Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 36 - Apa itu Cinta?


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Naren, karena sudah hampir setengah jam berlalu, tapi Ayunda tidak kunjung keluar juga dari kamar mandi. 


"Iya, kenapa?" Tanya Ayunda. Dia keluar dengan menggunakan bathrobe berwarna putih kebesaran, sudah jelas kalau bathrobe itu bukanlah miliknya tapi milik Naren.


"Astaga, bathrobe nya kebesaran, sayang. Kamu terlihat semakin kecil jika menggunakan bathrobe milik ku."


"Habis nya gak ada lagi, cuma ada ini di kamar mandi." Jawab Ayunda.


"Tapi kamu terlihat sangat menggemaskan, sayang. Tak apa, besok kita beli bathrobe untuk mu."


"Hmm, baiklah. Kamu mau mandi?"


"Iya, sayang. Badan aku rasa nya lengket banget." Jawab Naren, sambil tersenyum kecil. 


"Tapi ini bathrobe nya aku pakai.."


"Tak apa, ada handuk. Aku bisa menggunakan handuk, cepatlah berpakaian." Ayunda menganggukan kepala nya, lalu pergi ke ruang ganti. Naren juga masuk ke kamar mandi, di dalam sana, pria itu langsung mengguyur tubuh nya dengan air dingin untuk menyejukkan tubuh nya yang terasa memanas karena melihat punggung Ayunda tadi. 


Tak lama kemudian, Naren sudah selesai dengan acara mandi nya. Dia keluar dari kamar mandi dengan handuk selutut yang melingkar di pinggang nya. Secara kebetulan, Ayunda juga baru saja keluar dari ruang ganti. Kedua mata gadis itu membulat saat melihat roti sobek yang berjejer rapi di perut Naren, terlihat sangat indah dan menggoda untuk di sentuh. 


"Kenapa, sayang? Kok bengong. Ada hal yang mengejutkan?" Tanya Narendra, membuat Ayunda sadar dan menggelengkan kepala nya dengan cepat. 


"T-tidak kok, tidak ada." Jawab Ayunda membuat Naren tersenyum.


"Ya sudah, kamu mau turun duluan atau menunggu aku selesai?" Tanya Narendra.

__ADS_1


"Nunggu kamu aja, bagaimana pun juga aku masih canggung berada disini." 


"Kenapa harus canggung? Sekarang ini rumah mu juga."


"Tapi tetap saja rasa nya agak sedikit tidak nyaman." Jelas Ayunda, Naren tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya. Dia paham apa yang di maksud oleh Ayunda. Bagaimana pun, memang dia adalah orang baru disini. Dia bertemu dengan Melisa dan Arvin beberapa hari lalu, tapi langsung menikah dan menjadi bagian dari keluarga ini, tepat nya menantu keluarga Sanjaya.


"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu tunggu sebentar, aku tidak akan lama."


"Iya, pakaian nya sudah aku siapkan." Ucap Ayunda sesaat sebelum Naren masuk ke dalam ruang ganti. 


Gadis itu menoleh ke arah meja rias yang terdapat beberapa skincare, dia mencoba krim itu di wajah nya. 


"Ternyata krim ini sangat cocok untuk wajah ku yang kering." Gumam Ayunda, dia menepuk-nepuk wajah nya yang terasa dingin dan lembab setelah memakai krim wajah itu. 


"Wah, lihatlah pengantin baru kita. Terlihat sangat serasi ya.." Ucap Darren, kakek nya Naren. Dia memang tinggal disini bersama Melisa dan Arvin, karena Arvin adalah anak satu-satunya yang di miliki Darren. 


Darren tinggal disini juga atas saran dari Melisa, dia takkan tega jika membiarkan Darren tinggal sendirian di rumah nya. Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan disaat dia sedang sendirian? Bukankah itu sangat berbahaya, mengingat usia Darren yang sudah tidak lagi muda. 


"Iya, mereka sangat serasi." Jawab Arvin, dia setuju dengan pendapat sang ayah. Ayunda terlihat sangat pantas berada di samping Narendra. 


"Selamat malam, Mi, Pi, Kakek." Sapa Narendra dengan ramah. Tangan nya tetap menggenggam tangan Ayunda dengan erat. 


"Malam.." Balas ketiga nya. Sedangkan Ayunda, dia nampak menerka-nerka siapa pria tua yang duduk di sofa berhadapan dengan Arvin dan Melisa. Gadis itu mendongak ke arah Naren, seolah meminta penjelasan.


"Sayang, itu kakek Darren. Papa nya papi." Jelas Naren yang langsung mengerti dengan arti tatapan yang di layangkan oleh istrinya itu. 

__ADS_1


"Ohh, salam kenal Kek. Saya Ayunda." 


"Salam kenal juga, sayang. Kamu cantik sekali, pantas saja Naren terburu-buru ingin menikahi mu. Ternyata cucu kakek pandai memilih wanita." Ucap Darren sambil tersenyum kecil. Ayunda juga membalas senyuman pria itu dengan canggung. Bagaimana tidak canggung? Ini adalah pertemuan pertama mereka, dan kedua nya bertemu setelah Ayunda resmi menjadi istri cucu nya, Naren. 


Selama ini, Darren berada di Belanda bersama teman-teman seperjalanan nya. Dia liburan untuk sementara waktu dan menikmati waktu-waktu kebersamaan nya. Dia pulang kesini karena putra nya mengabarkan kalau Naren akan menikah hari ini. Tapi sayang nya, dia tidak sempat pulang tepat waktu karena ada sedikit masalah disana. Tapi ya, disinilah dia sekarang. 


"Sayang, kita ke dapur yuk?" Ajak Melisa. Ayunda pun mengangguk dan mengikuti jejak langkah sang mami mertua ke dapur. 


Narendra duduk di samping kakek nya, dia juga mengambil sepotong kue bolu dari meja lalu memakan nya dengan lahap.


"Hmm, kakek bilang juga Apa, Ren. Kamu pasti akan bisa melupakan wanita bernama Trisa itu seiring berjalan nya waktu." Celetuk Darren membuat Narendra menoleh, menatap wajah sang kakek yang tersenyum kecil ke arah nya.


"Maksud kakek?"


"Tidak ada, Ren. Kakek hanya bahagia karena akhirnya kamu bisa melupakan wanita itu dan kini menata hidup baru bersama gadis lain. Kakek senang melihat nya, kakek berdoa agar rumah tangga kalian sakinah mawadah warahmah, hanya maut yang memisahkan kalian." 


"Aamiin, Kek. Naren juga berharap demikian, Ayunda adalah gadis yang baik. Dia di kirim oleh Tuhan untuk mendampingi Naren."


"Kakek senang mendengar nya, kau mencintai nya kan?" Tanya Darren. Narendra terdiam sejenak. Perasaan apa yang dia miliki untuk Ayunda? Dia belum bisa memastikan nya, dia khawatir kalau ini bukan cinta tapi hanya karena sebuah rasa tanggung jawab Naren pada Ayunda karena dia sudah mengambil kegadisan Ayunda secara paksa meskipun itu bukan sepenuh nya kesalahan nya. 


"Sudah pasti Naren mencintai nya dong, Pa. Makanya dia menikahi Ayunda." Arvin yang menjawab, bukan Narendra. Dia masih terdiam, memikirkan apa dia memang benar-benar mencintai Ayunda? Atau hanya sekedar rasa bertanggung jawab saja?


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2