
"Sayang, aku pengen belanja, ke Sena yuk."
Saat istirahat di ruangan Rama, Mita spontan mengucapkan hal yang baru saja terlintas di pikirannya. Entah ilham dari mana.
"Sama aku juga bisa belanja doang mah, tunggu pulang kantor nanti sore."
Rama masih fokus pada berkas di genggamannya.
"Permintaan macam mana pula, ngga liat yang gua pegang?!"
Tentu saja Rama hanya mengucapkan dalam hati.
Meski sudah jam istirahat, Rama masih berkutat dengan berkas yang seharusnya sudah selesai beberapa minggu lalu. Tapi harus tertunda karena acara wisuda sekaligus liburan dadakan saar di Amerika, yang mengakibatkan beberapa jadwal terpaksa di reschedule hingga molor.
Bahkan makan siang pun harus disuapi oleh Mita, karena tangannya enggan menaruh berkas yang membuatnya tidak nyenyak tidur barang sebentar.
"Beda, selera dia tuh bagus. Kalau aku yang beli pas nyampe rumah suka nyesel kenapa milih yang ini. Kalau pilihan Sena ada label anti gagal, ajaib kan."
Seporsi french fries dan segelas lemon tea habis oleh Mita dalam beberapa menit.
"Transferin aja Sena uang, suruh belanja nanti kirimin kesini. Dia juga hafal ukuran kamu. Aku lagi banyak banget kerjaan. Ini liat coba, kamu ngga liat ini?"
Rama memberikan ponselnya dengan aplikasi mbanking yang sudah siap digunakan tanpa menoleh.
"Kamu mah ngga ngerti, aku juga sama banyak laporan dan tugas akhir. Nemenin istri doang susah banget."
Mita beranjak menghentakan kakinya. Terkadang sifat kekanak-kanakan perempuan setengah matang ini muncul. Seperti saat ini, datang di saat yang tidak tepat.
"Coba bilangnya sambil pelototin ini."
Rama menahan tangan Mita sambil mengacak tumpukan kertas di hadapannya.
"Astagfirullah."
Lanjut Rama semakin frustasi.
"Aku ngga maksa, yaudah nanti aja."
Rama melepaskan genggamannya melihat Mita menunduk.
"Kalau mau minta liat-liat kondisi. Kalau kerjaan aku sedikit, kamu minta ke Bali juga aku anter."
Rama membentak lalu memutar kursi kebesarannya dengan pandangan meninggalkan Mita. Seakan tidak peduli dengan wajah murung Mita yang menunduk menahan airmatanya agar tidak jatuh.
Mita keluar ruangan Rama dengan airmata yang tidak mampu ia tahan, mengalir secara tidak sopan. Sekilas Rama menghembuskan nafas panjangnya memperhatikan Mita mengusap kelopak matanya.
"What the euhhh."
Rama mengambil nafas panjang lalu kembali fokus dengan pekerjaan yang harus selesai sore ini. Tapi nyatanya pikirannya sudah tidak bisa 100% fokus dengan apa yang ada dihadapannya. Ia menekan tombol pesawat telepon di meja kerjanya.
"Masuk masuk."
Tak berapa lama, sang anak buah dengan kemaja berwarna biru langit dan sepatu pantofel masuk ke dalam ruangan Rama.
"Kerjaan bisa dipending sehari ngga, Fer? Atau langsung gua tanda tangan aja ya, lu udah periksa kan?"
Rama menghempaskan beberapa laporan lagi yang harus ia periksa dan tanda tangani.
"Eh jangan main tanda tangan aja, ntar ada apa-apa gua lagi yang kena. Kalau urgent, maksimal besok masih bisa."
"Gua ke Bandung dulu semalem, pilihin berkas yang dibutuhin. Gua kerjain di jalan atau disana nanti."
"Bisa gua pegang ngga nih besok beres?"
"Beres elah, bos nya siapa sih di sini. Jadi lu yang ngatur gua ?"
"Bukan gitu, kan ini demi berjalannya bisnis anda Pak Rama yang terhormat in. Emang ada hal penting apaan? Enin sehat kan?"
Jarang-jarang Rama membuat perintah dadakan kalau bukan karena hal penting.
"Perintah nyonyah. Dia tuh semakin gua larang, semakin bikin gua kasian. Magic banget matanya buset dah, lieurrrr aing." (pusing gua)
"Siappp nyaahhhh. Gua mana bisa begitu, Rena mau ngesot, jungkir balik, salto sampe kayang minta gua pulang juga kagak bisa meninggalkan ini kantor dengan enaknya begitu."
Fery mendengus pelan sambil menyambut perintah bos yaitu memilih berkas yang dibutuhkan untuk dibawa ke Bandung.
"Riweuh ari maneh, nyambung ka Rena..."
"Maneh anjir nu riweuh, jadi ka aing."
Rama mengambil ponselnya hendak menghubungi seseorang kembali.
__ADS_1
"Dimana? masuk."
Mita masuk dengan mata sembab dengan wajah basah seperti habis mencuci wajah. Fery memperhatikan kedatangan Mita dengan sudut matanya, menyadari sesuatu telah terjadi.
"Mau apa tadi?"
"Ngga jadi, udah ngga mau minta-minta apa-apa."
"Mau ke Bandung? Ngga bisa besok aja? Tega kan Fer, kerjaan gua banyak gini minta ke Bandung. Dia kira kaya dari sini ke BSD."
Rama mendramatisir ucapannya sambil membuka jas nya lalu menarik tangan Mita agar mendekat ke arahnya. Bicara dengan lemah lembut sebagai permintaan maaf. Namun tidak ada jawaban dari Mita, ia sudah tidak ingin pergi.
"Aku udah bilang, ngga jadi. Ngga usah dibahas lagi kalau memang kamu sibuk. Kerjaan kan nomor satu, aku mah nanti-nanti, kapan-kapan aja. Selow aja lah aku mah ngga penting. Aku balik ke line produksi, kirain dipanggil karena hal penting. Ternyata semua yang berhubungan sama aku memang ngga penting."
Mita melepas genggaman tangan Rama, mengadopsi perkataan Rama jika sedang marah.
Pandangan Fery kini menatap Mita yang merajuk, persis seperti Rena juga sudah meminta sesuatu.
"Kenapa sih Nyonya Mita, jadi sensi gini."
Rama semakin semangat menarik Mita ke dalam pelukannya.
"Astagfirullah, ya Allah. Tahan bos tahan, gua keluar dulu. Udah beres ini berkas, siap dibawa."
Fery seolah paham hal yang akan dilakukan Rama selanjutnya. Dengan cepat Fery keluar dari ruangan karena tidak ingin menyaksikan pertunjukan live di tengah kerinduannya kepada Rena.
"Kalau mau minta itu lihat kondisi, aku lagi ngapain, sibuk atau ngga, banyak kerjaan atau ngga. Tadi pagi di apartemen kamu ngga bilang apa-apa. Kenapa tiba-tiba?"
Rama tersenyum jahil, ia semakin tertarik untuk meminta lebih hari ini.
"Udah ah, aku mau ngerjain laporan PKL buat persentasi ke supervisor produksi. Dua minggu lagi magang ku udah beres, tugas akhir aku juga dikit lagi kesimpulan."
Mita membesarkan bola matanya di hadapan Rama.
"Aku lagi ngga mau denger soal tugas akhir, aku mau nya ini."
Dengan cepat Rama membuka kancing cardigan Mita yang terpaut dua buah kancing. Melihat benda yang menurutnya indah membuat pikiran Rama traveling.
"Mata sama tangan kamu tolong kondisikan, ini kantor."
Paham kondisi terkini suaminya, Mita menolak dengan tegas apa yang ia lihat dari tatapan Sang Suami.
"Mata aku biasa aja."
"Kok bisa tau, hebat banget istri nya siapa ini?"
Mita membalikan badan, membelakangi Rama. Menyembunyikan senyum tipis yang kini menghiasi bibirnya.
"Tau dong, aku mah peka. Beda sama kebanyakan laki-laki yang ngga peka."
Mita menyindir seseorang dengan halus.
"Siapa yang ngga peka? Aku maksudnya?"
Rama sudah menggeranyangi tubuh Mita sekian rupa. Perasaan yang masih sama seperti pertama menikah.
"Ngga tau, yang ngerasa aja siapa."
"Bukan ngga peka Sayang. Maksud aku kalau ngga urgent tunda dulu BM nya. Disini juga ada mall besar, di Karawaci juga lengkap."
"Bukan masalah belanjanya, kalau belanja aja aku juga bisa shopping online, tinggal buka aplikasi, ngga capek. Tapi ini soal seberapa besar pengorbanan kamu buat istri. Bilangnya kerja buat istri, tapi aku minta ke Bandung yang ngga seberapa jauh aja ngga ada waktu."
Rama tersenyum mendengar curahan hati istri tercinta. Membuatnya mengencangkan pelukan di pinggang Mita nya tersayang.
"Intinya kamu pengen tau seberapa bucin nya aku? Gitu bukan? Aku tuh sayang sama kamu, tapi maaf kalau ngga bisa semua keinginan kamu bisa aku penuhi. Aku cuma manusia biasa. Tapi hati aku penuh sama perasaan sayang aku ke kamu."
Mita berbalik, tak mampu untuk tidak menatap Rama.
"Udah marahnya?"
Mita tetap diam, hanya menjawab dengan pelukan. Sementara Rama mengambil ponselnya di salah satu sudut meja kerjanya. Kembali melakukan panggilan entah dengan siapa. Dengan satu misi yang harus segera ia tuntaskan.
"Siang Mbak, mau cek kamar eksekutif hari ini masih ada? Yaudah deluxe ngga apa-apa, saya cuma transit sebentar. Saya payment saat check in bisa ya? Terima kasih."
Kamar? Rama memesan kamar untuk siapa? batin Mita bertanya-tanya.
"Yuk."
"Kemana?"
"Ke hotel."
__ADS_1
"Abang, masih jam kantor ngapain ke hotel?"
Mita heran, tadi ngedumel tidak ingin diganggu sekarang minta ke hotel. Semua laki-laki sama aja !
"Ya terus kenapa? Aku bos nya, kamu juga istri aku. Sah-sah aja aku mau gimana juga sama kamu. Tadi kan kamu nangis, aku sebagai suami jadi merasa kasian. Jadi pengen aku sayang."
"Ngga mau, kamu juga tadi jahat ke aku, kamu bentak-bentak aku. Aku cuma minta ke Bandung sampe di bentak-bentak gitu."
Matanya memerah kembali, hal yang paling tidak ia suka adalah dibentak terlebih oleh suami sendiri.
"Kapan aku bentak-bentak? Aku ngga merasa bentak-bentak istri aku."
Rama tersenyum dengan maksud tersembunyi.
"Enaknya jadi suami, istri nya minta kemana malah ngajak kemana."
Rama baru menyadari perubahan Mita, semakin hari semakin bawel. Ternyata benar kata orang, setelah menikah satu per satu sifat dasar satu sama lain akan terlihat.
"Semakin kamu dewasa harusnya kamu semakin paham bahwa di dunia yang serba mahal ini, semakin jarang hal gratis."
"Maksudnya?"
"Dalam rangka berusaha jadi suami yang baik, ayo kita ke Bandung. Tapi hotel dulu bentar weed."
Senyuman yang penuh makna.
"Ihhh kamu mah, aku tau maksud dan tujuan kamu ke hotel ! Pasti pikiran kamu kotor."
Rama memeluk Mita erat.
"Bersihin atuh sama Nyonya pake cinta."
"Abaaangggg."
*****
Sementara itu di salah satu sudut kota Singapura, seorang Ayah hendak menjenguk putra nya yang tengah menimba ilmu di negara pulau tersebut. Penerbangannya hari ini transit di Singapura selama 17 jam, hingga terpikir bisa sekaligus menjenguk putra tunggalnya tersebut.
"Mar, Ayah di depan kamar kamu."
Pak Gunawan mengirimkan pesan untuk Damar. Namun Damar setengah sadar karena alkohol yang dia minum, sedikit kesulitan untuk membalas pesan dari Pak Gunawan. Beberapa hari ini hidupnya tidak bisa jauh dari alkohol. Hal ini juga membuat kuliah nya berantakan.
Beberapa kali Pak Gunawan menekan bel flat Damar, hingga mau tak mau terpaksa Damar membuka pintu dengan mata merah dan jalan sempoyongan.
"Kamu kenapa?"
Menyadari hal tidak beres, Pak Gunawan masuk tanpa izin. Pak Gunawan kaget begitu mencium bau asap rokok yang menyengat dari kamar Damar yang selama di Indonesia tidak pernah ia lihat menyentuh rokok. Lalu semakin terkejut begitu melihat kamar yang berantakan tak berbentuk, puntung rokok yang berserakan hingga botol minuman memenuhi keranjang sampah dan meja belajar Damar.
"Damar !"
Pak Gunawan menarik baju Damar dengan kasar.
Plaakk
"Jauh-jauh kamu sekolah disini, sekarang kaya gini kelakuan kamu hah !"
Lalu menghempaskan tubuh anak kesayangan ke lantai. Emosi nya meluap namun ia tahan sekuat tenaga.
"Damar bisa jelasin Yah..."
"Bunda kecewa sekali kalau tau ini."
Pak Gunawan memegang pinggangnya dengan tangan kiri dan tangan satu nya memegang kening yang bertambah pusing.
"Yah, tolong jangan kasih tau Bunda."
Damar tiba-tiba merangsek ke lutut Pak Gunawan yang dibalas dengan tendangan dari kapten maskapai BUMN kebanggaan negeri.
"Kamu mandi, Ayah mau muntah cium bau alkohol dari mulut-------- kamu."
Seleranya untuk istirahat di kamar anak lelakinya menguap, bahkan untuk sekedar duduk ia tak sudi.
Kalau aku harus mengingatmu lagi, aku tak akan sanggup dengan yang terjadi antara kita.
Jika melupakanmu hal yang mudah, ini tak akan berat, tak akan membuat hatiku lelah.
Kalah... Ku akui aku kalah...
Cinta ini pahit dan tak harus memiliki.
Jika aku bisa, ku akan kembali
__ADS_1
Ku akan merubah takdir cinta yang ku pilih.
Meskipun tak mungkin membawa kamu lewat mesin waktu.