
Mita
Saat membuat sarapan pagi tadi, Rama mengirimkannya gambar segelas kopi yang masih mengepul, croissant saat hujan gerimis dengan sebuah kalimat manis. Ia semakin merindukan laki-laki itu, meskipun ada Adit disisinya.
Sifatnya yang terkadang sedikit menyebalkan, posesif, seringkali memaksa dan memerintah ternyata ia rindukan.
Meskipun di beberapa sisi Adit dan Rama memiliki kesamaan, namun mereka tetaplah dua orang yang berbeda. Berada di dekat mereka berdua tetap membuat ia merasakan hal yang berbeda.
Sepulangnya dari showroom, ia membereskan kamarnya yang sudah seminggu belum sempat ia bereskan. Padatnya jadwal kuliah, dan endorsement Adit membuat kamarnya tidak berbentuk karena hanya tersentuh sapu seperlunya saja setiap harinya. Kaos kaki nya hanya sebelah-sebelah yang ia temukan.
Sebelum me-manageri Adit, ia terbiasa merapikan kamarnya di pagi hari. Tapi sekarang, setiap pagi hari ia sudahk sibuk merangkum pelajaran, mengerjakan tugas, menyiapkan bahan quiz atau membuat laporan praktikum. Kuliah di program diploma membuat ia lebih sibuk, karena hampir semua mata kuliahnya memiliki jadwal praktikum yang berbeda dari jadwal kuliah.
Belum lagi jika mendapatkan klient endorsement yang sedikit rempong, ia dan Adit mau tidak mau bergerak lebih cepat. Terkadang lelah, tapi jika ingat fee yang akan ia dapatkan ia akan melupakan kelelahan-kelelahan tersebut. Semua pekerjaan memiliki resiko dan kelelahan masing-masing bukan?
Adit yang memasuki tingkat akhir, hanya tinggal mengikuti beberapa mata kuliah lagi. Selain itu kesibukannya adalah menyelesaikan skripsi, bimbingan, mencari literatur dan tentunya menyelesaikan pekerjaannya sebagai selebgram demi menambah pundi-pundi tabungannya.
Akhir-akhir ini Adit jarang melihat usaha nya yang lain. Hanya jika sekalian lewat baru ia akan mampir. Ia lebih banyak mengahabiskan waktunya di Malabar 10, bolak balik Bogor Depok. Orangtuanya yang tinggal di Jakarta, tidak banyak bertanya tentang kesibukannya yang membuatnya jarang pulang ke rumah. Seolah memaklumi bahwa anaknya ini memang sibuk. Padahal sibuk yang lain. Xixixi
Adit terlihat bahagia sekali hari ini. Ia senang bisa membuat Adit senang.
"Kalau motor dateng, kamu mau kemana?" tanya Adit yang sedang menonton YouTube di laptopnya.
Motornya baru bisa digunakan kurang lebih 7 hari kerja menunggu STNK keluar.
"Kemana aja yang penting sama kamu."
Adit tersenyum.
Ponselnya bergetar.
''Sena'' nama yang tertulis di ponselnya.
Saat Sena menelponnya waktu itu, ia segera simpan nomor telepon tersebut. Khawatir sewaktu-waktu ia memerlukan. Ternyata masih Sena yang memerlukan dirinya.
Setelah basa basi khas warga Indonesia, akhirnya Sena menyampaikan maksudnya.
"Aku lagi di Bogor tapi ngga ada temen, pengen nge-mall enaknya dimana ya?"
Kakak dan adik ternyata sama saja, tempat tujuannya adalah mall.
Ia menatap Adit yang masih fokus dengan laptopnya menonton konten otomotif, yang sesekali bergumam ucapan seperti "keren", "anjay" dan semisalnya.
"Boleh Sen tapi kalau aku ajak temen boleh?"
"Boleh, aku tunggu di mall atau jemput kamu?"
"Terserah, ketemu disana juga ngga masalah."
"Aku jemput aja kali ya, biar sekalian nyari parkirnya ngga dua kali."
Sambungan pun terputus, tumben sekali Sena menelponnya. Ia terus bertanya dalam benaknya ada apa?
"Temenku ngajak ke mall. Kamu mau ikut?"
"Niken?" Yang Adit tau teman kampusnya memang itu itu saja.
Iya bingung harus mengatakan apa, ia khawatir Adit punya pemikiran lain.
"Sena, anak Ibu yang di Jakarta."
Adit nampak mencerna ucapannya.
"Adiknya Rama?"
Ia mengangguk ragu.
"Kamu aja." Adit fokus kembali ke laptop di depannya. Bukan Adit banget, mengalihkan perhatian ketika diajak bicara.
"Kamu pasti punya pikiran yang nggak-nggak." ucapnya pelan. Namun Adit hanya diam tidak merespon.
Tidak ada hal apapun yang Adit cemburui selain sesatu yang menyangkut Rama.
''Aku ngga mau kalau kamu ngga ikut."
__ADS_1
"Terserah kamu, kamu harus bisa memutuskan sendiri." Adit meninggalkannya ke kamar.
Sena pun datang 20 menit kemudian dengan diantar supir.
"Bentar ya Sen." yang dijawab senyuman oleh Sena.
Ia menuju kamar Adit, berusaha membujuk agar Adit mau ikut.
"Mas..." ia mengetuk pintu kamar laki-laki itu, tak lama pintu terbuka.
"Kenapa?"
"Ikut ya..." ia menatap memohon.
"Mas ngantuk." ia tau Adit hanya berbohong.
"Mas..." Adit menghembuskan nafas dengan kasar lalu masuk ke kamar mengambil dompet dan ponselnya.
Adit mengikutinya di belakang dengan langkah pelan, seolah malas.
"Pacar kamu?" ia tersenyum, bingung harus jawab apa.
"Kok bisa ada di dalam kosan? Disini cowok boleh masuk? Atau kosan campur?" Sena tampak bingung.
"Ini kosan saya. Maksudnya saya yang punya, tinggal disini juga." Adit membantu menjawab pertanyaan Sena. Ia selalu bingung jika ada yang bertanya hal demikian.
"Ohh gitu.. tadi lagi tidur ya Mas? Maaf jadi ganggu waktu tidur nya." Sena merasa kurang enak karena Adit memasang wajah unfriendly.
"Lumayan." ia hanya tersenyum kecut, ditanya apa jawab apa. Ngga nyambung, sugguh terlalu.
"Kalau mau lanjut saya ngga apa-apa sendiri juga."
"Oh ngga. Ngga apa-apa, cuma agak ngantuk doang tapi lumayan udah agak seger. Berangkat sekarang?" Adit mencoba sesantai mungkin. Ia bernafas lega, bersyukur Adit mau mengerti posisinya.
*****
Adit
Dalam perjalanan menuju mall, Mita yang duduk di belakang lebih banyak bicara dengan perempuan di sampingnya yang bernama Sena. Ia harus bisa memanfaatkan situasi.
"Mas kenal?" Sena terlihat kaget.
"Pernah ketemu beberapa kali pas kesini."
Waktu yang tepat untuk ngorek informasi tentang Rama. Ia sangat penasaran dengan background keluarga ini. Rama yang sempat menyinggung orangtuanya saat pertemuan terakhir, membuat ia berpikir bahwa Rama berasal dari keluarga terpandang.
"Ibu katanya ngajar ya? ngajar dimana?" ia mencoba memancing gadis ini. Tatapan Mita menyelidik ke arahnya.
"Di Jakun sama di Paramadina."
Lumayan.
"Saya juga anak tingkat akhir Jakun, ngajar di fakultas apa?"
"Ekonomi. Mas nya fakultas apa?"
"Oh. Saya di mesin. Ibu namanya siapa ya? Mas saya ada yang jadi dosen tamu di Jakun siapa tau kenal."
Mita mulai melirik tajam ke arahnya.
"Ibu saya Amalia Utami. Kayaknya orangtua saya kenal saya ayahnya Mas. Mas anaknya om Bamwir kan?"
Ia tercekat, dari mana gadis ini bisa tau nama itu pikirnya.
"Kenal sama Ayah saya? Nama itu cuma orang-orang terdekat aja yang tau. Kalau yang cuma tau sekilas biasanya manggilnya Pak Bambang."
"Oh gitu. Kayaknya temenan gitu Mas. Saya ngga nanya lebih juga sih."
Mita tampak kaget.
Ia pun googling Profil Amalia Utami dosen tidak menunggu waktu lama keluar semua info yang berkaitan dengan keluarga ini. Dengan nama Amalia Utami, S.E., M.A., Ph.D. tertulis lengkap dengan pendidikan, karir dan keluarga.
Saat tengah fokus melihat Profil lengkap, ia dikagetkan dengan panggilan dari Mita.
__ADS_1
"Mas, liat apa sih fokus banget. Ini udah sampe."
Ia pun melihat sekeliling ternyata sudah sampai. Jarak antara kosan dan mall memang sangat dekat, bahkan Mita terkadang berjalan kaki jika hendak belanja buah di supermarket mall tersebut.
"Mau kemana?" tanya nya pada Mita begitu masuk ke dalam mall. Udara di luar mall yang panas kontras dengan udara di dalam mall yang terasa sangat dingin.
"Toko sepatu?" tebak Mita pada Sena.
"Kok tau?" Mita tampak salah tingkah.
"Tau aku suka sepatu dari Kakak pasti." mendengar kata "Kakak" yang disebut Sena sukses membuat hatinya seperti ada percikan panas sehingga membuat ia mengalihkan pandangan kembali ke ponselnya.
Ia pun kembali mencari informasi tentang orangtua Rama. Dengan mudah ia temukan Profil lengkap Romi Chandra Rachman, ayah dari Rama. Yang ternyata adalah orang peneliti yang berpengaruh di dunia kedokteran jantung Indonesia. Bukan main.
Berbekal nama belakang ayahnya, ia pun berinisiatif mencari nama Rama Rachman, tak lama muncul Rama Yuda Rachman. Tidak terlalu banyak yang yang muncul, bahkan akun media sosial pun tidak ada.
Ia pun mencari keberadaan dua perempuan yang ternyata sedang melihat-lihat sepatu.
"Mau beli?"
"Ngga, liat-liat aja nemenin Sena."
"Mit sini, bagusan mana?" Sena memanggil Mita. Mereka tampak diskusi, dua orang yang cocok pikirnya.
Ia pun mencari-cari sepatu yang cocok untuk Mita. Ia pikir-pikir belum pernah memberikan kepada Mita hadiah. Mungkin bisa sekalian sekarang.
"Neng, flat shoes atau sneakers?"
"Sepatuku flat shoes semua kayaknya Mas, sneakers aja."
Sena tampak memperhatikan ia dan Mita. Mita pun memilih sneakers berwarna abu-abu.
''Mana sepatu kamu?" Sena bertanya kepada Mita.
"Sini sekalian." Sena mengambil sepatu di tangan Mita dan membawanya ke kasir. Feeling nya sejak awal sepertinya tidak salah. Anak itu membawa misi dari Kakaknya.
"Punyaku aku bayar sendiri aja Sen." Mita berusaha menyusul Sena yang sedang antri di kasir.
"Biarin sekalian." ia pun keluar dari toko sepatu muak dengan yang sedang ia lihat.
Selesai mencari sepatu, Sena mengajak makan di food court. Mereka memilih bakso A Fung untuk mengisi energi kembali.
Ponsel yang Sena simpan dekat Mita berdering, Sena melihat nama yang muncul di layar ponselnya lalu me-reject panggilan tersebut. Panggilan kedua kembali berdering, Sena menekan tombol hijau di layar ponselnya.
Kalau ia tidak salah menebak yang menelpon adalah orang yang Sena sebut tadi sebagai "Kakak".
"Lagi makan."
"Lagi makan, ngga enak. Nanti aja lah."
"Ih, bentar." ia pun menghentikan acara makannya. Sena berbisik ke arah Mita, kemudian Mita dengan ragu mengambil ponsel yang diberikan Mita.
Ia yang mengerti situasi dengan tegas berkata.
"Load speaker."
"Mit, kamu denger aku ngga?"
"Iya."
"Kamu apa kabar? sehat?" basa basi bangsat.
"Sehat alhamdulillah."
"Pacar kamu sehat?" semua mata memandang ke arahnya. Sena terlihat tidak enak.
"Sehat juga."
"Bagus jadi ada yang jagain kamu selama aku ngga ada. Sampein salam dari aku."
Deg. Muka nya entah berwarna apa sekarang, yang pasti hatinya panas. Harga dirinya seolah diinjak-injak.
Mita tidak menjawab.
__ADS_1
"Nanti Sena kasih syarat-syarat pengurusan visa, kamu siapin. Papa Mama nyuruh kamu ikut kesini nanti liburan semester. Ketemu disini ya biar ngga ada yang ganggu, aku kangen."
Bangsat, rupanya Rama sedang menunjukan kekuasaannya.