meja dimana toilet berada. 


"Di belakang sana, Nona. Lurus, lalu belok kanan."


"Baik, terimakasih kak."


"Sama-sama, Nona." Jawab nya. Ayunda pun pergi ke arah pelayan itu menunjukan tempat itu, pelayan itu juga pergi menjauh dari wanita hamil yang dia saja tidak mengetahui kalau wanita itu adalah istri dari seorang CEO terkenal di kota ini.


Maya terlihat celingukan menunggu kedatangan sang kekasih, dia juga menunggu Ayunda kembali, tapi belum juga lima menit wanita itu pergi mungkin saja belum sampai di toilet. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketidak nyamanan nya saat tak sengaja mata nya bertemu dengan tatapan orang-orang yang duduk di dekatnya. Mereka menatap nya dengan tatapan nakal, bahkan ada yang menatap nya dengan tatapan mesuum?


Tak lama kemudian, mereka beranjak dari duduknya lalu mendekat ke arah meja yang di duduki oleh Maya. 


"Permisi, Nona. Bolehkah kami duduk disini?"


"Tidak, kursi itu sudah ada yang.." belum juga Maya menyelesaikan ucapan nya, ketiga pria itu sudah duduk di kursi kosong, membuat Maya mendengus. 


'Apa orang kaya memang begini ya? Belom juga selesai ngomong udah pada duduk begini, apa mereka tidak mengenal sopan santun?' Batin Maya. Dia benar-benar tidak nyaman, saat menyadari tatapan mereka mengarah ke bagian tubuh nya yang lain, bukan ke wajah lagi tapi lebih ke area sensitif, membuat Maya merasa sedikit di lecehkan, meskipun dia tidak di apa-apakan.


"Datang bersama siapa?"


"Istri Tuan Naren dan kekasih saya juga tuan Naren sendiri." Jawab Maya pelan.


"Narendra, CEO sanjaya group?" Tanya salah satu dari pria itu, mereka terlihat seperti terkejut saat Maya mengucapkan kalau dia datang bersama pria berpengaruh seperti Narendra. 


"Iya, benar."


"Ada hubungan apa kau dengan pria seberpengaruh Naren?" Tanya nya lagi, membuat Maya sedikit kebingungan harus menjawab apa. Apa dia harus jujur kalau dia hanya maid di rumah Narendra? Akan selucu apa mereka menertawakan nya? Tidak, dia tidak boleh jujur bukan? Tapi, berbohong juga bukanlah hal yang baik. Dia tidak di ajarkan oleh siapapun untuk berbohong. 


"Aku kekasih asisten nya, Mark."


"Wah, benarkah? Agak sedikit meragukan. Iya kan?"


"Iya, meragukan. Mark itu pria yang sangat datar seperti tembok, mana bisa dia jatuh cinta apalagi dia memiliki kekasih? Haha, jangan mengada-ada, Nona." Jawab pria itu membuat Maya merasa sedikit kesal dengan ucapan pria itu. Apa sang kekasih memang sedatar itu kah? Tapi, pria itu sangat manja disaat sedang bersama nya.


"Halu sih boleh-boleh saja, Nona. Tapi jangan ketinggian, nanti kamu terjatuh. Sakit lho, apalagi kalau gak ada yang nolongin." Celetuk nya lagi membuat Maya harus ekstra menahan kekesalan nya pada ketiga pria itu. Tidak bisakah mereka tidak mengganggu nya? 


"Tapi ini benar, aku kekasih nya Mark."


"Jangan bercanda, dengan penampilan seperti ini? Haha, kamu terlihat seperti gadis kampungan." Celetuk nya, membuat Maya terkejut. Apakah orang kaya kalau bicara memang seperti ini? Tidak pernah memikirkan perasaan orang lain kah? Menyebalkan. Padahal, ini adalah pakaian yang sangat bagus bahkan Mark sendiri yang membelikan dress ini. Tidak mungkin rasanya, jika kekasih nya itu ingin mempermalukan dirinya bukan? Tapi pakaian ini memang sangat cantik, bahkan Ayunda memuji nya tadi.


"Gadis kampung?"


"Iya, kamu terlihat seperti orang kampung yang pertama kali datang ke kota."


"Baiklah, anggap saja aku orang kampung." Jawab Maya dengan sedikit ketus. Namun ketiga nya malah tertawa mendengar ucapan Maya, bagi mereka itu terdengar seperti lelucon.


"Baiklah anak kampung, bagaimana kalau sudahi kehaluan mu dan bermalam bersama kami? Bergantian?"


"Kami berjanji akan bermain dengan perlahan kok."


"Uang yang akan kamu dapatkan juga sangat banyak, bagaimana? Asal kamu mau memuaskan kami." 


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2