Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 179 - Alergi Buah Persik


__ADS_3

"Mas.." Panggil Ayunda. Narendra menoleh dan menatap istrinya dengan tatapan penuh arti.


"Ada apa, sayang?"


"Perut aku kok tiba-tiba kenceng ya?" Tanya wanita itu sambil memegangi perutnya. Baru saja, mereka berdua habis makan siang bersama. 


"Sakit, sayang?" Tanya Narendra. Dia menatap istrinya dengan khawatir. Sungguh demi apapun, dia selalu khawatir berlebihan jika itu tentang istrinya. 


"Sedikit, tapi gapapa kok, Mas." Jawab Ayunda sambil memaksakan nya. Sungguh, perutnya terasa tak nyaman saat ini. Bukan sakit, tapi lebih ke pegal seperti kram perut. Tapi rasanya hilang timbul begitu saja. 


"Sayang, kamu berkeringat. Kamu kesakitan, kita ke rumah sakit sekarang!" Ucap Narendra sambil beranjak dari duduknya, tadi dia sedang duduk di kursi kebesaran nya dan Ayunda tengah duduk di sofa sambil selonjoran, baru saja mereka makan dengan lahap. Ayunda pikir mungkin ini karena ke kenangan, tapi ternyata bukan. Rasanya semakin sakit sekarang. 


"Aawwhhhsss.." Ayunda meringis menahan rasa sakit di perutnya, membuat pria itu panik dan akhirnya membawa sang istri dalam gendongan nya. Dia menggendong Ayunda ala bridal style. 


"Mas, aku gapapa. Gak usah di bawa ke rumah sakit." Ucap Ayunda lirih.


"Jangan menolak dan jangan keras kepala, Mas melakukan ini juga demi kesehatan kamu dan anak kita. Mas takut semuanya terlambat seperti yang sudah-sudah."


"Baiklah, Mas. Tapi jangan dulu menelpon Mami atau Papi ya, nanti mereka khawatir." Ucap Ayunda mewanti-wanti suaminya agar tidak membuat seisi rumah khawatir lalu menyusul nya ke rumah sakit.


"Iya, sayang." Jawab Naren.


"Tuan, anda mau kemana?" Tanya Mark yang tak sengaja berpapasan dengan Narendra saat akan menaiki lift untuk turun. Mark baru saja selesai dari lantai bawah untuk membuat fotocopy beberapa berkas. Tapi saat akan keluar dari lift, dia melihat Narendra yang berdiri menunggu nya, dengan Ayunda yang berada di pelukan nya.


Tanpa bicara, Narendra pun segera masuk dan menekan tombol untuk turun ke lantai bawah. Terpaksa lah, Mark juga ikut kembali turun dari pada dia protes lalu kena semprot mendingan dia menurut dan diam saja.


"Mas.."


"Tahan sebentar ya, sayang. Jangan khas, ada Mas disini." Jawab Narendra membuat Ayunda meremaas pelan punggung sang suami. Sungguh, rasanya sangat sakit. Terasa seperti dulu dia akan keguguran, rasa sakitnya hampir sama. Hanya saja sakit nya lebih tajam yang saat ini dia rasakan.


"S-sakit, Mas. Rasanya.."


"Diamlah, sayang. Jangan bikin Mas panik, kamu tahu sendiri Mas gimana kalau udah panik. Bisa-bisa Mark mas banting dari sini." Ucap Narendra membuat Mark membulatkan kedua matanya karena terkejut. Dia merasa terkejut karena nama nya ikut terseret dalam pembicaraan antara pasangan suami istri itu.


Lift berhenti lalu terbuka, Narendra keluar dari bilik lift dengan sang istri yang masih ada di dalam gendongan nya. Mark tidak ikut keluar karena dia pikir Narendra tidak membutuhkan nya.


"Mark!"


"Iya, Tuan." Begitu mendengar intruksi, barulah Mark mengikuti langkah atasan nya dari belakang. Meskipun dia tidak tahu menahu apa yang terjadi, tapi sebagai asisten yang baik, pria itu pun hanya menuruti perintah atasan nya itu. 


"Ambil mobil, Mark. Ini kunci nya." Narendra melempar kunci mobil mewahnya itu pada Mark dan dengan sigap pria itu menerima nya meskipun dengan raut wajah kebingungan.

__ADS_1


"Kita mau kemana, Tuan?"


"Rumah sakit, cepatlah. Kau tidak lihat istriku kesakitan?" Tanya Narendra dengan kesal. Mark pun melirik wajah Ayunda yang memang terlihat seperti tengah menahan sakit. Dengan cepat, Mark pun berlari mengambil mobil yang ada di parkiran.


Dia turun dari kursi kemudi, lalu membukakan pintu mobil untuk memudahkan Narendra membawa Ayunda masuk ke dalam mobil. 


"Sabar ya, sayang." Ucap Narendra lirih sambil mengusap-usap kepala sang istri yang terasa basah karena keringat. Baru kali ini Naren melihat Ayunda berkeringat sebanyak ini, padahal biasanya tidak sama sekali. Paling hanya berkeringat sedikit, tidak berlebihan seperti ini. Artinya, Ayunda benar-benar sedang kesakitan saat ini.


"Ngebut, Mark. Keadaan nya darurat, cepatlah. Aku takut terjadi sesuatu pada istri dan anakku!" Tegas Narendra yang membuat Mark segera menganggukan kepala nya. Dia pun mengemudikan kendaraan mewahnya itu dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang masih cukup ramai karena baru saja habis makan siang, banyak karyawan-karyawan perusahaan yang baru saja kembali dari tempat makan siang masing-masing.


Mark pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia benar-benar menuruti ucapan Narendra. Sesungguhnya, Naren juga merasa sedikit ketakutan karena tak pernah dia di ajak ngebut seperti ini. Tapi dia juga yang meminta Mark untuk ngebut, jadi pria itu tidak salah kan? Karena dia hanya mengikuti perintah darinya. 


Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Narendra keluar dari mobil dengan tetap menggendong sang istri di bagian depan nya. Pria itu terlihat sangat khawatir, terlebih lagi karena Ayunda terus saja meringis menahan rasa sakit yang membuat tubuhnya lemas dan di penuhi keringat yang bercucuran karena menahan rasa sakit. 


"Mas.."


"Tahan sebentar ya, sayang. Ini kita udah di rumah sakit kok." Ucap Narendra. Pria itu pun memanggil seorang perawat untuk segera menangani keadaan istrinya yang sudah lemas. 


"Suster, tolong istri saya, Sus."


"Baik, mari ikut saya, Tuan." Jawab perawat itu sambil berjalan lebih cepat dari pada Narendra. Perawat itu menarik salah satu brankar dan Naren pun merebahkan tubuh sang istri di atas brankar itu.


"Tuan, silahkan anda menunggu disini." Ucap perawat itu, membuat Narendra terpaksa harus melepaskan genggaman tangan nya pada sang istri. Dia harus menaati aturan agar sang istri dengan cepat segera di tangani. 


"Pasti akan kami usahakan, Tuan. Berdoalah, semoga semuanya baik-baik saja." Ucap perawat itu, sesaat sebelum dia kembali mendorong brankar berisi Ayunda dan kemudian menutup kembali pintu yang terbuat dari kaca itu. Tak lupa, perawat itu juga menutup gordeng nya, hingga tak ada celah untuk Naren bisa melihat keadaan istrinya di dalam sana. 


"Tuan.."


"Aku tak tahu harus seperti apa, Mark. Aku takut.."


"Kuatlah dan percayalah kalau semua nya akan baik-baik saja."


"Semoga saja, aku panik karena tadi istriku baik-baik saja. Tapi setelah makan dia mengeluh sakit perut, bahkan hingga tubuhnya mengeluarkan banyak keringat, Mark." Jelas Narendra sambil mendudukan tubuhnya di kursi tunggu yang ada di lorong rumah sakit. 


Di samping nya, ada Mark yang juga ikut duduk untuk menemani sang tuan. Dia tahu seperti apa Narendra menyayangi istri dan juga anak yang sudah di nanti-nantikan itu. Tapi entah kenapa, sudah beberapa kali mereka kurang beruntung. Di mulai dari kejahatan Trisa yang begitu jahat, lalu apakah saat ini juga akan terulang? 


Semoga saja tidak, semoga ini hanya reaksi karena sesuatu namun tidak membahayakan kandungan Ayunda. Dia berharap seperti itu, dia tidak tega jika harus melihat Naren yang hidup bagai mayat hidup untuk kedua kalinya. 


"Apa Nona Ayunda memiliki alergi terhadap sesuatu, Tuan?" Tanya Mark lirih. 


"Setahuku tidak sama sekali, dia bisa memakan apapun yang dia inginkan dari dulu. Aku tidak tahu kalau ternyata dia memiliki alergi terhadap sesuatu." Jawab Narendra yang membuat Mark merasa yakin kalau sakit perut yang di alami oleh Ayunda adalah reaksi yang di akibatkan dari salah makan.

__ADS_1


"Kita tunggu dulu vonis dokter ya, Tuan. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Nona Ayunda adalah wanita yang hebat dan kuat, saya yakin dia pasti akan bisa melewati semua ini." Ucap Mark. Narendra hanya bisa menganggukan kepalanya mengiyakan. Sungguh, dia tidak tahu harus menguatkan Narendra dengan cara apapun. Maka dari itu, dia hanya bisa mengatakan kata-kata itu. Dia harap, semua perkataan nya bisa membuat Narendra lebih kuat. 


"Tetap disini, Mark. Aku masih membutuhkan mu."


"Baik, Tuan. Jangan khawatir karena saya akan tetap disini, saya takkan pernah meninggalkan anda." Ucap Mark sambil tersenyum, pria itu menepuk pundak sang atasan dengan perlahan. Kedua pria itu pun duduk dengan hati yang merasakan cemas luar biasa saat ini. 


Tak lama kemudian, seorang perawat keluar dari ruangan. Dia memanggil keluarga pasien yang tadi datang bersamanya. 


"Tuan, anda keluarga pasien atas nama Ayunda Maishika?"


"Iya, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya, suster?" Tanya Narendra dengan cepat. Dia khawatir tapi juga penasaran, sebenarnya ada apa dengan istrinya. Kenapa dia bisa tiba-tiba saja sakit perut seperti ini. 


"Keadaan Nona Ayunda dan bayi nya baik-baik saja. Sakit perut itu adalah reaksi dari alergi sesuatu, Tuan."


"Alergi? Istri saya punya alergi, suster?"


"Seperti nya iya, tapi yang saya temukan disini adalah zat dari buah peach. Mungkin istri anda mengkonsumsi buah itu terlalu banyak?" Tanya Suster itu pada Narendra. Pria itu terlihat berpikir dengan serius, memang beberapa Minggu belakangan istrinya sering mengkonsumsi buah itu karena dia menyukai nya. Tapi ternyata buah itu menjadi sumber penyakit bagi ibu hamil?


"Istri saya memang suka mengkonsumsi buah itu, suster."


"Mungkin Nona Ayunda memakan nya dalam jumlah banyak, tapi buah persik itu memiliki senyawa atau zat yang bisa menyebabkan pendarahan, bahkan bisa keguguran karena buah itu bisa meningkatkan suhu tubuh, Tuan." Jelas perawat itu membuat Narendra menganggukan kepala nya. Selama ini, dia hanya tahu kalau hanya buah nanas yang tidak boleh di makan oleh ibu hamil, ternyata ada buah lain yang juga tidak boleh di konsumsi oleh bumil. Salah satunya buah peach atau buah persik. 


"Jadi, jangan makan buah itu ya, Sus?"


"Kalau sedikit tidak apa-apa, tapi jangan terlalu banyak mengkonsumsi nya karena bisa menyebabkan suhu tubuh meningkat. Itu saja, Tuan." Jelas perawat itu lagi sambil tersenyum kecil.


"Saya bisa melihat istri saya, sus?" Tanya Narendra.


"Tentu, hanya saja saat ini Nona Ayunda sedang beristirahat di ruangan nya. Setelah mengalami keram perut, pasti akan membuatnya lemas dan memerlukan waktu untuk beristirahat."


"Baik, Suster. Terimakasih."


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu." 


"Iya, sus." Jawab Narendra. Dia pun membiarkan perawat itu untuk pergi meninggalkan ruangan dimana sang istri di rawat. 


"Tuan, bolehkah saya kembali ke perusahaan? Saya sudah mengetahui keadaan Nona Ayunda yang baik-baik saja."


"Ya, pergilah Mark. Maaf aku tak bisa ikut dengan mu ke kantor. Aku akan menunggui istriku disini." Jawab Narendra. Dia tahu kalau pekerjaan di kantor sangat banyak saat ini, tapi dia tidak mungkin meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini kan?


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2