Cinta Mita

Cinta Mita
Selingkuh?


__ADS_3

Selesai menggoda Mita, Rama mengajak Yoga ngopi di salah satu kedai kopi ternama.


"Ga, mau ikut ngopi ngga? Abang mau ngopi sama Bang Fery."


Yoga sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Bahkan terkadang Mita beranggapan Rama terlalu memanjakan Yoga.


"Ngopi dimana, Bang?"


"Deket dari sini."


Rama turun ke apartemen yang Fery tinggali, karena ingin berangkat dalam satu mobil saja.


Orang kota ngopi doang ke kafe, Yoga geli sendiri.


"Ikut Ga?"


Fery mendapati laki-laki belia dengan sweater putih bertuliskan "Champion". Sweater yang Rama beli untuk Yoga saat ke Amerika lalu.


"Diajak Abang. Yoga boleh gabung ngga nih?"


Ada kekhawatiran tersendiri kehadirannya mengganggu Fery.


"Boleh lah. Bener, sekali-sekali nongkrong. Jangan diem di apartemen doang. Laki itu harus banyak gaul, jangan nolep." (nolep : no life : kuper)


Fery merangkul Yoga dengan hangat.


Semenjak Mita menikah dengan Rama, ada banyak keberuntungan yang Yoga rasakan. Salah satunya malam ini, bisa pergi dengan laki-laki keren di pandangan matanya. Rama dan Fery baginya bentuk nyata dari seorang idola.


Jarak apartemen dan Sturbucks yang hanya 1 km, tetap dilewati oleh kelompok anak muda tersebut dengan mobil. Orang Jepang menangis melihat ini.


Caramel Machiato menjadi pilihan Rama malam itu. Espresso, susu, vanilla sirup di tutup dengan caramel mejadi perpaduan yang sempurna malam itu. Dan Yoga memilih kopi yang sama karena tidak tau harus memesan apa.


Sementara Fery, hanya segelas Americano panas yang ia pesan.


"Udah kebayang belum kehidupan di sini gimana?"


Fery mengeluarkan bungkus rokok dengan dominan warna merah dari saku jaketnya.


"Lumayan sih Bang. Beda banget sama kehidupan di kampung."


"Bedanya apa?"


Gelas milik Rama hanya tersisa setengahnya.


"Banyak bedanya, terutama perilaku orang-orangnya. Kalau di kampung, kita mau ngopi tinggal beli kopi di warung, seduhnya di rumah. Kalau disini malah jadi lebih ribet. Harus ke starbucks, mahal lagi."


Rama dan Fery tertawa keras mendengar kepolosan Yoga.


"Apalagi nanti kamu kuliah. Pergaulan kamu nanti lebih heterogen."


Rama ingin menjelaskan dunia luar, kehidupan yang akan Yoga jalani seperti apa. Mengingat Yoga adalah laki-laki polos, ia tidak ingin Yoga salah pergaulan.


"Keterima dimana jadinya?"


Fery menghembuskan asap rokoknya dengan berat.


"Jakun, Bang."


"Widih, satu almet dong kita. Apalagi di Jakun, Ga. Temen kamu nanti lebih banyak jenisnya. Se-Indonesia kumpul semua di Jakun. Dari anak pejabat, pengusaha, sampai anak tukang becak, ada di sana."


"Eh gua liat-liat, rokok lu makin banyak aja bangs*t."


Rama melempar Fery dengan bungkus rokok milik sahabatnya. Setelah Fery mengambil batang rokok kedua dari bungkusnya.


Rama memperhatikan gerak-gerik Fery yang ia lihat berbeda satu bulan ini.


"Puyeng gua di sini. Gaji emang gede daripada di Bandung, tapi pressure nya juga gede. Bos nya jarang masuk lagi."(preesure : tekanan)

__ADS_1


"Ka*pret."


Yoga tertawa. Tenyata gabung dalam satu tongkrongan Rama dan Fery asik juga. Sepertinya ia akan betah di sini. Terlebih Rama bisa menempatkan diri sebagai Kakak dan bisa juga sebagai teman ngobrol.


Rama masih memperhatikan Fery yang bermain ponsel sambil mengerutkan kening. Menghisap rokok dalam, seperti orang yang sedang ada masalah.


"Ngga mau ngomong?"


"Ngomong apa Bang?"


Yoga tidak mengerti. Hanya lirikan mata yang mengarah ke Fery sebagai jawaban.


"Fer, woy !"


Kedua kalinya bungkus rokok mengenai dahi Fery karena lemparan tetap sasaran dari Rama.


"Apaan?"


"Ada masalah apaan?"


"Masalah apaan?"


Fery beluk ingin menceritakan permasalahannya.


Rama tau, sudah tiga minggu ini Fery tidak pulang ke Bandung. Menurut feelingnya, Fery dan Rena sedang ada masalah.


"Ngomong aja, anggap Yoga ngga denger."


Yoga mengambil ponselnya di meja.


"Apaan sih?"


"Ah ta* pura-pura b*go segala. Lu sama Rena kenapa?"


"Bangk* tau aja lagi. Lieur aing Ram." (Lieur aing : pusing gua)


Rama menantikan kelanjutan ucapan Fery. Sementara Yoga pura-pura asik bermain ponsel karena bingung harus merespon bagaimana.


Rama shock. Hal yang tidak ada dari banyaknya kemungkinan yang sudah ia pikirkan.


Rena selingkuh?


"Ah, maneh nu bener. Jangan suudzon dulu." (lu yang bener)


"Ngapain gua ngarang? Gila kali. Udah banyak buktinya."


"Bukti apa contohnya?"


"Bookingan kamar hotel atas nama dia masuk ke email. Dia belum log out email dia dari laptop gua."


Kini Yoga yang kaget, hampir saja tersedak minuman.


Selingkuh sampai masuk kamar hotel? Gila !


"Bisa aja itu ngga sama bos nya kan? Atau bookingan orang lain?"


Rama masih berusaha menggunakan asas praduga tak bersalah. Karena harapannya bahwa Fery salah.


"Ngapain lah pake nama dia kalau buat orang. Ada note ke hotelnya juga, dia minta dekorasi kamar ulang tahun buat bos nya. Gua bukan anak SD yang ngga ngerti hal kaya gini. Yoga aja ngerti, ya Ga?"


Rama lemas mendengar kenyataan mengenai Rena. Di luar nalarnya.


"Gelo."


"Dan ngga sekali. Seminggu sekali dia pesen kamar. Logikanya ngapain dia pesen kamar?"


Fery mengingat-ngingat kembali perubahan Rena di tiga bulan terakhir ini. Sering pulang larut malam dengan alasan meeting atau menghadiri jamuan tamu asing. Tapi tidak mau menjawab video call darinya.

__ADS_1


"Lu udah ngomong ke istri lu?"


Yoga semakin kaget saat tau bahwa yang selingkuh adalah istri Fery. Bukan pacar. Sinting !


"Gua takut sama kebenarannya. Gua malah takut kalau dia ngaku. Gatau naif, gatau bego. Bangs*ttt."


Wajah Fery semakin kelam dengan teriakan yang ia tahan.


Rama mengambil sebatang rokok milik Fery dan menyalakannya.


"Ngapain lu anj*ng ikut-ikutan?"


Fery tau bahwa Rama anti dengan rokok. Namun Rama ingin menemani Fery dalam suka dan duka, meski merokok bukan keahliannya.


"Sekali-sekali ngga apa-apa lah. Jangan bilang Teteh, Ga."


Rama menunduk, ikut merasakan sakit hatinya Fery.


"Anak lu gimana?"


"Dia yang paling anti sama pengasuh karena banyak berita ngga enak tentang baby sitter. Tapi 4 bulan lalu dia tiba-tiba minta pengasuh. Aneh banget. Yang paling gua takuti ya anak gua nanti gimana kalau terjadi apa-apa sama gua dan Rena.


Fery menarik nafas panjang. Permasalahan terbesar dalam hidupnya tengah ia rasakan.


"Rumit Ga, dunia pernikahan."


Fery tertawa, menutupi luka di hatinya. Tak lama Fery bangkit memesan gelas kopi yang kedua.


"Yang, aku pulang malam ngga apa-apa ya? Aku nemenin Fery dulu. Dia lagi butuh temen."


Rama mengirimkan pesan kepada Mita untuk meminta izin.


"Yoga ngga apa-apa sampe malem kita disini?"


"Ngga apa-apa, ada gua."


"Mau ke club ada Yoga, ngga jadi dah."


"Gila, ngga ada ! Baru gua nasehatin Yoga buat pinter pilih temen. Eh temen gua nya kaya elu begini."


Rama menolak ide gila Fery. Semasa kuliah Fery memang suka keluar masuk club, tapi sejak berteman dengan Rama kebiasaan tersebuh perlahan ia tinggalkan.


"Emang club apaan Bang?"


Dengan kepolosan yang hakiki Yoga bertanya.


"Menurut kamu club apaan?"


"Club? Club bola?"


Seketika tawa membahana tidak bisa Fery dan Rama tahan.


"Polos banget anjir. Ngakak aing."


"Clubbing, Ga. Ajep-ajeng. Tau diskotik ngga?"


Yoga melongo. Rama suka ke diskotik juga?


"Yang dugem itu Bang?"


"Nah, itu dia bener. Nanti sekali-sekali Abang ajak ke sana. Biar kamu tau dunia kaya gitu ada."


"Ngga ah Bang, Yoga takut."


Tawa Fery semakin keras.


"Gua bangek gara-gara Adek lu woy."

__ADS_1


Malam ini Fery lumayan terhibur dengan kehadiran Yoga.


Ketiga pria tersebut melanjutkan acara nongkrongnya dengan mencari tukang masi goreng pinggir jalan. Baru kembali ke apartemen pukul 01.00 dini hari setelah sadar bahwa besok Yoga mengantar Mita ke kampus.


__ADS_2