
Sena
Jam 17.00 Kakak sudah sampai rumah. Dan aku sudah memakai baju rumah sedang asik bersantai di ruang tengah.
''Assalamuaykum adik Kakak.''
''Waalaykumsalam Kakak ku.'' ku jawab tanpa menoleh ke arah suara berasal.
''Mama pulang belum?''
''Udah, di kamar sama Papa."
"Oh.... ada bos besar."
"Siap-siap diceramahin."
Tentu saja. Biasanya Papa pulang jam 8 atau 9 malam setelah semua penghuni rumah selesai makan malam. Kalau sore sudah dirumah artinya akan ada makan malam bersama, dan tentunya ada yang akan dibicarakan. Masalah Mita? Sepertinya bukan.
Selesai shalat Isya, Kak Rama langsung turun ke bawah untuk makan malam. Sudah ada aku lengkap dengan Mama dan Papa.
''Akhirnya bisa makan malam di rumah.'' Papa membuka obrolan.
''Iya nih bos besar, sibuk terus sih Papa.'' Kursi di sampingku ditarik Kakak sambil ku bukakan piring untuknya makan.
''Makasih cantik.'' ku balas dengan senyuman.
Hatiku yang sedang di musim semi membuat segala nya indah.
''Kamu kapan ambil master? Hidup kok gitu-gitu aja.''
To the point. Kakak langsung kena mental.
''Gitu aja gimana, uang aku banyak. Sukses itu banyak uang bukan?" Seperti biasa, Kakak yang easy going tanpa ambisi.
"Wah kamu salah ini.'' Papa berubah membenarkan letak kacamata tebalnya berubah serius menautkan jemari kanan dan kirinya.
''Hidup itu jangan money oriented. Nggak melulu soal uang. Oke lah banyak uang bagus juga, dan uang kamu banyak. Apalah Papa yang cuma dokter ini, Mama yang cuma dosen dibanding penghasilan kamu dari usaha kamu yang dimana-mana. Pengahasilan kami kalau digabungin pun masih tetep gedean punya kamu jauh.''
Kakak tertawa. ''Sa ae Papa."
__ADS_1
Yes. Walaupun Kakak lebih dikenal sebagai konsultan, nyatanya ia adalah pebisnis juga. Hanya keluarga dekat yang tahu. Dia tidak berambisi, tapi keberuntungan berpihak padanya.
Kalau Kakak mau, super car manapun bisa ia beli. Rumah mewah pun tinggal tunjuk. Tapi anehnya tidak tertarik dengan semua itu. Entah untuk apa uangnya.
''Kamu tetap harus ngembangin potensi kamu. Menambah relasi. Kamu nggak punya goal yang lagi kamu kejar?''
''Apa ya, enjoy the game aja. Aku nggak mau terlalu ngoyo.''
Terlihat lapar seperti belum makan dari pagi. Rakus sekali tidak seperti biasanya. Mungkin pengalihan emosi biar nggak gugup. Hihihi rasain.
''Nikah gimana nikah? Master habis nikah juga boleh tuh. Biar kamu tambah semangat. Nanti ada yang mijitin pas kamu lagi pusing tesis.''
Raut wajah Mama jadi berubah. Aku pun nyenggol kaki Kakak teringat Mita. Ditanya nikah dia jadi grogi gini. Feeling ku Kakak serius dengan anak itu.
"Pijitin sih minta Bi Imas aja enak pijitannya. Emang aku nikahin tukang pijit." Papa tertawa juga.
''Nanti lah 4 atau 5 tahun lagi mungkin. Nggak masalah dong laki-laki nikah under 30 masih oke.''
4 tahun nunggu Mita lulus kuliah? Tuh kan.
''Nunggu apa selama itu?''
Beuh jadi bawa-bawa gue. Pacaran aja kagak boleh, apalagi nikah.
''Calonnya udah ada?''
Duh calonnya siapa. Jangan sebut Mita.
Kakak yang ditanya, gue ikut deg-degan.
''Otw pah, tenang aja."
''Apa itu, calon istri kok OTW. Mana yang katanya most wanted. Nggak terbukti, ternyata hanya isu. Pencitraan aja."
Wah Papa main-main pikir Rama.
"Eits. Itu fakta, aku nya yang pemilih."
"Kamu nyari yang kaya gimana?"
__ADS_1
''Aku lagi mempersiapkan diri. Dia juga lagi mempersiapkan diri. Kita sama-sama lagi belajar memantaskan diri.''
''Jadi udah ada?''
Hening. Semua menatap ke arah Rama.
Jangan bilang Mita, please Kak belum saatnya. Mama bisa jadi pasien Papa kalau Kak Rama jujur.
''Ada lah, udah tertulis di lauhul mahfudz.''
Kamprett kampreett gue udah deg-degan.
''Kalau gitu sambil kamu siap-siap, memantaskan diri apalah itu yang kamu bilang tadi. Kamu master di kampus Mama, nggak usah ke US kalau kamu nggak mau. Ambil jurusan apapun yang kamu suka. Ini keputusan, bukan penawaran.''
Papa terlihat serius menghabiskan sisa makannya, mungkin sudah pusing dengan sifat terlalu santai nya Kakak.
Tidak ada suara setelahnya, semuanya fokus menghabiskan makan malam yang tersisa di piring masing-masimg.
Rama
"Ma, besok ambil brosur pendaftaran master di kampus buat Rama. Anak itu harus diginiin biar nggak seenaknya. Sudah kebanyakan uang jadi masa bodoh. Mau bodoh beneran? Mama dan Papa susah-susah sekolah tinggi agar bisa jadi contoh untuk anak. Saat itu uang kami juga nggak banyak tapi kemauan belajar itu tinggi. Kami harus berhemat agar bisa sekolah lagi. Lho ini uang ada tapi nggak mau sekolah. Mau jadi apa kalau nggak mau belajar.''
Kalimat terakhir Papa tentunya bukan pertanyaan walaupun ada kata tanya di belakangnya.
''Gimana Rama?" Papa seolah belum puas kalau belum mendengar kalimat konfirmasi "iya'' meluncur dari mulutku.
''Aku urus surat resign secepatnya, aku nggak mau kewajiban ku dikantor jadi terbelah karena harus mikirin kuliah juga.''
''Bagus.''
Baiklah, menjadi mahasiswa kembali.
Biarkan takdir yang membawaku entah kemana.
*****
By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
__ADS_1
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ