Cinta Mita

Cinta Mita
Sultan


__ADS_3

Mita


''Kamu bener ngambil S2? Di kampus mana?''


Akhirnya ia memberanikan diri bertanya tentang kuliah Rama.


''Di IPB. Kenapa?''


Ia tersentak, benar kata Andri tadi.


''Di kampus aku?''


''IPB kampus pemerintah, semua rakyat Indonesia bisa sekolah disana selama lolos tes, aku juga warga negara Indonesia.''


Konyol sekali jawabannya. Ia pun mendelik kesal.


''Nggak usah di cemberut-cemberutin gitu, aku jadi gemes.''


''Tau ah.''


Ia pun melihat-lihat kemeja, jiwa perempuannya muncul. Rasanya dia mau borong semua baju di mall itu. Beda dengan yang biasanya ia lihat di pasar.


''Bingung mau yang mana?'' Rama yang tadi duduk di kursi dekat fitting room akhirnya mendekat.


''Mata kamu berbinar-binar gitu kalau belanja. Kaya ada love-love nya.'' Rama tertawa, masa sih sampe segitu nya ia di mata Rama saat melihat baju. Mita jadi malu sendiri.


''Kamu beli kemeja minimal lima, warna putih 2 cukup. Jadi bisa ganti setiap hari. Rok atau celana bahan juga.''


''Kebanyakan segitu sih. Aku ada beberapa di rumah yang masih bisa dipakai.''


''Yang di rumah tetap di pakai juga sesekali, tapi beli nya tetap tujuh jadinya.''


''Belanja sama kamu nggak enak, jadi boros.''


''Nggak apa-apa dong. Ada kamu jadi uang aku berguna, aku nggak pernah belanja pake uangku. Baju, sepatu, Mama terus yang beliin kalau pergi sama Sena karena aku males ke mall. Paling bensin, jajan, kadang traktir Sena. Gitu-gitu doang, flat kan hidup aku.''


''Jadi ini kamu lagi yang bayar?''


''Tadi kan uang kamu udah dipakai di Gramed. Emang masih sisa?''


''Masih, cuma kalau beli tujuh belum rok dan celana kayaknya nggga cukup.''


Ia berpikir sejenak menghitung sisa uang dari Gramedia tadi.


''Yaudah sisa nya tabung. Kamu kuliah kan 3 tahun. Tabungan kamu nanti bisa dipakai kalau ada keperluan mendesak, atau pas Mama telat transfer. Kalau selama jalan sama aku biarin aku sedikit berguna buat kamu. Oke?'' Ia mengusap kepala setengah mengacak-ngacak rambutku.


''Kamu kenapa baik sama aku?'' tanya nya penasaran. Merasa aneh ada laki-laki yang belum kenal lama sudah belikan ini itu untuknya.


''Karena kamu adik asuh aku. Kamu anak asuh mama ku kan? Jadi jangan sungkan, kita kakak adik.''


Rama mengelus pipinyanya. Semoga suatu saat ia bisa memiliki wanita pemilik pipi ini, harapnya.

__ADS_1


''So, sekarang pilih baju yang bisa buat ke kampus. Yang bagus sekalian, karena yang bagus lebih awet. Jadi...''


''Worth it.'' Mita memotong ucapan Rama. Rama tertawa terbahak-bahak.


''Udah bisa ngeledekin aku ya. Awas kamu di mobil nanti.''


''Mau ngapain di mobil? Nggak sekarang aja?'' Mita menjulurkan lidahnya mengejek sambil menjauh.


Rama mempercepat langkahnya setengah berlari lalu diambilnya bahu Mita dan merangkulnya.


******


Rama


drrrtttt drtttt


Ponselnya bergetar tanda pesan masuk.


''Semangat amat main sama dedek gemes nya. unch unch.''


Bangkee. Itu orang matanya dimana-mana. Heran.


Mita datang membawa belanjaan yang ternyata banyak juga. Lumayan seleranya, pikirnya.


''Kamu pintar, bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik.'' Mita tertawa, manis sekali. Gulali doang mah lewat.


''Ih kamu mah. Serius nggak sih tadi? Kamu jangan mainin aku, aku malu kalau ini nggak jadi. Tadi udah aku cobain semua sama mbak-mbak nya.'' Mita benar-benar terlihat malu sampai merah semua wajahnya.


Mita mencubit kecip perut Rama.


''Bawel, cepet bayar.''


Mita syok tatkala melihat harga yang tertera di mesin kasir mencapai lebih dari 5 bulan uang bulanannya dari Ibu. Saking semangatnya tadi, ia sampai tidak melihat harga di label nya.


''Ram, serius tadi segitu totalnya?'' Rama tersenyum.


''Kenapa?''


''Ya ampun banyak banget. Belum laptop tadi kamu beliin juga.''


''Nggak apa-apa, uang segitu kalau dibeliin sepatu Sena cuma dapet satu kembalian dikit. Sena nih kalau lagi ada mau nya, tapi jatah jajan nya udah habis dia pake kartu aku buat shopping. Tau-tau laporan masuk ke sms. Kalau sama jajan, yang tadi itu kurang. Ampun deh.''


''Serius?'' Mita takjub, sepatu apa dengan harga 5jt?


''Jadi tenang aja, apalagi itu buat kuliah. Aku nggak bakal jatuh miskin kalau kamu belanja segini. Sering-sering juga boleh.''


''Mana bisa, kamu udah nggak kerja. Jangan sok banyak uang!''


''Kamu percaya nggak kalau aku punya penghasilan di luar pekerjaan aku sebagai konsultan ? Dan gajinya jauh lebih banyak.''


''Gaji kamu sebagai konsultan berapa?''

__ADS_1


''Sekitar 50 juta.''


''Hah? Sampingan kamu apa gaji nya lebih dari itu? Jangan bilang kamu pengedar narkoba.''


Mita meyelidik. Ia pun tertawa terbahak-bahak melihat kepolosan Mita.


''Pokoknya ada dan halal, walaupun aku udah resign tapi aku tetap punya gaji lebih dari itu. Kehilangan 50juta sebulan bukan masalah besar buat aku.''


''The real sultan.''


Rama tidak kuat menahan tawanya, baginya Mita seperti mood booster peningkat imun. Bahagia sekali berada di dekatnya.


Tidah terasa sudah 2 jam ia keliling store pakaian membeli keperluan Mita. Jam pun menunjukan pukul 14.55.


''Kita langsung ke kosan kamu ya? Simpen barang-barang kamu. Kecuali laptop kamu bawa pulang takut hilang. Berat nggak?''


Mita mengangkat-ngangkat laptop pemberian Rama.


''Enteng kok ini, lagian di bus aku simpen ngga aku jinjing-jinjing.''


''Lagian kamu tuh, laptop yang pertama aku pilih tadi itu udah pas banget karena nggak berat. Jadi nyaman dibawa kemanapun.''


''Tapi harganya nggak manusiawi. Ngga make sanse.''


Rama kembali tertawa.


''Udah deh udah, nanti panjang lagi. Omongan kamu ngga jauh dari kata worth it.'' Mita buru-buru melanjutkan ucapanna sebelum ia bicara.


Hari yang tidak terlalu buruk.


Kedua nya terlihat sangat menikmati kebersamaan ini. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang tengah berbahagia, melihat satu sama lain dengan dalam. Namun sayangnya tak ada yang berani bicara langsung.


Selesai menyimpan beberapa perlengkapan dan belanjaan di kosan, mereka juga melunasi uang kosan sesuai kesepakatan awal.


Awalnya ia keukeuh ingin melunasi kekurangan uang kosan. Tapi Mita memaksa tidak mau.


''Aku tau kamu memang banyak uang. Tapi tolong jangan bikin aku terlihat seperti memanfaatkan. Apa kata ibu kalau sampai tahu? Kamu ngga mikir dampaknya ke aku?''


Wah wahh...


Ngeri ngeri sedap kalau perempuan udah ngamuk kayak Mita.


********


Hallo readers tersayang, semoga kalian enjoy sama novel perdana ku disini. Kalau ada kesalahan, typo, dll. Langsung komen ya.


By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini 🌺🌺


Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back πŸ€—πŸ€—


Semoga kita bisa berkawan rapat 🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2