Cinta Mita

Cinta Mita
Dedek gemes


__ADS_3

Mita


Tak terasa waktu terus berlalu, tak ada hari yang terlewat tanpa pesan dari Rama. Pertemuan terakhir dengannya yang berisi pernyataan sayang tak ia tanggapi. Jika memang itu nyata bukan gombalan, Rama tetap sulit untuk digapai.


Setiap hari Rama menanyakan kabar atau sekedar ngobrol tentang apa yang sudah dilalui seharian ini. Terkadang bercerita tentang client, kopi buatan Bi Imas yang salah ambil gula malah masukin garam atau hal receh lainnya.


Mendengar nya bercerita di telepon atau membaca pesan, membuatku merasa dia orang yang berbeda dengan orang ia lihat saat meeting di restoran waktu itu. Sangat berbeda. Laki-laki yang kemarin, ia melihat laki-laki yang tegas, lugas dan berwibawa. Sedangkan laki-laki yang rutin berkirim pesan dengannya adalah laki-laki yang hangat, humoris, jahil namun penuh perhatian. Bapakable sekali.


Hah? ini sudah nggak benar, bapaknya siapa yang sedang ia lamunkan? Bapak dari anak-anaknya? Bangun Mita, dadar telor buat sarapan ! Mungkin itu yang bapak katakan kalau tahu yang sedang ada dipikirannya sekarang. Hah, yang benar saja.


Β 


..............................................................................


Rama


Ada perasaan nyaman jika sedang dengan Mita. Dia pendengar yang baik sehingga bisa mencurahkan segala permasalahn sehari-hari di kantor tanpa perlu nasehat darinya. Dia merasa cukup untuk didengerkan. Mungkin jika bercerita langsung akan lebih indah, melihat tatap mata teduhnya yang penuh perhatian menjadi pendengar yang baik.


Dia seperti punya rumah baru tanpa mengganti rumahnya yang sudah ada. Meskipun usia nya masih sangat muda, namun dia sangat dewasa. Berbeda sekali dengan perempuan-perempuan yang selama ini ia kenal. Meskipun jarang bicara, tapi dia selalu tersenyum. Apalagi dibandingkan dengan Sena adiknya yang seumuran dengan Mita? Anak manja itu dengan Mita, bagai langit dan bumi.


Rama selalu menanti tiap kata yang akan dia ucapkan. Dengannya sisi manja seorang laki-laki muncul, menggelikan sekali. Boys will be boys right?


Dia jadi teringat Andri si bucin jika sedang memikirkan Mita. Ah benci sekali jika ia harus terlihat seperti ini di hadapan si petualang cinta yang akut.

__ADS_1


Terasa lama sekali minggu ini. Ia masih harus menunggu 48jam untuk bisa bertemu dengannya. Jika Mita sudah mulai kuliah mungkin ia bisa menyempatkan ke Bogor seminggu dua kali untuk sekedar mengajaknya makan tidak lebih. Jakarta - Bogor anggap aja kaya dari Cengkareng ke Pondok Indah.


Dia sadar betul tidak bisa mengajaknya berkomitmen dalam waktu dekat. Mengingat Mita harus fokus pada kuliahnya dulu. Walaupun jika sudah ngobrol berdua, gombalan under control nya sulit dikendalin. Tapi masih oke lah sampai saat ini. Masih berada di jalur seharusnya.


''Woi ngapa Lu senyum-senyum sendiri?'' seperti biasa ia makan siang dengan Andri di kantin kantor. Andri mengagetkan ketika sedang melihat foto Mita saat tertidur di mobil kemarin yang adia ambil diam-diam. Lucu sekali, si pipi tomat. Apakah semua gadis desa menggemaskan seperti ini? Ahhhh jadi pengen pindah ke desa, menggelikan sekali.


''Apaan sih, gua lagi baca berita ini.''


''Berita Maria Ozawa jadi sirkus kali lu sampe senyum kaya orang bahlul begini. Awas diliat client ilang lu wibawa yang selalu elu bangga-bangakan.'' kam pret ini orang, ngomongnya kedengeran sampe lantai 50.


''Kecilin suara lu, berisik banget sih lu. Pindah tempat duduk ah gua. Ngerusak selera makan.''


''Si kampret ngga waras.'' Andri pun ikut pindah meja mengikuti.


''Ya Allah Rama, lu naksir dedek gemes mana ini? Kiyut sih Ram, tapi masa sama om-om kaya lu gini. Jangan rusak masa depan dia nasih panjang.'' Andri nyerocos tanpa henti mengomentari Mita.


''Diem lu anjir, sini ah HP gua.'' tak ayal kepala Andri kena toyoran Ramq.


''Tapi ngga apa-apa lah, seneng gua liatnya. Gua kira lu homo Ram. Anggi yang semok depan belakang, nggak mempan menggoda keimanan lu. Ternyata luluhnya sama dedek gemes.''


''Diem lu, sekali lagi manggil dia dedek gemes awas lu.'' Buru-buru dia selesaikan makan siangnya. Tidak nyaman dengan suara berisik Andri yang membuat beberapa pasang mata memperhatikan mereka.


''Beb, tunggu beb.'' Andri menyusul meninggalkan makan siangnya yang belum habis.

__ADS_1


''Lu kalau di muka umum jangan malu-maluin gua bang ke.'' Andri tertawa terbahak-bahak melihat Rama mendengus kesal.


Ponsel pun bergetar, semoga dari gadis itu.


Mama


Ada angin apa siang-siang Mama telepon.


''Ram kamu lagi apa?''


''Lagi kerja dong Ma. Ini kan masih jam kantor'' pertanyaan ngga penting gini ditanyakan gerutunya.


''Kata Sena kemarin kamu makan sama Mita. Kok bisa?'' mati lah gua di introgasi.


''Kemarin aku meeting di Bogor, ketemu sama Mita di restoran. Sekalian aja aku ajak makan bareng. Kenapa Ma?" jawabku santai, se simpel itu kan? toh memang ketemu di restoran.


''Mita makan di restoran? sama siapa? restoran kan mahal Kak.'' Asyemmm.


*****


By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini 🌺🌺


Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Semoga kita bisa berkawan rapat 🌺🌺🌺🌺


__ADS_2