Cinta Mita

Cinta Mita
Temu kangen


__ADS_3

Tidak bertemu beberapa minggu membuat tiga orang sahabat ini seolah tidak kehabisan obrolan untuk diceritakan.


Oliv yang Sabtu besok sudah berangkat ke Surabaya menceritakan tentang kekasihnya Sakti yang sedang kuliah tingkat 3. Minggu kemarin dia sudah ke Surabaya mengurus administrasi dan mencari kosan. Berbeda dengan Dinda yang harus merasakan kehidupan asrama selama satu tahun pertama kuliah.


"Lo asrama Din? anak asuh ibu gue di IPB kayaknya nggak asrama." Teringat beberapa hari lalu Mama sempat membicarakan kosan untuk Mita.


"Anak diploma kali Sen, jadi nggak di asrama." dijawabnya dengan mengangkat bahu.


"Maybe. Dan lo tau, kakak gue lagi deket sama anak asuh nyokap gue itu."


"Serius? kok bisa?" Oliv tentu saja yang paling tidak percaya.


"Bener lah masa gue ngada-ngada. Kan nggak mungkin. Gue juga heran." nonton serial netflix ditemani cemilan dan obralan seru adalah teman terbaik di malam hari sampai tidak terasa sudah jam 11 malam tapi rasa kantuk belum juga datang.


"Malem gini grup kelas masih rame aja. Eh foto yuk."


Rasanya selfie sudah jadi hal wajib jika sedang berkumpul. Iseng Oliv post foto mereka ke grup kelas dengan keterangan "girls on staycation" diikuti emoticon penuh lope lope.


Rima : gue nggak diajak *emoticon nangis*


Oliv : Sorry guys dadakan kayak tahu bulat *emoticon nangis*


Lutfi : Dimana kalian?


Sena : Our favourite home, Din's home.


Tak lama panggilan video dari Damar masuk ke nomor Oliv.


"Eh Damar video call ini."


"Apaan lo kerajinan amat video call gue? Gue udah punya Sakti."


Sena menyimak dengan serius Oliv yang sedang video call dengan Damar. Kenapa dia sedikit tidak rela.


"Dih PD lo nggak ilang-ilang. Lagi pada ngapain? Gue lagi gabut, kangen seseorang."


Sena yang sedang ngemil ciki kesukaan nya mendadak tersedak.


"Yailah.... kangennya ke seseorang kenapa nelepon nya ke gue?"


"Kalau gue telepon ke orang nya nggak diangkat. Anyep."


Semua mata menatap si anak manja. Sena jadi salah tingkah.


"Noh orangnya noh." kamera diubah menjadi kamera belakang dan menyorot Sena yang langsung berhenti ngunyah.


"Sen, chat gue kenapa nggak lo bales?"

__ADS_1


Telak, tidak bisa berkutik. Damar yang sepertinya duduk di teras menatapnya lekat.


"Kelewat Mar sorry." dia jadi merasa bersalah sudah mengabaikan pesan dari Damar yang ternyata sangat is tunggu.


"Gue selalu nunggu balesan dari lo. Kalau gue chat kemarin, lo bisa bales kapanpun. Besok, lusa atau kapanpun gue nggak apa-apa, tetap gue tunggu." mereka terdiam beberapa saat. Awkward moment.


"Apa seenggak suka itu ke gue?'' tanyanya serius.


Tiba-tiba matanya memanas, entah hawa panas dari mana.


"Bukan gitu, gue kan udah bilang orangtua gue nggak ngebolehin gue deket sama cowok."


"Itu kan orangtua lo, lo nya sendiri gimana?"


"Stop stop stop, Sen pegang hp gue. Lo yang ngobrol gue yang ribet. Pegel tangan gue."


Oliv mengedipkan mata ke Dinda sebagai tanda mengajak pura-pura tidur, agar Sena dan Damar bisa ngobrol leluasa.


"Dengerin lo berdua ngobrol gue jadi ngantuk, tidur yuk Din. Besok gue pengen sarapan bubur yang depan komplek rumah lo."


"Sama gue juga, Damar kaya yang lagi ngedongeng." Dinda menimpali sambil pura-pura menguap.


"Basi" bisiknya dalam hati.


"Sen... gue masih disini."


"Lo mau nggak sama gue?"


"Mau gimana?" namun nyatanya dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.


"Jadi pacar gue mungkin?"


"Kok mungkin? Kayaknya lo sendiri nggak yakin sama perasaan lo ke gue."


"Gue yakin sama diri gue kalau gue sayang sama lo. Dari dulu gue udah bilang dan nunjukin kan ke lo? Gue kurang gimana lagi?Kalau lo mau ngomong ke gue, ngasih gue kesempatan, buka hati lo buat gue. Gue yakin lo harusnya bisa lihat itu semua."


"Oke orangtua lo belum ngebolehin lo pacaran atau apalah itu. Itu gampang Sen, lo bisa percaya gue. Gue cuma pengen denger suara lo kaya gini, mau ngomong sama gue, mau bales chat gue. Gue nggak minta banyak. Kita nggak bisa sering jalan kaya orang juga gue nggak masalah." Damar terdengar frustasi, putus asa menghadapi sikap acuh Sena yang seolah tidak melihat keberadaan dan hatinya.


"Sedih nggak sih Liv si Damar." Dinda berbisik didalam selimut. Dia tahu betul Sena si anak manja kepala batu.


"Oke sekarang gue yang ngomong." Sena mengambil posisi.


"Gue bisa lihat lo, gue juga bisa ngerasain perasaan lo ke gue, dan makasih untuk itu semua karena lo udah sangat sabar dari kelas 10 dulu. Awalnya gue nggak mau tau sama perasaan lo, sama kaya perasaan anak lain yang katanya juga suka sama gue. Tapi akhirnya gue juga diem-diem merhatiin lo. Seneng saat lo chat gue, walaupun ngga bisa gue bales karena gue takut perasaan gue tambah dalam ke lo."


"Apa lo kira gue juga nggak tersiksa nahan perasaan kayak gini? Apa gue tetap salah karena ngga bales chat lo?" Sena yang tetap anak manja tidak mau disalahkan atas apapun dan itu mutlak.


"Itu artinya apa?" Damar semakin frustasi.

__ADS_1


"Gue juga suka sama lo." benteng pertahanan nya runtuh juga, dan airmatanya dengan sangat tidak sopan jatuh begitu saja.


''Tuh kan feeling gue, Sena juga cinta sama Damar. Dasar tu anak kepala batu." Rupanya Oliv dan Dinda masih asik menguping, merasa sayang untuk melewatkan moment ini.


"Artinya apa Sen? Ini jam berapa? Gue boleh kesana? Gue pengen liat lo sekarang." Damar jadi tidak sabaran.


Perasaan nya yang tertahan selama 3 tahun akhirnya berbalas, begitu ingin ia membelai pipi gadis pemilik hati nya.


"Nggak udah malem, dan ini rumah orang." seketika Sena sesegukan menahan tangis.


"Yaudah jangan nangis, gue mau lihat senyum lo. Gue kangen." Diusapnya airmata yang jatuh mengenai kacamata nya.


"So sweet nggak sih Liv." Dinda ikut terharu mendengar sahabatnya akhirnya mengakui perasaannya.


"Finally..." Oliv tersenyum sambil memeluk Dinda.


"Kita jadian?" Damar dengan sorot mata berharap terlihat begitu tidak sabar.


"Mungkin." Dinda tersenyum


"Gue artiin itu sebagai iya." Damar menjadi bersemangat.


"Besok aku boleh kesana?" Damar mengganti gue lo dengan aku kamu, terdengar lebih manis.


"Boleh."


"Oke, besok aku tunggu sarapan di tukang bubur depan komplek Dinda. See you sayang." Akhirnya setelah sekian purnama dia bisa memanggil Sena dengan sayang.


Sena hanya mengangguk, mukanya entah berwarna apa sekarang karena malu.


Damar bisa tidur dengan senyuman malam ini.


Dinda dan Oliv keluar dari persembunyian mereka sambil tersenyum.


"Guys, makasih banyak." tangannya merangkul Dinda dan Oliv.


"Selamat ya, akhirnya lo sama Damar." Dinda memeluknya erat.


"Kita ikut bahagia." Oliv pun mengeratkan pelukan.


*****


By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini 🌺🌺


Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back πŸ€—πŸ€—


Semoga kita bisa berkawan rapat 🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2