
Selamat malam readers tersayang, semoga kita semua sehat yaa :-)
Hujan gini aku sambil nulis karena terharuu bacain komen kalian di setiap Bab, meski mager aku berusaha sambil nulis. Komen, like, vote, hadiah kalian sangat berarti buat aku. Aku terharu kalau tulisan aku yang receh ini sedikitnya bisa menghibur semua.
Semoga enjoy dengan kisahnya Mita ya 🌺🌺
*****
Mita
"Makasih kamu udah mau ketemu keluargaku." Adit mengambil dan mencium tangannya ketika motor sudah meninggalkan parkiran butik. Hatinya turut berbunga-bunga hari ini karena merasa diterima keluarga Adit.
"Aku juga makasih, Mas udah ngajak aku ketemu Ibu, Mbak Puput sama Mas Abi."
Adit mengangguk pelan.
"Tinggal Ayah ya, minggu depan di nikahan Mas Abi.''
Ia mengangguk. Adit maupun dirinya diliputi kebahagian sederhana namun sangat bermakna. Sesuai dugaannya dulu, masuk ke keluarga Adit lebih mudah dibanding masuk ke keluarga Rama. Kehangatan keluarga Adit membuat ia nyaman.
''Tadi kata Mas Abi kamu kaya bidadari."
Ia tersipu malu. Adit memperhatikannya dari kaca spion tersenyum.
"Berlebihan itu mah." namun ia sangat bahagia mendengar nya.
"Serius. Keluargaku suka sama kamu."
"Aku juga suka sama keluarga Mas. Baik semua."
Ia tersenyum, teringat candaan Mbak Puput tadi.
"Kamu kok bisa sih mau sama Adit? Dia kan masih dikelonin Ibu."
Sontak ia tertawa reflek, muka Adit kala itu memerah menahan malu.
"Mbak coba dikontrol bercadanya."
Adit memandang Mbak Putri sinis
"Aku jujur kok, tanya Ibu."
Ibu hanya geleng-geleng tersenyum.
Tadi pun ia merasa tersanjung saat Ibu memanggilnya "Cah ayu".
Saat ia dan Adit pamit, keluarga Adit mengantarnya sampai parkiran. Melihat yang dibawa Adit motor, Ibu berkomentar.
"Kamu yang bener aja Dek, Cah ayu diajak motor-motoran. Kalau Mita pegel di motor bilang Adit ya."
Lagi-lagi ia hanya mengangguk mendapatkan perhatian spesial.
"Nek Adit ugal-ugalan, kamu keplak aja kepalanya."
Mba Puput the real sister in real life. Potret ia dengan Yoga, adiknya xixixi.
"Enak aja, dibayar loh fitrahnya ini kepala ku. Lagian aku kalau sama Mita nggak suka ngebut, pelan-pelan aku mah. Malah aku cari jalan yang jauh, biar bisa lama sama Neng Mita."
Adit tersenyum menggoda.
Ia benar-benar tersipu.
"Cah ayu karo Cah gendeng, ra cocok blasss."
Candaan Putri sukses membuatnya tertawa. Meskipun ia tidak begitu paham semua pembicaraan keluarga itu secara keseluruhan, namun ia paham intinya.
"Tadi Mita yang minta Mas Adit pakai motor. Mobil Mas terlalu gimana ya, kita jadi diliatin terus jadi ngga PD naiknya."
Ia mencoba membela Adit.
"Denger toh? Bukan aku yang mau."
Ia tertawa mendengar Adit membela diri.
"Tapi kalau naiknya motor ini sama aja. Sepanjang jalan kamu diliatin cowok-cowok. Kalau di mobil, yang diliat mobilnya aja kamu nya di dalem ngga keliatan. Besok-besok di mobil aja. Atau suruh jual mobilnya beli mobil biasa."
Benar juga pikirnya.
"Enak aja, beli mobil biasa aja tapi jangan jual mobilku. Itu beli nya pakai darah, keringat dan airmata." Adit protes. Secinta itu dengan si ganteng xixixi.
"Lebhaayy nemen." Mbak Puput terus saja menjahili adiknya.
Mas Abi pun tak kalah membuatnya tersipu saat memanggilnya dengan "Dek".
__ADS_1
"Dek, kalau Adit kurang ajar bilang ke Mas. Nanti Mas yang ajarin."
Ia tersenyum mengangguk, seolah paham apa yang dimaksud kurang ajar.
"Kamu jagain, jangan sampai diambil orang. Bersyukur dia mau sama kamu."
"Aku jadi ngerasa jelek banget disini." Adit tersenyum sinis.
"Ngga kok Mas ganteng."
Yang awalnya niat menghibur malah menjadi bulan-bulanan keluarga Adit.
"Waduh dia lagi nyenengin kamu aja itu."
Ia sudah benar-benar tidak tau harus melakukan apa, melihat Adit selalu dipojokan kasihan juga.
*****
Sena
Sejak kemarin Damar selalu menghubungi nya. Ia sudah tidak peduli, meskipun ia rindu tapi ia ingin membuat Damar merasakan rasanya dicuekin. Seolah lupa, bahwa Damar telah merasakan nya sejak bertahun-tahun lalu.
''Aku besok ke kampus kamu ya."
Tetap tidak ia respon meskipun dengan satu huruf "Y" ataupun "G".
Mana mungkin Damar ke kampusnya pikirnya. Meskipun benar Damar pulang ke Indonesia, tetap sulit mencari ia diantara ribuan mahasiswa di kampus yang luasnya berkali-kali lipat dari luas SMA nya dulu. Tidak semudah itu Bambang!
Keesokan hari nya sepulang nya dari kuliah terakhir pukul 17.35 teman sekelasnya yang bernama Risa menghampiri nya.
"Sen ada yang nyari di depan. Cowok lo bukan sih?"
Deg. Benarkah Damar senekat itu datang ke kampusnya? Bagaimana bisa Damar menunggu di depan kelasnya?
Ia melihat dari belakang laki-laki yang disebut mencarinya. Rambutnya melewati kuping, lebih gondrong dibanding rambut Damar terkahir video call dengannya dua bulan lalu. Namun perawakan dan warna kulitnya masih ia kenal.
Tanpa menoleh ia melewati pria itu. Namun tangan nya ditarik dari belakang.
"Lepas ah."
"Tolong dong Sen jangan kaya gini."
Damar memegang tangannya kuat.
"Balikan sama aku ya?"
Teman-temannya memperhatikan ia dan Damar. Risa mendekat.
"Lo ngga apa-apa?" Ternyata khawatir Damar macam-macam xixixi.
"Ngga apa-apa." jawabnya sambil tersenyum.
Tanpa diduga Damar melakukan hal gila. Damar berlutut sambil berbicara dengan lantang.
"Shenafia Rachman, maafin aku kalau aku terlalu sibuk. Aku sekarang udah disini demi kamu. Terbang dari Singapur kesini buat kamu. Please.... balikan sama aku?"
Oh my God... Wajahnya sudah pasti memerah sekarang menahan malu.
Risa dan teman-temannya yang Tadi menatap Damar tajam, kini hanya senyum menggeleng kepala.
"Yaelah, gua kira apaan. Cabut cabut." beberapa mahasiswa ada yang meninggalkan TKP, namun lebih banyak yang tetap diam tertarik melihat kebucinan di depan mata.
"Sena kamu denger nggak? Aku ulangin lagi ya."
"Nggak usah." dengan cepat ia memotong ucapan Damar. Khawatir Damar benar-benar teriak seperti tadi. Urat malu nya hampir putus.
"Iya aku mau, tapi ngomongnya pelan-pelan." ia masih merasa malu, menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan. Beberapa pasang mata masih memperhatikan mereka meskipun hari telah menggelap.
"Tapi udah sore banget ini aku mau pulang."
"Kamu tega banget, aku dateng dari Singapur keliling dari siang akhirnya nemu kamu disini. Baru ketemu berapa menit udah disuruh pulang."
Ia menatap tajam.
"Bohong."
"Iya aku dari rumah, tapi sama aja jauh juga."
"Terus mau kamu gimana?"
"Jalan sebentar nggak bisa?"
"Ini udah mau Maghrib Damara Gunawan."
__ADS_1
"Oke aku pulang. Chat sama telepon aku jawab tapi ya?"
Ia diam. Sebenarnya masih kesal dengan Damar meskipun sudah memaafkan.
Namun hatinya tidak bisa berbohong. Ia senang Damar ke kampusnya melakukan hal norak.
*****
Bu Lia
Sepulangnya dari kampus pandangannya tertuju pada undangan dengan model amplop berwarna gold yang tergeletak di meja makan. Anehnya undangan tersebut ada dua, dengan nama tamu undangan yang berbeda.
Undangan pertama tertulis nama tamu undangan untuk "dr. Romi Rachman & Amalia Utami" dan undangan satu lagi untuk ''Rama Yudha Rachman & pasangan".
Ia membuka undangan tersebut lalu melihat nama penggantin.
"Abimanyu Bagas Wiraguna & Fima Pramesty"
Tanpa ia lihat nama kedua orangtua mempelai, ia sudah tau Fima menikah dengan anak dari Bamwir.
" Ternyata dunia hanya sebesar Jakarta" pikirnya tersenyum.
*****
Mita
Hari ini ia bersiap ke kantor imigrasi untuk mengurus paspor diantar Adit. Setelah mengisi aplikasi pembuatan paspor secara online, ia pun datang ke kantor imigrasi. Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Karena paspor selesai hanya dalam waktu tiga hari.
Paspor keluar, ia pun membuat visa. Dengan menambahkan surat jaminan dari keluarga Rama sebagai sponsor. Bahwa kebutuhannya ditanggung keluarga Rama.
Amerika salah satu dari beberapa negara yang paling sulit memberikan visa. Bukan tanpa alasan, karena banyaknya pekerja illegal dan pendatang tanpa izin membuat negara tersebut memeperketat pemberian visa.
Hal yang bisa mempermudah dalam mendapatkan visa adalah surat jaminan bahwa pemohon akan kembali ke Indonesia alias bukan untuk bekerja tanpa izin. Dan tidak akan terlantar selama di Amerika.
Prosesnya sekitar 15 hari namun bisa lebih lama jika ada dokumen yang kurang. Dan harus dilengkapi maksimal 10 hari setelah tanggal pemberitahuan. Jika tidak maka visa akan dianggap tidak lengkap, dan harus mengulang dari awal.
Hari semakin mendekat ke hari pernikahan Mas Abi. Ia semakin dag- dig-dug tak karuan.
"Jumat kamu ikut nginep di hotel ya sekamar sama Mbak?"
Ia benar-benar tidak mengerti dengan acara pernikahan konglongmerat. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan acara pernikahan di kampungnya yang sederhana. Jauh dari kata mewah apalagi di gelar di hotel berbintang.
"Ngapain?"
"Mas kan nikahnya di hotel, jadi nanti kita ngga repot dateng subuh-subuh ke hotel. Sama pihak WO sudah include dengan kamar hotel untuk keluarga."
Bukan main, pikirnya membayangkan anggaran yang harus di keluarkan untuk menggelar acara seperti itu.
"Aku dateng ke hotel pagi aja Mas. Ngga usah dijemput kalau Mas sibuk disana. Mas kan keluarga inti, jadi aku paham Mas ngga mungkin kalau ngga bareng keluarga."
"Hotelnya di Jakarta Neng sayang. Mau berangkat dari sini jam berapa?"
Ahh... tidak mungkin Adit membolehkan ia berangkat Subuh buta.
"Kalau kamu mau egois, yaudah aku juga ngga nginep. Berangkat bareng dari sini Subuh."
Ia menatap tak suka dengan ucapan Adit barusan.
"Mas jangan gitu atuh. Aku belum jadi siapa-siapanya Mas. Kalau orangtua ku tau pikiran mereka gimana coba?"
"Mas minta Ibu Mas nelpon Ibu di Cianjur ya?"
Ya Tuhan.... perempuan mana yang bisa menolak perlakuan manis dari Adit yang selalu peka dengan yang ia rasakan dan butuhkan? Adit bahkan tau, yang seharusnya menelpon orangtuanya adalah orangtua Adit sendiri bukan dia.
"Mas loud speaker ya, kamu denger sendiri Ibu bilang apa."
"Bu, ini Mita kan Jumat tak suruh nginep di hotel sekamar sama Mbak tapi ngga mau. Takut orangtuanya tau, dan dikira macem-macem di hotel sama aku. Piye?"
"Yowis kirim nomor Ibu nya nanti Ibu yang bilang. Orangtua Mita ngga kamu undang tah? Lah piye?"
"Itu kan tanggung jawab kamu. Tanggung jawab Ibu disini sudah banyak Dek. Kamu tanggung jawab cuma satu anak orang tapi orangtuanya ngga kamu inget. Mau gimana?"
Kini ia yang diceramahi karena lupa mengundang orangtua Mita. Meskipun jauh dan kemungkinan besar tidak bisa datang, menurut Ibu tetap harus ada bahasa dan tata karma kepada orangtua.
"Mas, aku sayang Mas dan keluarga Mas."
Kalimat yang tidak pernah ia katakan sebelumnya bahkan saat mereka jadian beberapa bulan lalu akhirnya terucap.
Airmatanya hampir jatuh karena perasaan haru, merasa dihargai dan diakui.
"Sayangku ke kamu lebih dari itu."
__ADS_1