Cinta Mita

Cinta Mita
Nasihat seorang Ibu


__ADS_3

Rama


Ia meninggalkan kosan di kawasan Malabar tersebut. Ia kemudikan setir tak tau kemana, mengikuti insting nya saja.


Jalanan di sekitar Taman Kencana yang macet saat itu tak ayal menjadi bulan-bulanan kemarahannya, para pengendara motor yang main salip sembarang tak luput dari makiannya.


"Bangsatt, jalanan bukan punya nenek moyang lu!"


Bahkan setir yang tidak melakukan apapun entah sudah berapa kali ia pukul.


*****


Mita


Ketika tengah mempelajari materi yang akan menjadi bahan quiz mata kuliah pengantar ilmu gizi, ponsel yang berada di atas kasurnya bergetar.


''Ibu''


Kontak Bu Lia yang ia simpan di ponselnya.


Sebelumnya ia hanya berkomunikasi dengan ibu angkatnya tersebut via chat untuk hal sehari-hari atau email untuk laporan keuangan bulanan. Panggilan dari beliau telepon kali ini membuatnya sedikit gugup setelah beberapa hari kemarin ia dan Rama berdebat tentang kepastian yang Rama pertanyakan.


"Assalamualaikum" kalimat pertama yang ia ucapkan hampir di semua percakapan telepon nya.


Bu Lia yang sedang berada di Bogor ingin melihat kosan Mita yang tidak jauh dari posisinya berada.


''Ibu tadi habis dari rumah teman SMA di daerah Villa Duta. Mumpung masih sore sekalian kesini.''


''Ibu jadi repot-repot kesini.''


''Ngga repot, gimana kuliah?''


Ibu memberikan sekantong roti yang pernah dibelikan Rama untuknya. Rupanya itu roti favourit keluarga.


Mereka berbincang seputar kuliah dan kegiatan sehari-hari Mita. Pembawaan Bu Lia yang hangat membuatnya nyaman untuk bercerita tentang dunia perkuliahan dan teman-temannya.


****


Bu Lia


''Kemarin Sena cerita tentang kamu sama Rama. Rama juga sempat cerita sedikit tentang kamu. Dari pandangan kamu sendiri gimana?''

__ADS_1


Deg.


Ia tak menyangka bahwa obralan ini akan menjadi inti dari pertemuan nya hari ini dengan Bu Lia.


''Kak Rama memang suka kesini Bu. Tapi nggak lebih dari sekedar teman, kalau kata Kak Rama aku kan anak angkat Ibu otomatis jadi adik angkat dia juga. Cuma itu nggak lebih.''


Pintar Rama beralasan mencari celah agar Mita bisa menerima kehadirannya. Sama seperti Pak Romi saat melakukan PDKT dulu, modus lama.


"Rama nggak pernah mengungkapkan perasaannya?"


Terlihat raut wajah yang tak nyaman dan gugup dari gadis cantik nan lugu ini.


"Pernah beberapa kali. Terakhir Kak Rama bertanya tentang status hubungan. Tapi saya bingung jawabnya, saya sadar posisi saya dan Kak Rama yang berbeda."


Mita menunduk. Hal yang wajar dirasakan Mita saat ini. Namun satu yang ia pun tau, bahwa Mita memiliki perasaan yang sama dengan yang dirasakan anak laki-lakinya.


Anak muda, entah cinta seperti apa yang mereka rasakan. Namun ia pernah merasakan hal yang sama.


"Ibu nggak masalah dengan hubungan kamu dan Rama. Perasaan kan muncul begitu aja ngga bisa'' kita kontrol. Tapi Ibu selaku orangtua cuma mau menasehati, jalan kamu masih panjang. Jalan Rama juga masih panjang. Kamu masih kuliah, Rama juga mau kuliah lagi. Baiknya urusan selain kuliah nanti-nanti dulu."


"Sayang kalau kamu fokus kamu terbagi hal lain selain kuliah. Anak Ibu yang seumuran kamu juga sama, belum Ibu izinkan untuk dekat dengan laki-laki. Berteman baik nggak apa-apa silakan, untuk hubungan lain Ibu pikir jangan dulu.''


****


Mita


Ia sejujurnya mengerti jika Bu Lia tidak setuju hubunganya dengan Rama. Namun alasan Bu Lia baginya abu-abu, entah ingin ia fokus dengan kuliah atau memang tidak setuju karena hal yang ia pikirkan selama ini. Meski rasional tapi tetap terasa menyakitkan.


Meski ia pun berharap untuk tetap berkomunikasi baik dengan Rama meski tidak ada hubungan spesial.


''Iya Bu. Saya akan membatasi interaksi dengan Kak Rama."


"Ibu percaya kamu tidak akan mengecewakan Ibu."


"Bu maaf kalau lancang, waktu itu Kak Rama beli laptop untuk saya apa perlu saya kembalikan? Saya sudah menolak tapi Kak Rama memaksa."


Akhirnya ia jujur mengenai laptop karena baginya harga yang tidak murah. Ia tidak ingin Bu Lia berpikiran macam-macam jika suatu saat tau tau tapi bukan dari mulutnya sendiri.


"Nggak perlu, kamu bisa pakai untuk kuliah kamu."


Kejujuran membuat lega.

__ADS_1


Setelah kedatangan Bu Lia hari itu, ia memutuskan untuk tidak lagi membuka ruang kepada Rama untuk berharap. It's over.


Hingga di suatu siang, saat sedang mengerjakan tugas Kewirausahaan dengan teman-temannya tiba-tiba Rama chat sudah di depan kosan. Ia harus tenang.


"Bentar gue ke depan dulu ada orang. Ndah, tolong lanjutin dulu ya." Mita yang tengah ngetik di keyboard laptopnya bangkit meminta Indah melanjutkan tugasnya.


''Cowok lo yang waktu itu?" Irma yang gercep kalau urusan cowok ganteng bereaksi.


"Cowok ganteng aja lo inget. Tugas nih bantuin mikir, jangan chatting mulu.'' gerutu Niken.


"Bukan cowok gue, kakak angkat gue." Ia mulai memberi batas antara dia dan Rama di depan teman-temannya. Agar tidak ada salah faham berkepanjangan.


Ia yang tengah mengerjakan tugas di gazebo taman belakang tidak sadar, ada Adit sang pemilik kosan yang memperhatikannya sejak tadi.


''Chat, telepon, video call aku kenapa nggak pernah kamu jawab?"


Belum sempat ia bertanya, Rama sudah menodongnya dengan pertanyaan. Sejak Bu Lia datang, ia tak pernah lagi merespon segala bentuk komunikasi dari Rama.


"Maaf aku udah mulai sibuk." ia menunduk, berusaha sekuat mungkin tidak kalah dari tatapan Rama.


"Sesibuk apa?" Rama meraih tangannya.


"Ada apa kesini? Ada yang penting?"


Melepaskan genggaman tangan Rama. "Pliss Rama jangan gini" rintihnya dalam hati.


"Liat aku... Kamu sibuk apa? Ngga suka aku kesini?''


"Aku nggak bisa ngobrol lama, aku lagi ngerjain tugas kelompok di dalam sama anak-anak. Aku nggak enak kalau terlalu lama ninggalin mereka."


Rama membuang nafas keras, ada semburat kesal di wajahnya yang tak mampu ia sembunyikan.


"Kamu lanjutin, aku tunggu."


"Bakalan lama, kalau bosen kamu pulang aja."


"Aku tunggu."


Dia lah Rama, yang memiliki titah.


Ia pun meninggalkan Rama, namun ia melihat Adit di dalam ruang tamu. "Bukan nya tadi dia di gazebo juga?" tanyanya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2