Cinta Mita

Cinta Mita
Kejadian tak terduga


__ADS_3

"Pak Tarjo ke Cianjurnya besok aja, pas kita ke kampus. Nanti sore aku mau belanja dulu ke mall, belanjain Bapak sama Ibu. Biar Pak Tarjo yang bawa ke Cianjur. Boleh?"


"Belanja apa?"


"Baju, tas, sepatu, sendal, make up. Yoga juga beli jaket. Aku kan istri bos RM food. Kalau uang belanjaku kurang tinggal bilang, iya kan?"


"Oh mulai pinter..."


Rama menelusupkan kepalanya ke bagian perut Mita saat sedang istirahat makan siang di ruangan Rama.


"Aku cuma ngga mau suami aku tersinggung lagi."


Rama tertawa.


"Istri siapa sih ini pinter banget alasannya."


Lantas menggigit kecil bahu Mita.


"Serius itu alasan aku. Aku mau belanja buah juga ya. Keluarga sederhana kaya aku, punya buah lengkap di kulkas itu suatu kemewahan tersendiri. Apalagi kalau di dapur ada stok mie instan sekardus, makanan kaleng, saos sambal, bumbu-bumbu wah itu mewah banget."


"Masa sih? Kaya gitu doang mewah? Mie sekardus jadi makan mie tiap hari? Apanya yang mewah."


Rama bingung dengan maksud ucapan Mita.


"Ngga tiap hari, stok sayang. Kalau keluarga yang sederhana kaya aku biasanya beli mie tuh satuan ke warung. Jadi punya stok mie banyak tuh keren aja gitu."


"Lucu amat, mie doang mewah. Kamu mau beli mie berapa kardus?"


Rama berbicara sambil menatap Mita tanpa kedip, menikmati kecantikan natural istrinya yang terpancar secara alami.


"Kalau mie ngga usah banyak di warung aku, buah aja sama bumbu-bumbu buat Ibu masak."


Rama tertawa melihat kepolosan Mita. Ia selalu suka melihat Mita jika sedang bicara tanpa henti.


"Kamu kasih uang dong ke Ibu tiap bulan, biar ngga usah jualan lagi. Kalau aku yang kasih takut tersinggung. Yoga kasih juga jajan bulanan. Sena juga masih aku kasih, autodebet dari rekening aku."


"Urusin ya autodebet dari rekening kamu buat Ibu sama Yoga. Jadi aku tambahin tiap bulan ke rekening kamu. Aku nitip." lanjut Rama.


Suami siapa yang kek gini? Xixixi


Rama dan Mita belum membicarakan kesepakatan masalah keuangan bersama. Padahal sebaiknya keuangan keluarga harus disepakati sebelum rencana pernikahan.


"Boleh aku kasih Ibu uang?"


"Kan mulai lagi, kamu masih ngira aku pelit?"


"Ngga. Kasih Ibu modal aja biar warungnya jadi gede kaya agen sembako kaya punya nci-nci gitu. Terus ada karyawannya yang bantuin. Ibu bagian kasir aja. Kamu ngasih buat Fery aja 100 juta bisa kan. Buat Ibu aku minta 200 juta."


"Wah ngelunjak ini namanya."


Rama menggigit kembali bahu Mita.


"Eh iya dong, yang meninggal kemarin aja 500 juta. Buat orangtua ku 200 juta sedikit dong berarti, buat modal juga kan bermanfaat. Fery 100 juta buat hura-hura doang."


Setelah kejadian kemarin, Mita sudah tidak sungkan lagi menyangkut uang kepada Rama.


"Bukan hura-hura sayang. Fery tuh aku bayarin honeymoon biar bisa quality time sama istrinya. Mereka kan sama-sama kerja, waktu berdua itu susah jadi lama punya anak. Seminggu di Amerika berdua, pulang-pulang langsung hamil, jadi anak 100juta namanya."


Mita tertawa mengetahui asal muasal penyebutan anak Fery menjadi anak 100 juta.


"Kamu baik banget sih?"


Kini Mita yang menelusup ke ketiak Rama, bagian favorite nya.


"Biasa aja, udah sewajarnya. Kalau orang-orang ngga sebaik aku, mungkin karena mereka belum sekaya aku."


Rama tertawa sendiri menyadari ucapannya yang tidak berniat sombong tapi penuh dengan kesombongan.


"Sombongnya suami aku..."


"Jadi gimana ini? Boleh 200 juta tapi sehari 2 kali ya berarti? Kita buat kesepakatan dulu. Setelah deal, aku transfer. Ini aku buka mbaking nih."


Rama memegang ponselnya di tangan kiri.


"Apaan sehari dua kali?"


"Bikin adik bayi kaya punya Fery, aku juga pengen punya."


"Dua kali sehari itu gimana? Siang di kantor kaya gini sama malam di apartemen gitu?"


"Jangan di kantor dong sayang. Bangun tidur sama malam."


Mita tertawa, ia kini sudah dipangkuan Rama.


"Bikin kamar disini enak kali ya."


Rama mulai membuka kancing kemeja Mita dan memasukan tangannya ke dalam kemeja.


"Ngaco, ini kantor. Udah ah aku mau turun lagi. Kiss aja buat bos baik."


Mita mengecup singkat bibir Rama.

__ADS_1


"Deal dulu, pagi dan malam oke?"


Rama menarik kembali Mita yang sudah berdiri ke pangkuannya. in a


"Bawel." Mita menirukan ucapan yang biasa Rama ucapkan kepada Fery jika banyak bicara lalu mengecup Rama kembali.


"Sini aku yang transfer ke rekening aku."


Mita tersenyum mengambil ponsel Rama lalu mentransfer uang ke rekening nya dari rekening Rama.


"Makasih sayang. Minggu besok pulang ya ke Cianjur, belanja lagi ajak Ibu ke mall."


"Kok jadi belanja terus?"


"Jangan main-main, aku istri bos. Kamu wisuda kan lagi musim dingin, beli jaket musim dingin buat Ibu Bapak."


"Ih ini istri nya siapa sih."


Rama tertawa memeluk Mita gemas melihat keberanian Mita.


Sementara itu di Bandara Narita ada seorang laki-laki yang sedang menunggu waktu boarding untuk terbang ke Singapura.


Panas dengan ucapan yang menghasut Sena, akhirnya ia merasa perlu meluruskan. Adit tidak ingin merasakan kembali sakitnya ditinggalkan.


"Mau lu apa? Lu ngga usah ganggu dia lagi. Dia udah ada gua."


Tak ingin basa basi Adit langsung pada tujuan inti.


Perjalanan Tokyo Singapura ditempuh dalam waktu hampir 8 jam perjalanan udara. Begitu sampai di Changi Airport, Adit masih harus melanjutkan perjalanannya dengan taksi untuk menuju tempat yang sudah diinfokan Damar sebelumnya yaitu Holland Village, tempat anak muda Singapura biasa nongkrong.


"Gua mau Sena balik ke gua."


Adit menatap tajam laki-laki bernyali besar di hadapannya. Awalnya ia ingin bicara baik-baik dengan Damar, namun melihat Damar dengan gaya nya yang menurutnya belagu membuatnya harus lebih dalam menahan emosi.


"Sena sekarang cewek gua. Sena udah ngga mau sama lu bos. Dan maksud lu apa buka-buka akun gua?"


"Akun 1juta followers itu? Yang isi nya banyak DM dari cewek-cewek yang menawarkan diri? Gua yakin lu bakal ninggalin Sena karena dia ngga bisa ngasih apa-apa ke lu dibanding cewek-cewek yang body nya uhhh anj**g."


"Anji*g. Gua ngga pernah ngelayanin cewek-cewek itu bangsatt. Lu ngomong hati-hati."


Adit menarik kaos bagian leher Damar.


"Itu kan di DM, gua ngga tau isi whatsapp lu gimana, mungkin transaksi nya di whatsapp. Mereka ngasih nomor whatsapp nya kan? Ngga usah muna lah jadi cowok. Temen gua disini banyak tuh yang suka pake jasa gituan dan bayar mahal. Kalau lu normal ngga mungkin lah dilewatkan apalagi gratis. Gila sekarang lu di Jepang, duit lu banyak, musim dingin butuh yang hangat dong. Percaya sama gua Sena ngga bisa ngasih."


Jepang memang terkenal dengan jasa hiburan e*ek-ese* yang mendunia.


Entah seta* mana yang merasuki Damar hingga berani bicara sedemikian kasar hingga Adit kehilangan kendali.


"Bangsatt ta* an*ing, jaga mulut lo !"


"Gua ngga bakal biarin lu sama Sena bahagia. Lu harus bunuh gua dulu."


"Gila. Psycho."


Umpat Adit meninggalkan Damar dengan wajah lebam kebiruan.


Adit masih di selimuti amarah, tidak mungkin ia ke hotel dengan kendaraan umum seperti MRT. Wajahnya masih merah padam karena amarah. Akhirnya ia mendapatkan taksi untuk mengatakan ke hotel, sebelum besok kembali ke Tokyo.


"Maaf tadi aku di luar."


Seharian sudah Adit tidak menjawab video call dari Sena. Setelah membeli paket data roaming internasional dan sampai di hotel, ia langsung video call Sena.


"Kamu dimana? Itu di hotel? Ngapain?"


Adit memilih video call dari Sena di balkon kamar hotel karena Ia sedang vaping. Ia tidak menyangka Sena akan hafal se-spesifik itu.


"Mas ngga macem-macem kan?"


"Gimana tadi kuliah? Ada yang ganggu ngga?"


Adit tidak menjawab pertanyaan Sena.


"Ngga pernah ada yang ganggu aku. Mas ngga kuliah? Coba aku mau liat pemandangan disana bagus banget."


Sena memancing Adit. Ia ingin memastikan bahwa tebakannya benar.


"Bosen. Aku staycation sebentar di hotel ngilangin penat."


"Di hotel mana? Mas bukan di Tokyo kan? Aku hafal view nya. Bagian mana dari Tokyo yang ada teluk?"


"Udah dulu ya, chat aja."


"Bentar. Ngapain ke Singapura?"


Sena ternyata ikut menduplikasi sifat keluarga nya, dominan dan tidak ingin ditentang.


"Mas ngapain disana? Aku baca balesan DM buat Damar. Kamu yang ngetik kan? Kamu nemuin Damar?"


Adit tetap tidak menjawab, sesekali ia menyeruput es kopi yang ia pesan dari restoran hotel melalui sambungan layanan kamar.


Sena menangis tersedu.

__ADS_1


"Mas, aku tuh kayaknya cuma status doang pacar kamu. Hati nya nihil buat aku. Ngga ada rasa percaya, ngga aja kejujuran. Ini yang mas maksud dengan mencoba memulai? Harusnya aku sadar bahwa kamu belum bener-bener sayang sama aku."


Adit melihat Sena dengan mata merah.


"Kamu mau instagram aku? Hasutan cowok brengsek itu berhasil kayaknya."


"Instagram nanti dulu. Sekarang aku mau tau kenapa kamu ada di Singapura? Mas nginep di Marina kan? Sendiri kan?"


"Kamu kira sama siapa? Cewek? Aku ketemu sama dia tadi. Aku udah hajar cowok tengil, brengsek, psycho, the looser." (pengecut)


"Astagfirullah kamu hajar gimana maksudnya? Mas liat sendiri kan dari kemarin aku ngga baca DM dari dia. Kamu sendiri yang buka isi DM nya."


Sena kaget mendengar Adit menghajar Damar.


"Kamu ngga perlu tau urusan cowok. Udah dulu ya, aku mau mandi. Kamu ngga usah nangis."


Adit menyudahi video call dengan Sena, hatinya masih belum tenang.


"Mas, aku ngga suka mas ngotorin tangan dengan mukul orang, siapapun orangnya."


WhatsApp dari Sena masuk ke ponselnya.


"Aku pernah kecewa, meskipun udah sembuh tapi sakitnya masih terbayang. Aku begini buat kamu."


Setelah membaca balasan dari Adit, Sena menelpon Mita dengan tersedu.


"Teh ganggu ngga?"


Mita yang sedang memijit Rama menghentikan gerakan tangannya. Sepulangnya dari kantor tadi Mita langsung mengajak ke mall dekat apartemen untuk berbelanja.


"Ngga Sen, aku lagi mijitin Abang. Kenapa sweety?"


Sena mulai terisak, sedih karena Adit tidak mau cerita dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap Damar.


"Adit lagi di Singapur mukulin mantan aku."


"Hah? Astagfirullah."


Rama kaget melihat respon Mita, mengambil ponsel Mita lalu load speaker.


"Tapi dia ngga mau cerita kenapa sampai mukulin Damar."


"Apa katanya?"


"Kata dia urusan laki-laki aku ngga perlu tau. Itu juga awalnya dia ngga bilang lagi di Singapur. Tapi pas aku video call aku tau dia Marina Bay Singapur."


Sena bercerita mengenai Adit panjang lebar. Bercerita kepada Mita tentu memiliki maksud lain setelah membaca DM dari Damar.


"Teteh masih inget password IG nya Adit?"


Rama memandang Mita, ia sering membuka Instagram Mita namun tidak memperhatikan ada akun siapa saja di dalamnya.


"Ngga kamu tanya aja Ke Adit langsung?"


"Dia kayaknya belum percaya aku. Padahal aku udah kasih tau akun aku. Sedih ngga sih..."


Rama mendengarkan curahan hati Sena tanpa suara. Memandang jauh ke luar jendela kamarnya. Apakah Ini balasan untuknya karena secara tidak langsung sudah curangi Adit? Sena menyukai Adit dengan sungguh.


"Sabar sweety, dia cuma butuh waktu. Adit cowok baik, dia ngga macem-macem. Tapi maaf, kayaknya ngga etis kalau aku yang kasih tau password nya, harusnya dia langsung. Percaya sama aku, dia sedang meyakinkan diri."


Mita mendengarkan keluahan Sena dengan baik dan memberikan banyak masukan agar Sena lebih sabar menghadapi Adit.


"Wajar ngga Sena nangis kaya gitu karena cowok?"


Rama khawatir kepada Sena, tidak ingin adiknya disakiti laki-laki manapun.


"Masih wajar. Kamu juga dulu suka bikin aku nangis."


"Kapan aku bikin kamu nangis? Enak aja."


Kini Rama mendekati Mita kembali, nguwel-nguwel perut Mita dengan kepalanya.


"Ih ngga nyadar. Yang paling aku inget pas di dalam mobil kamu mau pamit ke US. Itu aku sedih banget."


"Itu kan bukan karena aku nyakitin kamu."


"Pernah juga pas aku mau kuliah umum, kamu nyakitin aku. Sampe kampus mataku bengkak jadi pusat perhatian anak-anak."


"Ah berlebihan kamu nya."


"Itu gimana Adit mukulin mantannya Sena Bang, dia sampai ke Singapur buat nemuin cowok itu."


"Ngga apa-apa itu mah, wajar cowok ngerebutin cewek. Adit pasti punya alasan kenapa sampai mukulin dia. Ngga mungkin kan tiba-tiba mukulin? Dia sampe ke Singapur buat nemuin mantannya. Gantle nya..."


Kadar kepercayaan Rama terhadap Adit semakin bertambah.


"Tapi kalau soal Mita mah, aku pemenang nya."


"Ih apaan deh."


Malam itu Rama dan Mita sudah menempati apartemen baru nya. Mita merasakan suasana yang berbeda dengan apartemen bawah. Terasa lebih nyaman karena hanya berdua dengan Rama. Benar kata Rama, seorang istri memang butuh privasi sendiri.

__ADS_1


"Mari kita mulai perjanjian tadi siang, sehari dua kali. Besok pagi mulai ya."


Mita tertawa melihat Rama yang begitu semangat, namun pikirannya masih membayang-bayangi Adit dan Sena.


__ADS_2