Cinta Mita

Cinta Mita
Gadis manis kosan Malabar


__ADS_3

Adit


Semester kali ini ia sedikit longgar, biasanya jika banyak waktu luang seperti sekarang ia akan mendatangi usaha nya satu-satu.


Mengingat followers nya banyak anak sekolah dan kuliahan maka ia menjadikan usaha kos-kosan, kafe-kafe kecil sekitar kampus menjadi fokusnya.


Bahkan beberapa followersnya yang masih SMA sudah merencakan kuliah di universitas yang ada kosannya Aditya Wiraguna. Sebegitu nge fans nya dengan cowok Jawa-Sunda ini.


Minggu ini ia berencana sidak ke kosannya di Jl. Malabar. Sengaja ia memilih kos-kosan Putri agar tidak banyak masalah dengan penghuni kos nya. Berkaca pada kosannya saat ini di Depok ada saja masalahnya. Terutama bawa perempuan ke dalam kamar. Kalau perempuan sejauh ini jarang ada yang berani bawa laki-laki ke dalam kamar.


Meskipun di Depok ia memiliki usaha kosan juga, namun ia memutuskan untuk tidak tinggal di kosan miliknya. Biar nggak ribet, begitu simpelnya.


''Kosan aman Bu saya tinggal?"


"Aman Mas."


"Suka ada laki-laki nggak yang dateng mencurigakan nggak? Saya anti sama yang mesum."


"Nggak ada yang aneh-aneh Mas. Paling saudara nya suka pada dateng jengukin."


Begitu ia keluar mobil, orang pertama yang ia temuin adalah Bu Wati, perempuan paruh baya yang ia titipi untuk menjaga kos-kosan miliknya.


Saat itu Bu Wati tengah menyiram tanaman di halaman belakang. Lokasi yang asri, sejuk, sangat ia sukai dari kosannya ini. Banyak pepohonan besar dipinggir jalan sehingga pejalan kaki merasa nyaman tidak kepanasan. Tidak heran ia betah untuk tinggal lama disana.


Di suatu siang saat sedang membaca buku di gazebo taman belakang sambil memperhatikan tukang bekerja.


"Lama Mas disini?" Pak Wahyu tukang langganan yang sedang merapikan beberapa atap yang bocor.


"Sebetahnya aja Pak. Depok Bogor masih oke kalau pulang pergi."


"Enak Mas masih muda udah punya usaha."


"Alhamdulillah buat nambah uang jajan Pak."


Tak lama datang seorang gadis dengan rok coklat panjang dengan cardigan krem, membawa tas laptop dan flat shoes di tangan kiri nya. Gadis manis yang anggun.


"Kos disini?" Adit bertanya pada gadis manis itu sambil minum es jeruk yang ia pesan di warung nasi sebelah .


"Iya Kak, baru masuk kuliah."


"Ini Mas Adit yang punya kosan. Ini Neng Mita Mas, dari Cianjur kan Neng?"


Bu Wati datang dengan sepiring pisang goreng yang ia beli dari abang-abang penjual gorengan di depan.


Mita mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Bu Wati.


"Pantesan baru lihat."

__ADS_1


Mita tersenyum, apa senyumannya selalu semanis itu? Bahaya, bisa diabetes.


Sejak saat itu yang biasanya ia bertapa di dalam kamar jika berada di kosan Malabar, kini ia menjadikan ruang tamu dan gazebo menjadi spot favorite nya. Untuk melihat Mita?


Hari itu hanya ada satu mata kuliah, tapi rasanya begitu berat kepala nya hari ini. Tubuhnya seakan tidak bisa diajak kompromi untuk diajak ngampus. Sehingga ia memutuskan ambil jatah bolos.


"Raf, gua izin ngga ke kampus. Nggak enak badan." Ia menelepon Raffi teman dekatnya di kelas.


Terasa kering tenggorokannya setelah makan sepotong roti namun belum sempat minum. Ia lupa mengisi ulang dispenser air di kamarnya. Dengan kaos polos berwarna hitam dan joger abu-abu berbahan katun ia melangkahkan kaki ke dapur umum.


Letak kamarnya di pojok kanan lantai 2 dapat melihat langsung ke lantai 1 dimana taman berada, karena posisi kamar-kamar yang melingkar. Fokus mata nya otomatis ke arah Mita dan teman-temannya sedang mengerjakan tugas di gazebo taman.


Begitu segelas air putih di tangannya, ia menuju arah taman belakang. Duduk diantara tanaman hias yang dirawat Bu Wati dengan posisi yang tidak jauh dari tempat Mita duduk.


Ada Niken teman kuliah Mita yang paling ia kenal karena dua hari lalu datang ke kosan. Sementara dua temannya yang lain baru kali ini ia lihat.


"Lagi ngerjain apa?" ia mendekat ke arah empat perempuan itu.


"Kewirus Mas." Seperti biasa, Niken yang supel merespon. Anak yang asik dijadikan teman. (Kewirus : Kewirausahaan)


"Bukunya Ir. Hendro ya? Aku juga baca."


Obrolan mengalir begitu saja. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Mita yang lebih banyak fokus pada buku dibanding ketiga temannya yang lain.


"Lanjutin biar cepet beres." ia pun kembali ke tempat duduk nya semula. Tidak ingin banyak bicara, hanya ingin banyak melihat Mita. Keindahan Tuhan yang ingin ia lihat hari ini.


Entah keinginan dari mana ia ingin makan siang dengan Mita hari ini. Namun bingung alibi apa yang harus ia gunakan.


Sampai Mita bangun menuju arah ruang tamu. Ia terus memperhatikan sambil pura-pura fokus pada HP di genggaman nya.


"Bingung gue, katanya barusan kakak angkat. Lo liat sendiri kan pas di kampus gimana romantisnya Rama nganterin Mita. Kakak dari hongkong, orang picek juga tau mereka saling suka.'' Ucap gadis yang belakangan ia ketahui bernama Irma menggebu-gebu, sampai ia yang posisi nya tidak terlalu dekat bisa mendengar dengan jelas ucapan anak itu.


"Biasalahh, abang adek zaman now mah." Indah yang berperawakan tinggi langsing sambil mengetik.


Ia penasaran dengan gadis Cianjur ini, disusulnya Mita ke arah ruang tamu. Di teras terlihat laki-laki berpenampilan santai namun terlihat maskulin. Berbeda jika dibandingkan dengan ia yang terkesan cuek tapi tetap stylish. Dengan penampilan santai ia lebih suka menggunakan kaos dan celana


"Liat aku... Kamu sibuk apa? Ngga suka aku kesini?''


Terdengar laki-laki itu bicara lebih keras bercampur nada kesal. Mereka sedang bertengkar, pikirnya dalam hati. Tentunya bukan adik dan kakak angkat biasa.


Namun ia tak dapat mendengar suara Mita. Tidak pernah ia dengar suara keras dari gadis itu. Hanya sesekali omongan dari laki-laki itu yang dapat ia dengar.


"Kamu lanjutin, aku tunggu."


Rupanya laki-laki itu keukeuh ingin bertemu Mita walaupun seperti nya Mita tidak mau. Pejuang sejati, cocok dengan wajahnya yang di atas rata-rata.


Ia pura-pura sibuk mencari buku di laci meja saat Mita memergokinya ada di sana. Mita memandangnya heran, ia menjadi gugup.

__ADS_1


"Siapa? Kalau tamu ajak masuk." hah kenapa nyuruh dia masuk, bodoh.


"Saudara Mas. Nggak usah, sebentar lagi pulang."


"Good, anak pintar. Ngga usah di suruh masuk." ia cekikikan dalam hati


"Oh. Masih lama nugasnya? Kita mie time gimana? Aku beli mie nya dulu ke ninimarket bentar."


Ia sedang mengeluarkan jurus-jurus pendekatan yang sering dilakukan teman-temannya saat bertemu adik tingkat.


"Wah makan siang gratis, makasih Mas. Aku ajak yang lain nggak apa-apa?"


Ia tersenyum, ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan.


Ia tunggu sekitar satu jam kemudian keluar untuk ke ninimarket belanja mie dan snack untuk Mita dan kawan-kawan. Karena baginya, untuk mendapatkan hati seseorang yang ia suka, harus sepaket dengan mengambil hati orang-orang dekatnya termasuk teman-temannya.


"Mas, Mita masih di dalem? Masih kerja kelompok ya?"


"Mita masih ngerjain tugas, Mas yang katanya kakak angkatnya Mita ya?"


Ia harus menekankan hubungan Mita dan laki-laki itu hanya sebatas adik dan kakak angkat tidak lebih. Karena yang ia lihat tidak demikian, sehingga ia merasa hubungan mereka perlu di luruskan.


''Belum beres ya?'' laki-laki ini tak berniat menanggapi hal lain selain keberadaan Mita di dalam. Semakin jelas. Mereka bukan adik dan kakak angkat pada umumnya.


''Masih ngerjain tugas. Mita nggak usah dijagain, ada saya.'' ia tepuk punggungnya lalu pergi. Entah keberanian dari mana ia bisa seberani itu. Sinting pikirnya menertawai diri sendiri.


"Hah? Maksudnya?"


"Bangsatt" terdengar pelan namun jelas makian dari laki-laki itu sambil menendang kaki kursi plastik yang hampir terpental.


Dengan berjalan kaki, ia sampai dalam waktu 10 menit saja. Senyaman itu ia berjalan di kota Bogor yang ia rasa lebih baik dari kepadatan Depok.


Ia pun memilih beberapa cemilan yang menjadi favorit teman-teman perempuan nya saat mengerjakan tugas bersama.


Begitu sampai di depan kosan, ia melihat Mita yang sedikit terisak ketika bicara dengan laki-laki yang disebut Rama oleh Irma tadi. Lama ia berada disana.


Sampai akhirnya Rama menarik tangan Mita ke dalam pelukannya. No. Dia tidak rela.


Ia pun berlari lalu menepis genggaman tangan Rama dan menarik tangan Mita menyuruhnya masuk.


"Anjing lepasin Mita.''


Ia semakin berani, menatap laki-laki yang lebih pantas jadi seniornya itu. Tapi untuk saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan senioritas. Dia pun menyukai Mita.


"Dia udah ngga mau sama lu bos. Harga diri lu sebagai laki-laki dimana hah maksa perempuan?"


''Ini kosan punya gua. Gua bisa panggil keamanan sini."

__ADS_1


Dia menang telak di kandang. Semesta sedang berbaik hati dengannya.


__ADS_2