Cinta Mita

Cinta Mita
Gadis dengan Masker


__ADS_3

"Mas masih di lokasi?"


Dengan perasaan sedikit kesal, Sena berpura-pura tidak tau apa-apa. Memasang wajah biasa saja padahal ingin menumpahkan kekesalannya.


"Iya ini lagi rame banget aku pusing. Kamu dimana?"


Adit melipir sedikit karena di stand tempat ia sedang berdiri sedang banyak orang.


Mita yang lebih tau Adit mengerti maksud ucapan Adit. Adit yang tidak terlalu suka disorot, harus terus belajar terbiasa dengan pekerjaannya.


Anehnya hanya stand Adit yang ramai, sedangkan stand tempat Sena dan Mita berdiri tidak ada pengunjung. Sampai suara Adit bisa terdengar jelas oleh Mita.


"Kenapa pindah tempat? Takut ketahuan kalau lagi dikelilingi sama cewek. Cantik lagi ceweknya."


Mita mulai panas dingin memikirkan nasib Adit. Perempuan kalau sudah nyindir-nyindir akan berkepanjangan nantinya.


"Deket-deketan gimana? Aku ngga deket sama siapa-siapa."


"Cantik lho temennya."


"Cantikan kamu."


"Lucu ya baju nya kuning kalem gitu. Kayanya kalem-kalem menghanyutkan."


Sena memperhatikan Adit dari jarak yang tidak terlalu jauh, namun tidak akan terlihat oleh Adit karena menggunakan masker dan topi menutupi wajahnya dengan sempurna. Begitupun dengan perempuan berbaju kuning yang Sena yakin bukan pengunjung, karena memakai tanda pengenal dengan huruf kanji Jepang. Mungkin artinya panitia, pikir Sena.


"Baju aku mah coklat bukan kuning, Sayang."


"Baju temen Mas yang cantik itu."


Adit memperhatikan teman-teman panitia di stand kain tenun. Hanya ada satu perempuan yang memakai baju kuning, yaitu Uni anggota PPI yang betanggung jawab di stand kerajian khas Indonesia.


"Kok tau ada yang pakai baju kuning?"


"Tadi kan on cam sedikit jadi aku tau."


"Ohh. Kamu dimana?"


"Aku di sini aja. Akhirnya sepatu dari aku dipakai juga."


Adit melihat ke arah sepatunya. Sneakers Adidas berwarna putih yang Sena beli dari situs Jepang dan ia kirim ke apartemen Adit.


"Aku sering pake sepatu ini karena kamu yang beliin. Aku suka modelnya juga bagus dan nyaman dipake. Kok tau aku pake sepatu ini? Tadi ikut on cam juga?"


Adit merasa ada sesuatu yang aneh.

__ADS_1


"Ho'oh."


Sena berbohong. Nyatanya kamera ponsel Adit tidak menampilkan sepatunya walau sedetik.


"Kamu dimana? Liatin dulu sekeliling kamu, sebelum aku tutup video call nya. Lagi banyak orang soalnya."


"Yakin mau liat?"


"Iya yakin."


Lalu Sena mengarahkan kameranya pada stand tempat Adit berdiri. Bahkan ada gambarnya disana meski kecil.


"Perbesar."


Adit mengerutkan keningnya.


Sena lalu memperbesar.


"Keliatan ga?"


"Kamu yang pake masker sama topi?"


Akhirnya Adit menyadari kehadiran Sena dan Mita tepat di sebrangnya. Hanya tertutup stand banner sedikit.


"You are kidding me? Non, come on."


Adit berjalan menghampiri Sena setengah berlari.


"Kenapa ngga bilang kesini?"


Adit memeluk Sena, tidak peduli dengan pandangan pengunjung dan beberapa staf KBRI yang hadir.


"Kalau bilang ngga akan liat langsung moment yang tadi itu."


"Moment apa?"


Rambut Sena tidak terlewat dari sentuhan Adit siang itu.


"Yang baju kuning lagi liatin kita."


"Ngga usah mikir aneh-aneh. Aku kangen."


"Curang banget. Aku ngga boleh deket sama cowok, tapi Mas nya deket sama cewek. Cantik lagi."


"Kerjaan, Non. Tolong ngertiin aku."

__ADS_1


"Emang dia siapa?"


"Anak PPI, panitia acara."


"Ohh yang kemarin ke toko buku itu bukan?"


"Bukan, ke toko buku sama staff KBRI."


Pertemuan pertama malah menjadi sesi interview.


"Yang mana orangnya?"


Adit menarik nafas, melihat ke arah stand yang dipenuhi perempuan-perempuan muda.


"Kemaja abu-abu."


"Berdua? Cantik juga lho. Ya kan Teh?"


Mita yang sejak tadi hanya mendengarkan bingung harus menjawab apa.


"Cantikan kamu ah."


Adit tersenyum dengan dukungan Mita.


"Kemarin aku lupa bilang. Maaf ya... Kamu mau nunggu apa gimana? Aku selesai 1 jam lagi."


"Aku mau jalan-jalan di luar. Disini panas."


Sena membuang muka ke arah lain.


Adit mengerti panas yang Sena maksud. Hingga ia hanya tersenyum, tidak ingin membahas lebih jauh.


"Aku mau cari ramen dulu."


"Cari eskrim dulu di luar. Makan ramen nanti bareng aku. Oke?"


"Yaudah iya."


"Belum boleh di cium ya Teh?"


Namun tetap tidak bisa untuk tidak menggoda Sena.


"Belum !!!"


Mita menarik tangan Sena keluar dari gedung acara.

__ADS_1


__ADS_2