Cinta Mita

Cinta Mita
Malam terakhir


__ADS_3

Rama


Ia sudah memasang alarm pukul 1 dini hari, untuk bersiap ke bandara.


Meskipun ia baru tidur 2 jam yang lalu.


Semalam menjadi malam terakhir nya di rumah, yang ia habiskan dengan saling memberi nasihat antar anggota keluarga. Sena pun tak luput dari ceramahnya, tentu saja tentang pacar nya di Singapura sana.


''Kamu serius belajar disana biar cepet bisa pulang. Kembangkan usaha kamu disini. Kasian Fima kalau ngurus semuanya sendiri."


Tentu saja ayahnya menjadi yang pertama memberikan nasihat untuknya. Namun masih saja Fima yang Papa bahas, ia mendesah.


''Kalau keteteran nanti Fery aja lah suruh kerja disini. Apartmen yang di BSD biar dia yang isi. Aku sengaja mau disana lama. Disini juga mau apa toh?" ia menjawab nasihat dari ayahnya dengan santai sambil mengganti channel TV dengan remote di genggamannya.


"Ngapain lama-lama di sana? Kayak ngga punya keluarga.'' tatap ayahnya sinis yang sedang membaca jurnal mengenai jantung dalam bahasa Inggris.


''Aku bisa bikin keluarga baru disana Pah. Di agama kita kalau laki-laki bisa nikah sendiri kan ngga perlu sama orangtua?'' ia iseng ngerjain Papa nya yang satu ini. Tentunya hanya ia yang berani begini, Sena mana berani. Xixixi


"Awas aja kamu berani-berani nikah tanpa bilang Papa Mama. Kamu pikir kamu lahir dari batu?" suara ayahnya tiba-tiba meninggi.


Ia, Sena dan ibunya tertawa terbahak-bahak melihat ayahnya berdiri kesal sambil berkaca pinggang.


''Yang sekiranya bisa mudah, ngga usah dipersulit dong Pah." dengan gaya yang dibuat sesantai mungkin, untuk menambah kekesalan ayahnya.


"Anak ini, pemikirannya bikin orangtua khawatir." Ayahnya ini kadangkala lucu, suka ngerjain orang tapi paranoid ketika dikerjai balik. Bapack-bapack sekali.


"Isi kepala anak kesayangan Mama yang ini bahaya ini Mah." ayahnya menunjuk ia yang sedang tiduran di atas kaki Mamanya.


"Di sana kamu jangan macam-macam Rama. Ngerti kamu?" Kali ini ayahnya menatapnya dengan dahi mengkerut, tiba-tiba serius.


"Rama bercanda Pa..." Ibu nya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum kalau jahilnya ia sudah keluar.


"Nah Mama ngerti loh aku bercanda. Papa nih nge-gas aja." ia tersenyum jahil. Yang diikuti dengan tawa Sena dan ibunya.

__ADS_1


"Jangan lupa shalat Kak. Ramadhan nanti harus tetap puasa. Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. Tapi kita harus tetap menjaga identitas kemusliman kita dan jaga adat ketimuran. Mama percaya sama kamu." Ibunya yang selalu menyejukan pasti ia rindukan disana.


"Siap Mama sayang. Memang cuma Mama yang selalu percaya sama aku." ia melirik ke ayahnya sekilas, seolah sedang menyindir.


"Ke Papa kamu ngga pernah jawab kaya gitu, ke Mama kamu selalu manis." ayahnya protes.


"Papa protes aja kaya mahasiswa kita yang suka nya demo. Gantian Pa aku mau ngomong." ia menghentikan ucapannya sebelum nasihat-nasihat sok tua nya keluar.


"Papa inget umur Pa, jangan di rumah sakit terus. Coba deh Papa hitung, berapa kali shalat dalam sehari di rumah sakit? Kayaknya cuma Subuh Papa shalat di rumah ya kan Ma?"


Mamanya mengangguk.


"Mama kasian nih di rumah sendiri kalau Sena lagi di Bandung. Mama ke Bandung aja ya Ma minta anter Pak Karman kalau Papa terlalu sibuk di rumah sakit. Biarin Papa sibuk sendiri ada Bi Imas yang ngurusin."


Mendengar ucapannya Papanya terlihat menggerutu tak terima. Seolah berakata "Enak aja".


Ayahnya imi memang lebih banyak mengahabiskan waktunya di rumah sakit. Ia merupakan salah seorang ahli tindakan intervensi pada jantung yang turut mempersiapkan berdirinya salah satu rumah sakit jantung di Jakarta. Beliau bekerja dan melayani para pasiennya tanpa kenal lelah sambil melakukan konsultasi tindakan di rumah sakit swasta lain. Maka tidak heran dengan padatnya kesibukan beliau, membuatnya jarang terlihat di rumah.


Mama, Papa dan Sena mendengarkan dengan senyuman tak lepas dari bibir tentu saja terkecuali Papa. Xixixi


"Sena kamu jangan kebanyakan main dan belanja, belajar mandiri." setika Sena kembali fokus pada ponsel di tangannya , seolah tidak mau mendengarkan nasihatnya.


"Aku mah main juga ngga lupa belajar Kak. Buktinya aku bisa masuk ITB." sombong betul anak ini pikirnya. Adiknya ini memang tergolong cerdas. Jika ia sudah bosan belajar, maka ia akan memberi reward kepada diri sendiri dengan cara nonton drama Korea seharian atau pergi belanja ke mall. Gaya anak metropolitan.


"Sena jangan dikasih pergi-pergian jauh Ma. Kalau Sena ke Singapur atau Malaysia jangan dikasih sendiri. Paspor Sena tahan, jangan kasih dia."


Menurutnya letak Malaysia yang berdekatan dengan Singapura membuat adanya kemungkinan Sena dan pacarnya bisa saja bertemu di Malaysia untuk menghilangkan jejak Singapura yang sudah ia ketahui.


Sena menatap nya tajam, mata nya yang tadi sempat ia fokuskan ke layar ponsel sekarang berpindah menatap dirinya seolah khawatir rahasianya terbongkar. Ia merasa di awang-awang bisa menindas Papa dan Sena malam ini. Hihihi


''Kenapa memangnya paspor Sena?" Mama dan Papa nya menatap tidak mengerti. Membuat Sena semakin melotot menatapnya.


"Takut hilang kalau Sena yang pegang, dokumen negara ngga boleh hilang bisa kena denda. Nanti kan Mama kalau ke tempat aku sama Sena kan?" ia melirik ke arah Sena. Dan terdengar kata "Ish" keluar dari mulut Sena. Ia sukses membuat Sena deg-degan.

__ADS_1


Karena memang jika paspor hilang akan kena denda satu juta rupiah, Dan 500 ribu untuk paspor rusak karena dianggap lalai dengan dokumen penting negara, dimana biaya tersebut belum termasuk biaya pembuatan paspor baru.


Saat semua anggota keluarganya sudah kembali ke kamar masing-masing, ia yang sudah di kamar dengan rasa kantuknya seketika terbangun karena teringat suatu hal. Ia belum memperingati Sena secara pribadi.


****


Sena


Hampir saja ia terlelap, sebelum tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar miliknya. Ternyata Rama yang ingin bicara empat mata dengannya sudah berada di depan pintu kamarnya.


Ia yang sudah diujung mimpi, terpaksa membuka pintu kamar untuk Rama. Kakak laki-laki yang tadi sempat mengintimidasi karena tahu rahasia terbesarnya.


"Siapa nama pacar kamu?" Rama menodong langsung tanpa basa-basi karena sepertinya ia sendiri sudah mengantuk.


"Buat apa Kakak tau?" Ia kembali ke kasur tidak langsung menjawab pertanyaan dari Rama.


"Siapa nama lengkap pacar kamu?" Rama meninggikan suara, tak menanggapi pertanyaannya barusan.


"Damara Gunawan." Ia sudah malas tatkala menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak terlalu penting dengan pipi menempel di guling dan mata terpejam.


"Kalau dia minta yang macam-macam kamu jangan kasih. Kalau dia minta PAP yang aneh-aneh langsung kamu putusin berarti dia bukan laki-laki baik. Kakak juga laki-laki jadi tau yang ada di otak anak kemarin sore kaya dia."


Ia sebenarnya tidak terlalu paham apa yang dibicarakan Kakak nya ini. Namun secara garis besar ia tahu maksud dari omongan Rama. Intinya "jangan macam-macam".


"Jangan tidur dulu, kamu denger Kakak nggak Sen?" Rama mengambil guling yang dipeluknya.


"Aku denger Kak..."


Kakak nya ini, saat ia merasa sebagai Kakak maka ia akan membahasakan dirinya dengan sebutan "Kakak" bukan "aku" seperti biasanya. Saat itu biasanya kalimat-kalimat perintah akan ia keluarkan. Tidak mau menerima bantahan ataupun penolakan.


"Inget ya, kalau kamu macam-macam sama dia, Kakak seret kamu ke KUA nikah langsung disana. Kalau Papa nggak mau nikahin kamu, Kakak sendiri yang jadi wali kamu."


"Kakak kenapa sih, aku ngga pernah ngapa-ngapain. Over banget."

__ADS_1


"Udah ah aku ngantuk. Kakak juga tidur nanti telat."


Ia mendorong Rama keluar dari kamarnya. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi meminta haknya malam ini.


__ADS_2