
Di ruangan Narendra, Ayunda memilih duduk sambil melihat-lihat ruangan kerja sang suami yang sangat luas, bersih dan perabotan yang ada di dalam nya serba modern. Bahkan tong sampah nya saja sudah berteknologi canggih, menggunakan sensor barulah tutup tong sampah nya akan terbuka.
"Kamu kenapa, yang?"
"Gapapa, tapi disini semua nya serba modern ya?"
"Hahaha, itu wajar sayang. Di perusahaan seperti ini, barang-barang nya sudah pasti canggih." Jelas Narendra sambil tersenyum kecil.
"Ohh, begitu kah? Tapi di kampung, belum ada yang kayak gini, Mas. Disini tong sampah nya aja otomatis kebuka kalau mau buang sampah." Jawab Ayunda. Narendra terkekeh, dia beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah Diaman sang istri tengah duduk.
"Aku rasa, mungkin kamu akan sedikit bosan menunggu Mas kerja, sayang. Mau menonton televisi atau ponsel?" Tanya Narendra.
"Emang disini ada televisi, Mas?"
"Itu yang nempel di dinding apa, hmm?" Narendra menunjukkan televisi yang menempel di dinding.
"Itu televisi apa cicak, Mas? Kok nempel di dinding?" Tanya Ayunda membuat Narendra tertawa lalu mengacak rambut sang istri.
"Kamu ini terlalu polos, untung saja kamu bertemu dengan ku. Kalau tidak, aku yakin pasti kamu sudah di manfaatkan orang jahat karena kepolosan mu ini, sayang." Narendra mengusap wajah cantik Ayunda lalu dia mendekatkan wajah nya, berniat untuk mencium bibir nya.
__ADS_1
Hanya beberapa inchi lagi bibir mereka akan bersentuhan, tapi suara pintu terbuka membuat kedua nya refleks menjauh, bahkan secara tak sengaja Ayunda mendorong tubuh sang suami hingga membuat Narendra terjatuh.
"Aawwhhsss.." Naren mengusap-usap pantaat nya yang baru saja mendarat tepat di atas lantai marmer cukup keras.
"Maaf, Mas. Aku gak sengaja.."
"Gapapa, sayang. Ini bukan salah mu kok." Jawab Narendra. Dia melirik ke arah pintu transparan. Dari luar tidak bisa melihat apapun yang terjadi di dalam, tapi dari dalam bisa melihat apapun ke luar. Unik bukan? Tapi ya itulah canggih nya perusahaan Narendra.
"Masuk!" Tegas Naren, dia merapikan jas nya lalu berjalan dengan sedikit pincang karena pantaat nya masih terasa cukup sakit karena baru saja bertemu dengan romantis di lantai.
Tak lama kemudian, Mark masuk dengan wajah pucat nya. Dia berjalan pelan dengan kepala tertunduk, Narendra melirik sinis ke arah asisten nya itu.
"Kebiasaan, kalo masuk gak pernah ngetuk pintu dulu!" Ketus Narendra membuat Mark cengengesan. Itu adalah kebiasaan buruk nya, dia sering melupakan untuk mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk ke dalam ruangan atasan nya. Beruntung saja, tadi bibir nya belum sempat bersilaturahmi dengan milik sang istri.
"Saya lupa, Tuan. Maafkan keteledoran saya." Ucap Mark.
"Tuh, sekalian minta maaf sama Ayu. Dia malu tuh, sampe wajah nya merah." Jawab Narendra. Mark menoleh ke arah istri sang atasan, benar saja kalau wajah nya saat ini sudah memerah menahan malu.
"Maafkan kecerobohan saya, Nyonya."
__ADS_1
"A-aaahh ya, tidak apa-apa kok." Jawab Ayunda lirih, wajah nya terlihat masih memerah. Mungkin dia masih malu karena ketahuan akan berciuman, padahal itu masih dengan suami nya sendiri bukan dengan orang lain kan? Tapi tetap saja rasa nya malu.
"Mau apa kau kesini?"
"Ada berkas pengajuan kerja sama dari perusahaan sebelah yang harus anda tandatangani, Tuan." Jelas Mark, sambil memberikan berkas-berkas yang dia bawa pada Naren.
"Kau sudah mengecek nya terlebih dulu kan?"
"Sudah, Tuan. Saya sudah mengecek nya berulang kali." Jawab Mark. Tanpa ragu, Narendra pun langsung membubuhkan tanda tangan nya, karena dia yakin akan kinerja Mark selaku asisten dan sekretaris nya. Dia merangkap menjalani kedua pekerjaan itu, katanya sih biar gaji nya juga double, bekal buat nikah katanya.
"Sudah, lain kali kalau mau kesini ketuk pintu dulu, apalagi kau tahu sendiri kalau disini ada istriku. Masih untung tadi kita belum sempet, kalo udah? Kan kasian nasib yang jomblo." Celetuk Narendra membuat Mark memutar mata nya dengan jengah.
"Baik, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf.."
"Tidak apa-apa, pergilah. Jangan kesini kalau tidak ada yang penting, atau kau bisa menghubungi ku lewat telepon!"
"Baik, Tuan." Jawab Mark, dia pun berpamitan dan segera pergi dari ruangan luas sang atasan dengan cepat. Bukan hanya pasangan suami istri itu saja yang merasa malu, tapi Mark sendiri juga merasa malu karena tak sengaja melihat adegan yang membuat jiwa jomblo nya meronta-ronta.
"Tuan Naren kelihatan nya sudah mulai bucin deh sama Nona Ayunda, aduh bikin iri aja. Lagian itu orang gak tahu tempat bener deh, udah di kantor, masih jam kerja juga masih aja nyosor. Kan gue malu sendiri jadi nya." Gerutu Mark sambil berjalan kembali ke ruangan nya dengan membawa sedikit ke kesalan nya pada Naren.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻