
30 menit kemudian..
Melisa tersenyum saat melihat bolu buatan nya mengembang sempurna, dia mengeluarkan nya dari oven dan memindahkan nya ke piring. Dia mengiris nya, lalu memanggil menantu nya yang sedang menyapu di ruang tamu.
"Sayang.." teriak Melisa, membuat Ayunda yang sedang menyapu langsung menyahut.
"Iya, Mami. Kenapa?"
"Kemari, sayang. Kue nya sudah matang, mau nyobain?" Tawar Melisa membuat Ayunda langsung mengiyakan dengan antusias. Dia langsung pergi ke dapur dan tersenyum manis saat melihat Melisa tengah mengiris-iris kue bolu coklat kesukaan Narendra.
"Cobain, sayang."
"Mau di suapin, boleh?" Pinta Ayunda dengan manja. Melisa terkekeh, lalu menggelengkan kepala nya. Dia pun menuruti permintaan menantu nya, dia menyuapi Ayunda dengan perlahan.
"Gimana? Enak gak?"
"Enak banget lho, Mi. Ayu pikir karena bolu coklat, bakalan manis banget. Tapi ternyata enggak, ini manis nya pas." Jawab Ayunda.
"Beneran?"
"Beneran dong, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Ya sudah, kamu makan yang banyak kalau begitu."
__ADS_1
"Tapi Mas Naren gimana nanti? Kita buat kue nya kan niat nya buat Mas Naren, Mi."
"Masih ada tuh di oven satu lagi, kita kan buat dua kue nya." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil. Ayunda pun bersorak kegirangan, dia pun memakan kue nya dengan lahap. Melisa merasa senang saat melihat Ayunda makan dengan lahap. Dia mengusap puncak kepala sang menantu, saat di usap seperti itu, Ayunda mendongak lalu menatap wajah mami mertua nya dengan sendu.
"Enak banget ya, sayang?"
"Heem, enak sekali, Mi. Terimakasih." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Bolu kan bisa di beli.."
"Iya, kue bolu memang bisa di beli, Mi. Tapi yang buat nya gak bakalan bisa di beli, Mi. Kue bolu ini terasa sangat lezat karena Mami yang membuat nya, ada sentuhan kasih sayang seorang ibu disini." Ucap Ayunda.
"Benarkah?"
"Iya, Mami."
"Terimakasih, Mami. Ayu sudah merindukan perhatian seorang ibu seperti ini, Mi."
"Sekarang ada Mami, sayang. Mami ibu mu kan?" Tanya Melisa sambil terus mengusap kepala sang menantu dengan lembut.
"Iya, Mami ibu nya Ayu sekarang. Terimakasih banyak sudah menyayangi Ayu seperti layaknya anak sendiri."
"Sama-sama, sayang. Harus nya kamu tidak perlu berterimakasih seperti itu, karena ini adalah sudah tugas Mami sebagai orang tua." Jawab Melisa. Ayunda pun memeluk mami mertua nya dengan erat. Melisa mengusap-usap puncak kepala Ayunda dengan lembut, sedangkan Ayunda memeluk perut mami mertua nya.
__ADS_1
Hati nya benar-benar merasa tenang sekarang, Ayunda merasa bahagia karena pada akhirnya dia bisa merasakan seperti apa kehangatan kasih sayang seorang ibu. Meskipun itu hanya berasal dari Mami mertua nya, tapi tidak apa-apa karena sama saja bukan? Melisa juga sangat menyayangi nya seperti layaknya pada anak sendiri. Bahkan, Narendra saja sampai cemburu melihat kedekatan antara Melisa dan Ayunda.
"Kenyang makan kue nya, sayang?"
"Hehe, udah Mi."
"Yaudah, kamu mandi sana. Bentar lagi suami kamu pulang, jangan sampai Naren pulang kamu belum mandi."
"Eehh iya ya, yaudah Ayu mau mandi dulu ke atas ya?"
"Iya, sayang." Jawab Melisa.
"Tapi ini belum di beresin, Mi."
"Gapapa, itu tugas maid." Jawab wanita paruh baya itu sambil terkekeh kecil.
"Ohh, yaudah deh. Hehe." Ayunda pun pergi ke kamar nya, karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Sekitar satu jam lagi, Narendra pasti akan pulang.
Tapi, sesampai nya di kamar bukan nya langsung mandi, Ayunda malah membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Dia menikmati semilir angin yang terasa sangat sejuk di sore hari ini, Ayunda mendongak menatap langit yang sedikit mendung. Mungkin beberapa jam lagi pasti akan turun hujan.
"Mas, cepatlah pulang.."
"Aku harap saat hujan turun, kamu sudah disini, Mas." Gumam Ayunda. Dia merasa khawatir kalau Naren pulang saat hujan deras, Ayunda memiliki ketakutan tentang hujan dan petir. Apalagi badai, karena orang tua nya meninggal saat hujan deras.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻