Cinta Mita

Cinta Mita
Seperti memilih sepatu


__ADS_3

Sena


Pagi itu ia tengah sarapan nasi goreng buatan Wa Cucun. Nasi yang dimasak bersama bumbu iris dan ikan asin teri kecil-kecil menambah keseruan saat memakan nya karena memiliki sensasi tersendiri ketika di kunyah.


Hari ini kuliahnya masuk setelah shalat Jumat, sedikit lebih longgar dari hari biasanya sehingga ia bisa sedikit bersantai.


Ponsel yang ia simpan di samping gelas berisik air putih nya bergetar, telepon masuk dari Mama nya.


"Assalamualaikum. Iya Mah.. aku lagi sarapan."


Bu Lia cerita tentang Rama yang tidak pulang semalam. Bahkan tidak menjawab telepon dan chat dari Mamanya.


"Kakak lagi kesel kali sama Mama." tebaknya, karena Kakak nya ini tidak pernah seperti ini.


"Belum lama Mama ke kosan Mita."


Mama pun menceritakan maksud dan tujuannya saat ke kosan Mita beberapa hari lalu. Ia pun mengangguk, merasa tau alasan dibalik tidak pulang nya Rama. Ia berkesimpulan kakak nya sedang marah dan memilih tidak pulang.


"Coba kamu tanya Kakak tidur dimana semalam. Biar Mama tenang, Mama mau ke kampus dulu. Kamu jaga kesehatan, rajin belajar."


"Iya nanti aku tanya Kakak. Coba kirimin nomornya Mita Mah."


"Bisa-bisanya Rama Yudha." ia menggelengkan kepalanya sambil bergumanan dalam hati saat menutup panggilan telepon dari Mama.


Selesai sarapan ia kembali ke kamar, menghubungi Damar yang semalam ia lupakan karena fokus mengerjakan tugas sampai tertidur. Bangun tidur dia lihat ponselnya yang berisi 10 chat dan 5 video call yang tidak ia jawab.


"Maaf semalem aku ketiduran."


"Iya nggak apa-apa Sena sayang."


"Kamu kok nggak pernah marah sama aku?"


"Kamu pengen aku marah? Oke aku marah." Damar pura-pura memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Marahnya bikin gemes." ia tersenyum. Damar pun ikut tersenyum.


"Aku sambil siap-siap ke kampus ya sayang." Damar terlihat sedang memakan roti bakar sambil membereskan beberapa buku nya ke dalam tas.


"Iya." Berbicara dengan Damar membuat mood nya lebih baik.


"How's your day?" Damar bertanya namun matanya masih fokus melihat buku nya satu per satu.


"Not bad." .


"Kenapa? something happened? Aku masih punya 10 menit untuk dengerin kamu." ia menghentikan aktifitasnya lalu melihat jam di tangan kanannya. Menyimpan kembali semua buku yang dipegangnya ke atas meja lalu fokus kembali menatap ponselnya.


"Tadi Mama telepon, bilang kalau Kakak semalam nggak pulang. Dia ngga pernah nggak ada kabar kayak gini. Kakak kayaknya marah hubunganya nggak disetujui. Aku heran aja, kenapa bisa segitu suka nya sama Mita?"


Damar pendengar yang baik. Ia akan berpendapat jika sedang dimintai pendapat, namun terkadang hanya mendengarkan ketika ia hanya butuh untuk didengarkan.


"Mita mana?"


"Anak angkat Mama yang kuliah di Bogor. Kak Rama suka sama dia, kayaknya suka yang serius."


"Mungkin." Ia mengangkat bahu.


Damar tersenyum, senyum yang ia rindu.


"Laki-laki tuh kalau suka sama perempuan, terus ditanya kenapa bisa suka sama orang itu kita juga nggak tau. Kayak kamu beli sepatu, walaupun ada alasan yang melatarbelakangi alasan suka nya, misal suka modelnya, warnanya, atau apa gitu. Itu tuh bukan alasan utama sebenarnya. Tapi karena kamu klik aja gitu jadi milih sepatu itu." ucap Damar panjang lebar.


Ia mengangguk setuju.


"Kalau alasannya cantik, yang cantik banyak. Bahkan yang lebih cantik juga ada. Intinya gitu, kakak kamu suka aja tanpa alasan." Damar terlihat meyakinkan.


"Oh gitu... Yang lebih cantik dari aku siapa? Anak NTU juga?" Fokus nya menjadi terbagi. Topik terakhir yg Damar angkat lebih menarik perhatiannya sekarang.


"Hah gimana?" Damar nampak berpikir ulang dengan apa yang telah ia katakan.

__ADS_1


"Tadi kamu bilang, laki-laki kalau suka sama perempuan nggak ada alasan khusus. Bukan karena cantik, karena yang cantik banyak bahkan yang lebih cantik juga ada. Siapa yang lebih cantik dari aku? Instagram nya apa aku mau lihat." ia melambatkan ucapannya dengan intonasi yang jelas dan dalam.


Blunder terburuk sepanjang abad.


"Masa sih aku bilang gitu? Kamu salah denger kali." Damar menggaruk kepala nya.


"By the way, udah 10 menit aku ke kampus dulu ya." lanjutnya lalu bangun dari kursi belajar nya.


"Mana ada 10 menit. Belum."


Sena mencibir.


*****


Fery


"Tau lu kabur ke hotel gua bawa bini gua. Gua suruh Rena kemari ya? Tapi lu yang bayar kamarnya." Fery yang masih belum sadar betul dari tidurnya, berbicara sambil memeluk bantal dengan mata setengah terpejam.


"Nggak ada, enak aja lu mau enak-enak saat gua kaya gini. Hati nurani lu dimana bajingan!"


"Gua tinggal di Bandung. Ngeladenin bocah tua labil patah hati kayak lu nggak usah pake hati nurani."


"Kamprett, fasih banget ngatain gua."


Fery tidak menjawab. "Kasep kieu ditolak keneh wae heran." Rama bercermin seraya berkata dalam hati.


"Lu siapin syarat visa liburan ke Amrik sama Rena. Biaya honeymoon gua yang cover. Bikin anak yang banyak, made in USA. Jangan malu-maluin gua."


"Edan sultan aing." Fery bangun dengan bersemangat sambil melemparkan selimut nya.


"Tapi lu pantau Mita sebulan ini. Gua udah nggak ada waktu lagi, lusa berangkat. Kita ketemu bulan depan disana." Ia berbalik ke arah Fery sambil menunjuknya.


"Oh pamrih lu ya, ada imbalannya." Fery mendengus kesal.

__ADS_1


"Iyalah. There ain't no such thing as a free lunch. Nggak ada namanya makan siang gratis. Amrik men, lu kira gua bayarin lu ke Jogja. Gua tunggu kabar Mita disana nanti." Ia pun meninggalkan Fery di kamar hotel untuk segera menuju "Treehouse".


__ADS_2