
Ia pun meninggalkan kawasan Riau menuju Citarum, rumah Enin nya berada. Sepanjang perjalanan ia teringat Mita, ia merasa lega namun sedih, sedih tapi lega, ya seperti itu kurang lebihnya.
Dicari nya kontak Sena agar membukakan pintu gerbang. Sedikit tidak tahu diri sampai rumah Enin pukul 02.00
Empat kali menelepon tak ada satupun yang Sena angkat. Namun ia tak patah semangat, daripada harus tidur di dalam mobil ya kan?
''Sen sen maaf ganggu tidur, aku nyampe kemaleman, tolong bangunin Wa Ideng bukain gerbang.''
Terdengar Sena bersungut tak jelas, mungkin setengah tertidur. Xixixi
''Punten Wa nyampe kemaleman.''
Dibukanya kaca mobil saat melintasi Wa Ideng, orang yang sudah lebih dari 50 tahun mengabdi di keluarga besarnya. Itu sebabnya ia dipanggil dengan sebutan Uwa, karena sudah lumayan sepuh.
''Nggak apa-apa Den, biasa anak muda suka pulang malam. Maaf menunggu lama, saya ketiduran tadi.''
''Ngga apa-apa Wa, dilanjut aja tidur nya Wa.''
Martabak yang ia beli tersisa dua kotak, diberikannya sekotak martabak telur kepada Wa Ideng sebagai upeti membukakan gerbang malam ini. Karena martabak manis jatah Sena yang tidak boleh diganggu gugat.
Begitu keluar mobil hawa dingin seperti menusuk tulang. Segera ia masuk ke dalam rumah. Sudah sepi, jam dinding bergerak di 02.23. Disimpannya sekotak martabak manis di meja makan.
Ia pun bergegas membersihkan diri sebentar dengan air hangat. Rasa lelahnya seketika muncul saat melihat kasur di kamar tamu yang sepertinya sudah dibersihkan Wa Cucun karena lama tidak ditempati.
Seperti baru tidur setengah jam saat ada seseorang membangunkannya.
''Ujang kasep, bangun shalat subuh dulu.'' Suara Enin yang ia rindukan.
''Baru banget tidur Nin, setengah jam lagi.''
''Teu kengeng kitu. Shalat dulu nanti lanjut lagi tidurnya.'' (teu kengeng : nggak boleh)
Dengan muka bantal ia duduk dari tidurnya dengan mata masih terpejam. Mengumpulkan nyawa agar bisa membuka mata.
Selesai shalat ia lanjutkan mimpinya, cuaca Bandung yang adem mendukung untuk menutup kembali tubuhnya dengan selimut.
Ia yang terbiasa bangun pagi, sesubuh apapun ia tidur maka akan tetap bangun paling siang jam 7 pagi.
''Pagi Nin, Sena sayang. Aku ngantuk banget.''
Terlihat Enin yang tengah mengoleskan selai diroti bekal kuliah Sena.
__ADS_1
''Pagi kasep, dari mana semalam kata Ideng pulang jam 2. Orang lagi tahajud kamu baru pulang.''
Enin memang sangat religius, untuknya ibadah no.1
''Ngopi sama Fery keasikan ngobrol sampe lupa waktu.''
''Disini juga ada kopi mah, dasar budak ngora. Bukan udah nikah Fery teh?'' (budak ngora : anak muda)
Keluarga besarnya memang mengenal baik Fery karena pernah tinggal di rumahnya 9 bulan.
''Iya, aku udah izin sama istrinya. Lagi butuh teman ngobrol jadi nemuin Fery.''
''Kalau sudah menikah nggak baik ninggalin istri pulang pagi seperti itu. Kita harus bisa membatasi main yang nggak perlu.''
Seperti nenek-nenek pada umumnya yang kalau sudah bicara sulit untuk berhenti.
''Sama aku juga bisa, ngobrol doang Kak.'' Sena yang asik dengan ponselnya memotong pembicaraan Enin agar tidak bertambah panjang.
''Sekalian pamit sebelum ke US.''
Diaduknya teh manis yang sudah dibuatkan Enin untuknya.
''Iya ngambil short course dulu.''
''US teh mana? Inggris?''
Sena geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan polos Enin.
''Amerika Nin, kalau Inggris mah UK.''
''Enin mah nggak hafal nu karitu, tau nya Ujungberung, Sukajadi, Lengkong tempatnya Wa Ida. Bulan depan Kila nikah, kamu kapan?''
Kila adalah anak bungsu dari Wa Ida, anak tertua Enin sekaligus kakak dari ibunya.
''Kado nya nanti aku titip buat Kila. Aku mah nanti kalau jodohnya udah lulus kuliah.''
Ia tersenyum melihat Enin yang masih bugar walau sudah berumur 70tahun. Sejak ditinggal Aki, Enin tinggal sendiri ditemani Wa Ideng dan Wa Cucun. Enin lebih senang tinggal di Bandung, terkadang Enin mengunjungi dua anaknya yang tinggal di Bandung diantar supir sekaligus keponakan Wa Ideng yang biasanya datang pagi kemudian pulang sore hari.
''Bobogohan sama anak kuliahan, temen kantor kamu nggak ada yang menarik?''
Enin duduk menikmati sarapan pagi bersama, dengan secangkir teh tawah hangat kesukaannya.
__ADS_1
''Nggak ada yang istimewa, SNI semuanya.''
Sena terlihat mencibir, mulutnya seolah mengatakan ''prettt'' dengan pelan.
''Gaya cucu Enin, perempuan ada SNI nya segala. Kamu tinggal di Jakarta aja jarang main kesini, apalagi kalau di Amerika.''
''Aku mau menghilang dulu dari peredaran sampai waktu yang tidak ditentukan.''
''Aku tau alasannya Kakak sampai mau ke US. Tadinya kan boro-boro ke US, disuruh kuliah lagi aja nanti-nanti terus.''
Sena mulai mengumpulkan potongan puzzle dan menghubungkan nya tentang alasan kepergian kakak nya ini.
''Sok tau.'' ia mendelik sambil menggigit sepotong roti dengan selai kacang entah sudah gigitan keberapa.
''Wa Cucun, tolong angetin martabak coklatnya aku mau bawa ke kampus. Pake tempat makan yang orange, aku mau berangkat.''
Sena setengah berteriak memanggil istri dari Wa Ideng.
''Anak manja, ngangetin martabak doang nyuruh orang. Tinggal jauh dari Mama tuh biar lebih mandiri Sen.''
Dilemparnya perlahan jeruk ke arah Sena.
''Orang Indonesia banget sih, ganti dong mindset nya. Kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit sih? Lagian beberapa hal aku udah bisa kerjain sendiri.''
''Contohnya?''
''Tadi, aku ngambil piring sendiri sambil cuci tangan.''
''Keterlaluan kalau ngambil piring doang juga nyuruh.''
''Sudah sudah, pagi-pagi debat aja. Kayak pejabat kita aja ngalieurkeun.''
(ngalieurkeun : memusingkan).
''Nin aku berangkat ya. Kakak jangan dulu pulang, punya utang sama aku sepatu. Double loh karena mau berangkat, nanti ngga bisa belanja lagi sama Kakak.''
''Enak aja double, nggak ada!''
''Hayoh mau pelit sama adik sendiri? Uang ngga dibawa mati.''
Ia memperagakan ucapan Dan gerak gerik Mama nya ketika Sena meminta sesuatu darinya.
__ADS_1