Cinta Mita

Cinta Mita
Usaha Sang Selebgram


__ADS_3

Setelah Rama memberi tahu nya bahwa Sena biasa menggunakan barang brended, ia memutar otak bagaimana caranya bisa save uang dan mendapatkan uang lebih banyak. Saat di Amerika nanti Adit ingin memberi Sena sesuatu. Ia ingin membuat kencannya pertamanya dengan Sena berkesan.


Sementara selama di Jepang ia hanya mengandalkan jatah uang bulanan dari ayahnya, dan gaji dari guru les bahasa Inggris secara online yang tidak seberapa. Jauh nilainya dibandingkan tarif endorsement yang biasa ia patok. Sementara passif income dari usaha kos-kosan dan kafe sudah diserahkan kepada Ibunya yang full ditabung dan di depositokan, tidak boleh diganggu gugat. Mirisnya tabungannya kian menipis hingga Adit jadi berpikir ulang akan membuka kembali jasa endorse.


Setelah meyakinkan diri akan ikut ke US demi kekasih, Adit cek harga tiket pesawat Tokyo Seattle ternyata di angka yang lumayan untuk kondisi keuangannya sekarang. Ia harus menyiapkan uang untuk tiket pesawat pulang pergi 110 juta untuk tiket pesawat kelas bisnis.


"Wah bisa abis duit tabungan gua kalau gini caranya."


Ia menghitung ulang perkiraan pengeluaran nya selama di US nanti. Meski liburan bersama keluarga Sena akan terjamin seperti saat ke US tahun lalu, tapi tetap saja ia harus menyiapkan budget lebih karena ingin mengajak Sena pergi berdua.


Entah ilham dari mana, ia teringat bahwa kelas penerbangan ada juga kelas ekonomi yang lebih murah. Iseng Adit ngecek harga tiket pesawat kelas ekonomi ternyata hanya 14 juta an saja. Betapa shock nya Adit yang tidak pernah merasakan kursi kelas ekonomi saat mengetahui ternyata bedanya mencapai 40juta lebih sekali jalan, artinya selisihnya mencapai 80 juta pulang pergi.


Adit jadi penasaran perbedaan harga tiket pesawat Singapura Tokyo. Dan ia tercengang untuk kedua kalinya saat tau harga tiket pesawat pulang ke Tokyo kelas ekonomi hanya 3 juta padahal ia sudah membeli tiket pulang kelas bisnis seharga 30 juta.


Adit pun menghubungi call centre maskapai untuk menanyakan proses refund karena akan mengajukan pembatalan dan mengganti kelasnya menjadi ekonomi saja.


"Demi kamu aku turun kelas, Sen !"


Yang penting bisa kembali ke Tokyo, pikir Adit. Ia sudah bertekad untuk memangkas pengeluaran nya yang tidak penting agar tabungannya tetap bisa bernafas. Sekali lagi semuanya demi Sena yang katanya sudah terbiasa memakai barang branded.


Begitu sampai di apartemen sehabis penerbangan pulang dari Singapura, Adit langsung merebahkan tubuhnya, meluruskan kakinya karena terasa pegal. Ternyata jarak antar kursi kelas ekonomi lebih dekat satu sama lain. Tidak seperti kelas bisnis yang jarak antar kursinya jauh, sehingga kaki lebih leluasa untuk bergerak.


Selama hidupnya, Adit belum pernah merasakan sekalipun kursi pesawat kelas ekonomi. Jika dibandingkan dengan Putri dan Abimanyu, tentu Adit adalah anak paling beruntung karena keluarganya sudah mapan saat Adit lahir. Kedua kakak nya pernah merasakan kursi kelas ekonomi, namun ia sendiri belum.


"Sen, lagi apa? Aku pengen pijit tapi disini ngga tau jasa pijat yang beneran itu yang mana. Soalnya lebih banyak pijat plus plus."


Adit merebahkan tubuhnya sambil mengetikan whatspp untuk Sena. Mengutuk diri sendiri menghabiskan uang ke Singapura hanya untuk menemui laki-laki brengsek.


Sepanjang perjalanan yang memakan waktu 7 jam 40 menit, di dalam pesawat kakinya sering kesemutan. Hingga saat pesawat landing di Bandara Narita Tokyo telapak kakinya terasa kebas. Sepertinya ia harus membiasakan naik pesawat ekonomi demi menghemat.


"Kamu kenapa emangnya? Ngga enak badan?"


Sena langsung video call Adit padahal sedang mengerjakan tugas dengan teman-temannya di kosan Sarah, teman sekelompoknya yang jarak kosannya paling dekat dengan kampus.


"Kaki aku pegel banget."


"Kok bisa? Abis ngapain?"


Akhirnya Adit menceritakan perjalanan Singapura Tokyo menggunakan pesawat kelas ekonomi.


"Kenapa ambil ekonomi? Kalau ngga punya uang kenapa maksain ke Singapura?"


Sena deg-degan, khawatir Adit kehabisan uang. Dengan Damar ia jarang membicarakan uang, apakah Adit sesusah itu ekonominya? Padahal keluarga Adit juga keluarga berada.


"Aku lagi hemat. Ternyata beda nya jauh banget ekonomi cuma 3juta, akhirnya tiket yang udah aku beli harga 30 juta aku refund."


"Tapi kan pegel banget Mas, 7 jam loh mana kanan kiri dempet banget kan kalau ekonomi."


Teman-temannya ikut menyimak ucapan Sena. Meskipun Sena menggunakan earphone, namun suara Sena masih terdengar jelas oleh mereka.


"30juta nyaman sama 3juta pegel mendingan yang nyaman dong Mas. Hemat sih hemat, tapi jangan nyiksa."


Sena lebih parah lagi, ratu yang tidak pernah susah, urusan uang menjadi hal mudah baginya.


"Ya lumayanlah, yang penting bisa nyampe apartemen. Aku ngga kenapa-kenapa Sen."


Adit menenangkan Sena, naik kelas ekonomi pun bukan masalah.


"Ke Seattle gimana? Kalau dari Jakarta yang bisnis 50, dari Tokyo berapa?"


Sena merasa khawatir memberatkan Adit.


Teman-temannya yang kebanyakàn rakyat jelata saling memandang satu sama lain.


Tiket pesawat 50 juta? can't relate. (ngga paham)


Sena masih tidak menyadari teman-temannya memperhatikan obrolannya dengan Adit, yang sudah tersebar ke mahasiswa seangkatan bahwa Sena in relationships dengan selebgram Aditya Wiraguna.


"Sekitar segitu juga. Udah ada tanggal pastinya kamu berangkat?"


"Tanggal 17 Mas. Kalau kamu kemahalan, ngga pulang atau ngga ikut ke wisuda kakak juga ngga apa-apa. Papa suka penelitian atau seminar ke Jepang, nanti aku aja yang kesana ikut Papa."


Sena ingin menawarkan diri membelikan tiket pesawat untuk Adit, namun khawatir Adit tersinggung.


"Aku masih ada uang buat beli tiket Sen, kamu tenang aja. Aku hemat bukan berarti ngga ada uang kan?"

__ADS_1


Adit juga tidak nyaman membicarakan uang dengan perempuan, bukan style nya.


"Atau kita patungan aja kali ya Mas. Tiket aku kan udah dibeliin Papa, aku beli tiket berangkat kamu, kamu beli tiket pulang. Gitu aja ya?"


"Eh ngga usah. Aku bisa beli sendiri."


Gila kali tiket doang dibeliin cewek, ini masalah harga diri. Rama tau bisa dipecat dari calon adik ipar, bahaya. Sedangkan ia sudah bela-belain pulang naik ekonomi.


"Bisnis ya, Seattle jauh mas. Jadi apa kaki kamu nanti 19 jam loh."


"Iya gimana nanti, pacarku bawel."


Biarlah urusan ekonomi atau bisnis Sena tidak perlu tau. Xixixi.


Setelah Sena memberikan tanggal pasti keberangkatan ke US, Adit langsung pesan tiket pesawat demi mendapatkan harga tiket murah. Karena jika memesan tiket untuk waktu dekat atau mendadak, kemungkinan besar harga tiket pesawat sudah mahal.


Gerakan selanjutnya adalah menghubungi Mbak Putri untuk menawarkan kepada teman-teman kakak nya untuk memakai jasa nya kembali sebagai brand ambassador, model atau endorsement. Semuanya demi Sena.


"Uang mu habis tah? Katanya mau off selamanya, ngga mau endorse lagi."


"Gaji ngajar kecil banget Mbak."


"Iya lah kamu bandingin tarif endorse sama gaji guru les. Yo jauh."


"Tabunganku mengenaskan, kalau teman Mbak ada yang mau pakai jasa ku, aku udah open lagi. Aku masukin kontak Mbak juga ya di instagram ku."


"Eee opo meneh."


"Tolong lah Mbak."


"Yaudahlah."


"Mbak..."


"Apa lagi?"


"Ini terakhir aku janji, aku suntuk pengen ke US, tambahin buat tiket aja sebalik. Sisa nya pakai uang ku, atau Mba yang maintain uangku ke Ibu, bulan ini aku ambil dulu dari kosan. Endorsement jalan aku ngga minta lagi, suwer."


Seperti kebanyakan anak bungsu, jalan terakhirnya adalah meminta belas kasihan kakak setelah tidak mungkin lagi meminta kepada orangtua. Bisa habis dimarahin Ayahnya kalau meminta uang tambahan lagi.


Adit merasa cukup dengan suntikan dana sebesar itu, karena sudah cukup untuk mengganti uangnya yang ia pakai untuk membeli tiket kelas ekonomi.


"Perasaan Mbak aja, Mbak ngga kenal."


Adit belum berniat membuka hubunganya dengan Sena di hadapan keluarganya. Ia baru memulai, tidak ingin kejadian seperti Mita terulang lagi.


"Sen, aku udah booking tiket, nyampe sana sehari sebelum kamu sampe, biar bisa jemput kamu."


Kini Adit sudah siap bertemu Sena, perempuan yang ia harap menjadi pelabuhan nya terakhir.


Sena tersenyum, permasalahan dengan Damar sudah tidak ia pikirkan meski laki-laki itu masih terus mengirim DM untuknya. Kemajuan Adit sudah sangat baik, tidak pernah mengungkit Mita dan ia mulai merasa bahwa hati Adit sudah untuknya. Semoga.


Sekarang Mita lah tempat ia mencurahkan isi hati selain sahabatnya sejak SMA, yaitu Oliv dan Dinda.


"Teteh, ada Kakak ngga disitu?"


Mita mengarahkan kamera ponselnya pada pria yang sedang fokus dengan laptopnya di ruangan kerja Rama.


"Sayang dicari Sena."


"Ih ampun, kayaknya Kakak sama Teteh 24 jam barengan."


Mita tertawa, lalu apa salahnya?


"Kenapa nanyain aku?"


Rama berteriak namun matanya tetap mengarah ke laptop.


"Aku pengen cerita berdua teteh doang, ngga pengen kakak denger. Weekend ke Bandung dong teh, kita girls day out."


"Aku mau pulang ke Cianjur Sen, mau shopping."


"Ihh curang amat sih berduaan terus. Aku disini sendirian terus."


Rama teringat Adit, laki-laki yang menghubunginya beberapa hari lalu.

__ADS_1


"Adit di Jepang kerja apa Dek?"


"Ngajar les bahasa Inggris Kak.”


"What?"


"Kenapa emangnya?"


"Dari ngajar bisa buat beli tas kamu?"


Sena paham maksud Rama.


"Ngga boleh gitu Kak. Dia kan cuma sambilan doang ngisi waktu dengan Hal bermanfaat, kalau udah lulus kuliah kan nanti kerjaannya juga lebih bagus lagi."


Sena tidak suka Rama meremehkan Adit.


"Pacarannya nanti aja kalau dia udah kerja bagus. Kamu mau dijajanin pakai uang orangtua nya? Aku mah ngga banget ngejajanin cewek pake uang orangtua."


Bagi Sena ucapan Rama barusahan seperti bisikan-bisikan syeitan.


"Ih aku juga belum mau dijajanin, aku masih punya uang sendiri. Kalau jalan bayar sendiri-sendiri aja. Kalau dia udah kerja boleh deh jajanin aku. Aku bukan cewek matre ya, sorry."


"Apa nya sih yang istimewa dari Adit?"


Sena terlihat begitu keukeuh menyukai Adit.


"Dia baik Kak. Kalau ngobrol tuh ngga pernah ngobrolin fisik."


"Ngga kaya Abang dulu, aku pengen kamu disini peluk kamu." Mita mencoba menirukan ucapan Rama saat Rama masih di US.


"Nah bener tuh, cowok suka banget kaya gitu. Ih geli aku mah kalau inget mantan aku."


Padahal dulu juga Sena suka, xixixi.


"Aku mah wajar ke calon istri. Kamu sama Adit apa? Awas aja kamu gitu-gituan, dia kerja aja belum."


"Dia punya usaha keluarga juga tau Kak. Kalau ngga kerja pun hidup aku ngga susah-susah amat."


"Kaya RM food ngga perusahaan nya?"


"Ih sebel, sok banget sih."


"Teh pake earphone dong aku may nanya."


"Apa sih rahasia-rahasiaan segala. Teteh pake earphone juga nanti cerita ke aku."


Sena menarik nafas kesal, tapi hanya Mita yang bisa menjadi sumber informasinya saat ini.


"Teh, keuangan Adit gimana? Teteh kan pernah jadi manager nya, seenggaknya tau kondisi keuangan dia. Tabungannya ada berapa?"


"Wah itu kamu kepo banget namanya. Belum jadi istri udah se-kepo itu."


"Bukan gitu Kak, dia lagi pegel-pegel ternyata kemarin pulang dari Singapur dia naik kelas ekonomi, padahal udah pesen tiket bisnis akhirnya dia refund ganti kelas."


Rama menimbang-nimbang sesuatu.


"Tabungan dia bagus kok. Aset dia juga lumayan untuk ukuran cowok yang belum kerja secara profesional. Dia kan pasti dapet passif income dari kos-kosan juga harusnya. Kosan sama kafe nya lumayan loh."


Mita teringat sesuatu.


"Kayaknya karena omongan Abang nyuruh kerja yang rajin deh, aku hafal Adit, dia pasti mikirin banget, jadi dia hemat."


"Kapan kakak ngomong gitu ke Adit? Ngomong apa aja?"


"Abang bilang barang-barang kamu brended, main kamu jauh, skincare kamu mahal, disuruh kerja yang rajin."


Rama tersenyum ingat ucapannya kemarin.


"Ihh Kakak kok ngomong gitu. Dia jadi nyiksa diri sendiri gitu kan."


"Se ekonomi-ekonomi nya maskapai full service yang mahal, ngga akan sengsara banget Dek. Lebay aja dia tuh, ngga pernah susah. Kecuali pesawat budget yang penting sampe, itu emang nyiksa banget."


Rama senang, setidaknya Adit memiliki usaha menabung untuk Sena.


"Kamu bilang aja tiket pulang jangan beli dulu, kita belum tau pulang kapan. Mintain foto paspor sama KTP nya, bilang aja jaga-jaga takut hilang jadi ada datanya tetap ingat. Tiket pulang aku yang beli."

__ADS_1


"Bagus, kakak tanggung jawab."


Sena kesal sekaligus senang, Adit sudah menunjukan keseriusannya.


__ADS_2