
Minggu sore setelah Rama selesai menemani Yoga kursus menyetir, kini gilaran Rama dan Mita menuju rumah sehat, sebutan untuk rumah orangtua Rama yang letaknya di belakang Rumah Sakit. Sementara Yoga kembali ke apartemen sendiri, karena Bu Rini sudah kembali ke Cianjur.
"Yakin ngga mau ikut ke rumah sehat?"
Sebelum berangkat, Rama masih berusaha membujuk Yoga agar mau ikut ke rumah orangtuanya.
"Yakin Bang. Kalau ada apa-apa nanti Yoga nyusul minta anter Pak Tarjo atau ke apartemennya Bang Fery."
Rama mengangguk. Yoga keren, yakin dengan pilihannya sendiri namun tetap memikirkan alternatif lain jika pilihannya tidak sesuai dengan rencana awal.
Jalanan di Minggu sore cukup ramai, namun tidak sampai macet. Sesekali Mita mengusap tangan Rama di armrest. Rama hanya tersenyum, melihat tingkah menggemaskan istrinya.
"Pegang-pegang terus. Ada Pak Yanto tau."
Rama menggigit pundak Mita. Pak Yanto hanya mengintip kecil dari spion depan.
Sudah sebeberapa hari ini, Rama jarang membawa mobil sendiri. Jaraka apartemen ke pabrik pun, sebisa mungkin diantar Pak Tarjo atau Pak Yanto. Karena fokusnya di pabrik semakin bertambah, untuk menyeimbangi fokus Fery yang berkurang karena permasalahannya.
"Lusa aku mau ke Jepang, Ayang. Bisa ngga ya kalau aku ngga ada kamu?"
"Nah lho gimana coba? Sena udah nyiapin semuanya. Ngamuk dia kalau kamu ngga jadi."
"Dia mah suka-suka aja kalau aku ngga jadi berangkat. Kalau aku ngga jadi tapi dia pasti tetap berangkat. Ketemuan sama Adit."
Rama baru sadar akan Adit.
"Kamu harus kesana berarti. Sayang visa, tiket pesawat, hotel."
Kepalang basah membiarkan Mita berangkat tanpa dirinya. Daripada Sena pergi tanpa pengawasan?
"Abang ngga bisa banget ikut emangnya? Abang kan bos nya."
Mita tidak tahu, Rama segera ingin balik modal.
__ADS_1
"Fery lagi banyak masalah, aku ngga bisa ngasih semua kerjaan ke Fery sementara ini. Fokusnya dia udah ngga 100% di pabrik."
Permasalahan Fery dan Rena tentu manjadi masalah Rama juga. Karena berpengaruh terhadap pekerjaannya di pabrik.
"Masalah apa sih? Aku jadi kepo."
"Hanya boleh didengar oleh orang dewasa."
"Emang nya aku belum dewasa? Aku mau jadi ibu halooo kurang dewasa gimana."
Rama tertawa.
Begitu sampai di rumah sehat, Sena langsung heboh. Bahkan seluruh anggota keluarga Rama sudah menanti kedatangan bumil dan pakmil.
"Ihh baby bumb nya udah keliatan lucu banget. Ngga photoshoot gitu Teh?"
Sena langsung fokus ke perut Mita yang sudah terlihat menonjol.
Mita memang lain dari yang lain.
"Sama aku aja atuh sini aku fotoin."
"Aku mah malu di foto gitu. Suka ngga percaya diri."
Mita berjalan ke arah Pak Romi untuk memberikan tangan hendak salam. Karena sejak pertama masuk tadi, ia sudah diseruduk Sena yang heboh sendiri.
"Ya Allah bumil nya cantik gini, bisa-bisanya ngga PD."
"Berisik deh yang lebih cantik."
"Udah pasti kalau itu sih."
Persis. Sena persis seperti Rama, percaya diri tingkat dewa.
__ADS_1
"Cek buat lusa yuk, Teh."
Sena menarik tangan Mita untuk ikut ke kamarnya.
"Sen, pelan-pelan nanti Mita jatuh."
Pak Romi protes atas sikap Sena yang main tarik.
"Bar-bar amat, Dek."
"Ngga kenceng kok ini."
Mita hanya bisa menuruti keinginan tuan putri.
"Semangat amat sih, Non."
"Coba cek, ada yang kurang ngga menurut Teteh?"
Begitu masuk kamar yang luasnya berukuran 6x4 meter milik Sena, Mita tercengang dengan empat koper besar yang belum ditutup.
"Ya ampun. Kamu mau pindah apa gimana Sen?"
"Kenapa? Kedikitan ngga sih bawaan aku?"
"Kebanyakan ! Ya Allah !"
Rama ikut masuk ke kamar yang sudah hampir setahun tidak ia datangi.
"Mau kuliah di Jepang, Dek? Ngga sekalian bawa sama lemari-lemarinya? Kamu kan disana cuma empat hari."
"Empat hari kan rencananya, bisa jadi molor kan? Kalau nyonya Mita tiba-tiba pengen extend aku selalu siap." (extend : menambah hari)
Wajah Rama mengkerut, sangat tidak setuju jika harus berpisah dengan Mita lebih dari empat hari !
__ADS_1