
Sepanjang perjalanan Rama menahan wajah kesalnya. Tidak habis pikir dengan tingkah laku Mita hari ini. Memaksa ke Market membeli hal yang menurutnya tidak terlalu penting di waktu yang tidak tepat, tidak ingin diantar, tidak membawa ponsel, dan puncaknya tidak ikut ke acara wisuda yang mungkin menjadi wisuda terakhir dalam hidup Rama.
Keukeuh bin merekedeuweung kalau kata orang Sunda mah !
Begitu sampai di parkiran, dengan berat hati Rama melangkahkan kaki menuju venue acara karena ketiadaan Mita di sisinya.
"Fokus, Mita nyusul."
Pak Romi berjalan di samping anak sulung nya. Namun baru beberapa langlah Rama berjalan ada yang menarik perhatiannya, yaitu karangan bunga besar berwarna pastel yang sangat mencolok. Berdiri tegak diantara lalu lalang mahasiswa dan keluarga yang akan diwisuda, dan satu-satunya karangan bunga di lapangan parkir tersebut.
Rama mendekat, membaca setiap kalimat yang tertulis di karangan bunga tersebut.
"Warmest Congratulations on Your Graduation, Sayang !"
To my coolest husband of over the world - Rama Yudha Rachman, MBA.
From the most beautiful wife in the world - Paramitha Zainal.
Much love and kiss for you.
Seketika wajah keras Rama mencair, tersenyum tidak habis pikir dengan sebuah benda yang kini di hadapannya.
"Waduhh ada yang dapet surprise."
Pak Romi geleng-geleng kepala, wajah Rama memerah karena malu. Begitupun dengan Pak Zainal, Bu Lia dan Bu Rini hanya tersenyum menggoda.
"Hadeuh kabogoh aku mana yaaaa."
Sena seperti iri, seolah mencari Adit.
Spontan Rama mencari kehadiran istrinya. Namun tak disangka, seseorang memeluknya dari belakang yang ia yakin adalah Mita.
"Jangan lama-lama."
Pak Romi tersenyum menyadari tingkah laku anak dan menantunya yang tengah dimabuk asmara. Tanpa menunggu komando, seluruh keluarganya meninggalkan Rama dan Mita menuju venue acara yang di gelar di salah satu sisi lapangan parkir kampus tersebut.
"Selamat atas kelulusan magisternya Sayang."
Mita memeluk Rama erat.
"Kamu ngerjain aku? Bikin aku kesel dari Subuh ternyata ini alasannya? Luar biasa."
Rama membalas pelukan dan mencium puncak kepala Mita, istri tercinta. Mendapat kejutan kecil dari seseorang yang special ternyata sebahagia ini, batin Rama.
"Aku ngga tau harus bikin kejutan apa. Cuma ini yang terlintas di kepala aku."
Rama kini menatap Mita dalam. Tanpa sungkan Rama mencium Mita meski di depan khalayak ramai, yaitu mahasiswa dan keluarga dari mahasiswa yang akan diwisuda hari ini.
"I love you from the bottom of my heart."
Rama mengucapkannya dengan sungguh. Karena Mita adalah salah satu alasan terbesar hingga ia mampu menyelesaikan kuliahnya.
"I love you too suamiku, again and forever. Euhhh gemes." Mita mencubit gemas pipi Rama.
"Habis ini kamu sekolah akting, karena berbakat jadi aktris."
Mita tertawa mendengar kalimat yang baginya adalah sebuah pujian dari Rama.
"Kok kepikiran ngerjain aku? Aku kesel banget tadi sumpah."
"Hidup jangan flat amat dong. Tapi seneng kan di surprise-in?"
"Seneng dong. Kamu pesen dari mana bunga kayak gitu? Emang tau toko bunga disini? Ini selempang segala custom nama aku. Niat banget. Bawa dari Indonesia? "
Mita memakaikan selempang cantik dengan ornament batik yang dipesan khusus oleh Mita. Bertuliskan nama lengkap Rama berikut gelar yang telah ia raih sebagai bentuk apresiasi atas apa yang sudah Rama perjuangkan. Menyelesaikan kuliah sambil mengurus perusahaan bukan Hal yang sederhana.
"Aku pesen dari Permias Seattle."
"Apa itu Permias Seattle?"
Baru kali ini Rama mendengar kata tersebut.
"Ya ampun kamu yang kuliah malah ngga tau. Permias Seattle itu perhimpunan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat Seattle. Mereka kreatif banget, bikin goodie bag juga, aku beli lucu loh."
"Keren amat istri aku bisa tau info kaya gini."
"Itu lah bedanya golongan tua dan golongan muda, aku kan golongan muda jadi update."
"Maksudnyaaaa."
Rama seolah memiting Mita dengan gemas. Menyadari keadaan sekitar yang mulai sepi, Rama dan Mita mempercepat gerak agar bisa mengikuti upacara wisuda.
Kurang lebih 3 jam acara wisuda Rama berlangsung, diawali dengan sambutan dari pihak kampus, ketua alumni, hingga pidato dari perwakilan mahasiswa tiap jurusan di angkatannya. Begitu nama Rama dipanggil, menyaksikan Rama maju ke depan dan disahkan sebagai Master of Business Administration ada perasaan haru dan kagum di hati Mita.
"Selamat Rama."
Secara bergantian kedua orangtua Rama dan orangtua Mita bergantian mengucapkan selamat, menjabat tangan, memeluk, mencium sang anak dan menantu kebanggaan semua orang.
"Selamat ya Bang."
Kini giliran Yoga.
"Makasih Ga. Kamu juga sekolah yang tinggi."
Yoga mengangguk tersenyum, betapa bangganya Yoga
"Akhirnya lulus juga. Selamat ya Kak."
Sena memeluk Rama dengan bangga.
"Kamu juga cepet lulus."
"Pasti dong, biar cepet halal."
__ADS_1
"Ehhh anak kecil."
Rama memelintir kecil telinga Sena.
"Sen, ke parkiran bentar."
Tiba-tiba Adit menelponnya.
"Kenapa Mas?"
"Kamu liat dulu deket mobil parkir ada yang ketinggalan."
Karena rasa penasaran Sena kembali ke parkiran sambil mengingat-ngingat barang apa yang mungkin tertinggal.
"Astagfirullah." Sena memegang dadanya terkejut saat dikagetkan oleh Adit yang tiba-tiba keluar dari balik mobil.
Adit tersenyum, dengan buket beraneka macam bunga berwarna putih.
"Ini ketinggalan."
Memberikan bunga ditangannya dengan sungguh.
"Ya ampun Mas."
Dengan perasaan bahagia Sena menerima dengan menutup setengah wajahnya karena tersipu malu.
"Suka ngga?"
"Sangat suka, ini cantik banget. Mas udah baikan?"
Adit menarik Sena ke dalam pelukannya seolah tidak mendengar pertanyaan terakhir Sena.
"Tetap sama aku, jangan pergi."Qdgv
Adit sudah melabuhkan hatinya kepada Sena.
"Ngga akan pernah dan ngga akan bisa."
Spontan kecupan singkat mendarat di kening Sena yang terasa dingin.
"Makasih ya Mas."
"Aku yang makasih."
Sena tersenyum, seingatnya belum pernah sebahagia ini.
"Kakak dimana? Udah selesai kan wisuda nya?"
"Di sana."
Sena menunjuk salah satu sisi segerombolan manusia yang sedang merayakan kelulusan.
"Ke sana yuk."
Sena terus memandangi bunga di tangannya. Tadi ia begitu berharap kehadiran Adit, dan kini menjadi ada di genggamannya.
Celetuk Rama begitu melihat kehadiran Adit di tengah-tengah keluarganya.
"Selamat MBA pertama kita."
Rama dan Adit saling memeluk layaknya brother.
"Nyusul dong bentar lagi, master apa nanti?"
"Master of Engineering."
"Edaannn."
Sena tersenyum melihat interaksi antara Rama dan Adit.
Selanjutnya Rama dan keluarganya melakukan sesi foto bersama, karena Mita sudah menyewa fotografer professional untuk mengabadikan moment berharga Rama.
"Keren banget sih istri aku."
"Iya dong mutlak."
Rama tertawa, hari ini adalah satu moment paling bahagia dalam hidupnya.
"The most beautiful wife in the world."
"Paramitha Zainal. The one and only." lanjut Mita dengan kepercayaan diri utuh.
Kini Mita yang tertawa geli mengingat tulisan di karangan bunga.
"Senaa, kenapa tulisannya gitu banget . Bahasa Inggris pula, orang sini kan jadi tau artinya. Harusnya bahasa kita aja."
Pertama kali Mita tau isi tulisannya, ia protes kepada Sena sang tersangka. Karena Sena lah yang memesan bunga tersebut kemarin saat pergi dengan Adit.
Sena hanya tertawa puas saat itu.
Selesai acara foto, Rama mengajak makan bersama di restoran japanesse fine dining untuk merayakan kelulusannya.
Konon makan bersama orang-orang terdekat akan semakin merekatkan hubungan yang terjalin.
Banyak hal yang dibicarakan, mulai dari hal receh hingga serius. Termasuk membicarakan kuliah Yoga yang menurut Rama sangat penting.
"Zaman sekarang, laki-laki itu yang diliat isi dompet dan isi rekening Ga. Coba tanya Teteh, kalau Abang ngga banyak uang, mau ngga sama Abang?"
"Emang iya Teh? Matre dong teteh."
"Realitanya memang hidup perlu uang. Tapi kalau matre kayaknya ngga. Namanya pengusaha itu ada naik turun, ada untung rugi, ada macem-macem problemnya. Kalau aku cuma mau uang kamu doang, aku ngga akan mau menemani susah nya kamu."
"Jadi kamu siap menemani jatuh bangunnya aku?"
__ADS_1
"Menurut kamu?"
Rama tertawa. Candaannya ternyata direspon serius oleh Mita.
"Adit kapan atuh sama Sena? Udah cocok pisan."
Adit yang sedang menyeruput ramen kaget hingga tersedak dengan pertanyaan tiba-tiba dari Bu Rini.
"Sena mah masih mau main Bu."
Namun Sena menatapnya sekilas dengan tajam.
"Ngga kebalik?"
Sedetik kemudian melanjutkan makan siang nya kembali. Baginya cukup begitu tau respon Adit demikian.
"Adit masih ada Mbak yang belum nikah. Tunggu Mbak dulu kayaknya. Doain aja ya Bu semuanya lancar."
Para orangtua mengangguk mendengar pembelaan Adit yang masuk akal, namun sayangnya bagi Sena ucapan Adit barusan terdengar hanya sebuah alasan yang kebetulan masuk akal.
"Cobain ini Sen, ini enak."
Adit mulai melihat respon tidak enak dari Sena. Ia mengambil sushi yang diatasnya terdapat saus mentai. Adit ingin menyuapkan sushi yang ia ambil di sumpitnya untuk Sena, namun Sena acuh tidak memperdulikan sikap Adit yang memintanya membuka mulut.
Mita menyadari moment tersebut menyikut tangan Sena yang berada di samping kirinya.
Sena si ekpresif yang sensitif, pikir Mita.
Hingga akhirnya Adit menyerah, menyuapkan sushi tersebut ke dalam mulutnya.
"Enak padahal."
Rama tertawa melihat Adit yang kikuk.
"Mau kemana lagi nih kita habis ini?"
Sena mengarahkan matanya kepada semua yang hadir. Kecuali Adit yang tidak seinci pun ia lirik.
"Vegas yuk, deket dari sini naik pesawat cuma dua jam."
Rama mengusulkan sebuah saran.
"Ngapain ke Vegas?" Mita sedikit nge-gas.
"Biar tau suasana disana aja. Atau ke Los Angeles, Sena pengen banget pasti kesana."
Rama baru menyadari kekeliruan dalam memberikan saran. Xixixi.
"Mau dong mau." Sena terlihat bersemangat.
"Sena semangat banget."
Pak Romi langsung hafal, Sena pasti ingin belanja.
"Semangat dong, aku mau belanja sama Teteh. Oke Teh?"
"Sorry Sena, aku mau belanja berdua sama ATM berjalanku. Suamiku."
Semua yang hadir tertawa, terkecuali Sena.
"Curang banget mentang-mentang punya suami. Aku mah apa atuh, ngga punya suami."
Adit menatap Sena tajam. Tidak suka mendengar ucapan Sena barusan.
Adit menghabiskan makannya cepat lalu fokus dengan ponselnya, sudah tidak berselera gabung dalam pembicaraan.
Selama perjalanan pulang Adit lebih memilih bersama Yoga. Sementara Sena bersama Mita.
"Kamu jangan kaya gitu dong ke Adit, kasian tau dia."
"Kasian kenapa? Emang aku gimana tadi? Aku biasa aja."
"Tadi dia mau nyuapin kamu, tapi kamu diemin."
"Masa sih? Aku ngga liat."
Sena hanya beralasan.
"Kamu juga bilang ngga punya suami. Tapi kamu kan punya pacar. Adit pasti ngerasa dia ngga dianggap."
"Ngga salah kan aku?"
"Aku tuh ngomong gitu biar kamu jalannya sama Adit. Gimana sih aku dukung malah gitu."
Samar-samar Adit menguping pembicaraan dua perempuan yang memilih duduk did kursi mobil paling belakang.
Sena mengambil earphone di dalam tas selempang kecilnya. Ia memilih mendengarkan podcast sambil memejamkan mata.
"Luar biasa Nona Sena, aku yang disamping kamu ngga dianggap loh."
"Aku nganggap kamu. Pacar aku kan?"
"At least kamu bilang gitu tadi. Bukan cuma ngga punya suami. Ya aku tau, aku bukan suami kamu tapi aku kan pacar kamu."
"Pacar yang ngga mau jadiin aku istri?"
"Mau, aku mau. Tapi ngga dalam waktu dekat."
"Kenapa ngga bilang gitu tadi?"
Sena membalikan ucapannya.
"Harus banget aku ucapin depan orang banyak?"
__ADS_1
"Setidaknya kamu bilang kalau kamu punya niat untuk itu."
"Kamu mau nikah? Ayok. Kapan?"