
Damar
Setelah selesai jalan-jalan keliling perumahan, ia dan Sena kembali ke rumah Dinda.
"Aku boleh ke rumah Dinda?" rasanya ingin berlama-lama menikmati moment seperti ini. Moment yang sudah ia nanti sejak 3 tahun lalu.
"Boleh, aku udah chat Dinda barusan."
Di rumah Dinda hanya ada pembantu rumah tangga nya, karena Ayah dan Ibu Dinda yang sama-sama bekerja di bank sudah berangkat dari jam 06.30 tadi.
"Lo boleh disini, tapi jangan mesum. Ke Sena gue percaya, ke Lo nggak.'' tatap Dinda tajam pada Damar.
"Buset, muka gue keliatan mesum apa gimana. Nggak lah.''
Mereka berbincang-bincang di ruang keluarga sambil bercanda, dan ngemil tentu saja.
"Sen, gini ngga apa-apa ya?'' Damar memgambil tangannya sambil mengelus lembut. Sena mengangguk pelan.
"Ini bukan mimpi kan Sen? Kamu sayang beneran sama aku?"
"Iya aku sayang." tampak malu-malu. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya ia bisa seberani ini. Diam-diam berpacaran padahal kedua orangtua dan kakaknya sudah mewanti-wanti.
"Kamu tahu hidup aku berubah kurang dari 24jam. A miracle happened to me.''
Dirinya merasa sedang mendapatkan keajaiban. Nona yang sedingin es kini mulai mencair.
"Kemarin jam segini aku lagi galau, stres mikirin kamu. Aku mau berangkat 10 hari lagi, tapi aku belum tenang karena aku belum dapetin kamu. Aku nggak akan bisa belajar dengan tenang disana. Sekarang ternyata aku tambah nggak tenang, aku pengen sama kamu terus. Bisa nggak sih?"
__ADS_1
"Kamu kaya anak kecil. Manja gini mau sekolah di negara orang, tinggal sendiri. Nggak bisa lah gini terus sama aku. Aku juga harus ke Bandung Selasa besok. " Sena tersenyum geli. Sekarang ia menikmati Damar yang ekpresif.
''Apa aku kuliah di Bandung aja?"
Sena terhenyak mendengar ucapan Damar. Macem-macem ini anak, batinnya.
"No. Kamu harus tetap lanjutin yang udah kamu siapkan, atau aku yang mundur."
"Nggak bisa, tadi kamu udah bilang nggak akan pergi dari aku. Kamu harus pegang ucapan kamu."
Kini Damar menciumi tangan nya namun ia tak bisa menolak, genggaman Damar terlalu erat. Jantungnya seolah berhenti mendapat perlakuan manis Damar. Laki-laki yang beberapa bulan kebelakang mulai mengusik pikirannya.
''Kamu harus tetap ke Singapur. Jakarta - Singapur nggak jauh, cuma 2 jam. Lebih cepet daripada ke Bandung apalagi kalau weekend."
Ia menikmati obrolan santai seperti ini. Kapan lagi kan?
"Jangan sering-sering. Boros nanti kasian Bunda kan?''
"Aku bisa hemat disana, asal bisa sering ketemu kamu. Lebih baik nahan laper daripada nahan rindu."
"Tapi disana jangan makan mie terus, makan yang sehat. Kalau sakit siapa yang urus? jauh sama Bunda dan aku. Aku nggak mau kamu kurus karena terlalu hemat. Menyedihkan sekali pacaran sama aku jadi kurus. Nanti aku disini juga nabung biar bisa gantian aku yang kesana.''
''For real?''
''Sure.''
''Maacih.''
__ADS_1
Mereka menertawai bersama kegelian ini.
Perasaan bahagia pun menyelimuti, menikmati sisa hari bersama. Sebelum nantinya akan sama-sama jauh terpisah negara.
Mereka pun makan siang bersama, buatan Mbak Min pembantu rumah tangga Dinda.
''Selasa aku anter kamu ya ke Bandung.''
''Ngga bisa, kamu lupa?'' Sena mendelik.
"Aku ikutin mobil kamu dibelakang. Make sure kamu sampe Bandung dengan selamat. Nanti aku pulang lagi"
"Sakti kemana sih, gue pengen kayak gini juga Din." Oliv meremas2 baju Dinda merasa iri dengan ke-sweet-an Damar.
"Nah loh, selingkuh kali tuh si Sakti." Damar manas-manasin.
"Enak aja lo." Oliv melempar kerupuk ke arah Damar.
"Hush." Sena cubit tangan Damar yang tersenyum jahil.
''Damai, just kidding.'' sambil membentukan tangannya huruf ''V''.
******
By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
__ADS_1
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ