Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 185 - Bertemu Adam


__ADS_3

Hari ini, suasana rumah mendadak terasa lebih hangat. Bagaimana tidak? Tanpa di duga siapapun, sosok yang sangat Ayunda rindukan kini hadir di depan matanya. Dia bahkan merasa terkejut bukan main saat melihat kehadiran sosok yang selama beberapa bulan ini tidak bisa dia temui. 


Dia begitu terkejut, saat menuruni tangga dia melihat punggung seseorang yang terlihat sangat familiar, dia merasa pernah melihatnya. Wanita itu mengucek mata nya dengan perlahan, dia khawatir kalau ini hanyalah ilusi karena dia baru saja bangun tidur siang. Tapi saat dia terbangun, dia sudah di kagetkan dengan hal ini. 


Kamar Ayunda memang sudah di pindahkan ke bawah, tapi sesekali Ayunda merindukan suasana kamar lama nya yang berada di lantai atas. Jadi, sesekali dia akan tidur disana, khusus siang saja. Kalau malam, dia akan tidur di bawah bersama sang suami. 


"Sayang, ayo kesini.." Ucap Melisa ketika melihat Ayunda mematung di tangga. Mata nya menatap sendu ke arah seseorang yang kini tengah duduk membelakangi nya, hingga dia tidak bisa memastikan apakah itu adalah orang yang memang dia rindukan atau bukan. Tapi dari postur tubuhnya, dia sangat yakin kalau itu memang dia. 


"Mami.."


Seseorang itu menoleh lalu tersenyum, senyuman yang terlihat sangat tulus, bahkan hingga membuat kedua mata nya menyipit seperti bulan sabit ketika pria paruh baya itu menatap dirinya. 


Senyum yang sangat dia rindukan beberapa bulan bahkan hampir satu tahun ini. Sejak saat itu, dia tidak pernah bertemu lagi dengan sosok yang dia anggap sebagai pengganti ayah dan juga ibunya itu. 


"Ayu.." Panggilnya dengan lirih, membuat Ayunda segera menuruni tangga dengan cepat tanpa memikirkan keselamatan nya.


"Sayang, jangan lari nanti kamu jatuh." Ucap Melisa. Dia bergegas untuk mendekati Ayunda, tapi wanita hamil itu langsung berlari dan memeluk pria yang sangat dia rindukan. 


"Hiksss.. Paman apa kabar?" Tanya Ayunda lirih sambil menangis. Sudah lama dia ingin memeluk sang paman dan menangis di pelukan nya, dia sudah sangat merindukan sosok pria yang sedari dulu selalu menyayangi nya. 


Adam mengusap kepala Ayunda, lalu membalas pelukan sang keponakan dengan erat. Dia juga mengusap-usap punggung Ayunda yang bergetar karena tangis nya yang belum mereda. 


"Paman baik-baik saja, sayang. Kamu apa kabar? Jangan menangis seperti ini, sayang. Melihat kamu seperti ini, membuat paman merasa sakit." Ucap Adam pelan. Dia juga tak bisa menahan air matanya, dia ikut menangis ketika mendengar tangisan Ayunda yang terdengar sangat pilu. 


Dari dulu, dia sering melihat dan mendengar Ayunda menangis, tapi baru kali ini dia mendengar perempuan itu menangis sepilu ini, apakah benar kalau saat ini dia sangat merindukan nya? 


"Ayu juga baik-baik saja, paman. Kenapa gak pernah jenguk Ayu disini? Paman lupain Ayu?" Tanya Ayunda sesenggukan, air mata nya masih menetes begitu saja tanpa bisa di cegah oleh siapapun. Bahkan Ayunda sendiri tidak bisa mencegahnya untuk tetap menetes. 


Adam tersenyum kecil, lalu melerai pelukan erat keponakan tapi sudah dia anggap sebagai anak sendiri itu dengan perlahan. Dia mengusap air mata yang menganak sungai di wajah Ayunda menggunakan tangan nya yang keriput. 


"Tidak, Paman tidak pernah melupakan kamu sama sekali. Sudah lama Paman ingin berkunjung kesini untuk melihat keadaan mu, sayang. Tapi Paman malu atas semua yang sudah di perbuat bibi mu, jadi Paman hanya bisa menatap mu dari kejauhan." Ucap Adam sambil merapikan rambut Ayunda yang acak-acakan karena menangis. 


"Dari kejauhan?"


"Iya, paman sering melihat mu dari balik gerbang besar itu. Paman terlalu pengecut untuk datang dan melihat keadaan mu disini, Nak. Maafkan Paman.." 


"Kenapa paman melakukan hal itu? Paman jahat sama Ayu, kenapa Paman gak masuk dan datengin Ayu disini?"


"Maaf, sayang. Paman merasa malu, bahkan untuk sekedar menunjukkan wajah paman di depan mu saja, Paman harus mengumpulkan keberanian." Ucap Adam yang membuat Ayunda menatap wajah sang paman dengan sendu. 


"Paman tidak merindukan aku? Kenapa Paman melakukan hal itu? Disini, tidak ada yang melarang Paman untuk bertemu dengan Ayu kan? Bahkan Mami sama Papi, lalu kenapa Paman harus takut?" Tanya Ayunda. Melisa dan Arvino sendiri, tidak pernah melarang Adam untuk datang dan menjenguk Ayunda. Karena bagaimana pun juga, Adam adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki setelah keluarga nya meninggal. 


"Sangat, Paman sangat merindukan kamu. Tidak ada yang melarang Paman untuk datang kesini, tapi Paman cukup tahu diri, Nak. Tapi, hari ini Paman datang kesini untuk menemui mu, sungguh rasa rindu ini begitu menyiksa." Lirih Adam membuat Ayunda kembali meneteskan air mata nya.

__ADS_1


"Lalu, apa yang membuat Paman takut untuk datang kesini?"


"Hanya ketakutan dalam diri Paman saja, sayang. Selebihnya tidak ada." Jawab Adam sambil mengusap lembut wajah cantik Ayunda. 


"Kamu sedang hamil, sayang?"


"Iya, Paman. Ini kehamilan ku yang kedua, sebelumnya aku keguguran karena ulah jahat dari orang lain." Jelas Ayunda lirih sambil mengusap perutnya. 


"Sebaik apapun kita pada orang lain, tetap saja takkan pernah bisa memuaskan ekspektasi seseorang terhadap kita, sayang. Tidak ada yang tahu siapa yang memiliki niat jahat pada kita, meskipun itu orang terdekat sekalipun." 


"Paman benar, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Aku sudah berdamai dengan keadaan dan mengikhlaskan semuanya, terbukti sekarang aku mendapatkan pengganti yang lebih-lebih membahagiakan."


"Syukurlah, kehidupan mu sudah jauh lebih baik dari dulu, Nak. Paman senang melihat keadaan mu sekarang." Ucap Paman Adam. Dia tersenyum karena senang melihat keadaan Ayunda yang terlihat sangat baik-baik saja, bahkan sekarang dia jauh lebih cantik karena melakukan perawatan yang tentu saja harga nya tidak murah. 


Arvin dan Melisa pergi ke lain tempat, mereka berdua memberikan ruang privasi pada keduanya untuk berbicara dan melepas rindu untuk sejenak. Bagaimana pun juga, sesayang apapun mereka pada Ayunda, tetap saja Adam adalah keluarga yang di miliki oleh Ayunda. Satu-satunya keluarga yang dia miliki, sebelum akhirnya dia memiliki keluarga baru disini yakni mereka.


"Suami dan mertua mu baik kan, Nak?"


"Sangat, mereka sangat baik, Paman. Mereka menyayangi Ayu tanpa rasa canggung sama sekali." Jawab Ayunda.


"Paman senang mendengar nya, Nak. Kemana suami mu?"


"Belum pulang, masih di perusahaan, Paman." 


"Iya, sebentar lagi juga pulang kok. Paman nginep kan disini?"


"Enggak, Paman gak enak kalau harus nginap disini, sayang. Paman akan pulang ke kampung setelah ini, melihat mu sehat-sehat begini saja sudah membuat hati Paman merasa tenang dan lega." Ucap Adam sambil tersenyum kecil. 


"Kok gitu? Nginap ya, Ayu mohon sama Paman. Biar Ayu yang minta izin sama Mami, Papi nanti."


"Sayang, tidak perlu.."


"Tapi Ayu masih kangen sama Paman, pliss yaa.." Pinta Ayunda yang membuat Adam tersenyum kecil. Benar, ini adalah Ayunda. Keponakan yang sangat dia sayangi, dia masih belum berubah. Dia masih Ayunda yang manja dan lucu, dia tidak berubah sama sekali bahkan setelah berbulan-bulan mereka tidak bertemu. 


"Iya, terserah kamu saja." 


"Apa kabar bibi sama Mona?" Tanya Ayunda sambil tersenyum. Adam tersenyum kecil dan menatap wajah cantik keponakan nya. Bahkan sampai sekarang, Ayunda masih mau menanyakan orang-orang yang padahal sudah jahat padanya. 


"Kenapa kamu masih menanyakan mereka, sayang?" 


"Lho, memang nya kenapa, Paman?" Balik tanya Ayunda pada Adam.


"Mereka kan sudah jahat sama kamu."

__ADS_1


"Enggak kok, kata siapa?" Tanya Ayunda sambil tersenyum kecil.


"Paman tahu semuanya, Nak. Jangan berpikir kalau Paman tidak mengetahui seperti apa kelakuan bibi dan juga Mona padamu selama ini."


"Ayu tidak menyimpan dendam kok, Paman. Aku hanya ingin menanyakan apa kabar mereka sekarang." Lirih Ayunda. Dia tidak ingin menjadi orang yang munafik, dia memang masih merasakan sakit di hatinya karena perbuatan bibi dan juga Mona. Tapi dia tidak menyimpan dendam apapun di hatinya. Dia ingin berdamai dengan masa lalu, seperti apa yang di katakan oleh Melisa kemarin. 


"Mereka hancur, Ayu."


"Hancur?" Tanya Ayunda lirih. Kening nya mengernyit heran karena ucapan sang paman yang sedikit ambigu baginya. 


"Mona hamil di luar nikah, tapi pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Dia nekat menggugurkan nya dan akhirnya.."


"Kenapa? Akhirnya kenapa, Paman?" Tanya Ayunda lagi. Dia menatap wajah sendu sang paman dengan tatapan sayu.


"Nyawa nya tak bisa di selamatkan, dia meninggal, Ayu." Ucap Adam sambil mengusap wajah nya. Ayunda terlihat sangat terkejut ketika mendengar penjelasan sang paman. Bagaimana bisa Mona seperti ini?


"Paman.."


"Bibi mu shock menerima fakta bahwa putri kesayangan nya itu telah meninggal, Ayu. Dia depresi dan akhirnya paman terpaksa untuk memasukkan bibi mu ke rumah sakit jiwa." Lirih Adam membuat Ayunda meneteskan air mata nya. Separah itu kehancuran mereka setelah dia pergi. 


"Paman kesini untuk meminta maaf darimu karena Paman rasa kalau ini adalah karena atas semua yang sudah mereka lakukan padamu dulu, Nak."


"Tidak-tidak, ini bukan karena aku, Paman." 


"Memang, ini bukan karena mu, Nak. Tapi karena mereka sudah melakukan hal-hal yang sudah jelas sangat menyakiti mu, kamu tahu sendiri kalau menyakiti anak yatim itu akan sangat berdosa kan?" 


"Tapi Paman.."


"Paman mohon, tolong maafkan semua kesalahan paman dan juga Mona. Setiap malam, Paman tidak bisa tidur dengan nyenyak karena Mona selalu datang di mimpi paman dan mengatakan kalau dia merasa sangat bersalah padamu dulu." Ucap Adam panjang lebar, membuat Ayunda kebingungan. Dia merasa tidak ada yang harus di maafkan dari mereka, meskipun dalam hati dia masih merasakan rasa sakit. 


Apa mungkin karena perasaan itu, Mona pergi dalam keadaan tidak tenang? Apa iya? Kalau begitu, apakah ini artinya dia harus berusaha lebih ikhlas lagi dalam menerima semua rasa sakit yang sudah mereka torehkan di hatinya. 


"Ayu sudah memaafkan semua kesalahan mereka kok, Paman. Maaf kalau Ayunda belum bisa ikhlas sepenuhnya, jujur saja Ayu masih merasakan sakit di dalam sini. Tapi sumpah, Ayunda sudah bisa merelakan semuanya."


"Mona sudah bisa beristirahat dengan tenang. Untuk Bibi, nanti setelah melahirkan Ayunda akan datang untuk menjenguk nya. Kalau sekarang, Ayu tidak yakin apakah Mas Naren akan mengizinkan atau tidak, Ayu takut tidak mendapatkan izin karena Ayu memiliki riwayat kandungan yang lemah." Jelas Ayunda panjang lebar. 


"Tidak apa-apa, mendengar hal itu saja Paman sudah sangat senang. Terimakasih karena kamu sudah sangat berlapang dada untuk memaafkan semua kesalahan mereka. Kamu memang anak yang sangat baik, Ayunda."


"Tidak kok, Ayunda hanya melakukan tugas Ayu sebagai manusia. Semua manusia tidak pernah luput dari kesalahan, Ayunda pun pernah melakukan hal yang sama. Jadi tak ada salahnya untuk saling memaafkan."


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2