
Fery
Rama diam sepanjang perjalanan menuju hotel. Hanya sesekali menjawab jika ia bertanya.
Sikap Mita tadi memang keterlaluan, seolah tidak mengenal dan menghindar. Ucapan apa yang sudah dikatakan orangtua Rama?
"Jadi ngopi?" Rama tiba-tiba memecah kekakuan.
Arah pulang kali ini lebih dekat karena posisi yang sejajar dengan hotel. Benar kata Rama tadi, saat berangkat mereka putar arah, mungkin tiga Kali lebih jauh dari arah pulang.
"Jadi dong, sekarang yang pusing bukan gua doang. Tapi kalau gua pusingnya karena emang butuh kopi, kalau lu butuh kasih sayang." ia tertawa mengejek mencairkan suasana.
"Sial." ia membelokan kemudinya ke arah pintu masuk hotel.
*****
Rama
''Ke kamar dulu makan, gua bener-bener laper."
"Siapp. Pura-pura kuat emang butuh energi." Fery tertawa puas tak bisa lagi menahan tawanya.
Memang baru kali ini ia merasa suasana hatinya sekusut itu. Lebih kusut dari di Bandung kemarin.
"Bangkeeee emang."
Tibalah mereka di kamar hotel. Dengan beringas ia makan nasi dan ayam bakarnya itu. Rasanya sama enak dengan yang pertama kali ia makan. Meskipun dengan suasana hati yang berbeda.
Energinya sudah full kembali, ia sudah siap untuk mengeluarkan sumpah serapahnya kembali.
''Bisa-bisanya dia kaya tadi? Buang muka dari gua. Jangankan ngomong, liat gua aja dia nggak mau."
Rama menyalakan rokoknya kembali.
"Udah dong lu jangan ngerokok mulu. Mita tau dia makin nggak respect sama lu."
"Peduli apa gua sekarang, gua baik juga dia ngga peduli."
"Lu kaya gini makin keliatan kaya anak labil anjir." Fery yang masih menguyah ayam bakarnya geleng-geleng kepala.
"Sore gua balik, besok siang udah terbang. Udah gua bayar sampe besok ini kamar. Rena mau kesini silakan." Ia membuka jendela kamar masih dengan rokok di tangannya. Menatap ke luar dengan dalam
"The best teman gua yang satu ini." Fery masih menikmati makan siang ya, benar-benar enak. Ia melihat ke arah Rama, baru menyadari Rama yang masih terdiam.
"Ram, perempuan kan bukan dia doang. Kalau kalian jodoh, nanti bakal ketemu jalannya. Kalau nggak jodoh, itu artinya kalian bukan yang terbaik untuk masing-masing versi Tuhan."
Rama menatap Fery sebentar lalu kembali menatap ke luar jendela.
"Tapi dia kayak gini bukan karena dia ngga suka sama gua kan Fer?"
Fery benar-benar merasa prihatin sekarang, ia bangkit mencuci tangannya lalu mendekat ke arah Rama.
"Dia juga suka sama lu. Tatapan dia waktu liat lu gua bisa baca. Dia mau nangis, dia sekuat tenaga ngehindarin lu Ram. Dia lagi membangun tembok besar biar nggak makin sakit. Pahami dia di posisinya sekarang, tekanan dari keluarga lu itu nggak mudah. Dia merasa harus tau diri."
"Kalau emang dia benar-benar sayang sama lu, dia pasti sedang memantaskan diri buat lu."
"Lu mau berangkat, lu harus deal dengan diri lu sendiri jangan kaya gini."
Rama menoleh, menepuk pundak Fery Dan membuang rokok di tangannya.
"Yap. Makasih Fer, udah nemenin gua." Rama mengambil air minum.
"Sama bocah centang biru mah gantengan lu Ram tenang aja. Dia nungguin lu disini percaya sama gua."
Ia mengambil handuk untuk menyegarkan badan dan otaknya kembali. Ada satu misi yang harus ia selesaikan.
Selesai mandi, ia mengambil ponselnya dan mengetik chat kepada seseorang.
"Kita bisa ngobrol dulu bentar? Aku janji ini yang terakhir. Aku nggak akan ganggu kamu lagi."
Sent.
Dinyalakan TV di kamarnya, ia mencari channel yang menayangkan berita.
"Rena jadi kesini?" terlihat Fery yang asik dengan ponselnya.
"Jadi, pulang kantor dia kesini. Gua balik lusa aja sekalian liburan. Nanti gua ke bawah bayar buat besok."
"Enaknya yang udah nikah, gua kapan." Rama yang seolah mengusap-ngusap bantal meringis.
__ADS_1
"Masih mau nunggu atau gimana?"
"Gatau uyeng pala berbie. gua ikutin takdir aja mau gimana."
"Lu bakal dapet yang terbaik. Jangan menutup diri aja."
Ponselnya bergetar, berharap balasan dari Mita.
*****
Mita
Mata kuliah TPP 1 baru selesai, masih ada satu mata kuliah lagi yang harus ia hadiri. Semula ia ingin mengisi waktu mengunggu dosen dengan scroll akun Instagram nya. Sudah lama rasanya ia tidak melihat dunia luar dan teman-teman SMA nya sekarang.
Namun yang ia dapati pesan dari Rama.
"Kita bisa ngobrol dulu bentar? Aku janji ini yang terakhir. Aku nggak akan ganggu kamu lagi."
Ia menarik nafas panjang, dicari nya Niken untuk dimintai pendapat.
Niken mengangguk.
"Mungkin benar yang terakhir, jangan sampai lo nyesel nanti." ia berpikir, ada benarnya yang dikatakan Niken. Ia tidak ingin menyesal.
"Aku masih ada kuliah lagi sampai 15.20 mau nunggu?"
Ia berharap kebaikan akan menghampiri mereka berdua.
"Aku jemput di pintu berapa?"
Rama yang selalu berpikir cepat dan efisien, selalu mengerti medan dengan baik.
"Pintu 3 jam 15.25"
Tak ada balasan lagi dari Rama. Ia penasaran dengan apa yang ingin Rama katakan.
*****
Rama
"Gua balik duluan Fer." ia bersiap-siap memeriksa tas nya kembali khawatir ada yang tertinggal.
"Lu dukun apa gimana." ia mendengus kesal, Fery selalu tau apa yang ia pikirkan.
"Gua sekalian bayar sampai lusa. Salamin ke Rena, jaga kesehatan." lanjut Rama.
"Jangan lah lu mulu yang bayar." Fery yang sedang mengaduk kopi buatannya melihat ke arahnya.
"Suka-suka gua lah, duit-duit gua. Gua bayarin lu sebulan disini juga ngga ngaruh banyak buat saldo gua."
"Kamprett congkak bener." Fery melempar ya dengan gula sachet di hadapannya.
"Visa inget tuh, lu forward syarat nya ke gua. Nanti gua kasih surat rekomendasi."
"Kemarin syarat lu apaan? Sama aja kan?" Fery terlihat excited jika membahas rencana honeymoon nya.
"Bedalah norak, lu liburan gua sekolah."
"Nyesel gua nanya. Makin lama makin ngeselin anjir."
"Hoang kayah mah bebas."
"Bodo amat."
Ia tertawa, senang bisa membuat Fery kesal.
Ia bersiap untuk ke kampus Mita. Melihat balasan terakhir yang meminta ya menjemput di pintu 3.
Matanya berhenti di pesan yang belum ia baca sejak kemarin yang dikirim Mama nya. Ia pun mengetik sesuatu disana.
"Rama nginep di hotel sama Fery Mah sebelum besok berangkat. Bentar lagi mau pulang."
Ia tidak ingin menambah pikiran Mama nya dengan memperpanjang masalah.
Oke. Here we go.
Ia lebih cepat 10 menit dari waktu selesainya kuliah Mita. Namun di jam 15.30 belum ada tanda-tanda kehadiran Mita disana.
"Rama."
__ADS_1
Setengah mengantuk ia melihat ke belakang. Mita memperhatikannya dari atas sampai bawah.
"Kenapa? aneh ya?" ia jadi memperhatikan penampilan ya sendiri.
"Nggak. Kita ngobrol disini?"
"Di mobil aja bisa?" ia memperhatikan sekitar, mulai banyak mahasiswa yang keluar dari kampus memperhatikan mereka.
"Iya gimana? Mau ngomong apa?"
Ada perasaan sedikit kaku. Mita kembali dingin, berbeda dengan tadi saat di luar. Ia seolah sedang membangun benteng pertahanannya agar tidak runtuh.
"Aku mau make sure, sekali lagi aku tanya kamu sayang atau ngga sama aku. Jawab iya atau ngga udah cukup. Aku mau berangkat besok, kita ngga bakal ketemu dalam waktu lama."
"Sepenting itu rasa sayang aku buat kamu?"
"Sepenting itu." Rama mengangguk.
Mita terdiam, menunduk kembali.
"Kemarin aku sayang, sekarang nggak. Udah cukup?"
Rama terdiam, ia menunduk. Meratapi hatinya yang sakit. Seharusnya ia siap dengan apapun jawaban Mita. Kenapa ia tidak memikirkan kemungkinan bahwa Mita tidak menaruh hati padanya?
"Kenapa secepat itu? Ada yang udah gantiin posisi aku?"
"Maaf harus kaya gini."
"Meskipun kita ngga ada komitmen apa-apa, harusnya kamu bisa jaga hati kamu buat aku setelah semua yang udah kita lalui kemarin. Aku kurang sayang gimana sama kamu. Kehadiran aku beberapa bulan ini ngga mengesankan apa-apa buat kamu?''
Mita diam tidak menjawab. Ia memukul-mukul setir mobil di depannya.
"Aditya Wiraguna orangnya?" lanjutnya.
Mita menatapnya lama, pandangan mereka bertemu.
"Aku rasa aku udah jawab pertanyaan kamu. Aku bisa turun sekarang?"
Mita mencoba membuka pintu mobil yang sudah ia kunci otomatis.
"Aku anter ke kosan." ia memakai seat belt nya lalu menautkan seat belt milik Mita dan menyalakan mobil matic kesayangan nya.
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri. Aku udah ada janji sama orang."
Rama menghela nafas kasar. Mencoba bersabar di hadapan Mita.
"Janjian dimana? aku anter."
"Di McDonald's Lodaya."
"Kita bahkan belum selesai kamu udah memulai sama orang?"
"Kita nggak ada apa-apa Ram."
"Itu versi kamu. Buat aku kita ada apa-apa."
"Aku mau anter orang yang aku sayang ketemuan sama laki-laki lain. Gila, dunia udah gila." Ia mulai menjalankan mobilnya pelan.
"Kalau kamu ngga suka aku bisa sendiri. Deket kok di depan aku bisa jalan."
"Kenapa dia nggak jemput kamu kesini aku tanya? Apa aku pernah bersikap kaya gitu sama kamu. Laki-laki macam apa ngebiarin perempuan jalan sendiri. Aku nggak ikhlas kalau kamu sama dia. Kamu boleh ninggalin aku, tapi untuk laki-laki yang lebih segala-galanya dari aku. Harus lebih baik memeperlakukan kamu dari aku memeperlakukan kamu."
"Aku anter kamu pulang ke kosan. Bilang ke dia untuk jemput kamu. Kamu jangan mau pergi sendiri nemuin laki-laki. Siapapun laki-laki itu dan apapun alasannya. Harus dia sendiri yang jemput kamu. Kamu ngerti?"
Mita mengangguk pelan.
"Jaga diri kamu. Kalau ada apa-apa sama kamu, aku ngga akan bisa maafain aku sendiri. Maaf aku harus ke luar."
"Aku ngomong gini ngga tau ada manfaatnya atau ngga buat kamu, ngga tau juga kamu mau denger atau nggak. Tapi aku harus ngomong kalau aku selalu sayang. Entah ke depannya kita seperti apa."
Sepanjang perjalanan Rama terus berbicara, tak ingin melewatkan hari terakhir nya dengan perempuan yang begitu ia cintai terlewat begitu saja.
Sesampainya di depan kosan Mita, ia turun duluan agar bisa membukakan pintu mobil untuk Mita keluar.
Begitu turun ia melihat laki-laki yang tidak ia suka sedang mencuci mobil. Ia tersenyum.
"Kamu bohong sama aku? Kamu mau janjian sama siapa tadi? Kalau yang kamu maksud orang itu, dia lagi nyuci mobil." Rama menengok ke arah garasi kosannya.
Wajah Mita memerah. Entah malu karena ketahuan berbohong atau karena hal lain.
__ADS_1
"Aku tunggu kamu disini sampai kamu masuk." ia tidak ingin melihat Mita ngobrol dengan Adit, ia harus memastikan itu tidak terjadi.