
"Sayang, bangun. Ini mie ayam nya udah dateng." Ucap Narendra sambil mengusap-usap pipi sang istri. Aturan nya, kalau membangunkan orang tidur ya di gerakan tangan nya, bukan dengan cara di usap-usap seperti ini, yang ada malah makin nyenyak tidur nya kalau di usap-usap.
"Yang, bangun dong. Keburu mie ayam nya dingin lho.."
"Enghh.." Ayunda melenguuh pelan, membuat Narendra tersenyum. Wajah bantal istrinya terlihat sangat menggemaskan bagi Narendra.
"Bangun yuk, terus mandi."
"Mas habis dari mana? Kok udah cakep aja, katanya tadi mau nemenin aku tiduran." Tanya Ayunda dengan suara serak khas bangun tidur nya. Dia mengucek mata nya yang terasa sedikit hayal, seperti biasa. Ini adalah kebiasaan jelek Ayunda jika dia bangun tidur.
"Mas cuman mandi, terus ke bawah cek mie ayam nya udah dateng atau belum."
"Tetep aja, kamu di larang ganteng kalau gak sama aku!" Rajuk Ayunda membuat Narendra tersenyum.
"Sayang, aku seneng kamu posesif gini. Tapi, mas gak bisa bedain Mas ganteng atau enggak. Perasaan setiap hari nya, Mas gini-gini aja." Jawab Narendra.
"Dih, gak sadar diri. Kamu tuh cowok idaman cewek-cewek tau gak?"
"Enggak tuh, Mas ngerasa biasa aja." Jawab Naren lagi, sambil tersenyum manis. Senang sekali menggoda istrinya, ekspresi kesal sang istri sangat menggemaskan sekali bagi Naren.
"Mas mah.."
"Haha, iya iya. Mas gak bakalan ganteng-ganteng kok kalo keluar tanpa kamu, paling rapih aja kalo mau ke kantor. Oke?"
"Hmmm, jadi mie ayam nya udah datang, Mas?"
"Udah, ada di bawah." Jawab Naren, dia membelai manja wajah cantik sang istri lalu mengecup nya dengan mesra.
"Laper deh.."
"Iya, pasti laper. Ini udah jam sembilan lho, kamu udah lewatin sarapan."
"Aduh, rasanya aku malu kalo ketemu Mami sama Papi." Keluh Ayunda. Ini adalah pertama kali nya, dia bangun siang plus melewatkan acara sarapan.
"Kenapa harus malu? Gapapa, sayang."
"Menantu macam apa aku ini, Mas? Bangun siang, pas udah bangun langsung makan."
"Ya gapapa, kamu kan istri aku. Menantu di rumah ini, kamu bukan maid atau asisten rumah tangga yang di haruskan bangun pagi, terus masak, beres-beres rumah." Jelas Narendra.
"Tapi Mas.."
"Gapapa, sayang. Jangan ngerasa gak enak gitu, percaya deh sama aku. Kalau Mami atau Papi tahu kamu begini, mereka pasti ngomel lho."
"Mas jangan aduan dong!"
"Iya, gak bakalan Mas aduin kok. Asal kamu nya jangan berpikiran kayak begini lagi, aku gak suka."
"Hmmm, yaudah deh. Aku mau mandi dulu lah." Ucap Ayunda sambil beranjak dari rebahan nya, membuat selimut yang menutupi tubuh polos nya itu tersingkap.
Narendra menelan ludah nya dengan kepayahan begitu melihat buah pepaya kesukaan nya itu menggantung dengan indah. Nampak kenyal dan besar, membuat hasraat nya tiba-tiba bangkit.
'Astaga, apa dia tidak sadar kalau dia sangat menggairahkan?' Batin Narendra. Bahkan, si adek seketika bangun dari tidur nya. Padahal, dia belum melihat tubuh sang istri yang polos sepenuhnya. Baru di bagian dada saja, sudah membuat Narendra bernafsuu.
"Mas, kamu kenapa bengong disitu?" Tanya Ayunda.
"Gapapa, denger kamu mau mandi bikin Mas mendadak pengen ikut mandi lagi." Jawab Narendra dengan senyuman mesuum nya.
"Mas modus, bilang aja mau mesuum. Iya kan?" Tanya Ayunda, dia menatap suami nya dengan tatapan curiga. Apalagi ketika melihat senyuman misterius dan nakal yang di layangkan oleh suaminya itu membuat dirinya curiga, kalau mandi yang di maksud oleh Narendra pasti di iringi bumbu-bumbu kemesuuman.
"Hehe, tau aja kamu."
"Yaudah, asal gendong." Jawab Ayunda. Narendra tersenyum semringah, dengan cepat dia pun menggendong sang istri ala bridal style.
Narendra menggendong Ayunda seolah tanpa beban, padahal tubuh Ayunda sudah kembali berisi dari terakhir kali saat di rumah sakit. Bersyukur nya, selera makan Ayunda langsung membaik, jadi berat badan nya dengan mudah bertambah lagi.
Pria itu menurunkan sang istri di pinggiran bath up, dia mengisi bath up itu dengan sabun cair, beberapa tetes aromaterapi dan juga bath bomb yang membuat air itu menjadi putih. Mereka pun berendam air hangat, dengan posisi Narendra yang memeluk istrinya dari belakang sambil melancarkan aksi nya memainkan tubuh sang istri.
Sudah jelas, jika sudah ada acara mandi bersama seperti ini, sudah jelas tidak akan berakhir dalam waktu yang singkat. Terbukti, acara mandi bersama itu menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya. Kedua nya baru keluar, tepatnya Narendra baru melepaskan Ayunda setelah dia puas disaat tangan nya dan sang istri keriput saking lama nya berendam. Bukan hanya berendam sih, tapi ada hal lain yang di lakukan kedua nya di dalam bath up tadi. Hingga air nya meluber kemana-mana.
Narendra pun mengajak istrinya untuk turun ke bawah. Ayunda terlihat merengut karena kesal dengan suami nya yang tidak mendengarkan dirinya, dia sudah meminta berhenti sedari tadi, namun Narendra tidak mendengarkan dan memilih untuk melanjutkan permainan nya hingga dia merasa puas. Barulah, dia melepaskan Ayunda.
"Kok cemberut sih menantu Mami, kenapa sayang?" Tanya Melisa ketika dia tidak sengaja berpapasan dengan pasangan itu yang baru saja keluar dari kamar.
"Mami, mie ayam tadi mana?" Tanya Narendra.
__ADS_1
"Di dapur, di panci. Mami hangatin, biar kalau mau makan gak amis. Mie ayam kan enak di makan pas lagi hangat-hangat nya." Jelas Melisa.
"Yaudah, mas ke dapur dulu ya. Mau siapin mie ayam nya buat kamu." Ucap Narendra dan di angguki oleh Ayunda. Wanita itu mengiyakan saja ucapan suami nya, dia juga masih kesal pada pria itu. Jadi kalau bisa, dia tidak mau berdekatan dulu dengan suaminya itu.
"Kamu kenapa, sayang?"
"Ayu kesel sama Mas Naren, Mi." Jawab Ayunda.
"Kenapa?"
"Masa Ayu gak di bolehin keluar kamar mandi sih? Jadinya tangan Ayu keriput gini." Jawab Ayunda sambil menunjukkan tangan nya yang memang terlihat keriput.
"Ngapain aja memang nya di kamar mandi, hmm?"
"Itu lho, Mi. Anu.." Jawab Ayunda terlihat gugup. Melisa sontak tertawa ketika melihat reaksi menantu nya, tanpa di jawab sekali pun dirinya sudah mengetahui apa yang di lakukan Narendra dan Ayunda di kamar mandi hingga membuat tangan menantu nya keriput saking lama nya mereka berendam.
"Hahaha, sudahlah. Mami tahu kok kalian habis ngapain."
"Mami.." Rengek Ayunda lirih.
"Wajar kali, sayang. Dulu, Mami sama Papi juga pas muda itu suka main dimana aja. Di dapur, di kamar mandi, Papi juga doyan banget. Terus suka lama, sebel deh."
"Mami, seriusan ini?"
"Iya, seriusan. Papi tuh ya, kalau main gak pernah kurang dari satu jam, sayang."
"Hah, kok sama? Mas Naren juga kalo main, pasti gak kurang dari satu jam. Kadang lebih malahan."
"Ya sama, kadang suka males. Tapi ingat lagi, kalau itu kewajiban kita sebagai istri."
"Iya, Mami. Ayu juga ingat nya begitu, jadi Ayu biarin aja. Nanti juga kalau dia udah puas gitu kan, pasti udahan juga." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Bener, tapi sekarang karena faktor umur kali ya, jadi suka sebentar. Hehe.."
"Mami aku malu bahas ginian, udahan aahh." Jawab Ayunda. Wajah wanita itu sudah memerah karena obrolan yang mengarah ke arah anu. Itu sebenarnya hal yang bersifat privasi dan tidak boleh di ceritakan pada orang lain, tapi kalau pada Mami mertua tidak masalah kali ya? Kan bukan orang lain. Mertua itu sama saja seperti orang tua sendiri, khusus nya mertua nya yang seperti Melisa dan Arvin yang menyayangi menantu nya sendiri seperti anak kandung mereka.
"Haha, mami juga malu sih sebenernya tapi gapapa, udah tanggung. Hehe."
"Iya, Mami. Nanti kita ke kebun yuk, Mi? Kayaknya di kebun sayur, Ayu lihat buah stroberi nya udah banyak yang merah-merah." Ajak Ayunda.
"Yaahh, mami bikin sambel dong, Mi?" Tanya Ayunda lirih.
"Iya, mami bikin sambel terasi gitu buat cocolan nya."
"Mauuu, sambel bikinan Mami pasti enak banget."
"Sedikit aja mungkin gapapa, tapi kalau suami kamu ngelarang, jangan ya? Nanti dia ngambek kalau perintah nya gak di turutin."
"Iya, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Melisa pun mengacak pelan rambut sang menantu dengan gemas.
"Sayang, dua porsi mie ayam spesial datang." Ucap Narendra sambil membawa mangkuk berisi mie ayam yang terlihat sangat menggugah selera.
"Wahh, terimakasih pak suami."
"Sama-sama, sayang. Yuk makan dulu, katanya mau makan mie ayam tadi."
"Iya nih, aku juga udah lapar banget." Jawab Ayunda.
"Yaudah, kamu makan dulu ya. Mami mau nyiram tanaman di luar, kalau udah selesai makan nya langsung ke kebun aja. Mami tunggu disana, oke?"
"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Wanita itu pun tersenyum lalu membiarkan mami mertua nya pergi lebih dulu. Sedangkan dia akan menyantap terlebih dulu mie ayam nya dengan lahap, jujur saja perut nya sudah sangat lapar sekarang.
Sudah bangun siang karena badan nya sakit-sakit semua karena ulah Narendra semalam, di tambah lagi tadi malah di ajak main dulu di kamar mandi. Jelas saja lapar sekali sekarang.
"Mau kemana memang nya kalo udah makan, yang?" Tanya Narendra pada Ayunda yang baru saja memulai makan dengan lahap.
"Ke kebun samping rumah, Mas. Mau petik stroberi, kemarin aku lihat udah banyak yang merah-merah." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Ohh, iya. Biar kamu sehat, makan buah yang banyak ya."
"Hmm, iya Mas." Jawab Ayunda.
"Yaudah, ayo lanjutin makan nya. Habisin ya, sayang."
"Mas gak makan?" Tanya Ayunda.
__ADS_1
"Hehe, tadi sebelum kamu bangun, Mas udah makan satu porsi. Laper soalnya."
"Dih, apalagi aku? Udah bangun nya siang, jam sembilan. Terus di hajar satu jam di kamar mandi, nyebelin!"
"Masih kesal nih? Jadi, cerita nya kamu gak ikhlas tuh layanin Mas?" Tanya Narendra yang membuat Ayunda kelimpungan. Bukan ini maksud nya, dia ikhlas melayani suami nya, karena jujur saja dia juga menikmati nya. Tapi tetap saja dia kesal karena sudah sangat lapar, tapi suami nya tidak kunjung selesai juga.
"Yaaa, bukan gitu Mas.."
"Hahaha, gak usah panik gitu kali, yang. Biasa aja, mas cuma bercanda. Maaf ya, sayang."
"Iya, gapapa kok Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Yaudah, ayo makan lagi biar cepet sembuh." Ucap Narendra. Ayunda pun menganggukan kepala nya dan kembali memakan mie ayam nya dengan lahap.
Setelah selesai makan pun, Ayunda langsung pergi ke kebun. Narendra juga sedang duduk di teras rumah sambil meminum teh dengan sepiring cemilan, beginilah Naren jika hari libur. Bersantai saja mumpung libur kerja, atau tidur seharian. Namun, kalau tidur di rumah pasti Mami nya akan mengomel kalau dia tidak kunjung bangun juga. Jadi, kalau harus libur biasanya Narendra akan menghabiskan nya di apartemen agar bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan apapun.
Narendra tersenyum ketika melihat sang ayah baru kembali, dengan wajah datar nya dia melangkah dan duduk di kursi kosong yang berada tepat di depan Narendra.
"Habis dari mana, Pi?" Tanya Narendra.
"Ambil mobil di bengkel, katanya udah selesai. Eehh, pas di cek masih ada yang harus di perbaiki. Kan bikin kerjaan aja tuh orang bengkel." Jawab Arvino dengan menggebu-gebu. Pantas saja, Naren melihat kalau ayah nya terlihat seperti sedang menahan kesal. Ternyata inilah jawaban nya.
"Ohh, mungkin orang bengkel nya gabut kali, Pi. Jadi ngeprank Papi, kapan lagi ya kan ngeprank Papi. Jadi, mumpung aja kesempatan ya gas aja." Jawab Narendra membuat papi nya itu mendelik kesal.
"Ngeselin!"
"Maaf, Pi."
"Mana Mami sama istrimu?" Tanya Arvino sambil celingukan. Tak biasa nya dia melihat Narendra sendirian, biasa nya jika ada Narendra pasti ada Ayunda. Begitu pun sebaliknya, maklum lah ya pasangan muda lagi panas-panasnya.
"Tuh, di kebun. Katanya sih mau petik stroberi." Jawab Naren.
"Hmm, ya sudah."
"Kenapa memang nya, Pi?"
"Gapapa, tumben aja kalian misah gitu." Jawab Arvino sambil tersenyum jahil. Putra nya itu pun memutar mata nya dengan jengah.
"Kayak gak pernah muda aja."
"Dulu sih papi gitu, sekarang juga pengen nya sih gitu. Deket-deketan aja sama Mami mu, tapi sekarang malu udah tua." Jawab Arvin yang membuat Narendra tersenyum.
"Berarti aku bucin sekarang itu menular dari Papi dulu ya?"
"Enak aja, bucin itu bukan penyakit kali." Jawab Arvino yang membuat Narendra tertawa.
Sedangkan di kebun sayur, Ayunda terlihat sangat antusias ketika memetik satu persatu stroberi. Kedua mata nya berbinar ketika dia melihat satu buah stroberi yang terlihat merah dan besar, tak sabar rasanya ingin mencicipi buah itu. Ayunda memetik nya, lalu mengusap-usap nya sedikit dan memakan nya.
Wanita itu tersenyum manis, bahkan senyum Ayunda mengalahkan manis nya buah stroberi yang baru saja dia makan. Terasa manis sekali dan juga ukuran nya yang besar membuat nya puas memakan buah itu.
"Sayang.."
"Iya, Mami." Jawab Ayunda.
"Ini stroberi nya, gede banget lho." Melisa memberikan buah stroberi yang terlihat jauh lebih besar dari yang barusan dia makan.
"Ayu makan boleh?"
"Kenapa bertanya? Makan saja, sayang. Mami petik juga kan buat kamu makan." Jawab Melisa, dia mencubit gemas pipi Ayunda yang mulai berisi kembali sekarang.
"Hehe, makasih Mami."
"Sama-sama, sayang." Jawab Melisa. Dia pun menyimpan sayuran yang dia petik ke dalam keranjang.
"Mau mami bantuin metik buah nya gak? Masih banyak ini, lumayan buat cemilan sehat di rumah nanti."
"Boleh, Mami." Jawab Ayunda. Kedua wanita itu pun berakhir dengan memetik buah stroberi berdua dan mengumpulkan nya di dalam keranjang kecil yang Ayunda bawa tadi. Namun, di sela-sela memetik buah berwarna merah itu, Ayunda menyempatkan diri memakan buah itu hingga dia merasa puas. Melisa sendiri tidak melarang, dia takkan melarang apapun yang bisa membuat mood Ayunda membaik.
Apapun yang membuat Ayunda bahagia, pasti Melisa akan memberikan nya. Membahagiakan hati menantu juga membuat Melisa merasa tenang dan lega, apalagi Ayunda adalah wanita yang pernah di sakiti dulu. Jadi, sebisa mungkin dia takkan pernah membuat Ayunda merasakan sakit seperti itu lagi.
Dengan tegas juga, Dia memperingatkan putra nya agar dia tidak berani berbuat macam-macam pada Ayunda apalagi menyakiti nya. Ancaman yang di berikan Arvin juga bukan ancaman sembarangan, itu benar-benar akan terjadi kalau semisal Narendra tidak mematuhi perintah mereka.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1