
Sepulang dari mengantar Sena dan Mita ke Keio Plaza Hotel yang jaraknya hanya 2 km dari apartemennya, Adit merebahkan diri di atas ranjang kamarnya. Untungnya ujian sudah selesai.
Mengingat kembali kejadi tadi siang. Tiba-tiba Sena ada di sisinya, berjalan bersama di sore hari sepulang ia kerja, dan menikmati ramen bersama, seperti mimpi yang menjadi nyata.
Adit membalas beberapa chat masuk yang belum ia balas. Salah satunya dari Silvi yang bertanya kenapa pulang duluan.
"Keluarga ku datang dari Indonesia."
Tak lama Silvi langsung membalas, namun tidak Adit buka karena menurutnya sudah bukan hal urgent untuk dibalas.
Adit membuka aplikasi travel Indonesia berwarna biru. Mencari tahu harga ter-update tiket pesawat sekarang. Lalu mengirimkan uang sejumlah harga tiket dan biaya taksi ke rekening Sena untuk mengganti taksi dan tiket pesawat. Karena pasti Rama yang membayar tiket Sena.
"Non, aku udah transfer. Buat ganti uang Kakak."
Adit mengirimkan bukti transfer berupa screen shoot.
"Uang apa?"
"Tiket sama taksi."
"Ngga usah. Mending ditabung buat kita nanti. Biarin aja Kakak yang bayar."
"Aku kemarin bilang, kalau kesini aku yang bayar tiketnya. Aku jemput jam 7 malam ya ke hotel."
Meski baru satu jam lalu bertemu Sena, Adit sudah rindu kembali.
"Baru kerasa pegel."
"Kalau pegel makan di hotel aja ya? Mau di resto hotel atau room service?" (room service : makan di kamar)
"Room service aja. Mas ke sini ya."
Setelah shalat dan mandi, Adit langsung menuju Keio. Tidak perlu menunggu jam7 karena ia dan Sena tidak jadi makan malam di luar.
Sena menunggu Adit di lobby hotel karena untuk menuju lantai kamarnya menggunakan kartu akses. Meskipun tadi sudah bertemu, jantung Adit terus berdetak tidak santai saat bertemu Sena. Rasanya seperti bertemu untuk dating pertama kali.
"Ngamar juga kita."
Adit menggoda Sena dengan rangkulannya.
"Mesum."
Begitu masuk ke dalam kamar seluas 70m² tersebut, Mita sedang duduk di meja kerja. Hanya memutar-mutar kursi kerja sambil bermain ponsel. Kamar tersebut terdiri dari dua buah ranjang tidur, sofa dan meja kerja tanpa sekat. Sangat berbeda dengan hotel mewah di Indonesia. Dengan harga yang sama bisa mendapatkan tipe presidential dengan luas lebih dari 100m².
Adit memilih duduk di sofa dan Sena merebahkan kepanya di pangkuan Adit. Hanya mengusap sambil memandangi Sena yang bermain ponsel.
"Tatapannya itu tolong dikondisikan."
Yang semula Adit sangka pesan dari Silvi ternyata ia salah. Sebuah oesan dari Mita dari meja kerja sambil memantau Adit dan Sena.
"Kenapa tatapan aku?"
Adit menyembunyikan ponselnya dari Sena.
"Aku udah nikah, jadi tau maksud dari tatapan kamu ke Adekku."
Adekku. Penekanan dari Mita.
Mendapat pesan yang mengintimidasi, membuat Adit memeluk kepala Sena yang tengah bersandar di atas paha nya.
"Kenapa?"
Sena menatap Adit dari posisinya.
"Ngga, kangen doang."
Mita terus memperhatikan Adit dan Sena, sesuai perintah dari Sang Suami.
"Aku titip Sena ya, Mim. Aku takut dia ngerasa udah dewasa jadi ngerasa boleh melakukan hal-hal yang belum boleh."
Pandangan Adit terus mengarah ke wajah dan bibir, mirip seperti tatapan Rama jika menginginkannya. Tidak ada yang salah, karena naluri alamiah laki-laki. Mungkin bentuk pengakuan bahwa Adit juga mencintai dan membutuhkan Sena. Sama seperti Rama kepadanya.
Anehnya, ada dua perasaan yang kontradiksi. Ada perasaan ingin menjaga Sena namun ada juga perasaan kasihan kepada Adit.
"Lima menit, aku mau pesan makan ke resto dulu."
Meskipun bisa via telepon, Mita memberikan Adit dan Sena waktu untuk berdua. Cukup lima menit sebagai toleransi.
"Kuliah cepet beresin, pulang ke Jakarta nikah."
Adit diam membaca pesan dari Mita. Seperti bukan Mita, seperti Rama. Beberapa hal dari Mita telah berubah. Mungkin pengaruh Rama.
"Sen, nitip makan ga?"
"Mau kemana?"
"Ke resto bawah."
"Tinggal telepon aja."
"Aku pengen jalan-jalan."
"Mas mau makan?"
__ADS_1
"Belum laper."
Adit memainkan pipi Sena dengan kedua tangannya.
"Nanti aja aku ke bawah sama Adit."
Mita mengangguk, sementara matanya fokus ke ponsel.
"Lima menit, tetap disitu."
Adit tersenyum senang melihat Mita keluar dari kamar.
"Kemarin ngapain aja sama Ricky?"
"Cuma makan."
"Jangan lagi ya."
Adit mencium tangan Sena.
"Mas kemarin ngapain aja sama staf KBRI itu?"
"Cari buku sama ngopi."
"Jangan lagi. Aku..."
Belum selesai Sena bicara, ucapannya dipotong dengan serangan tiba-tiba dari Adit.
"Lima menit waktu dari Teteh buat kita."
Sena mengingat kembali ucapan lima menit dari Mita tadi. Begitu paham, Sena membalas Adit dengan segala kerinduannya.
"Aku kangen. Cuma sama kamu, aku bisa gini."
Sena memperbaiki posisi tidurnya. Menarik Adit agar lebih merapatkan wajahnya.
"Ngga boleh sama yang lain."
"Ngga akan."
Tangan Adit sudah berpindah tempat. Memeluk Sena dalam dekapannya, meski ingin menjelajah ke tempat lain ia tahan sekuat tenaga.
Perasaan yang begitu ia rindukan. Bertemu Sena sebagai laki-laki dan perempuan dewasa.
"Mas jangan kesana."
Tanpa Adit sadari, tangannya sudah menyentuh dua aset berharga milik Sena. Adit tidak menjawab, melepaskan sentuhan tangannya namun pergerakan dari dalam mulutnya bertambah liar.
Belum lima menit Mita sudah kembali. Berdehem dan membuka pintu perlahan. Dengan cepat Adit menyeselesaikan urusannya dengan Sena.
Sena berbeda dengannya, ekspresif dan agresif. Jika terlalu lama dibiarkan, Mita khawatir keduanya terlalu jauh.
"Cukup ya."
Adit dan Sena menjadi salah tingkah. Spontan Sena bangun dan duduk di sebelah Adit.
"Udah ke restonya? Pesen apa?"
Sena yang cuek, dengan mudahnya bersikap seperti tidak terjadi apapun.
"Belum. Lewat telepon aja mau pesen buah potong. Pengen ngemil."
"Pesen jus bisa ngga sih?"
Tiba-tiba Adit haus. Ingin sesuatu yang menyegarkan tenggorokannya. Setelah empat menit tadi ia bermain dengan liar. Mungkin karena efek rindu yang ia rasakan.
"Mau ke bawah aja ngga?"
Sena memberikan pilihan untuk makan di resto.
"Ngga, via telepon aja. Kamu pegel kan tadi."
Adit mengangkat kaki Sena. Memijat mijat dengan satu tanganya yang memegang ponsel menghapus pesan dari Mita.
"Jus apa? Aku pesenin."
Mita yang menelepon resto.
"Aku strawbery."
"Aku melon aja."
Tiba-tiba Adit memberikan ponselnya kepada Sena.
"Apaan?"
"Instagram kamu."
Sena menggeleng-geleng kepala. Selebgram menganggap instragram sepenting itu.
"Harus banget ?"
"Ngga apa-apa kalau ngga mau, asal kamu jangan pulang. Di sini sampai aku lulus."
__ADS_1
"Aku ngga boleh pulang Teh."
Sena tertawa bahagia.
"Bisa hamil kamu Sen kalau di sini terus."
Sena sudah dewasa. Sudah saatnya Sena paham akan hal-hal yang berhubungan dengan ****.
"Makanya log in instagram kamu di HP aku."
Ketika ponsel sudah di tangan Sena, namun berdering.
"Di telepon cewek. Pacar aku idola wanita."
Sena yang sudah berniat log in di ponsel Adit, mengembalikan ponsel Adit kembali.
"Iya, Sil."
"Oh. Link nya udah kamu kirim? Iya wait aku liat."
Adit membuka pesan dari Silvi yang sejak di apartemen belum ia buka. Ternyata berisi link google meet.
"Romantis banget, pake aku kamu."
Sena berpindah tempat duduk, menuju kasurnya.
"Dia staf, Non. Pake gue elo kan ngga sopan."
"Staff nya kecentilan."
Adit diam, tidak menjawab ucapan Sena. Mita sendiri tidak kaget dengan reaksi Sena. Terus terang.
"Habis mesra-mesraan tadi. Sekarang ribut deh."
Mita menutup tubuhnya dengan selimut.
"Aku google meet dulu bentar."
"Kangen mungkin staf nya."
"Tadi aku ngga ikut evaluasi. Bentar ya."
Adit bersiap menggunakan earphone yang ia simpan di tas sling bag nya.
"Ngga usah pake earphone, aku pengen tau gimana sih kerjaannya influencer."
Adit menatap Sena yang bicara tanpa melihat ke arahnya. Ikut mengambil posisi tidur berpindah ke sebelah Mita sambil memeluk perut Mita.
"Sory, tadi aku ngga liat whatsapp."
Adit membuka google meet dengan Silvi dengan wajah datar untuk menjaga jarak. Ia tahu Silvi menyukainya berdasarkan candaan dari staf senior.
"Mas Adit tadi pulang duluan aku ngga tau."
"Sorry ada tamu dadakan."
"Pacarnya yang tadi itu ya?"
"Iya. Gimana evaluasinya tadi?"
"Tadi rame setelah Mas Adit pulang. Pengunjung nanyain Mas, pada kecewa sih mereka. Besok Pak Denny minta Mas stay sampai malam. Acara kita kan 3 hari lagi. Pak Denny minta kita all out di sisa acara."
Sena mendengar jelas meski setengah wajahnya ditutupi selimut.
"Jatohnya kaya "ngejual" Mas ngga sih?"
Komentar pertama Sena setelah Adit mengakhiri google meet.
"Aku dibayar untuk itu sebenernya."
"Bukannya untuk media promosi? Aku tau nya Mas bantu dibagian promosi. Bikin video gitu-gitu kan?"
"Itu juga. Mereka bayar jasa aku profesional, Non. Aku harus ada effort juga secara profesional untuk acara ini."
"Gila, kaya ngga ada kerjaan lain aja."
Adit diam, hanya bisa mendengarkan omelan Sena. Seperti Ayahnya yang tidak membalas dengan ucapan jika Bu Retna bicara.
"Tiket bisa dimajuin ngga Teh? Besok kita pulang aja. Teteh ngidam sushi ramen kan? Udah kan? Aku mau packing. Percuma banget kesini."
"Kamu ngga bilang mau kesini. Kalau aku tau kan aku bisa cocokin sama jadwal aku."
"Malah bagus sih ke sini. Jadi tau kerjaan Mas itu kaya apa. Cewek-cewek doang. Siapa coba yang ngga mau. Dibayar kecil aja lumayan bisa deket-deket cewek, apalagi dibayar mahal sayang atuh ditinggalin mah."
Sena menahan airmatanya agar tidak jatuh. Bangkit lalu membereskan beberapa pakaian dan barang yang ada di meja.
"Aku ikut tidur di sini ya Teh. Cuma di sofa."
"Ngga pulang aja ke apartemen?"
"Besok jadi pulang? Kalau jadi aku tidur disini."
Mita bingung dengan kondisi yang ada. Tidak tau cara menjadi penengah untuk kasus ini.
__ADS_1
"Terserah kalian. Kalau buah nya udah sampe bangunin aku."