
Malam hari nya, Ayunda dan Narendra keluar dari kamar bersamaan, tentu nya dengan kedua tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
Seperti biasa, Narendra akan duduk dan berbincang bersama sang ayah. Sedangkan Ayunda akan pergi ke dapur untuk memasak makan malam bersama mami mertua nya. Tanpa peduli di minta pun, perempuan itu akan langsung pergi ke dapur jika memang sudah waktu nya.
"Boy.."
"Yes, Papi. Ada apa?"
"Bagaimana hubungan mu dengan Ayunda?" Tanya Arvin dengan serius.
"Baik-baik saja kok, Pi. Bahkan sangat baik."
"Apa sudah muncul benih-benih cinta di antara kalian berdua?" Tanya pria paruh baya itu lagi. Dia ingin memastikan kalau nama Ayunda sudah tersemat dalam hati putra nya, dia ingin hanya ada nama Ayunda di dalam hati Naren dan menghapus nama perempuan lain dari sana.
Narendra menganggukan kepala nya, dia sudah yakin kalau ini memang benar-benar cinta. Dia sudah berkonsultasi tentang hal ini pada Mark, sahabat sekaligus asisten nya di kantor. Dia mengatakan kalau itu cinta, maka dia akan merasa degdegan atau gugup saat berdekatan dengan Ayunda. Benar, dia merasakan hal itu selama ini.
Jadi, artinya dia memang benar-benar mencintai Ayunda bukan? Sejauh ini, perempuan itu juga mampu membuat nya tertawa lepas. Jujur saja, Narendra berubah 180 derajat sejak hubungan nya dengan Trisa kandas dulu. Tapi sekarang, gadis itu mampu mengembalikan tawa Naren yang sempat menghilang itu.
"Iya, Naren sudah mencintai Ayunda dan Naren yakin akan perasaan Naren sendiri terhadap istri Naren, Pi." Jawab Narendra membuat Arvin tersenyum kecil. Dia senang kalau akhirnya putra nya bisa berdamai dengan keadaan dan kembali membuka hati nya untuk perempuan lain.
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Ya, Naren yakin akan hal ini." Jawab Narendra.
"Kau bisa melupakan Trisa saat bersama Ayunda?"
"Iya, Naren bahkan melupakan nama wanita itu saat bersama Ayu, Pi. Tapi Papi malah ngingetin lagi."
"Maaf, tapi Papi senang kalau kamu bisa melupakan wanita itu dan memulai hidup baru mu dengan Ayunda. Dia adalah perempuan yang baik dan mampu menjaga kehormatan nya sebagai wanita, andai saja kau tak merusak nya malam itu." Ucap Arvin, kedua manik mata nya mendelik ke arah sang putra.
"Maaf, tapi itu kan bukan sepenuh nya kesalahan Naren, Pi. Naren juga kan udah jelasin kalau Naren di jebak pake obat perangsaang."
"Hmmm, ya Papi tahu. Tapi bukan berarti, alasan mu itu bisa di terima." Ketus Arvin membuat Narendra menghela nafas nya. Ya, beginilah kalau bicara dengan Papi nya. Pasti mengungkit-ungkit kesalahan yang sudah terjadi, padahal dia sudah bertanggung jawab sepenuh nya atas Ayunda. Gadis yang dia nodai.
"Aku akan mendiskusikan nya terlebih dulu dengan Ayunda."
"Jangan lembek, Papi tahu kalau Ayunda adalah gadis yang sederhana. Jadi bisa di pastikan dia akan menolak, kau harus bisa membujuk istri mu agar dia mau melangsungkan acara resepsi nya! Kau dengar?"
"Iya iya, Naren denger kok. Telinga Naren kan masih berfungsi normal, dia juga masih berada di tempat nya, tidak bergeser sama sekali." Jawab Narendra membuat Naren melempar putra nya dengan sebiji kacang yang sedang dia makan.
"Kalau kau gagal membujuk istri mu, lihat saja apa yang akan Papi lakukan." Ancam Arvin sambil tersenyum jahat.
"Astaga, Papi ini suka nya main ngancem."
__ADS_1
"Biar kamu kapok dan ini bukanlah sekedar ancaman semata, Papi akan mewujudkan nya secara nyata jika kau tak bisa melakukan apa yang Papi minta!"
"Baik, baik, Papi. Naren akan berusaha sekuat tenaga untuk membujuk Ayu."
"Bagus, Papi tunggu jawaban menantu Papi." Ucap Arvin sambil tersenyum kecil.
Tak lama kemudian, Ayunda memanggil kedua pria itu dari arah dapur. Kedua pria berstatus ayah dan anak itu pun beranjak dari duduk mereka dan pergi ke dapur.
Ayunda langsung melayani suami nya dengan baik, bahkan menanyakan apa menu yang pria itu inginkan.
"Mas, mau makan sama apa?"
"Semua nya." Jawab Narendra singkat. Ayunda pun mengambilkan satu-satu dari menu yang tersaji di atas meja itu.
"Terimakasih, istriku."
"Sama-sama, Mas." Jawab Ayunda di sertai senyuman manis yang terlihat sangat cantik, mata perempuan itu sampai menyipit karena tersenyum.
.....
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1