
"Udahan sarapannya?"
"Kenyang. Cepet, langsung ke Jakarta."
"Selow, lu...."
Belum selesai Fery bicara, Rama sudah pergi meninggalkan meja dengan membawa tas kecil doraemon. Karena isi di dalamnya bisa mengabulkan banyak keinginan.
"Serem ya Bang, marahnya Bang Rama."
"Dia ke Sena gitu. Karena orangtuanya sibuk, jadi dia ngerasa harus jagain Sena. Takut Sena ngerasa ngga diperhatiin, jadinya ya begitu, terlalu protective."
"Jadi yang salah siapa?"
"Ngga usah fokus ke yang salah selama bukan tindakan pidana mah. Karena semuanya salah. Sena, Adit, Mita, Rama juga. Fokusnya ke solusi. Tapi Rama lagi mikirin solusinya. Dia juga bukan orang yang suka menyalahkan orang lain. Tenang, Teteh kamu ngga akan dimakan."
Fery tersenyum.
"Teteh sih yang paling salah. Kalau Teteh ngga ngizinin kan, ngga mungkin juga Teh Sena sama Mas Adit pergi berdua."
"Kalau Rama nya ngga over thinking kan ngga masalah juga. Udah gede ini anak dua."
"Iya juga sih."
"Pusing kan? Makanya ngga usah dipikirin. Yogaa, Yogaa..."
Fery dan Yoga melanjutkan sarapan paginya. Yoga kalap dengan segala jenis makanan yang tersedia pernah ia makan.
"Cobain semua makanan, Ga."
Perintah Fery begitu melihat piring Yoga hampir bersih. Fery sarapan sambil berkirim pesan dengan Rena. Mengabarkan bahwa meeting diundur setelah makan siang. Begitu melihat piring Yoga hampir bersih, Fery menyuruh untuk
"Bang Rama tadi nyuruh cepet, Bang."
"Orang lagi marah itu ngga usah kamu seriusin. Dia butuh tidur."
Yoga tersenyum. Di dalam hatinya memang ingin merasakan semua makanan yang ada. Namun Yoga urungkan karena perintah dari Rama yang menyuruh cepat.
"Biarin Yoga makan dulu, biar khazanah kuliner dia mendingan. Adik iparnya Rama Yudha, sop buntut aja ngga tau."
Fery mengirim pesan kepada Rama dengan meledek. Yoga harus ditatar sejak dini, karena Rama sudah mempersiapkan Yoga untuk menggantikan posisi Fery.
Setelah selesai sarapan, Fery dan Yoga masuk ke kamar saat Rama sedang menelepon.
"Kalau tiket cuma dua, ngga usah pergi semua, jangan mentingin diri sendiri sama cowok. Orang kalau udah bucin jadi tol*l."
Yoga dan Fery tersentak dengan kata terakhir yang Rama ucapkan. Fery tidak pernah mendengar Rama sekasar itu, bahkan kepadanya.
__ADS_1
"Jangan karena kemarin Gua minta lu jadi investor, lu jadi ngerasa superior. Sekali lu bungkus adek gua, gua bisa bikin lu ilang. Paham ?!"
Yoga hanya mendegarkan dengan menunduk. Membayangkan jika ia di posisi Adit, mungkin akan langsung jatuh sakit.
"Kasih ke Sena lagi."
"Kamu balik, temenin Teteh, minta maaf. Ngerti?"
Meski ia pun marah kepada Mita, namun Sena pun salah telah tega dan berani meninggalkan Mita sendirian.
"Perlu aku kesana jemput? Mumpung ini masih pagi, aku bisa urus visa waiver sekarang."
Terdegar seperti kalimat biasa, namun nyatanya adalah sebuah ancaman dari Kakak kepada adiknya.
"Ngga perlu, Senin aku pulang."
"Awas ya kamu berani-berani."
"Jangan marahin Teteh, aku yang salah."
Kalimat yang sama dengan chat yang Rama terima.
"Jangan marahin Sena sama Adit. Aku yang salah ngebolehin." - Mita
"Jangan marahin Sena sama Teteh, Gua yang salah." - Adit
"Udah beres sarapannya?"
"Udah. Berangkat sekarang?"
"Iya lah. Kesini cuma nganterin lu enak-enak doang. Buang-buang waktu Gua aja kamprett."
Fery tersenyum, setidaknya Rama sudah menyerangnya kembali. Artinya Rama sudah lebih baik setelah memaki Adit. Nasib buruk untuk Adit.
Mita sudah beberapa kali mencoba menghubungi Rama, namun Rama biarkan.
"Ayang nelepon, Ram."
Rama hanya menekan sembarang tombol agar ponselnya berhenti berdering. Rama baru terketuk untuk menerima telepon Mita saat sudah di dalam mobil.
"Abang masih di Bandung?"
"Di jalan pulang."
"Aku mau jelasin dulu kenapa aku kasih izin. Bukan karena ngga jagain Sena, jangan mikir gitu atuh aku sedih..."
"Kamu yang sedih? Aku yang sedih harusnya, kamu ngga bisa jaga amanah."
__ADS_1
"Kita kan pulang lusa, Sayang... Jadi aku kasih dia pergi berdua Adit. Setelah itu kan LDR lagi. Abang kaya yang ngga pernah LDR aja."
"Itu Jepang, Mita... Kalau Sena diajak ke apartemennya Adit gimana? Ngga mikir kesana kan? Aku cowok, jadi aku tau arahnya."
Kini Mita diam. Nyatanya kemarin Sena sudah diajak ke apartemen Adit. Feeling Rama sekuat itu kah?
"Adit ngga gitu kok..."
"Adit itu laki-laki norma bukan aku tanya?"
Mita diam kembali...
"Selama dia laki-laki normal, semuanya bisa terjadi. Dan Sena itu bukan kamu. Aku takut dia ngga bisa nolak."
Mita pun masih diam...
"Minum obat udah kan?"
Rama mengalihkan pembicaraan. Kondisi Mita yang sedang hamil, Rama tidak ingin Mita banyak pikiran.
"Udah."
"Masih mual?"
"Udah ngga, bageur anaknya Papip teh..."
"Perutnya suka kram atau sakit ngga?"
"Ngga, Sayang."
"Alhamdulillah. Aku review bahan meeting dulu ya, nanti aku video call lagi."
"Udah ngga marah kan?"
"Kalau masih marah aku ngga mau ngomong sama kamu..."
Entah kebetulan ataupun apa, Yoga dan Fery menghembuskam nafas lega dengan keras. Sampai Rama sadar dan memperhatikan keduanya bergantian.
"Wajarlah Ram, Sena mau jalan berdua pacarnya. Ngga usah terlalu over protective."
Fery berpendapat setelah Rama menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas doraemon.
"Lu ngga punya adik cewek. Anak lu dibawa cowok gimana coba nanti."
"Si Adit kan baik, gua liat-liat bukan cowok brengsek."
"Se alim-alim nya cowok, dapet kayak Sena pasti disikat."
__ADS_1
Fery tersenyum simpul. Jika saja Sena bukan adik Rama, sudah ia sikat sejak dulu 😝