Cinta Mita

Cinta Mita
Adik aku juga !


__ADS_3

"Bang Fery mana, Bang?"


Rama masuk ke private room kembali seorang diri, tanpa Fery apalagi Rena. Ia langsung menghabiskan sop buntut yang sudah dingin.


"Lagi ngamar."


"Sama siapa? Selingkuh juga jadinya?"


"Bukan, istrinya ngga selingkuh. Dia nya aja yang salah sangka. Kampreet emang, kita kesini malah nganterin dia enak-enak."


Yoga tersenyum simpul. Meski ia pun suka bercanda mengenai hal-hal demikian dengan teman-temannya, namun membicarakan hal tersebut dengan Rama terasa sedikit kaku.


"Kita jadinya gimana, Bang? Pulang kapan?"


"Pagi aja ya, Abang juga capek pengen tiduran."


"Tidur dimana kita?"


"Di kamar lah, Ga. Abang udah bayar 2 kamar di hotel ini."


"Oh gitu."


Begitu mudah untuk Rama membayar segala sesuatu. Ia dan Fery berutung memiliki kerabat seperti Rama.


*****


"Kalau aku salah, aku minta maaf."


"Bukan kalau lagi sih harusnya, memang salah."


"Aku sadar aku salah, aku minta maaf. Dimaafin ngga?"


Fery memperbaiki kalimatnya yang dikritik oleh Rena. Pemilihan kata saat bicara dengan perempuan sepenting itu.


"Maafin ngga ya?"


Rena membuka pintu kamar berbekal kartu akses kamar yang dibayar dengan kartu Rama tadi.


"Maafin atuh, Yang. Aku kan ngga salah-salah amat. Cuek juga karena fokus kerja buat anak istri."


"Buat anak istri atau buat bos dan istrinya?"


"Ngga boleh gitu, Rama udah baik."


"Aku teh da kesel sama Rama. Nanaon teh hayoh we Fery. Kamu lagi kamu lagi." (apa-apa hayo aja Fery)


"Dia ada trust issue, jadi susah percaya sama orang. Kita yang sehat, yang harus ngalah."


Dua sahabat kental ini memang selalu saling membela.


"Jangan diulang lagi. Lebih perhatian ke anak istri, jangan kerjaan wae."


"Iya, Ayang."


Fery memeluk dan mencium bahu Rena begitu masuk ke dalam kamar.


"Aku mau nelepon Bu Wijaya dulu. Sasha gimana disana."


"Sebentar mah atuh titipin dulu."


Rena mengirimkan pesan kepada Bu Wijaya terkait Sasha. Tidak mendengarkan usulan dari Fery.


"Mam, aku lagi nemenin Ayahnya Sasha mungkn satu jam. Aku ambil Sasha aja ya takut nangis sekalian pamit."


"Yaudah kalian quality time dulu aja berdua. Sasha anteng di sini."


"Aku takut ngerepotin."


"Ngga repot, lagi main sama Mey. Sejam dua jam ngga apa-apa."

__ADS_1


"Yaudah atuh Mam, makasih ya Mam."


"Iya."


Fery tersenyum sekaligus lega membaca pesan whatsapp Rena.


"Sekarang aku percaya kalau keluarga Pak Wijaya baik."


Fery langsung tersenyum dengan arti yang sudah Rena paham.


*****


"Bang, Subuh Bang."


Dengan perasaan sungkan Yoga memberanikan diri membangunkan Rama. Setelah sebelumnya bertanya kepada Mita cara membangunkan Rama agar tidak marah. Mita memerintahkan untuk memegang telapak kaki Rama.


"Eh eh siapa ini."


Rama merasakan geli pada telapak kaki nya dengan mata masih tertutup. Biasanya Mita yang melakukannya tiap pagi, namun hari ini seharusnya Mita masih di Jepang.


"Shalat Subuh dulu Bang, kata Teteh."


Adit ragu-ragu sejak 04.30 tadi. Sekarang bahkan sudah 05.30 khawatir Rama terlewat Shalat Subuh.


"Cepet banget sih, Ga."


"Cepet apanya?"


"Subuhnya. Perasaan baru tidur."


Karena kelelahan dan banyaknya pekerjaan kemarin, membuat tubuh Rama butuh waktu istirahat lebih lama. Mulai dari mengejar beberapa pekerjaan agar Sabtu pagi bisa di rapatkan, hingga mengurus persoalan Fery yang ternyata hanya salah faham belaka. Energi yang Rama keluarkan untuk bisa berangkat ke Bandung sampai terkuras habis.


Setelah Shalat, Rama menutup kembali tubuhnya dengan selimut. Matanya belum rela untuk terbuka.


"Fer, siap-siap."


Pukul 06.20 Rama masuk ke dalam kamar Rama, sudah siap untuk berangkat. Sementara Rena dan Sasha sudah ia antar pulang selesai Subuh tadi.


"Rama mana?"


"Lagi tidur."


Yoga membuka pintu kamar untuk Fery.


"Bos kamprett, nyuruh gua siap-siap tapi dia nya tidur lagi."


Yoga tertawa melihat hubungan anak buah dan bos ala Fery dan Rama. Tidak seperti hubungan atasan dan bahawan semestinya.


Segera Fery menarik selimut yang Rama gunakan. Persis seperti saat Fery masih tinggal di rumah Rama saat masih berstatus mahasiswa, yang sering membangunkan Rama jika Rama berselimut kembali setelah Subuh.


"Gua masih capek, Fer."


"Udah siang ini."


"Pusing kepala gua. Meeting undur habis makan siang."


"Pusing kenapa nih? Pusing karena tegangan tinggi apa emang sakit?"


"Pusing beneran."


"Ngga bisa Senin aja gitu, Bang? Sabtu bukannya harusnya libur ya?"


"Senin proyek udah harus jalan, Ga."


Fery menjelaskan alasan mengadakan meeting saar weekend.


"Yaudah oke undur habis makan siang. Lu mau ke dokter?"


"Ngga usah, gua cuma butuh tidur. Sarapan gua tolong minta bawa ke kamar."

__ADS_1


Mita video call saat sedang sarapan dan Rama masih berselimut. Perbedaan waktu Tokyo dua jam lebih cepat dari WIB, membuat perbedaan aura Mita dan Rama berbeda.


"Abang masih tidur?"


"Kamu sarapan apa?"


"Salmon."


"Gaya nya, sarapan nya salmon."


"Abang sakit?"


Mata Rama terlihat sayu dibanding biasanya.


"Butuh dipijit kamu aja. Udah selesai ngidamnya?"


"Udah, lusa pulang."


"Ngga bisa besok aja? Tiap hari Yoga yang masakin aku. Yoga juga yang bikinin teh tiap.pagi."


"Ngga bisa, masih pengen stay disini sehari lagi."


Mita tidak mengatakan alasan sebenarnya. Bahwa ok Mita dan Sena menunggu Adit selesai festival.


"Sena mana?"


"Lagi ambil sarapan."


"Yaudah nanti aku hubungin lagi ya, aku mau tidur lagi sebentar."


Rama menyelesaikan rasa kantuknya dua jam. Dan sarapan ke resotan karena berubah pikiran.


"Ngga jadi sarapan di kamar?"


"Ngga jadi, sarapan aja di resto aja."


Setelah mengambil beberapa makanan, Rama kembali mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mita.


"Udah sarapannya?"


"Udah dari tadi, aku udah di kamar lagi."


"Hari ini mau kemana?"


"Jalan sekitar hotel aja, cuma pengen menghirup udara Tokyo."


"Sena mana? Aku belum liat dia.*


Karena belum melihat Sena sejak dua hari lalu, Rama kembali menanyakan adik semata wayang.


Mita pun bingumg harus menjawab dengan jawaban apa.


"Dia... Keluar sama Adit."


"Keluar kemana?"


"Kemana ya aku lupa namanya tadi dia bilang."


"Berdua?"


"Ya sama siapa lagi?"


"Kamu gimana sih, aku kan bilang jagain adik aku."


"Apa sih Abang, Sen juga adik aku."


"Kalau kamu ngerasa Sema adik kamu, harusnya kamu jagain dia kaya aku jagain Yoga di sini."


Rama mutuskan telepon dan langsung menghabiskan semua sarapannya dengan cepat. Sementara Fery dan Yoga tidak mampu berkata apapun melihat wajah Rama yang mengeras.

__ADS_1


__ADS_2