Cinta Mita

Cinta Mita
Riweuh


__ADS_3

"Kawin Fer kawiiiin."


Tak sabar Rama menulis pesan untuk Fery, sekedar meng-ekspresikan kegembirannya.


"Tapi jangan di kantor juga boss, ngga enak sama karyawan jadi omongan."


Rama tertawa. Jika saja tidak ada orangtua Mita di mobil nya sekarang, entah kehebohan apa yang akan terjadi.


"Berapa jam ke Tangerang dari sini?" Pak Zainal membuka obrolan pertama kali di mobil.


Kalau saja tau jalan ceritanya seperti ini, kembali ke Tangerang dengan orangtua Mita, Rama akan meminta Pak Karman untuk mengantar ke Cianjur agar bisa lebih bersantai.


"Tadi pagi Tangerang - Cianjur 4,5 jam. Sekarang kayaknya lebih karena jam pulang kerja."


Kini Rama sudah tidak se-kaku tadi, karena rasa gugupnya sudah menguap dan rasa percaya diri nya sudah kembali.


Sepanjang perjalanan diisi obrolan-obrolan ringan sehari-hari, kegiatan Bu Rini dan Pak Zainal, dan kehidupan Rama di Amerika.


Yoga tidak ikut serta, karena masih lemas efek diare yang terus menerus. Terpaksa Bu Rini titipkan Yoga ke Ateu Ina, adik dari Pak Zainal.


Dilihat nya jam di dashboard sudah menunjukan pukul 17.00 seharusnya Mita sudah selesai magang. Rama menepikan mobil lalu mengambil ponselnya.


"Saya telepon Mita dulu ya Bu sebentar. Saya load speaker biar Ibu Bapak bisa denger."


Kedua orangtua Mita mendengarkan baik-baik calon menantunya berbicara dengan anaknya.


"Kamu dimana? Aku lagi di jalan pulang sama Bapak Ibu."


"Aku masih di line, bentar lagi naik."


"Shift kamu udah beres, ngapain masih di line?"


Rama kesal, magang aja rajin banget pikirnya.


"Tanggung ini sedikit lagi."


"Masih ngapain?"


"Nunggu nugget punyaku keluar dari IQF."


Kala itu Mita sedang menghitung berat nugget sebelum dan sesudah masuk freezer skala industri yang menggunakan sistem IQF (Individual Quick Freezing). Freezer dengan metode IQF memiliki sistem pembekuan produk dengan waktu yang singkat secara satu per satu dan tidak menempel. Metode ini digunakan untuk mencegah produk yang dihasilkan mengalami penurunan kualitas.


"Suruh aja operator yang tungguin, kamu kasih tau yang mana nugget kamu. Biar mereka yang catat hasilnya."


Rama memberi tahu Mita pelan-pelan meski sebanarnya gemas karena sikap Mita yang ngeyel, tapi ia harus jaga image di depan calon mertua. Sabar.... Xixixi.


"Operator kan lagi kerja semua, bentar lagi juga selesai."


"Siapa SPV yang tugas?" Rama mengeluarkan jurus perintah anti penolakan.


"Mau apa?"


"Mau aku suruh liatin nugget punya kamu. Kamu nih bandel, besok kita nikah tapi kamu masih di pabrik nunggu nugget jam segini. Mau sampai jam berapa?"


Mita yang tadi siang sudah diberi tahu bahwa besok akan menikah di KUA merasa kaget, senang dan takut. Semuanya menjadi satu. Mita bingung harus melakukan apa.


Akhirnya Mita memanggil Pak Ichsan, supervisor yang bertugas saat ini. Orang yang pernah merasa terganggu karena kehadirannya di ruang supervisor.


"Selamat sore Pak Rama." terdengar suara Pak Ichsan di sebrang telepon milik Rama.


"Sore Pak Ichsan, saya mau minta tolong. Mita kan sudah selesai jam magangnya, tapi nugget yang lagi dia hitung penyusutannya belum keluar dari IQF. Bisa Bapak tolong lanjutkan atau suruh tim Bapak untuk mencatat hasil penyusutannya? Karena Mita mau ada keperluan. Kalau ditinggal, besok harus mulai lagi dari awal. Bisa ya Pak saya minta tolong."


To the point, tidak menerima penolakan.


"Bisa Pak bisa." Ada yang bisa mengatakan tidak untuk Rama?


Selesai, kini tinggal menyuruh Mita pulang.


"Kamu naik, pulang ke kosan sama Tarjo udah nunggu di mobil kantor yang silver. Aku lanjut nyetir lagi, ngejar Magrib di bawah."


Rama yang penuh dengan intruksi telah kembali, tidak terbantahkan.


"Oh iya, Bapak sama Ibu aku ajak nginep di apartemen ku aja ya? kosan kamu kan cuma sekamar."


Intruksi Rama ternyata belum berakhir. Rama sudah mengabarkan kepada Fery untuk menyisiapkan kamar untuk orangtua Mita. Untung saja kemarin Rena datang ke apartemen, membersihkan debu-debu dan tungau yang mungkin saja hidup. Meski biasanya Rama selalu menggunakan jasa bersih-bersih online, tapi baginya membersihkan sendiri jauh lebih bersih.


Setelah dirasa cukup memberi arahan dan informasi untuk Mita, Rama kembali mengemudikan mobilnya.


"Mita tuh kadang susah dibilangin Pak, padahal untuk kebaikan dia juga. Harus langsung di kasih perintah jadi ngga bisa ngeyel lagi, jadi saya terkesan otoriter. Padahal Mita nya yang ngeyel." Rama seolah curhat kepada Pak Zainal, yang notabene anaknya sendiri.


Bu Rini dan Pak Zainal tersenyum, senang anaknya begitu diperhatikan oleh Rama.


Setelah mengemudi 1,5 jam lebih, Rama mengajak istirahat sebentar di rumah makan daerah Mega mendung sambil menunggu waktu shalat Magrib.


"Sekalian shalat, makan dulu Pak."


Rama memesan aneka makanan untuk calon mertua yang besok resmi menjadi mertua. Tsahhhh indahnya...


Rama bertanya tentang Mita lebih banyak.

__ADS_1


"Saya sama Mita sebenarnya belum banyak tau satu sama lain. Kira-kira yang harus saya tau ada ngga Bu?"


Bu Rini nampak berpikir.


"Mita itu kalau tidur, kaki nya suka ngelus-ngelus kaki orang yang di sampingnya pakai kaki dia. Kalau tidur sendiri dia akan ngelus-ngelus sprei atau tembok." Bu Rini memberikan informasi yang membuat Rama bingung.


Ngelus-ngelus kaki pakai kaki ? Kenapa ngga ngelus-ngelus yang lain aja? Rama tersenyum membayangkan yang tidak-tidak. Xixixi.


"Pasti bayangin yang aneh-aneh." Pak Zainal tertawa, tau isi otak laki-laki.


Selesai makan dan shalat, calon anak menantu dan mertua kembali melanjutkan perjalanan. Akhirnya sampai di apartemen hampir jam 10 malam.


Rama mempersilahkan Pak Zainal dan Bu Rini mengisi kamar ayahnya yang tidak ditempati.


"Ini kamar Papa kalau lagi mau istirahat. Rumah sakit tempat Papa praktek 10 menit dari sini."


Pak Zainal bertanya lebih jauh mengenai calon besarnya tersebut.


"Papa nya Rama itu dokter apa?"


Saat lamaran kemarin, keluarga Rama dan Mita hanya membahas soal umum sehari-hari saja sehingga kedua calon besan belum banyak tau tentang kehidupan masing-masing.


"Papa dokter jantung, Mama dosen ekonomi Pak. Tapi anaknya ngga ada yang mau meneruskan profesi orangtua, karena kelihatanya hidupnya terlalu serius. Mending kaya Rama gini, uang dapet tinggal nyuruh Fery. Ya kan Fer?"


Rama tertawa jahil melihat ke arah Fery yang sedang santai sambil nonton TV.


"Bener bos, suruh aja kita. Ada gua, Sesar, anak-anak pabrik, bos mah jangan cape-cape. Puas lu?"


Semua yang mendengar tertawa mendengar gerutuan Fery.


"Calon mantu Bapak nih, semalam saya masih ngerjain kerjaan kantor yang setumpuk disuruh ngambil baju nya di rumahnya di Jakarta, padahal baju disini banyak. Kan keterlaluan Pak, dia nya enak tidur."


Rupanya Fery masih kesal karena permintaanya semalam.


"Baju disini kan udah lama ngga gua pake. Ada tungau nya gimana? Harus di laundry dulu. Jadi lu ngga ikhlas?"


"Ikhlas ngga ikhlas jadinya. Padahal kan bisa pake ojek online yang delivery kilat langsung sampe, lebih hemat bensin juga."


"Beda dong Fer, bukan baju doang soalnya. Ada oleh-oleh juga isinya, kalau ilang lu beliin lagi kesana? Kalau supir pada ada di rumah juga gua suruh mereka duluan, lu tuh pilihan terakhir kalau gua perlu bantuan. Gua juga semalem udah ngantuk, kalau gua oleng siapa yang gaji lu semua? Gaji paling gede juga masih aja ngeluh. Ini nih Pak potret anak muda zaman sekarang, banyak ngeluh kurang bersyukur."


Rama jadi ngomel melihat Fery terlihat tidak ikhlas membantunya.


Pak Zainal dan Bu Rini tertawa melihat perdebatan antara bos dan anak buah sekaligus teman itu.


"Apa kata bos aja dah saya mah Pak. Aku mah apa atuh..."


"Ampun bos." Fery melirik ke arah Rama sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.


Semua penghuni apartemen malam itu akhirnya tidur jam 11 malam. Menyiapkan energi untuk besok acara akad.


Entah mimpi apa Rama semalam mendapatkan telepon dari Sang Mama dengan kabar mengenakan selesai shalat Subuh.


"Kak, acara jangan di KUA. Kamu sabar dulu, biar ngga terlalu malu-maluin. Kaya udah ngehamilin anak orang aja nikah ngedadak gitu."


Rama menarik nafas, bayangannya tentang nanti malam perlahan pudar.


"Kata Papa, acara nya di ballroom hotel aja sewa yang kapasitasnya kecil untuk keluarga dan kerabat dekat. Harus ada dokumentasi juga, masa dokumentasi di KUA. Ngga etis begitu."


Ingin rasanya Rama meraung-raung seperti anak kecil. Jadinya kapaaannn??


Rama berusaha bersabar, menahan emosi sekuat mungkin. Rama mengurut keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.


"Jadinya kapan? Biar diurus sama Fery."


Fery yang baru selesai melipat sajadah melirik ke arah Rama.


"Gua lagi." batin Fery kesal.


"Besok atau lusa. Hubungi dulu hotel yang dekat apartemen, kapasitas 50-100 orang. Makan-makan sederhana."


Bu Lia merasa otaknya mau pecah. Belum mempersiapkan apapun, bahkan seserahan yang layak sesuai standard keluarga.


"Mas kawin kamu apa?"


Bangkee, Rama bisa lupa hal yang sekrusial ini.


"Nanti Rama tanya Mita dulu dia mau apa."


"Ini yang kamu bilang mau nikah hari ini? Mas kawin aja belum ada. Kamu bikin pusing Mama."


"Uangnya udah ada Ma..."


"Pernikahan itu bukan cuma uang Rama..." Bu Lia nampak menahan emosi.


"Nikahan lusa aja. Mita nanti dijemput Tarjo, biar ikut Mama pilih baju sama seserahan. Ayah Ibu nya Mita juga ajak aja daripada nunggu di apartemen. Kamu urus mas kawin, Fery urus venue dan catering."


Rama memotong pembicaraan Bu Lia.


"Bentar Ma, aku load speaker biar Fery denger sendiri. Dia ngeliatin aku kaya gitu banget, takut disuruh."

__ADS_1


"Denger baik-baik. Kamu urus mas kawin, Fery urus WO termasuk di dalamnya ballroom untuk acara, catering, dekorasi, dan dokumentasi. Sesar urus administrasi di KUA sekaligus penghulu."


"Mama ngurus baju, seserahan dan souvenir."


Ternyata bukan hanya Pak Romi yang memiliki sifat memerintah, Bu Lia juga. Xixixi.


"Kamu ah ngerjain Mama. Riweuh gini."


Sambungan telepon di putus begitu saja. Xixixi.


"Denger ngga tadi disuruh ngapain sama super big bos?"


"Banyak banget Ram bagian gua."


"Lu cuma perlu ke WO, dia yang sediain semua buat lu. Dia juga nanti yang cariin hotel. Lu tinggal tongkrongin kantor WO sampe semuanya fix baru balik. Berapa-berapa nya atur aja. Bensin lu sama Sesar itung aja sekalian. Gua lagi pusing, malam pertama yang udah gua bayangin ngga jadi nanti malem."


Jika orang lain akan berbaik hati saat sedang gembira, berbeda hal nya dengan Rama. Rama akan loyal ketika pusing, agar urusannya cepat selesai.


"Siap dah kalau bagitu." Wajah Fery berubah sumringah, yang membuat Fery betah dengan Rama karena sifat loyal Rama.


"Lu kalau gua belum nikah jangan ngomong macem-macem ke orangtuanya Mita, restu nya di cabut puasa lama lagi. Kalau udah nikah mah terserah lu mau jelek-jelekin gua juga."


Fery tersenyum.


Tak banyak bicara Rama langsung menghubungi Sesar, menjelaskan semua tugas anak dari Bi Imas tersebut. Jam 8 tepat Fery berangkat ke kantor WO. Tidak lama kemudian Pak Karman datang ke apartemen untuk menjemput orangtua Mita.


Rama celingak celinguk mencari sosok yang ia pikir akan ikut ke apartemen nya.


"Belum jemput Mita Pak?"


"Kata Ibu, Neng Mita terakhir Den dijemput nya."


Padahal jarak kosan Mita letaknya lebih dulu dibanding apartemen miliknya, Rama bertambah kesal dengan Bu Lia.


"Sabar, lusa itu cuma 48 jam." Pak Rizal menepuk pundak nya seolah meledek.


Setelah orangtua Mita dan Pak Karman berangkat, Rama langsung bersiap-siap mencari mas kawin yang cocok.


Rama yang menelpon Mita untuk menanyakan mas kawin apa yang Mita inginkan, Mita hanya menjawab,


"Semampunya Abang aja mau kasih aku mas kawin apa."


Mita benar-benar perhiasan dunia pikirnya.


Rama pun membeli emas di butik Antam Pulogadung. Sebenarnya ada butik Antam yang lebih dekat dengan apartemen miliknya, namun setelah Rama menghubungi call centre, emas yang Rama inginkan tersedia di butik Antam Pulogadung. Tak lupa Rama pun mampir ke toko perhiasan yang akan ia beli untuk melengkapi mas kawin untuk pujaan hati.


Setelah emas yang diinginkan ada di tangannya, Rama lantas menghubungi vendor jasa desain mas kawin yang ia dapatkan kontraknya dari Instagram untuk merangkai perhiasan dan logam mulia yang sudah ia beli.


Dengan gesit Rama juga memantau pekerjaan Fery dan Sesar.


"Ada masalah ngga?"


"Aman."


Hanya untuk memastikan bahwa semuanya berjalan dengan yang ia inginkan.


Keesokan harinya, Rama diminta untuk pulang ke rumah orangtua nya yang Rama karena sore hari akan diadakan pengajian. Semula yang ia pikir acara akan sederhana, ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan.


"Kabarin Mita, Nanti Tarjo jemput. Mama udah booking perawatan untuk calon pengantin."


Rama memeluk Bu Lia yang sangat detail, mengerti kebutuhannya. Meskipun sebelumnya harus diceramahi karena acara yang terlalu mendadak.


Sena yang baru saja tiba dengan Enin dan keluarga dari Bandung tiba-tiba memeluknya.


"Kakak akhirnya nikah sama Mita. Ini kado dari aku, karena Kakak pasti belum kepikiran."


Sena memberikan sebuah amplop tipis.


"Kok tipis sih, cek ya isinya?"


"Coba buka."


"Voucher menginap di hotel?"


Rama memeluk dan mencium pipi adik semata wayangnya.


"Makasih Sena. Aku ngga kepikiran, saking ribet nya aku yang harus memastikan semuanya aman."


Acara sore pun berjalan dengan lancar, ternyata memang capek mempersiapkan pernikahan dadakan ini. Pantas Bu Lia ngomel xixixi.


"Gimana perawatannya?"


Rama langsung mengirimkan pesan kepada Mita begitu melihat Tarjo sudah sampai rumah, artinya Mita juga sudah pulang dari salon.


"Enak Bang."


"Besok aku juga pengen yang enak."


"Ih... Abaanggg."

__ADS_1


Setelah otw halal, Mita Rama otw unboxing gais ❤️❤️


__ADS_2