Cinta Mita

Cinta Mita
Siapa Rama yang sebenarnya?


__ADS_3

Selesai acara lamar melamar, screen proyector pun dimatikan. Namun Rama meminta tidak dimatikan Skype nya karena masih ingin bicara dengan Mita. Di salah satu sudut, Rama dan Mita yang terpisah jarak ribuan kilometer bisa saling pandang berkat adanya teknologi. Mereka menjadi dua orang yang paling berbahagia hari ini.


''Kamu cantik."


Mita tersipu malu.


"Makasih untuk hari ini, makasih udah mau aku lamar." lanjutnya dengan senyuman yang terus mengembang.


Mita tersenyum, mengangguk.


"Iya, makasih juga untuk semuanya ya Bang..."


Mita menunduk malu.


Memanggil Rama dengan sebutan Aa Masih terasa asing di mulutnya, sebutan Abang ternyata lebih familiar.


Rama tertawa simpul mendengar panggilan Mita untuknya, not bad pikirnya.


"Disana lagi pada ngapain? Kalau lagi ngga sibuk aku mau ngomong sama Bapak, Ibu sama Yoga juga belum kenalan."


Mita melihat sekeliling nya, lalu mendekat ke arah Bu Rini yang sedang menemani keluarga Rama makan.


''Bu, gimana kabar nya? sehat?"


Begitu Rama melihat Ibu dari kekasihnya kini di dalam layar dihadapannya.


"Sehat alhamdulillah, Rama gimana sehat disana?"


"Sehat dan bahagia alhamdulillah." Rama tetap dengan senyumnya yang seolah menggoda Mita karena lirikan matanya.


Bu Rini tersenyum mengangguk.


"Alhamdulillah semoga selalu sehat... Disana musim apa?"


"Disini lagi musim panas, sekarang jam 9 malam matahari sebentar lagi terbenam. Baru mau shalat Magrib."


Bulan Juli di Seattle siang hari menjadi 15 jam. Namun karena cuaca yang lebih banyak mendung, sehingga tetap terasa adem.


"Wah lama banget, repot kalau puasa disana."


Rama tertawa.


"Iya lumayan, Ramadhan kemarin disini puasa mulai jam 4 subuh, buka nya jam setengah 9. Jam 10 baru tarawih jadi ngantuk. Tapi alhamdulillah nya disini cuacanya kaya di Bogor. Masih lebih panas musim kemarau di Indonesia."


Tak lama Pak Zainal dan Yoga ikut bergabung. Akhirnya dengan sigap Sesar yang masih stand by di lokasi acara menyambungkan kembali laptop dengan screen proyector atas permintaan Pak Romi, agar semua keluarga bisa melihat Rama di Amerika sana.


"Bapak, saya minta maaf karena acara ini mendadak. Saya minta maaf karena belum bertemu Ibu, Yoga dan keluarga lain tapi sudah melamar Mita. Ini murni dari saya yang ingin mempercepat proses lamaran. Karena kalau nunggu saya pulang kelamaan, takut diambil orang yang kemarin lagi. Karena dia gerakannya cepat luar biasa."


Semua yang hadir tertawa, terutama keluarga Mita karena mengerti maksud Rama. Adit memang tidak pernah absen mengantar Mita jika pulang ke Cianjur. Meski begitu Adit juga sama-sama baik, hanya tidak seberuntung Rama dalam hal cinta.


"Yoga, nanti kita main mobil sama motor. Abang mau beli mobil sama motor yang lebih bagus dari punya nya Mas yang kemarin." Rama tersenyum menyeringai. Kalau tidak banyak orang, mungkin Mita sudah ngomel pikir Rama. Xixixi.

__ADS_1


"Mobil Mas yang kemarin BMW i8 Bang. Abang beli mobil apa?"


"Bmw i8 masih dibawah mobil Abang. Kita beli Ferrari California T yang bisa lari 100km dalam waktu 3,6 detik. Edan ngga?" Semenjak Mita dengan Adit, Rama jadi sering cek website dan YouTube otomotif. Rama tidak mau kalah dalam hal apapun, persis seperti Sang Ayah. Dalam seketika keinginannya akan mobil sport menjadi-jadi.


"Edan, ada mobil kaya gitu Bang?"


Yoga yang sekolah jurusan otomotif tertarik dengan mobil yang Rama bahas.


"Ada dong, kaya punya nya Hotman Paris. Nanti kita main ke Sentul nyobain mobilnya."


"Jangan beli mobil mahal-mahal Bang..."


Mita selalu tidak setuju membeli barang-barang mahal yang bukan barang essensial.


"Namanya cowok wajar kalau main mobil sama motor, daripada main perempuan. Iya kan Ga?"


Rama melirik ke arah Yoga, yang dijawab dengan tawa dan anggukan. Rama belum sadar kalau wajahnya termapang nyata kembali di screen proyector. Xixixi.


"Tenang, uang buat nikahin kamu pake uang Papa jadi uangku aman." Rama tertawa. Bu Lia dan Enin hanya geleng-geleng kepala melihat Rama dengan tingkah konyolnya.


"Saya pengen pulang Pak sebenarnya, tapi disini belum selesai. Kalau memaksa pulang takut ngga mau kembali lagi ke sini, nanti dimarahin Papa."


Uwa Dodi turut menyimak obrolan gatal akhirnya ikut nyeletuk.


"Wah Rama kebelet kawin ini bahaya."


Semua yang hadir tertawa terbahak-bahak. Pak Romi dan Bu Lia nampak menutup wajahnya malu.


Rama yang baru sadar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pah, Rama udah boleh pulang belum? Mau bawa Mita kesini kalau sudah akad. Kuliah Rama pasti selesai."


Mita menyimak dengan menggeleng kepala, merasa heran karena Rama seolah tidak sungkan bicara demikian di hadapan semua yang hadir.


Pak Romi yang jaraknya jauh dengan laptop akhirnya meminta microphone kepada Sesar agar suaranya bisa didengar Rama tanpa perlu mendekat.


"Belum bisa, Mita juga belum selesai kuliah nya. Ngga usah pulang kalau kuliah kamu belum beres. Kamu kaya cacing kepanasan, Mama kamu sebel lihat kamu begitu."


Para tetua tertawa mengerti situasi yang terjadi. Acara ramah tamah dan perkenalan terus berlanjut hingga suara adzan dzuhur. Obrolan mengenai pernikahan pun turut diperbincanbkan.


"Nikahnya jadi nunggu Rama selesai Rom?"


Uwa Dodi bertanya pada Pak Dodi penasaran.


"Iya, Mita nya juga belum mau menikah dengan Rama. Betul ya Mit?"


Mita yang duduk di dekat Pak Zainal mengangguk tersenyum.


"Ngga apa-apa, nanti Rama pulang kita bicarakan lagi. Lamaran ini hanya sebagai pengikat antara Rama dan Mita. Biar hati Rama tenang disana, ngga takut Mita disini diambil orang. Biar kuliah nya juga cepat selesai. Tapi ini baru lamaran, belum akad. Jadi masih belum halal ya."


Mita mengangguk pasti, mengerti betul yang sedang dibicarakan.

__ADS_1


Keluarga Rama izin pulang setelah melaksanakan shalat dzuhur di masjid dekat rumah Mita. Tak lupa Mita ikut dengan rombongan keluarga Rama.


"Rama sebenarnya ngasih Mita supir sendiri, karena katanya mau magang di pabrik Tangerang. Biar supir nya selalu stand by, jadi kemana-mana ngga repot. Tapi baru masuk awal bulan Agustus, karena masih terikat kerja di tempat sebelumnya. Jadi sekarang masih sama supir Mama dulu ya."


Bu Rini mengusap bahu Mita, merasa terharu Mita diperlakukan sebaik ini oleh keluarga Rama.


"Kami mengucapkan terima kasih atas semua yang sudah keluarga Bapak berikan kepada anak saya. Kami tidak bisa membalas kebaikan ini semua. Semoga yang di atas membalas dengan kebaikan yang berlipat-lipat." Pak Zainal mengucapkan terima kasih kepada Pak Romi yang dibalas senyuman


dan anggukan.


Sebelum kembali ke Bogor, tak lupa Bu Rini dan Pak Zainal memberikan wejangan untuk Mita.


"Neng harus bersyukur, Rama terlihat sayang sama Neng. Eneng juga harus bisa membawa diri di keluarga mereka, dan tetap jaga diri."


Setelah acara lamaran itu tidak banyak yang berubah, hanya Rama yang lebih posesif. Mengirim pesan dan telepon tidak kenal waktu. Seolah Amerika tidak memiliki waktu malam. Tapi seminggu terakhir Rama bagai ditelan bumi, tidak ada kabar.


Mita mulai magang di pabrik namun atas permintaan Mita, ia tidak ingin dipublikasikan sebagai kekasih atau calon istri Rama. Namun perintah Rama adalah mutlak, tim QC menjadi pengecualian Rama. Tim QC line frozen food tahu Mita adalah seseorang yang istimewa bagi bos besar mereka.


Di pabrik ternyata bukan hanya Mita yang menjadi mahasiswa magang. Di bagian maintenance mesin dan pengolahan limbah ternyata ada mahasiswa magang dari kampus negeri lain.


Mita baru tau ternyata Rama tidak hanya memiliki beberapa restoran. Rama juga ternyata memiliki perusahaan sayap yang bergerak di bidang frozen food yang memproduksi nugget, sosis, bakso, dan juga kentang untuk french fries. Selain itu di bagian hulu, Rama memiliki perternakan dan RPH yang hasil pemotongannya digunakan sebagai bahan baku di pabrik frozen food dan restoran mereka. Dan sebagian lagi di distribusikan ke restoran dam catering rekanan juga jual di supermarket dalam keadaan beku.


"Di belakang pabrik, ada perternakan dan RPH juga ya kak. Join lahan sama pabrik Rama?"


Fery heran, Mita belum tau banyak tentang Rama. Tujuh bulan menjalin kasih, apa yang sudah mereka obrolkan?


"Jadi kamu ngga tau kalau Rama yang punya ini semua?"


Mita tampak bingung.


"Maksudnya?"


"Jadi disini selain ada resto, kita juga ada pabrik FF (frozen food), RPH (Rumah pemotongan hewan) dan perternakan ayam. Jadi Tangerang itu markas besar kita. Kalau Depok, Jakarta, Bekasi, disana cuma resto. Tapi bahan baku semua dari sini. Tiap tengah malem truck kita ngirim keliling, dari supermarket, resto-resto besar, resto kita sendiri, sampai catering-catering rekanan. Nah ini semuanya punya Bapak Rama Yudha."


Rama tidak terlalu suka disebut nama belakangnya karena orang-orang tertentu akan tau bahwa Rachman yang disematkan pada nama belakang Rama adalah nama keluarga besar dari Kakek buyutnya yang memang guru besar dan keluarga dokter kepresidenan.


Mita diam, mencerna semua informasi yang tidak masuk di akalnya. Benarkah sebesar itu perusahaan Rama?


''Jangan-jangan kamu ngga tau dia nyimpen uang dimana aja? Deposito dia berapa? Saham yang dia punya?"


Persis, Mita memang tidak tahu semua yang Fery sebutkan.


"Rama itu nyimpen uang di beberapa bank di luar negeri. Di Singapura ada, di Inggris juga ada, Amerika udah pasti. Saham dia salah satunya ada di rumah sakit, karena ayahnya memang dokter. Walau ngga banyak tapi dari satu rumah sakit aja, keuntungan dari pembagian hasil bersih nya itu kita bisa hidup sampai mati dari sana. Jadi dia ngga kerja pun udah bisa hidup enak sebenarnya."


Semua yang Fery katakan, Mita pahami betul. Bahkan Fery juga menceritakan bahwa ia pernah berada di posisi Mita, dibiayai keluarga Rama.


"Jadi kamu ngga usah kaget kalau aku, Sesar, sangat loyal ke dia. Sesar yang waktu lamaran bantuin kamu itu, dia anak dari pembantu di rumahnya Rama. Sekarang Sesar yang pegang perternakan karena dia lulusan peternakan. Satu almamater sama kamu, dia dari IPB juga."


Mita sekarang paham, Adit pernah berkata bahwa ia tidak ada seujung kuku nya Rama. Ternyata Rama memang sebesar itu.


Mita hanya ingin cepat pulang ke kosan eksklusif yang Rama sewa untuknya selama magang. Mita ingin penjelasan lebih dari Rama.

__ADS_1


__ADS_2